Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Kebenaran Terucap.
Hah... akhirnya selesai juga."
Hwi Sol merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, ia bisa bernapas lega. Fashion Week yang diselenggarakan perusahaannya kembali berjalan sukses tanpa kendala berarti.
Ia memejamkan mata sejenak, menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan. Namun, lamunannya terputus saat terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya, disusul suara lembut yang sudah sangat dikenalnya.
"Oppa?"
Hwi Sol segera bangkit dan membukakan pintu.
"Ada apa, Seolhwa?" tanyanya.
Aku tersenyum kecil sambil mengulurkan segelas es cokelat dingin yang kubawa.
"Ini. Aku membuatkan es cokelat untuk Oppa. Hari ini pasti sangat melelahkan, kan?"
Mata Hwi Sol langsung melembut.
"Terima kasih. Oppa akan meminumnya."
Senyum hangat terukir di wajahnya.
"Oppa sudah bekerja keras hari ini. Selamat malam."
"Selamat malam, Seolhwa."
Aku melambaikan tangan kecil sebelum berlari menuju tangga dan kembali ke kamarku.
Hwi Sol Oppa masih berdiri di ambang pintu, memperhatikan kepergianku hingga sosokku menghilang dari pandangan. Senyum tulus tak pernah lepas dari wajahnya.
Sesampainya di kamar, aku langsung mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
Layar ponsel menunjukkan beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Eun Dam. Namun, ada satu nomor lain yang tidak kukenal.
"Siapa ini?" gumamku bingung.
Rasa penasaran membuatku segera memeriksa pesan tersebut.
Dan siapa sangka, nomor itu ternyata milik Nyonya Kim, ibu Eun Dam.
Aku segera menghubunginya kembali.
Dengan nada serius, beliau mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakannya denganku besok. Namun, sebelum itu, beliau memintaku untuk merahasiakan hal ini dari Eun Dam.
Meski bingung, aku akhirnya menyetujui permintaannya.
"Ada apa, ya? Sepertinya ini sesuatu yang serius..." gumamku pelan.
Pikiranku masih dipenuhi berbagai pertanyaan ketika tiba-tiba layar ponselku menyala.
Eun Dam menelepon.
Aku segera mengangkatnya.
"Dari mana saja, Tuan Putri?" suara Eun Dam terdengar manja. "Hari ini sibuk sekali, ya? Sampai telepon dan pesanku tidak dibalas."
Aku tertawa kecil.
"Hehe, maaf. Hari ini setelah bekerja aku pergi menonton fashion show yang diadakan perusahaan Oppa. Aku lupa memberi tahu kamu."
Seketika ekspresi Eun Dam berubah. Meski hanya melalui layar ponsel, aku bisa melihat sorot matanya menjadi sedikit dingin ketika mendengar nama Hwi Sol.
"Lain kali, apa pun yang kamu lakukan, beri tahu aku, ya."
Aku mengangguk pelan.
"Tentu."
Namun, beberapa detik kemudian, Eun Dam kembali berbicara dengan nada yang jauh lebih serius.
"Seolhwa... apa sebaiknya kamu pindah rumah saja?"
Aku mengernyit.
"Maksudmu?"
"Kamu dan Hwi Sol hyung bukan saudara kandung. Aku hanya... khawatir. Aku takut sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi padamu."
Aku menatap layar ponsel dalam diam beberapa saat.
Kini aku mengerti.
"Eun Dam," panggilku lembut. "Apa kamu cemburu pada Hwi Sol Oppa?"
Ia tidak langsung menjawab.
Aku tersenyum tipis sebelum melanjutkan.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku dan Hwi Sol Oppa tidak akan pernah menjadi seperti yang kamu pikirkan."
Aku menarik napas pelan.
"Aku hidup bersamanya selama dua puluh tiga tahun. Kami tumbuh bersama sejak kecil. Meskipun pada kenyataannya kami tidak memiliki hubungan darah, bagiku Oppa tetap keluarga."
Suaraku melembut.
"Aku tidak ingin meninggalkannya tinggal sendirian. Jadi, aku harap kamu bisa mengerti."
Eun Dam terdiam cukup lama.
Raut wajahnya perlahan melunak sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
"Maaf."
Aku tersenyum.
"Aku hanya khawatir," lanjutnya pelan. "Tapi aku percaya padamu."
Untuk sesaat, kehangatan kembali memenuhi percakapan kami.
Namun, jauh di dalam hatiku, kata-kata Nyonya Kim terus terngiang.
Ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan besok.
Dan entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa hal itu akan mengubah banyak hal dalam hidupku.
***
Pagi ini aku tidak datang ke bakery. Aku memutuskan untuk bekerja dan memantau segala urusan dari rumah karena harus membeli bahan makanan serta memasak untuk menyambut kedatangan orang tua Eun Dam yang akan datang hari ini.
"Kamu yakin tidak ingin Oppa menemanimu ke supermarket?" tanya Hwi Sol Oppa sambil mengenakan jasnya.
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak perlu, Oppa. Bukankah Oppa harus bekerja? Aku tidak apa-apa pergi sendiri."
Aku melirik jam di dinding lalu mendorongnya pelan menuju mobil.
"Lihat, sekarang sudah jam berapa? Oppa harus berangkat. Bukankah seorang pemimpin yang baik harus memberi contoh yang baik kepada karyawannya?"
Oppa terkekeh pelan mendengar ceramah singkatku.
"Baiklah, baiklah. Oppa pergi sekarang. Kamu hati-hati."
"Iya, Oppa."
Aku melambaikan tangan hingga mobilnya menghilang di ujung jalan.
Setelah itu, aku segera memesan taksi online untuk pergi berbelanja.
Karena ingin menjamu tamu dengan baik, aku membeli cukup banyak bahan makanan. Selain untuk memasak hari ini, sebagian juga kubeli sebagai persediaan untuk beberapa hari ke depan.
Sesampainya di rumah, aku langsung sibuk di dapur.
Berbagai lauk mulai tersaji satu per satu di atas meja makan. Aku juga membuat beberapa hidangan penutup yang kuharap akan disukai oleh orang tua Eun Dam.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Setelah semua pekerjaan selesai, aku mandi dan berganti pakaian. Rumah sudah rapi, meja makan telah tertata dengan baik, dan makanan pun siap disajikan.
Kini aku hanya tinggal menunggu kedatangan mereka.
Namun, satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Mereka belum juga datang.
Aku mulai melirik jam dinding untuk kesekian kalinya.
"Bukankah seharusnya mereka sudah sampai?" gumamku pelan.
Aku berjalan ke jendela dan menatap jalanan di depan rumah.
"Mungkin jalanan macet? Atau mereka tersesat?"
Perasaan tidak tenang perlahan mulai menyusup ke dalam hati.
Aku segera mengambil ponsel dan menghubungi Nyonya Kim.
Namun, tidak ada jawaban.
Sekali.
Dua kali.
Tetap tidak ada jawaban.
Entah mengapa, firasat buruk mulai menghampiriku.
Beberapa detik kemudian, layar ponselku tiba-tiba menyala.
Nama Eun Dam muncul di sana.
Aku segera mengangkat panggilan itu.
"Halo? Eun Dam?"
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Yang terdengar hanyalah suara napas berat dan isak tangis yang tertahan.
"Seolhwa..." lirihnya.
Jantungku seketika berdegup lebih cepat.
"Eun Dam? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Tangis di seberang sana semakin terdengar jelas.
"O-orang tuaku mengalami kecelakaan..."
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku membeku.
"A-appa..." suaranya bergetar hebat. "Appa meninggal..."
Mataku membelalak.
Tubuhku terasa lemas dalam sekejap.
"D-dan Eomma..." lanjutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Eomma masih koma di rumah sakit."
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Pikiran terasa kosong.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Semalam mereka masih berencana datang ke rumahku.
Dan hari ini, mereka sedang dalam perjalanan untuk menemuiku.
Berarti...
Tuan Lee dan Nyonya Kim mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.
Dadaku terasa sesak.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku segera mengambil tas dan kunci rumah.
"Eun Dam, tunggu aku. Aku akan ke sana sekarang."
Setelah panggilan berakhir, aku berlari keluar rumah.
Makanan yang telah kusiapkan sejak pagi masih tersaji rapi di atas meja makan.
Namun kini, tidak ada lagi yang peduli pada semua itu.
Yang ada di pikiranku hanyalah satu hal.
Aku harus segera menemui Eun Dam.