NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5- Identitas Baru

“Yuhuuu… memang gadis menarik!”

Pria berperawakan model itu melangkah keluar dari toko bunga dengan santai. Sebatang rokok sudah terselip di antara jemarinya dan asapnya mengepul pelan saat ia menghembuskannya ke udara sore.

Ia berhenti sejenak lalu melirik ke arah toko dengan tersenyum tipis.

“Jangan panggil aku Max kalau nggak bisa dapetin dia,” gumamnya pelan.

Sementara itu di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir dengan mesin yang masih menyala. Dua pria di dalamnya langsung menoleh saat melihat Max mendekat, lalu pintu mobil pun terbuka.

Max langsung masuk dengan santai ke kursi belakang. Namun belum sempat pintu tertutup sempurna...

“Wahhh… ditolak ya?” ledek pria di kursi depan sambil menoleh dengan senyum lebar.

Yang satu lagi pun ikut tertawa tak kalah meledek, “Gila sih, baru pertama kali gue lihat ‘Tuan Penakluk’ balik dengan tangan kosong.”

Max menyandarkan tubuhnya dan tetap tenang. Ia menghisap rokoknya, lalu menghembuskannya dengan perlahan.

“Bukan ditolak,” jawabnya santai.

“Oh ya?” sahut yang di depan. “Terus itu apa? Dikasih harapan palsu? A ha ha ha ha....”

Max tersenyum tipis namun penuh arti. “Itu namanya… tantangan.”

Kedua temannya saling bertukar pandang.

Lalu...

“Hahaha! Dengar tuh! Dia mulai serius!”“Waduh, bahaya nih. Kalau Max udah bilang ‘tantangan’, biasanya targetnya nggak bakal selamat.”

Max hanya mengangkat satu alisnya. “Tenang aja,” katanya ringan. “Aku nggak akan nyakitin dia.”

“Wah, beda nih!” yang di samping menyikut bahu temannya. “Biasanya juga lo nggak bilang gitu.”

Max tidak langsung menjawab. Tapi tatapannya mengarah keluar jendela. Ke arah toko bunga Alena yang kini mulai tutup.

“Ada yang aneh dari dia,” katanya pelan.

“Cantik? Iya, kita juga lihat,” celetuk yang di depan.

“Bukan itu.”

Nada suara Max berubah sedikit lebih serius.

“Tatapannya.”

Kedua temannya mulai memperhatikan Max dengan serius, “Kenapa memangnya?”

Max menghela napas pelan-pelan. “Dia bukan tipe perempuan yang gampang didekati. Bahkan… bukan tipe yang peduli.”

Ia memutar rokoknya di antara jari jemarinya.

“Seolah-olah… dia sudah kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar cinta," lanjut Max.

Saat itu tidak ada lagi yang membalas perkataan Max. Hingga pria yang di sampingnya mengangkat alis dan berkata, "Wah… dalem banget analisanya. Jatuh cinta nih ceritanya?”

Max tertawa kecil.

“Jatuh cinta?” ulangnya.

Ia menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Belum. Tapi aku penasaran.”

Sekali lagi Max menoleh ke arah toko dan memperhatikan Alena yang sibuk menutup tokonya.

Lalu pria di kursi depan menyalakan mobil. Bruuumm!!! “Jadi? Mau lanjut atau mundur?”

Max pun menjawab tanpa ragu, “Lanjut.”

“Tuh kan!”“Udah gue bilang!”

Max menyandarkan kepalanya ke kursi dengan santai, namun tatapan matanya nampak tajam.

“Lagipula, permainan baru terasa seru kalau lawannya nggak mudah," ujarnya. Lalu ia tersenyum lagi. “Dan dia… jelas bukan perempuan biasa.”

BROOMM!!!

Mobil pun mulai bergerak dan perlahan meninggalkan jalan itu. Namun tatapan Max masih tertinggal di toko kecil yang penuh bunga, yang menyimpan rahasia besar.

Sementara itu di dalam toko, Alena berdiri dalam diam seolah merasakan sesuatu. Ia menoleh ke arah jalan namun mobil itu sudah pergi.

**

Lanjut di dalam mobil Max dan kawan-kawan nya...

“By the way,” kata salah satu temannya tiba-tiba, “lo yakin dia cuma penjual bunga biasa?”

Max tidak langsung menjawab dan memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali.

“Di dunia ini,” katanya pelan, “orang yang terlihat paling biasa… sering kali justru yang paling berbahaya.”

Kedua temannya pun terdiam mendengar penuturan Max.

“Dan kalau firasatku benar…” lanjut Max, dengan senyumnya yang perlahan muncul lagi. “Permainan ini… bakal jauh lebih menarik dari yang kita kira.”

_________

______________

Hari demi hari telah berlalu. Dan satu hal yang menjadi semakin jelas adalah, Max… tidak menyerah.

Pagi itu, lonceng kecil di pintu toko bunga milik Alena berbunyi.

kring…

Alena bahkan tidak perlu menoleh karena ia sudah hafal siapa yang datang.

“Selamat pagi, pelanggan,” ucapnya datar sambil merapikan bunga.

“Kalau aku datang tiap hari, masih dianggap pelanggan?” balas Max yang terdengar santai.

Alena menghela napas dan akhirnya menoleh. Ia melihat Max berdiri di sana, seperti biasa, percaya diri, santai, dan… terlalu nyaman.

“Kalau tidak membeli, berarti bukan,” jawab Alena singkat.

Max pun tersenyum lebar mendengar penuturan Alena. "Siapa bilang? Hari ini aku beli," jawab Max yang semakin percaya diri.

Alena mengangkat alisnya sedikit dan berujar, “Akhirnya.”

Max lalu melangkah mendekat ke meja dengan langkah yang sok keren.

“Buket paling cantik yang kamu punya.”

Alena tersenyum ramah lalu mulai merangkai bunga. “Untuk siapa?” tanyanya.

“Untuk kamu," jawab Max seraya menatap Alena dalam-dalam.

Tangan Alena berhenti sejenak hanya sepersekian detik, dan ia pun melanjutkan pekerjaannya tanpa ekspresi.

“Saya tidak menerima bunga dari pelanggan," tegasnya.

"Xi xi xi..." Max tertawa kecil. “Wah, galak juga.”

“Profesional,” koreksi Alena.

Sementara di sudut toko, dua teman Max berdiri sambil menahan tawa.

“Gue bilang juga apa…” bisik salah satu. “Levelnya beda.”

“Diam,” balas Max tanpa menoleh.

**

Hari berikutnya Max datang lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Kadang membeli, kadang hanya berdiri terlalu lama dan kadang… terlalu dekat.

“Kalau kamu terus berdiri di situ, pelanggan lain jadi tidak nyaman,” kata Alena suatu sore.

Max bersandar santai di meja dan membalas, “Yang penting aku nyaman.”

Alena menatapnya tajam dan merasa tak habis pikir pada pria yang dia anggap bocah ingusan itu.

“Ini toko, bukan tempat nongkrong," ujar Alena.

“Kalau begitu jadikan aku pelanggan tetap.”

“Kamu belum tentu beli.”

Max lalu mendekat sedikit. “Kalau aku beli… kamu mau temani aku makan malam?”

Alena hanya diam, namun tatapannya berubah menjadi dingin.

“Tidak.”

**

Hari-hari berikutnya kesabaran Alena mulai diuji. Max semakin berani. Semakin dekat, dan semakin… kurang menjaga batas.

Hingga suatu sore, ketika toko sedang cukup ramai. Alena sedang merapikan bunga di rak atas lalu Max masuk seperti biasa. Namun kali ini langkahnya langsung menuju Alena.

“Sepertinya kamu mulai terbiasa dengan kehadiranku,” kata Max santai.

“Tidak,” jawab Alena singkat.

Max lalu berdiri mendekat bahkan terlalu dekat.

“Ah, masa?”

Ia mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh pergelangan tangan Alena, dan saat itu mata Alena berubah. Walau hanya sesaat namun cukup untuk menunjukkan jika ia tidak suka atas sikap Max.

Hingga, tanpa ada yang menyadari kaki Alena bergerak sedikit dan hampir tak terlihat.

“Max, hati-h—”

Belum sempat temannya menyelesaikan kalimat peringatan untuk Max tiba-tiba...

BRUK!

Max tiba-tiba terpeleset dan jatuh dengan posisi yang… sangat tidak elegan. UPS!!

Suasana toko pun langsung hening hingga beberapa pelanggan menahan tawa mereka, namun ada juga yang lain… yang tidak berhasil menahan tawa.

“Hahahaha! Hahahaha!"

"Argh!!" Max mengerang pelan. “Apa, lantainya licin?” gumamnya sambil bangkit.

Alena menatapnya dengan tenang. “Tidak," jawabnya datar.

Max mengerutkan keningnya namun ia tetap berdiri lagi. “Mungkin aku kurang fokus,” katanya, mencoba menjaga wibawa.

Kemudian ia melangkah lagi menuju Alena.

Dan...

BRAK!

Kali ini ia tersandung pot bunga kecil di lantai. Padahal sebelumnya… pot itu tidak ada di sana. Dan Max pun kembali jatuh dengan lebih konyol dan lebih keras.

“Hahahahaha!”

Tawa pun benar-benar pecah sekarang. Bahkan teman-temannya sampai menepuk paha.

“Bro… lo kenapa sih?!”“Ini bukan gaya lo banget!”

Max lalu bangkit dengan wajah yang kesal namun mencoba tetap tenang. “Lantai ini aneh,” gumamnya.

Melihat hal itu, Alena menunduk sedikit seolah memperhatikan bunga. Namun di balik itu ia menyembunyikan senyum tipisnya yang hampir tak terlihat.

Tapi meski begitu, Max belum menyerah. (Benar-benar keras kepala nih orang)

Ia berjalan lagi tapi kini dengan lebih hati-hati dan lebih pelan. Matanya fokus ke lantai karena tidak mau tersandung lagi, pikirnya.

Namun saat ia hampir sampai ke Alena, kakinya seperti tersenggol sesuatu padahal tidak ada siapa-siapa.

Dan...

DUK!

Ia menabrak meja kecil di depan dan nyaris jatuh lagi, tapi kali ini ia berhasil menahan keseimbangan. Namun tetap saja wibawanya… sudah hancur total.

Suasana di toko pun sunyi sejenak. Lalu salah satu temannya berbisik dengan cukup keras, “Kayaknya… bukan lantainya deh."

“Kayaknya… ada yang nggak suka lo terlalu dekat," timpal temannya satu lagi.

Max pun terdiam lalu perlahan menoleh ke arah Alena yang berdiri tenang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Namun Max melihat tatapannya yang dingin, tajam dan… penuh peringatan.

“Kalau sudah selesai jatuh-jatuhnya, silakan berdiri di tempat yang tidak mengganggu," kata Alena, suaranya terdengar halus namun terdengar menusuk.

Max menatapnya selama beberapa detik lalu ia tersenyum. Bukannya marah, ia justru… semakin tertarik.

“Jadi begitu ya…” gumamnya.

Ia lalu mundur satu langkah dan mengangkat tangan sebagai tanda jika ia menyerah.

“Baiklah. Hari ini aku mengalah.”

“Baru kali ini gue lihat lo dipermalukan tanpa bisa balas," ujar teman-temannya yang masih menahan tawa.

Max melirik ke arah mereka dan menyuruh diam. Kemudian ia berjalan keluar dengan senyuman yang masih ada. Dan kali ini… berjalan tanpa terjatuh hehe...

“Kalau itu caramu menjaga jarak… aku jadi semakin penasaran," kata Max sambil terus melenggang menuju mobil.

"Hufthhhh..."

Alena menghela napas dan ekspresinya pun kembali datar. Namun di dalam hatinya ia sedikit kesal dan sedikit terganggu.

"Dasar pria ...," bisiknya.

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!