Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM SEGEL ITU
Hujan turun seperti tidak punya niat untuk berhenti.
Bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tapi seperti sesuatu yang dipaksa turun—seolah langit sedang menahan tangis yang terlalu lama disimpan.
Di sebuah kota pinggiran bernama Kota Senja, lampu-lampu jalan berkedip lemah. Beberapa mati, beberapa menyala seperti napas yang tersengal.
Di salah satu rumah sederhana, Atlas berdiri diam di depan pintu kamar.
Tangannya mengepal.
Namun bukan karena marah.
Tapi karena takut.
Oliver berdiri di belakangnya, tidak seperti biasanya yang penuh suara dan candaan. Malam ini, adiknya itu hanya diam.
Sunyi yang aneh.
Sunyi yang terasa salah.
“Aku… nggak suka suasana malam ini,” gumam Oliver pelan.
Atlas tidak menjawab. Matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup setengah.
Di balik pintu itu, ibu mereka sedang terbaring.
Dan mereka tahu… waktunya tidak lama lagi.
Beberapa jam sebelumnya, semuanya masih terasa normal.
Ibu mereka masih memaksa tersenyum, meski wajahnya pucat seperti kertas yang hampir robek.
“Aku sudah masak,” katanya pelan. “Kalian harus makan.”
Atlas sempat ingin menolak. Oliver sempat bercanda seperti biasa.
Tapi ibu mereka hanya menatap.
Dan untuk pertama kalinya… tidak ada ruang untuk membantah.
Malam itu, mereka makan bersama dalam keheningan yang tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang sedang menunggu di balik dinding.
Seperti dunia sedang menghitung mundur.
Sekarang.
Atlas akhirnya mendorong pintu itu.
KREK…
Suara engsel terdengar terlalu keras untuk ruangan yang hampir tidak memiliki kehidupan.
Lampu kamar redup, berkedip pelan.
Di atas ranjang sederhana itu, ibu mereka terbaring.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di ambang kematian.
Atlas melangkah mendekat.
“Ibu…” suaranya hampir tidak keluar.
Oliver mengikuti dari belakang, menggigit bibirnya.
“Ibu jangan tidur dulu…” kata Oliver, mencoba terdengar biasa.
Namun tidak ada jawaban langsung.
Sampai akhirnya…
Mata sang ibu terbuka.
Dan ruangan itu berubah.
Udara menjadi dingin.
Bukan dingin biasa—tapi dingin yang masuk sampai ke tulang, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.
Lampu kamar berkedip cepat.
Satu. Dua. Tiga.
Atlas langsung menoleh ke lampu.
“Kenapa listriknya—”
Namun kalimatnya terputus.
Karena di udara, sesuatu mulai “terasa”.
Seperti dunia sedang menahan sesuatu yang ingin keluar.
Sang ibu mengangkat tangannya perlahan.
Di telapak tangannya, muncul cahaya samar berbentuk simbol kuno.
Simbol itu tidak dikenal oleh manusia biasa.
Tapi tubuh Atlas dan Oliver… bereaksi.
Dada mereka terasa panas.
Seperti sesuatu di dalam darah mereka baru saja “bangun”.
Oliver mundur setengah langkah.
“Apa itu…?” suaranya bergetar.
Sang ibu menatap mereka lama.
Dan untuk pertama kalinya, di matanya bukan hanya kelembutan.
Tapi juga ketakutan.
“Atlas…” suara ibu mereka lirih.
Lalu pandangannya berpindah.
“Oliver…”
Dua nama itu diucapkan seperti doa terakhir.
Atau perpisahan.
Atlas mendekat. “Ibu, kita panggil dokter lagi. Kita—”
“Tidak.” suara itu memotongnya.
Lemah.
Tapi tegas.
Sang ibu menghela napas panjang.
Dan untuk sesaat… ruangan itu seperti berhenti.
“Selama ini aku menahan segel itu…” katanya pelan. “Aku pikir… kalian tidak akan pernah bangun.”
Oliver mengerutkan kening.
“Segel apa maksudnya?”
Sang ibu tidak langsung menjawab.
Matanya menatap mereka berdua seperti sedang melihat masa depan yang paling berbahaya.
“Kalian bukan manusia biasa.”
Hening.
“Darah kalian… berasal dari sesuatu yang sudah dilupakan dunia.”
Tiba-tiba—
BRAK!
Jendela kamar bergetar keras.
Retakan halus muncul di kaca.
Seperti ada sesuatu di luar sana… yang sedang memperhatikan.
Oliver langsung menoleh.
“Itu apa lagi?!”
Atlas maju selangkah, refleks ingin melindungi.
Namun tubuhnya berhenti sendiri.
Karena dari dalam dirinya… ada sesuatu yang “menjawab” getaran itu.
Sesuatu yang belum pernah ia sadari sebelumnya.
Sesuatu yang seperti… darah kedua.
Sang ibu membuka mata lebih lebar.
“Tidak…” bisiknya.
“Sudah terlambat…”
Lampu kamar padam.
Total.
Kegelapan menyelimuti segalanya.
Namun dalam kegelapan itu…
Atlas dan Oliver bisa merasakan sesuatu.
Bukan dengan mata.
Tapi dengan darah mereka sendiri.
Sesuatu di luar jendela bergerak.
Bukan manusia.
Bukan binatang.
Dan bukan sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini.
Sang ibu menarik napas terakhirnya yang paling panjang.
“Jika kalian mendengar ini…” suaranya hampir hilang.
“Jangan percaya dunia yang kalian lihat…”
Dan sebelum semuanya benar-benar gelap…
Sebuah suara halus terdengar dari luar kamar.
Seperti bisikan dari langit yang retak.
Dan dunia… mulai berubah.
Kegelapan di dalam kamar itu tidak lagi terasa seperti ketiadaan cahaya.
Tapi seperti sesuatu yang hidup.
Atlas tidak bisa melihat apa pun, namun tubuhnya merasakan tekanan aneh di udara—seolah ruangan itu kini dipenuhi sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
Oliver meraba-raba udara di sampingnya.
“Mas… aku nggak bisa lihat apa-apa,” suaranya tegang.
Atlas tidak menjawab. Matanya berusaha menyesuaikan, tapi justru yang ia rasakan bukan penglihatan… melainkan denyut.
Denyut dari darahnya sendiri.
Seperti ada sesuatu yang ikut berdetak di dalam tubuhnya, mengikuti irama yang bukan miliknya.
Di sisi lain ranjang, suara napas ibu mereka semakin lemah.
Sangat lemah.
Namun sebelum semuanya benar-benar berhenti—
BRAK!
Jendela kamar pecah dari luar.
Bukan pecah biasa.
Kaca itu tidak hanya retak—tetapi seperti didorong oleh sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti.
Angin dingin masuk.
Sangat dingin, sampai udara terasa seperti menusuk kulit.
Oliver mundur.
“Apa itu?! Mas, itu bukan angin biasa!”
Atlas melangkah maju tanpa sadar.
Dan di detik itu juga…
Sesuatu masuk ke dalam kamar.
Makhluk Pertama
Ia tidak memiliki bentuk jelas.
Bayangannya seperti manusia… tapi tidak utuh.
Seperti seseorang yang dilupakan oleh dunia.
Kulitnya hitam pekat, namun bukan kulit—lebih seperti asap yang dipadatkan.
Matanya tidak ada, tapi dua titik merah menyala di wajahnya.
Makhluk itu tidak berbicara.
Namun keberadaannya saja sudah membuat udara terasa berat.
Oliver langsung mundur sampai menyentuh dinding.
“Mas… itu apaan…”
Atlas tidak menjawab.
Karena tubuhnya… justru tidak takut.
Aneh.
Seharusnya ia takut.
Seharusnya ia lari.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya—
Darahnya terasa panas.
Seperti ada sesuatu yang selama ini tertidur… akhirnya membuka mata.
Makhluk itu bergerak.
Sangat cepat.
Dalam satu kedipan, ia sudah berada di dekat ranjang.
Dan sasarannya adalah ibu mereka.
“JANGAN!!”
Atlas bergerak tanpa berpikir.
Tangannya terangkat—
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Dunia berhenti sejenak.
Kebangkitan Pertama
Udara di sekitar Atlas berubah.
Bukan hanya dingin atau panas.
Tapi seperti ruang itu sendiri menahan napas.
Di bawah kulitnya, sesuatu menyala.
Cahaya merah keemasan merambat dari dadanya ke lengannya.
Oliver tertegun.
“Mas… tanganmu…”
Makhluk itu berhenti.
Untuk pertama kalinya.
Seolah ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
Atlas sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun tangannya bergerak sendiri.
Dan saat ia mengayunkan tangan itu—
DUARRR!
Dorongan energi meledak dari telapak tangannya.
Bukan api.
Bukan listrik.
Tapi sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Makhluk itu terpental menghantam dinding.
Retakan besar muncul.
Tapi ia tidak mati.
Ia hanya… bangkit perlahan.
Seperti marah.
Oliver yang Terbangun
Makhluk itu kini mengalihkan perhatian.
Ke Oliver.
Oliver langsung panik.
“Kenapa gue?! Gue nggak ngapa-ngapain!”
Makhluk itu melompat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Atlas berusaha bergerak, tapi jaraknya terlalu jauh.
Namun tepat sebelum makhluk itu menyentuh Oliver—
Oliver berteriak.
Bukan karena keberanian.
Tapi karena insting.
Dan saat itu—
sesuatu di dalam dirinya ikut “terbuka”.
Cahaya biru pucat muncul dari bawah kakinya.
Tanah di kamar itu—ya, lantai kamar—membentuk pola lingkaran kuno.
Waktu di sekitar Oliver melambat.
Gerakan makhluk itu menjadi berat.
Seperti terjebak dalam air.
Atlas tertegun.
“Oliver…?”
Oliver sendiri shock.
“Aku… aku nggak tahu ini apa!!”
Makhluk itu menembus perlambatan itu secara paksa.
Namun cukup lama bagi Atlas untuk bereaksi.
Atlas melompat.
Dan dengan satu pukulan kedua—
DUAARR!
Makhluk itu hancur sebagian.
Tubuhnya pecah menjadi asap hitam yang menjerit tanpa suara.
Lalu perlahan… menghilang.
Keheningan Setelahnya
Kamar kembali sunyi.
Tidak ada suara selain hujan di luar.
Oliver jatuh terduduk.
Tangannya gemetar.
“Apa… tadi itu…?”
Atlas berdiri diam.
Tangannya masih menyala samar.
Namun yang paling mengejutkan bukan itu.
Melainkan tubuh ibu mereka.
Detak jantungnya berhenti.
Semuanya terlambat.
Oliver langsung menunduk.
“Tidak… jangan…”
Atlas tidak bergerak.
Tapi matanya kosong.
Namun sebelum kesedihan benar-benar mengambil alih—
Sang ibu membuka mata untuk terakhir kalinya.
Dan tersenyum kecil.
Seolah semua ini memang sudah ia ketahui sejak awal.
“Sudah… bangun…” suaranya hampir tidak terdengar.
Atlas menoleh cepat. “Ibu!!”
Sang ibu mengangkat tangan perlahan.
Menunjuk dada Atlas.
“Darah itu… akhirnya… kembali…”
Lalu pandangannya berpindah ke Oliver.
“Jangan… saling meninggalkan…”
Dan cahaya di matanya padam.
Retakan Dunia
Tiba-tiba.
Langit di luar rumah bergetar.
Bukan secara fisik.
Tapi seperti dunia itu sendiri sedang “tersentak”.
Atlas dan Oliver merasakan hal yang sama.
Sesuatu yang sangat besar… baru saja memperhatikan mereka.
Dari tempat yang jauh di atas langit.
Dari Alam yang tidak seharusnya bisa disentuh manusia.
Oliver berdiri perlahan.
“Mas…”
Atlas menatap ke arah jendela yang pecah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berkata pelan:
“Kita… bukan manusia biasa.”
Di luar sana, hujan masih turun.
Tapi sekarang..
Dunia tidak lagi sama.Karena dua darah yang selama ini tersegel…
telah bangkit.
Dan perang lama… baru saja dimulai.