NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Aturan Ketat Lantai Tiga yang Terlarang

Pagi hari di kediaman keluarga Oliver selalu dimulai dengan presisi yang menakjubkan.

Jam dinding besar di lobi utama baru saja berdentang enam kali ketika Viona menyelesaikan sarapan sederhananya di dapur bawah.

Kali ini, atas permintaan langsung dari Nona Kecil yang terbangun dengan ceria, koki utama mansion dengan senang hati berkolaborasi dengan Viona untuk membuat "nasi goreng jelek" versi premium yang disajikan dengan potongan daging wagyu halus.

Yoyo melahapnya habis di kamarnya, ditemani oleh Goldie yang dengan setia duduk menanti tetesan makanan di bawah meja.

Melihat Yoyo yang mulai mandiri dan mau berinteraksi dengan pelayan lain berkat kehadiran Goldie, Viona memutuskan untuk memberikan ruang bagi anak itu.

Namun, kebebasan waktu yang mendadak ia miliki justru membawanya pada rasa ingin tahu yang tak sengaja.

Setelah memastikan Yoyo aman bersama Pak Pelayan di taman, Viona berniat mengembalikan mantel wol hitam milik Oliver yang ia gunakan dua malam lalu.

Mantel itu telah ia bersihkan dan lipat dengan rapi di kamarnya.

Berdasarkan informasi yang ia terima, kamar pribadi Oliver berada di lantai tiga—area yang sejak hari pertama telah diberi label

"terlarang" oleh seluruh penghuni rumah.

Langkah kaki Viona yang terbalut sandal rumah empuk nyaris tak bersuara saat ia menaiki anak tangga marmer menuju lantai tiga.

Semakin tinggi ia melangkah, atmosfer mansion terasa berubah.

Jika lantai satu dan dua berdesain klasik Eropa yang hangat dengan sentuhan kayu hangat dan dekorasi ramah anak, maka lantai tiga adalah antitesisnya.

Lantai ini didominasi oleh gaya minimalis modern dengan dinding beton ekspos kelabu, lantai marmer hitam legam yang mengilat seperti cermin, dan pencahayaan yang sangat minim.

Tempat ini terasa dingin, sunyi, dan mutlak—mencerminkan kepribadian sang pemilik dengan sangat sempurna.

Viona berdiri di ujung koridor lantai tiga.

Hanya ada satu pintu kayu besar berwarna hitam pekat di ujung lorong.

Tidak ada hiasan dinding, tidak ada vas bunga.

Hanya ada keheningan mencekam yang seolah berbisik agar siapa pun yang datang segera memutar balik langkahnya.

Mengumpulkan keberaniannya, Viona melangkah mendekati pintu tersebut.

Ia mengangkat tangan kanannya, berniat mengetuk, namun jemarinya terhenti di udara ketika menyadari bahwa pintu besar itu tidak tertutup rapat.

Ada celah beberapa sentimeter yang membiarkan seberkas cahaya terang dari dalam ruangan keluar, membelah kegelapan koridor.

Dari celah itu, terdengar suara ketukan jemari di atas keyboard laptop yang cepat dan ritmis, disusul oleh suara helaan napas yang sangat berat dan lelah.

Viona mengintip sedikit melalui celah pintu, dan pemandangan di dalamnya seketika membuat napasnya tertahan.

Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan pribadi sekaligus ruang kerja yang luar biasa luas.

Dinding-dindingnya dipenuhi oleh ribuan buku bersampul kulit, dan sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni hitam berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.

Di balik meja itu, Oliver duduk dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, tanpa dasi, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak sedikit berantakan akibat jemari yang berulang kali menyisirnya dengan frustrasi.

Di bawah temaram lampu meja, wajah Oliver tampak luar biasa pucat.

Gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di bawah matanya yang memerah.

Di samping laptopnya, berserakan beberapa botol obat resep dengan label peringatan berwarna merah yang sangat familiar bagi Viona.

Sebagai seseorang yang bertahun-tahun bertarung dengan gangguan kecemasan dan depresi, Viona langsung mengenali jenis botol obat tersebut.

Itu adalah obat penenang dosis tinggi dan stimulan untuk mengatasi insomnia akut.

Pria yang dianggap sebagai tirani tak terkalahkan oleh seluruh kota, pria yang dengan satu jentikan jari mampu menghancurkan bisnis keluarga Lin dalam semalam, ternyata sedang duduk sendirian di puncak menaranya, hancur oleh beban mental dan malam-malam tanpa tidur yang menyiksa.

Tanpa sengaja, ujung mantel wol yang dipegang Viona menyentuh gagang pintu, menimbulkan suara decitan halus.

"Krieeet."

Suara ketikan keyboard langsung berhenti seketika.

Atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi sedingin es dalam hitungan milidetik.

Tatapan mata elang Oliver yang tajam dan sarat akan ancaman langsung terarah lurus ke celah pintu.

"Siapa di luar?"

suara Oliver menggelegar rendah, bergetar oleh kemarahan yang tertahan.

Pria itu berdiri dari kursinya, auranya yang mengintimidasi langsung memenuhi ruangan.

"Bukankah sudah kukatakan, tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di lantai tiga tanpa izinku?!"

Menyadari posisinya yang sudah ketahuan, Viona tahu tidak ada gunanya melarikan diri.

Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, lalu mendorong pintu hitam itu perlahan dan melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Ini saya... Oliver,"

ucap Viona dengan suara yang lembut namun tetap tenang.

Ia mengangkat mantel wol di tangannya sebagai alasan kehadirannya.

"Saya hanya ingin mengembalikan mantel Anda yang saya pinjam dua malam lalu. Saya tidak bermaksud lancang."

Oliver mematung saat melihat bahwa penyusup itu adalah Viona.

Kemarahan di wajahnya tidak memudar, namun ada kilatan keterkejutan dan—yang paling utama—rasa tidak nyaman karena privasi dan kerapuhannya telah disaksikan oleh orang lain.

Dengan gerakan cepat yang sengaja dibuat kasual, Oliver menggeser beberapa botol obat di atas mejanya ke balik tumpukan dokumen tebal, mencoba menyembunyikannya dari pandangan Viona.

"Letakkan saja di atas sofa itu,"

perintah Oliver dingin, membuang mukanya ke arah jendela besar, menolak menatap mata Viona.

"Dan setelah itu, segera turun. Pak Pelayan seharusnya sudah memberi tahumu tentang aturan ketat rumah ini. Lantai tiga adalah area terlarang bagi siapa pun, termasuk dirimu."

Viona tidak langsung pergi.

Ia berjalan perlahan menuju sofa beludru hitam di dekat pintu, meletakkan mantel wol yang sudah terlipat rapi di sana.

Namun, bukannya berbalik untuk keluar, pandangannya justru terpaku pada cangkir kopi di sudut meja Oliver yang sudah dingin, dan sebotol air putih yang masih utuh tersegat di dekat obat-obatan tadi.

"Anda belum tidur sejak kemarin, bukan?" tanya Viona tiba-tiba, memecah keheningan yang tegang itu.

Oliver menoleh kembali, alisnya bertaut tajam, matanya menyipit penuh selidik.

"Itu bukan urusanmu, Nona Viona. Tugasmu di rumah ini adalah merawat Yoyo, bukan mencampuri kehidupan pribadiku atau menganalisis jam tidurku."

"Memang bukan tugas saya,"

sahut Viona, melangkah dua langkah lebih dekat ke arah meja kerja, mengabaikan tatapan mengusir dari sang CEO.

"Tetapi saya tahu persis apa arti botol-botol obat yang baru saja Anda sembunyikan di balik dokumen itu, Oliver. Penenang dosis tinggi tidak akan bekerja jika Anda terus memaksakan otak Anda bekerja di depan layar laptop dengan kafein dingin. Itu hanya akan membuat dada Anda terasa semakin sesak dan kecemasan Anda berlipat ganda saat malam tiba."

Kata-kata Viona menghantam Oliver tepat di ulu hatinya.

Rahang pria itu mengeras, dan tangannya yang bertumpu di atas meja mencengkeram pinggiran kayu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Rahasia yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar—bahwa sang penguasa bisnis Oliver Group adalah seorang penderita insomnia akut dan serangan panik sejak kematian istrinya—kini ditelanjangi begitu saja oleh wanita yang baru dua hari tinggal di rumahnya.

"Kau..."

suara Oliver terdengar seperti desisan naga yang terluka. "

Kau tidak tahu apa-apa tentangku."

"Saya tidak tahu tentang Anda, tapi saya tahu tentang penyakit itu,"

potong Viona dengan nada yang sangat lembut, penuh dengan empati mendalam yang tidak mendikte.

Ia menatap Oliver dengan mata jernihnya yang tidak memancarkan rasa takut maupun belas kasihan palsu, melainkan sebuah pemahaman yang tulus.

"Saya hidup bersamanya selama tiga tahun di kamar gelap keluarga Lin. Saya tahu bagaimana rasanya terbangun di tengah malam dengan perasaan seolah-olah seluruh dunia sedang runtuh di atas dada Anda, dan tidak ada satu orang pun yang bisa Anda mintai tolong karena Anda harus tetap terlihat kuat."

Oliver terdiam.

Cengkeramannya di pinggiran meja perlahan mengendur.

Kata-kata Viona meruntuhkan dinding pertahanan tak kasatmata yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Di depan wanita yang memiliki luka batin yang sama dengannya, topeng sang tirani dingin yang arogan itu perlahan terkelupas, menyisakan seorang pria biasa yang kelelahan dan kesepian.

"Lantai tiga ini..."

ujar Oliver akhirnya, suaranya kini terdengar lebih pelan, kehilangan sebagian besar otoritas tajamnya.

Ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, menatap langit-langit perpustakaan yang tinggi.

"Ini adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura menjadi CEO yang sempurna untuk duniaku, atau menjadi ayah yang tak terkalahkan untuk Yoyo. Di sini, aku bisa menjadi pria hancur yang gagal menyelamatkan istrinya sendiri dua tahun lalu."

Viona merasakan dadanya sedikit berdenyut perih mendengar pengakuan jujur itu.

Kehilangan seorang istri dalam kecelakaan tragis dan harus membesarkan seorang anak yang mengalami trauma sendirian, sambil mempertahankan imperium bisnis raksasa—beban yang dipikul Oliver ternyata jauh lebih berat daripada yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

"Anda tidak gagal, Oliver,"

ucap Viona melangkah hingga tepat di depan meja kerja.

Ia mengambil cangkir kopi dingin yang sudah hampir habis itu dan menggantinya dengan botol air putih yang masih disegel.

"Anda berhasil menjaga Yoyo tetap hidup dan aman hingga hari ini. Anda berhasil membawa saya ke sini untuk membantunya. Dan sekarang, giliran Anda yang harus memberi istirahat pada diri Anda sendiri. Kamar ini terlalu dingin, dan aroma kertas-kertas ini tidak akan membantu otak Anda rileks."

Oliver menatap botol air putih di tangannya, lalu mendongak menatap Viona.

"Apakah kau sedang mencoba mengantarku tidur, Nona Viona? Ingat statusmu di rumah ini."

Viona tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini membawa sedikit kehangatan yang mampu mencairkan kebekuan lantai tiga.

"Di bawah kertas kontrak, saya adalah istri sah Anda untuk satu tahun ke depan, Oliver. Dan sebagai istri, kurasa aku memiliki hak untuk sedikit melanggar aturan ketat lantai tiga ini jika itu demi keselamatan kesehatan suamiku."

Mendengar kata "suamiku" keluar dari mulut Viona—meskipun keduanya tahu itu hanya bagian dari status kontrak—ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Oliver.

Sebuah perasaan asing yang sudah sangat lama mati di dalam dirinya kini seolah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Oliver menghela napas panjang, sebuah senyuman sarkastik yang kali ini tampak lebih lelah daripada menyeramkan terukir di sudut bibirnya.

Ia menutup layar laptopnya dengan satu gerakan pelan, mematikan lampu meja yang terang, dan membiarkan ruangan itu kembali diselimuti oleh keremangan malam yang menenangkan.

"Kau benar-benar wanita yang berbahaya, Viona,"

gumam Oliver sambil berdiri dari kursinya.

"Kau menghancurkan pertahanan Yoyo dalam sehari, dan sekarang kau meruntuhkan aturan lantai tigaku dalam waktu kurang dari sepuluh menit."

"Itu karena aturan Anda terlalu kaku, Oliver,"

sahut Viona ringan, melangkah mundur menuju pintu untuk memberikan ruang bagi pria itu.

"Matikan semua dokumen Anda. Pak Pelayan sudah menyiapkan teh kamomil hangat di bawah jika Anda mau turun, atau Anda bisa langsung ke kamar tidur Anda. Tapi tolong, jangan menyentuh botol obat itu lagi malam ini."

Oliver tidak menjawab, namun langkah kakinya yang tegap kini bergerak mengikuti Viona keluar dari ruang kerja hitam tersebut.

Saat pintu kayu besar itu tertutup kembali, keheningan lantai tiga tidak lagi terasa mencekam dan mengintimidasi seperti sebelumnya.

Aturan ketat yang terlarang itu telah dilanggar untuk pertama kalinya, bukan oleh musuh yang ingin menjatuhkannya, melainkan oleh kelembutan seorang wanita berjiwa rapuh yang perlahan membawa secercah cahaya ke dalam kegelapan terdalam sang tirani dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!