NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Berliana Febbyola

"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.

Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.

Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.

Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"

Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.

Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.

Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 LANGKAH TERAKHIR YANG MELAMBAT

Setelah mengingat akan masa kecilnya yang bertemu dengan seorang anak laki - laki dan mendapat sebuah kalung liontin yang masih ia simpan sampai sekarang. Ana pun sedikit terhibur ketika mengingatnya, tak terasa hari semakin sore.

"Ayah dan Ibu, mungkin udah pulang."

Terdengar suara dari bawah, mereka sedang bertengkar karena pengeluaran rumah tangga. Tapi sangat tidak memungkinkan ayah juga marah, ayah hanya mengangguk, diam dan berusaha menenangkan Ibu. Begitulah sifat ayah.

"Tapi... Kenapa ada namaku yang tersebut?" ia menanjamkan lagi pendengarannya dengan keluar dari pintu kamarnya.

"Ya! Aku ngga masalah kalau harus pindah rumah. Tapi, semua uang-ku habis. Lalu kedua anak kita masih sekolah. Kita harus membayar lebih. Terlebih Ana, dia hanya mendapatkan nilai jelek! Bagaimana mau masuk ke sekolah yang sama dengan Raka!" emosi wanita itu memuncak.

"Maafkan aku sayang, aku harusnya ngga meminjam ke rentenir."

"Haduh. (Memegang kepalanya, seakan akan pecah.) pikirkan apa yang harus dilakukan sekarang."

"Ayah Ibu. Aku akan pergi keluar sebentar."

"Mau kemana?! Kamu ngga liat ayah ibu lagi pusing? Kapan kamu dewasa-nya sih?" bentak Ibu

Ana terdiam ia berusaha menahan rasa ingin menangis, dan langsung melangkah setelah melihat wajah ibunya cukup lama.

"ANA! Gadis itu hanya membuat repot saja." suara ibunya masih terdengar ditelinganya.

Ana berlari menuju halte bis dan di dalam bis ia hanya terduduk sambil melihat ke arah jendela. Memalingkan wajahnya dari dunia yang kini mencoba melihatnya hancur.

Notifikasi dari layar ponsel-nya.

Pesan dari ibu dan juga pesan video dari Jia.

"Jia mengirimkan video apa?" ia hanya melihat pesan dari Jia tapi seketika ia memikirkan Ibunya, apakah ia akan khawatir padanya atau sebaliknya.

Dan..

Isi pesan itu :

"Ana, kamu pergi kemana ha?!"

"Pulang atau ibu akan memarahimu lebih besar!"

"Jangan lupa, kamu harus belajar. Kalau kamu dapat nilai jelek, kamu tinggal sama nenek dan bersekolah di sekolahmu yang lama, ngga perlu ikut kami."

Pesan - pesan itu terdengar panas dan pedih. Lalu, ia tak menjawab apapun pesan ibunya dan langsung melihat pesan dari Jia.

Video itu diputar dan ternyata, dirinya sedang direkam oleh seseorang yang memperlihatkan dirinya sedang dibully oleh Jia.

"Saat aku menolong Gerry, tapi ini yang aku dapatkan. Dan... Mereka merekamnya untuk bahan hiburan."

Gadis itu rasanya hilang arah, tak tau harus bagaimana. Dan apa yang ia lakukan selalu salah Dimata semua orang. Ibu dan teman - temannya bahkan tak tau apa yang ia rasakan.

"Ayah. Dia diam karena takut ibu marah, Kak Citra dan Raka mereka sibuk dengan dirinya masing - masing." batin Ana.

Bis berhenti di depan gedung apartemen, Ana masuk dan menaiki lift menuju atap.

"Disini tempat yang sepi dan aman untuk aku menangis."

"Ngga ada yang tau. Ngga ada yang peduli aku menjerit dan menangis."

Apakah lantai atap yang dingin itu bisa mendinginkan pikirannya? Atau menariknya kedalam putus asa.

Di tepi atap, ia melihat pemandangan berkelip - kelip lampu kota yang indah.

"[Berdiri] langkahku akan berakhir sampai disini."

Bayangan ketika teman - temannya mem-bully-nya habis - habisan dan perkataan ibunya yang selalu membanding-bandingi dia dengan saudara-saudaranya.

"Dasar jelek!" suara Jia, seketika itu memenuhi pikirannya.

"Kamu harusnya mencontoh kakak-mu! Dia bisa kerja di perusahaan besar karena dia pintar nggak kayak kamu!" suara Ibu juga muncul dipikirannya.

Suara - suara itu yang membuatnya melangkah sedikit lebih maju dengan tepian atap yang langsung terlihat jalan kota yang keras.

(Merogoh ponselnya, jam menunjukkan pukul 07.00 malam.]

Angin malam semakin hebat bertiup ke arahnya.

Saat akan melangkah lagi untuk loncat dari atap gedung, terdengar suara lembut dan langsung membuat Ana berhenti melangkah.

Dirinya saat masih kecil, halusinasinya seakan menahannya untuk melakukan tindakan salah itu.

[melihat ke samping, tampak gadis kecil itu tersenyum ke arahnya.]

"Ana.. kamu belum selesai, dunia memang mengerikan dan kejam itu ngga adik untukmu, kan? Tapi bukan berati kamu mengalah dan berhenti dengan cara seperti ini." suara itu membuatnya merinding dan membuatnya mundur satu langkah menjauh, sosok ia dimasa kecil pun lenyap menghilang.

Disaat yang bersamaan, terdengar suara laki - laki yang berteriak dan tanpa ia sadari ada yang menarik tangannya ke belakang.

BRUGH!

Badannya terasa sakit semua, apa ia sudah jatuh dari atap gedung?

Tapi..

Terdengar suara raungan, "argh! Sial. Tanganku sakit."

Ana langsung membuka mata dan melihat ada seorang laki - laki yang jatuh bersama dengannya. Dan tangganya jadi bantalan kepala Ana.

"Cepat bangun, bodoh! Argh.." tegas laki - laki itu.

Ana pun cepat beranjak berdiri dan bertanya keadaan laki - laki itu.

"Tu-tuan ngga apa - apa??"

"Menurutmu?!" tegs laki - laki itu sambil menatap tajam padanya.

Jantung Ana seketika berdegup sangat kencang, laki - laki itu tidak mengalihkan pandangannya. Seakan ia masih terkejut, kalau terlambat menyelamatkan gadis itu, mungkin sudah...

Keheningan tersebut masih terasa, terlebih salah satu dari mereka tidak ada yang membuka obrolan dan memutuskan untuk duduk berjauhan setelah insiden mereka jatuh bertindih.

Angin malam yang kencang, mulai menusuk kulit hingga ke tulang. Ana refleks menggosok - gosokkan tangan dibadannya.

Laki - laki itu yang semula menggunakan jaket, langsung membuka dan melemparkannya ke wajah Ana.

"Pakai itu. Menyusahkan aja." ketusnya.

Ana yang kaget, hanya pelanga - pelongo melihat sikap laki - laki asing itu.

"Dia aneh." gumam Ana saat meraih jaket yang dilempar itu.

"Makasih Tuan." sahutnya.

"Siapa yang kamu panggil Tuan?" liriknya tajam ke arah Ana.

Dengan segan - segan ia menunjuk ke arah laki - laki itu.

"Aku?! Apa aku keliatan tua?" gerutu.

"Um.." Ana menggeleng kepala pelan.

Laki - laki itu menarik nafas panjang, dan kembali melihat ke langit kota malam yang bertabur bintang.

"Seberat apapun masalahmu, melakukan sesuatu seperti ini bukanlah jalan keluar yang baik." jawabnya dengan nada pelan.

Tampak laki - laki itu sedang memikirkan sesuatu, karena ekspresi yang semula garang tampak lebih sayu.

"Tuan eh- maaf, kamu pernah kehilangan seseorang yang melakukan hal sama.."

Laki - laki, tiba tiba menatap tajam kearahnya. Membuat, Ana menelan Salivanya kuat - kuat.

"Maaf.." jawabnya

"Untuk apa?"

"Aku ngga bermaksud bertanya hal yang ngga seharusnya." jawab Ana.

"Hum.. aku harus pergi, aku pesankan taxi buat kamu."

"Hahah ngga perlu, Tuan." padahal dalam hatinya, ongkos taxi itu mahal bukannya itu malah semakin menambahkan Omelan ibunya yang menganggap Ana boros.

"Aku yang bayar."

Mendengar itu, mata Ana langsung membulat tak percaya.

"Beneran? Ah, ngga perlu Tuan. Aku naik bis aja."

Mata laki - laki itu menajam seakan memberikan perintah agar Ana menurut.

#Bersambung...

1
Berliana Febbyola
Iya kah? Lebih terpontang panting kalau yang iniiii🤭
NonaMudaDesi
Ceritanya mirip drakor true beauty yah, tapi ini lebih dark nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!