NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Penyatuan dalam Nyala Gairah

Udara di dalam kamar itu seolah terbakar habis, dipenuhi oleh napas yang memburu, detak jantung yang saling bersahutan, dan rasa panas yang merambat ke setiap inci kulit keduanya. Di luar, hujan masih terus mengguyur deras, memukul kaca jendela dengan irama yang kian cepat seolah mengiringi detak jantung mereka yang semakin tak terkontrol. Di atas hamparan kasur empuk berwarna gelap itu, di bawah cahaya remang yang menciptakan bayangan-bayangan lembut, Davian Argantha benar-benar telah menutup setiap jalan keluar bagi Grey Cha Lavian—bukan dengan kekerasan, melainkan dengan sentuhan, pandangan, dan gairah yang begitu kuat hingga seluruh pertahanan diri gadis itu runtuh sepenuhnya.

Davian tidak lagi memberikan ruang sedikit pun di antara tubuh mereka. Tubuh tegapnya menekan lembut namun pasti di atas tubuh mungil Grey, menciptakan rasa aman sekaligus rasa terkurung yang memabukkan. Tangannya yang besar dan hangat bergerak dengan bebas, menyusuri setiap lekukan tubuh gadis itu dengan jari-jari yang terampil, seolah dia sedang memetakan wilayah kekuasaannya sendiri. Setiap sentuhan yang dia berikan terasa begitu nyata, begitu membakar, dan begitu penuh arti, membuat seluruh saraf Grey seolah menegang dan bernyawa hanya untuk merasakan sentuhan itu.

"Kau sangat indah, Grey… lebih indah dari apa pun yang pernah ada di duniaku yang gelap ini," gumam Davian di samping telinganya, suaranya serak berat, penuh dengan kekaguman yang mendalam dan hasrat yang tak lagi bisa dibendung. Bibirnya bergerak turun dari sudut bibir Grey, menyusuri garis rahang yang halus, mendaratkan ciuman-ciuman basah dan lapar di leher jenjang yang terasa begitu lembut di bawah bibirnya. Di sana, dia meninggalkan jejak-jejak merah samar, tanda nyata kepemilikannya yang tak akan hilang dalam waktu singkat, seolah ingin menanamkan namanya di sana agar siapa pun yang melihatnya tahu persis siapa pemilik wanita ini.

Grey mendesah pelan, kepalanya terhuyung ke belakang, rambut panjangnya menyebar di atas bantal seperti kipas berwarna gelap. Tangannya yang tadinya sempat mencoba menolak, kini justru melingkar erat di leher pria itu, jari-jarinya menyelip ke sela-sela rambut hitamnya yang sedikit berantakan, menarik wajah Davian semakin mendekat ke arahnya. Dia sudah tidak lagi peduli dengan aturan, dengan kebebasan, atau dengan rasa bangga dirinya yang dulu. Semua yang dia rasakan saat ini hanyalah rasa panas yang menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya, rasa ingin memiliki dan dimiliki yang liar, dan kesadaran yang menyakitkan namun manis bahwa dia telah jatuh sepenuhnya ke dalam jaring-jaring cinta berbahaya ini.

"Davian…" namanya keluar dari bibirnya sebagai desahan halus, penuh dengan kelembutan dan penyerahan diri yang perlahan tumbuh. Matanya yang berwarna abu-abu itu menatap lurus ke dalam mata hitam pekat pria itu, di mana dia bisa melihat dirinya sendiri terpantul di sana, terlihat kecil namun begitu berarti di tengah kedalaman pandangan itu. "Apa yang kau lakukan padaku? Kau membuatku lupa segalanya… kau membuatku tidak bisa berpikir lagi selain tentangmu."

Davian mengangkat wajahnya sedikit, menatap wajah gadis itu yang kini memerah padam, bibirnya yang bengkak dan basah akibat ciuman mereka, serta mata indahnya yang kini berkaca-kaca dan penuh emosi yang bercampur aduk. Dia tersenyum, senyum yang penuh kemenangan, kepuasan, dan juga kelembutan yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun. Dia mengusap pipi Grey dengan ibu jarinya, gerakannya begitu lembut, kontras dengan aura dominan yang selama ini dia pancarkan.

"Itulah yang aku inginkan, Sayang," jawabnya pelan, lalu mencium ujung hidung gadis itu dengan lembut. "Aku ingin menjadi satu-satunya yang ada di pikiranmu, di hatimu, dan di seluruh hidupmu. Aku ingin menghapus semua jejak masa lalumu, semua kenangan tentang laki-laki lain, dan menggantinya hanya dengan aku. Mulai malam ini, tubuhmu, jiwamu, dan segala sesuatu yang ada padamu… semuanya adalah milikku sepenuhnya. Dan aku… aku akan menjadi milikmu selamanya, hanya milikmu."

Perlahan, dengan gerakan yang penuh perhatian namun tetap memiliki kekuasaan mutlak, Davian melepaskan setiap lapisan pakaian yang memisahkan kulit mereka. Setiap kali selembar kain terlepas, dia mencium setiap bagian kulit yang baru saja terekspos, seolah ingin memberikan penghormatan sekaligus tanda kepemilikan di sana. Tidak ada rasa malu lagi di antara mereka, hanya ada rasa ingin tahu yang besar dan rasa saling memiliki yang tak terhingga. Di bawah cahaya remang itu, tubuh mereka terbuka satu sama lain, saling memandang dengan pandangan yang penuh kekaguman dan keinginan yang tak terbendung.

Saat kulit mereka akhirnya bersentuhan sepenuhnya, Grey merasakan aliran listrik yang kuat menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Kulit Davian terasa hangat, kasar namun kokoh, penuh dengan bekas-bekas luka masa lalu yang menjadi bukti perjalanan hidupnya yang berbahaya. Dan bagi Grey, setiap goresan, setiap garis otot yang keras itu terasa begitu sempurna, begitu maskulin, dan begitu miliknya. Dia merasakan tubuhnya menyatu dengan tubuh pria itu, merasakan detak jantung mereka berdetak serentak, merasakan kehangatan yang saling mengalir di antara mereka seolah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

"Kau sangat indah, Grey… sangat indah hingga rasanya aku takut menyentuhmu, takut kau akan hancur atau hilang jika aku terlalu kasar," bisik Davian dengan suara yang bergetar, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh gadis itu dengan pandangan yang tak mau melepaskan sedikit pun. Tangannya bergerak menyusuri pinggang ramping itu, memeganginya dengan genggaman yang kuat namun penuh kehati-hatian, seolah dia sedang memegang permata paling berharga di dunia. "Tapi aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku sudah menahan rasa ini terlalu lama sejak pertama kali melihatmu. Dan malam ini… aku akan menjadikanmu milikku dengan cara yang paling nyata, paling dalam, dan paling abadi."

Gerakan itu dimulai perlahan, penuh dengan rasa hormat dan kelembutan, namun seiring berjalannya waktu, gairah yang terpendam itu meledak menjadi sesuatu yang lebih liar, lebih panas, dan lebih mendominasi. Davian bergerak dengan irama yang menguasai, menuntut segalanya dari gadis di bawahnya, sementara Grey membalas setiap sentuhan dan setiap ciuman dengan semangat yang sama besarnya. Dia yang dulu selalu menjadi penguasa dalam setiap hubungan, dia yang dulu selalu memegang kendali dan pergi sesuka hati… kini sepenuhnya menyerahkan kendali itu ke tangan pria ini, membiarkan dirinya terbawa arus badai gairah yang diciptakan oleh Davian.

Setiap sentuhan, setiap desahan, setiap bisikan cinta dan kepemilikan yang terucap di antara mereka semakin mengeratkan ikatan yang terjalin. Davian mencium bibirnya lagi dan lagi, menelan setiap desahan yang keluar dari mulut gadis itu, memastikan bahwa tidak ada suara lain yang terdengar di ruangan itu selain suara mereka berdua. Dia memeluk tubuh Grey semakin erat, mendesaknya semakin dalam ke dalam pelukannya, seolah ingin menyatukan daging dan tulang mereka agar tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi batas yang memisahkan.

"Milikkmu… selamanya milikmu…" desis Davian di samping telinganya, napasnya memburu dan panas. "Ingat kata-kataku ini, Grey. Setelah malam ini berlalu, tidak ada lagi jalan bagimu untuk kembali. Kau terikat padaku, sama seperti aku terikat padamu. Jika kau jatuh, aku yang akan menangkapmu. Jika kau terluka, akulah yang akan menghancurkan siapa pun yang menyakitimu. Dan jika kau mencoba pergi… aku akan mengikutimu ke ujung dunia, aku akan menarikmu kembali, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas lagi. Kau adalah rantai yang mengikatku, dan kau juga adalah penjara yang paling indah bagiku."

Grey merasa matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih atau takut, melainkan karena rasa bahagia yang luar biasa, rasa memiliki yang mendalam, dan rasa kewalahan akan besarnya cinta yang diberikan pria ini padanya—cinta yang posesif, cinta yang mengikat, namun cinta yang begitu tulus dan begitu besar hingga mampu menutupi seluruh kekosongan yang selama ini dia rasakan dalam hidupnya. Dia melingkarkan kakinya di pinggang Davian, menarik pria itu semakin mendekat, membalas gerakan itu dengan semangat yang sama, merasakan penyatuan yang sempurna, penyatuan dua jiwa yang berbeda namun kini menyatu dalam satu tujuan.

"Dan kau juga milikku, Davian… hanya milikku," jawabnya dengan suara yang lemah namun penuh penegasan, matanya menatap lurus ke dalam mata hitam itu yang kini memancarkan cahaya kebahagiaan yang murni. "Kau mungkin menguasai segalanya di dunia ini, kau mungkin ditakuti oleh semua orang… tapi ingatlah, mulai malam ini, akulah satu-satunya penguasa di hatimu. Dan aku tidak akan pernah membagimu dengan siapa pun, sama seperti kau tidak mau membagiku."

Malam itu berlanjut dalam kehangatan yang kian membara, dalam kelembutan yang bercampur dengan keganasan gairah. Di antara lemparan tubuh, ciuman yang tak terhitung jumlahnya, dan bisikan-bisikan janji yang abadi, batas antara kebencian dan cinta, antara kebebasan dan ikatan, antara rasa takut dan rasa aman perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah mereka berdua, terperangkap dalam dunia kecil milik mereka sendiri yang terbuat dari cinta, hasrat, dan kepemilikan mutlak.

Di saat-saat terakhir yang penuh puncak kenikmatan itu, saat dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar dan waktu terasa membeku, Davian mencium bibir Grey dengan penuh rasa syukur dan kepemilikan yang paling dalam. Dia merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat dalam pelukannya, merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang, dan merasakan penyerahan diri yang utuh yang diberikan Grey padanya.

Dan di saat itu juga, Davian tahu satu hal pasti: dia tidak peduli apa pun yang akan terjadi di masa depan, tidak peduli seberapa banyak musuh yang akan datang, atau seberapa besar bahaya yang mengancam. Selama Grey ada di pelukannya seperti ini, selama dia tahu wanita ini adalah miliknya sepenuhnya, dia akan melakukan apa saja, menghancurkan siapa saja, dan menaklukkan dunia ini jika perlu… hanya untuk menjaga kebahagiaan dan wanita yang kini telah menjadi nyawanya itu.

Malam itu berakhir dengan keheningan yang lembut, hanya terdengar napas panjang dan teratur dari keduanya yang kini terbaring lelah namun bahagia di atas kasur itu. Davian memeluk tubuh Grey yang kini sudah tertidur lelap di lengannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya agar dia bisa mendengar detak jantungnya yang kuat dan tenang. Dia mencium puncak kepala Grey dengan lembut, mengusap rambut panjang itu dengan penuh kasih sayang.

Di luar sana, hujan sudah mulai reda, meninggalkan udara yang sejuk dan langit yang perlahan mulai cerah. Namun di dalam kamar itu, api cinta dan gairah mereka masih menyala, membakar segala sesuatu yang lama dan melahirkan sesuatu yang baru. Penyatuan itu telah terjadi, ikatan itu telah terjalin, dan Grey Cha Lavian—si gadis bebas yang biasa bermain-main dengan hati—kini benar-benar, sepenuhnya, dan selamanya telah terperangkap dalam cinta seorang mafia yang paling posesif, paling berkuasa, dan paling mencintainya di dunia ini.

Dan kini, tidak ada jalan kembali. Hanya ada jalan ke depan, menuju seratus bab kisah mereka yang penuh rintangan, bahaya, kecemburuan, kepemilikan, dan cinta yang tak akan pernah pudar.

 

(Lanjut ke Bab 6)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!