NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXI

Anran merasa semakin gelisah dengan sikap kakaknya itu. Ia pun segera berjalan menuju kamar Mu Chen, lalu mengetuk pintu berkali-kali dengan nada yang tidak sabar.

"Kak! Buka pintunya! Aku tahu kau belum tidur, aku mau bicara penting!" seru Anran dari luar.

Tak ada jawaban, namun pintu itu akhirnya terbuka perlahan. Wajah Mu Chen tampak lesu dan tidak bersemangat.

"Ada apa, Anran? Aku benar-benar lelah, biarkan aku istirahat dulu," ucap Mu Chen hendak menutup kembali pintu itu, namun Anran segera menahan pintu agar tidak tertutup.

"Tidak! Kau harus bicara denganku sekarang! Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakak dan Luna? Kalian berdua pulang dengan wajah yang sedih dan muram. Apa yang sebenarnya terjadi di kedai tadi? Cepat ceritakan semuanya padaku!" desak Anran dengan nada tegas dan cemas.

Mu Chen menghela napas panjang, lalu akhirnya mempersilakan adiknya masuk. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Aku... aku menyakiti hatinya, Anran," ucap Mu Chen lirih, suaranya terdengar berat. "Dia bertanya apakah aku menyukainya. Dan aku... aku bilang tidak. Aku juga bilang ada wanita lain yang kucintai."

Anran kaget, lalu wajahnya seketika berubah menjadi marah. Ia langsung berdiri di hadapan kakaknya itu dengan tangan berkacak pinggang.

"Kakak gila ya?! Kakak tahu betapa sulitnya Luna membuka hatinya pada orang lain? Dia sudah berubah kak, dia sudah menjadi orang yang baik, dan dia juga tulus mencintai Kakak! Kenapa Kakak malah mengucapkan hal-hal yang tidak berguna seperti itu?! Bukankah Kakak juga mencintainya?" bentak Anran dengan rasa tak percaya.

"Memang aku mencintainya!" seru Mu Chen tiba-tiba, suaranya bergetar menahan rasa sakit. "Justru karena aku sangat mencintainya, aku tidak mau dia menderita bersamaku! Aku ini hanya orang biasa, hidupku penuh ketidakpastian, dan aku takut... aku takut di masa depan aku menyakitinya nanti. Aku ingin dia bahagia, Anran. Dan menurutku, dia pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku."

Anran menghela napas kasar, berusaha meredakan emosinya, lalu ia mendekat dan menatap kakaknya itu.

"Kak Mu Chen, dengarkan aku baik-baik. Luna bukan wanita yang mencari harta atau jaminan hidup mewah. Kau lupa apa yang sudah dia lalui? Dia sudah pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, dia pernah ingin mati karena merasa tidak ada tempat untuknya di dunia ini. Sekarang, satu-satunya hal yang dia butuhkan bukanlah harta atau kemewahan... melainkan seseorang yang tulus mencintainya, seseorang yang ada di sisinya. Itu saja."

Anran berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut namun penuh penekanan.

“Kalau Kakak tidak menemuinya dan membiarkan dia merasa tak dicintai, justru Kakaklah yang akan menghancurkannya kembali. Dia sudah hancur sekarang, Kak. Mungkin saat ini dia sedang menangis di kamarnya, merasa dirinya tidak pantas dicintai. Apakah Kakak mau hal itu terus terjadi? Sekarang juga pergilah temui dia. Jelaskan segalanya, katakan apa yang sesungguhnya ada di dalam hati Kakak. Jangan biarkan dia menunggu lagi, Kak.”

Mu Chen menatap adiknya, rasa bersalah kini memenuhi dadanya. Kata-kata Anran benar. Ia tidak bisa terus lari dari perasaannya dan menyakiti wanita yang paling dicintainya itu.

"Kau benar Anran... aku salah. Aku sangat salah karena memikirkan perasaanku sendiri saja," ucap Mu Chen penuh penyesalan.

"Kalau begitu, jangan diam saja kak! Pergilah sekarang juga dan temui dia!" desak Anran menyemangati.

Setelah disadarkan oleh Anran, Mu Chen pun akhirnya memberanikan diri. Ia bangkit berdiri, menghapus air matanya, lalu melangkah keluar kamar menuju kamar Luna, dengan niat untuk mengakui segalanya dan memperbaiki kesalahannya.

Mu Chen mengetuk pintu kamar Luna pelan namun berulang kali. “Luna… buka pintunya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, kumohon,” ucapnya lembut namun terdengar mendesak.

Dari dalam kamar hanya ada keheningan, tak ada jawaban sama sekali.

“Aku tahu kau ada di dalam. Tolong buka sebentar saja, hanya sebentar. Ini sangat penting,” mohon Mu Chen lagi.

Suara Luna terdengar lirih dan dingin dari balik pintu, “Pergilah… aku lelah, aku ingin sendiri, dan tak ingin bertemu siapa pun sekarang.”

“Kalau kau tak mau membuka, aku akan tetap menunggu di sini sampai kau keluar. Aku tak akan pergi,” jawab Mu Chen tegas.

Setelah hening sejenak, akhirnya pintu itu terbuka sedikit. Wajah Luna tampak sembab dan pucat, matanya masih merah bekas menangis. Ia menatap Mu Chen dengan tatapan kosong.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah saja di sana,” ucapnya dingin, berniat menutup pintu kembali.

Namun Mu Chen perlahan mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan mendekat, sementara Luna mundur menjauh.

“Kenapa kau masuk sembarangan?! Apa lagi yang mau kau katakan padaku? Bukankah semua sudah jelas tadi?!” tanya Luna dengan nada tinggi dan tegas, berusaha menahan tangisnya lagi.

Tanpa berkata apa-apa, Mu Chen melangkah cepat dan memeluk tubuh Luna erat-erat, menahannya agar tak bisa lari lagi.

“Lepaskan! Lepaskan aku sekarang juga! Kau gila ya?! Kau bilang kau tak pernah menyukaiku, kan?! Kau bilang ada wanita lain yang kau cintai?! Kenapa kau menyentuhku?!” Luna memberontak sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri, namun kekuatan Mu Chen jauh lebih besar darinya. Lama-kelamaan, tubuhnya lemas dan ia pun pasrah membiarkan dirinya dipeluk, sementara air matanya kembali menetes.

Mu Chen membenamkan wajahnya di bahu Luna, suaranya bergetar, menahan rasa sakit dan penyesalan. “Maafkan aku… maafkan aku, Luna. Semua yang aku katakan di gudang tadi… semuanya bohong. Aku berbohong. Aku tak pernah mencintai wanita lain, dan tak ada siapa pun di hatiku selain kau.”

Luna tertegun sejenak, tanpa pikir panjang, ia mengayunkan tangannya dan menampar pipi pria itu sekuat tenaga.

Plakk!

Apa yang terlihat di hadapan Mu Chen seketika lenyap. Ia tersadar bahwa itu hanyalah khayalannya semata. Tanpa membuang waktu, ia kembali mengetuk pintu kamar Luna dengan nada yang lebih keras, berharap ada jawaban dari dalam. Namun, keheninganlah yang menyambutnya, tidak ada sahutan dan suara sedikit pun.

Rasa cemas pun mulai memenuhi hati Mu Chen. Ia pun berbalik dan memanggil adiknya.

Mu Chen: "Anran! Anran, cepat kemari!"

Anran segera berlari mendekat. Ia melihat jelas raut kekhawatiran di wajah kakaknya.

Anran: "Ada apa, Kak? Kenapa wajah Kakak terlihat gelisah? dimana Luna?"

Mu Chen: "Aku sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Coba kau panggil, Mungkin dia hanya akan mendengarmu."

Anran mengangguk paham, lalu ikut mengetuk pintu itu sambil memanggil dengan suara yang cukup nyaring.

Anran: "Luna? Apa kau ada di dalam? Jawab kami, Kak Mu Chen ingin bicara padamu."

Tidak ada jawaban apapun. Firasat buruk kini merayapi hati kedua kakak beradik itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mu Chen segera mendobrak pintu kamar itu hingga terbuka. Pemandangan di dalam membuat nafas mereka berdua tertahan. Kamar itu kosong, dan Luna sudah tidak ada di sana.

Di atas meja, terletak selembar kertas kecil. Anran segera mengambilnya dan mulai membaca isi surat itu perlahan, sementara Mu Chen berdiri kaku di sampingnya, mendengarkan setiap kata yang dibacakan Anran.

Untuk: "Mu Chen dan Temanku, Anran"

  Aku sangat berterima kasih karena kalian telah menerimaku tinggal bersama kalian. Kalian memberiku semua kebaikan yang belum pernah aku dapatkan seumur hidupku ini. Namun, ada saatnya aku merasa telah menganggap sesuatu secara berlebihan dan ternyata aku memang salah. Untuk itu, lebih baik aku pergi dan kalian tidak perlu mencariku. Tenanglah, aku juga tidak berniat mengakhiri hidupku kembali.

  Dan untuk Lulu.. dia anak yang sangat manis dan lucu. Untuk pertama kalinya, aku merasa dia adalah bagian dari hidupku ini, tapi aku tidak bisa lagi menemaninya. Maafkan aku karena pergi tanpa berpamitan.

Dari: Luna

Setelah selesai membaca, tangan Anran gemetar hingga kertas itu hampir terlepas dari tangannya. Matanya memanas menatap kakaknya. Wajah Mu Chen terpaku, matanya menatap kosong ke ruangan yang kini terasa begitu sepi dan dingin.

Anran: "Kak... surat ini... Apakah dia benar-benar pergi. Kenapa dia berpikir seperti itu?" suaranya terdengar bergetar menahan tangis.

Mu Chen hanya diam terpaku, namun sorot matanya jelas memancarkan rasa sakit yang luar biasa.

Anran: "Kita harus mencarinya sekarang, Kak! Dia mungkin belum pergi terlalu jauh, kita masih bisa menemukannya dan menjelaskan segalanya! Ayo, Kak!"

Mereka berdua segera memeriksa setiap sudut rumah, mulai dari halaman belakang hingga berlari ke luar. Mereka memanggil nama Luna sekuat tenaga, namun tak ada jawaban, tak ada jejak, dan tak ada bayangan wanita itu sama sekali. Luna telah pergi jauh meninggalkan rumah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!