Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Tak Jadi Nongkrong
Ge menatap Tantri yang masih berlutut di depannya dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik dia hanya diam. Lalu dia menggaruk kepala dengan malas.
“Lu ini drama banget ya,” katanya datar.
Tantri menatapnya dengan mata memohon.
“Ge… gue serius…”
Ge langsung menarik kakinya hingga Tantri hampir kehilangan pegangan. “Udah berdiri sana!” ujar Ge.
Tantri perlahan bangkit.
Ge memasukkan kedua tangannya ke saku celana lagi. “Denger ya,” katanya santai, “gue nggak peduli sama reputasi lu.”
Tantri terdiam.
“Lu mau pura-pura kaya, mau pura-pura jadi artis, mau pura-pura jadi putri kerajaan juga terserah!" kata Ge. Dia menunjuk rumah kumuh di belakang Tantri. “Tapi yang penting sekarang… bayar dulu utang bokap lu.”
Tantri menggigit bibirnya. “Gue bisa bayar setengahnya.”
Ge mengangkat alis. “Ya udah. Kasih aja.”
“Cuma separuh…”
“Daripada nol.”
Tantri menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “...Oke.”
Mereka berjalan kembali ke depan rumah.
Bang Ucup langsung melipat tangan. “Udah selesai curhatnya?”
Bang Jali ikut menyeringai. “Kalau mau pacaran jangan di depan rumah orang yang punya utang.”
Ge menghela napas. “Bang, ini anak mau bayar.”
Bang Ucup langsung tertarik. “Bayar?”
Tantri mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya.
“Ini sepuluh juta.”
Bang Jali langsung mengambil amplop itu. Dia membuka dan menghitung isinya dengan cepat. Matanya membesar. “Beneran sepuluh juta.”
Bang Ucup mengangguk. “Lumayan. Nah... Begini kek dari tadi!"
Ayah Tantri yang berdiri di belakang langsung kebingungan. “Nak… uang dari mana itu?”
Tantri langsung menunduk. “Tabungan…”
Ayahnya mengerutkan kening. “Tabungan apa? Kita bahkan—”
Tantri cepat memotong. “Nanti aja, Pak!”
Bang Ucup menyelipkan uang itu ke dalam tas kecilnya. “Oke. Utangnya tinggal sepuluh juta lagi.”
Ayah Tantri langsung pucat. “Bang… kasih waktu lagi…”
Bang Jali menepuk bahunya. “Dikasih waktu kok. Tapi jangan ngilang lagi.”
Bang Ucup lalu melirik Ge. “Udah. Beres.”
Ge mengangguk santai. “Gas balik.”
Tantri diam saja. Dia sempat melirik Ge sebentar. Namun Ge sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia langsung menyalakan motornya.
BRRAAAKK!
Motor tua itu meraung lagi. Beberapa detik kemudian mereka sudah keluar dari gang sempit itu.
Warung gorengan kembali terlihat dari kejauhan. Bang Ucup dan Bang Jali turun dari motor.
“Lumayan malam ini,” kata Bang Jali.
Ge duduk di bangku warung lagi. “Bang, miras nggak ada nih?”
Bang Ucup menatapnya. “Mau mabuk lagi?”
Ge menyeringai. “Biar cepat tidur.”
Namun saat itulah seseorang berjalan mendekat dari arah jalan. Seorang pria kurus dengan kumis tipis dan kaos singlet lusuh. Begitu Ge melihat wajahnya, dia langsung mengerang.
“Yah… selesai.”
Bang Ucup menoleh. “Oh… Bos datang.”
Pria itu adalah Tarno. Ayahnya Ge. Tarno menatap Ge dengan wajah kesal. “Lu di sini lagi?”
Ge pura-pura tidak dengar. Dia mengambil gorengan. “Enak nih tahu isi.”
Tarno langsung menjewer telinganya. “GE!”
“Auw! Apaan sih, Pak!” protes Ge.
Bang Ucup dan Bang Jali langsung menahan tawa.
Tarno menunjuk Ge. “Mak lu nyariin!”
Ge langsung menghela napas panjang. “Baru juga duduk…”
Tarno menyilangkan tangan. “Pulang sekarang, Anak setan!"
"Lah, kalau aku anak setan, bapak setannya dong!" balas Ge.
"Kurang ajar!" Tarna langsung menendang bokong Ge kesal.
Ge masih mencoba melawan. “Bentar lagi, Pak.”
Tarno menatapnya tajam. “Sekarang!"
Bang Ucup menepuk bahu Ge. “Udah sana. Daripada kuping lu putus.”
Bang Jali ikut menimpali. “Besok nongkrong lagi.”
Ge menghela napas panjang. “Yaudah…” Dia berdiri dengan malas. “Padahal gue mau mabuk.”
Tarno langsung memukul belakang kepalanya. “Jangan bangga ngomong gitu!”
Beberapa menit kemudian, Ge sampai di rumah. Begitu pintu dibuka, mamaknya langsung menyambut.
“GE!” Suara Marni, mamaknya, langsung menggelegar dari dalam rumah.
Ge langsung berhenti di ambang pintu. “Hehe… malam, Mak.”
Marni keluar dari dapur sambil memegang sendok sayur. “Lu kemana aja?!”
Ge mengangkat tangan. “Nongkrong.”
“DUIT MAMAK MANA?!”
Ge pura-pura berpikir. “Biarin aja kenapa sih, Mak. Cuman lima ratus ribu doang.”
Marni langsung menunjuk wajahnya. “Katakan saja lu pakai buat apa tuh duit?!"
Ge menggaruk kepala. “Udah jadi bensin.”
“BENSHIN PALE LU!”
“Bensin, Mak… bukan benshin.”
Marni hampir melempar sendok. “GE!”
Ge cepat menghindar. “Tenang, Mak! Nanti aku bayar!”
“PAKAI APA?!”
Ge menyeringai. “Pakai cinta..." dia lalu membuka lebar dua tangannya sambil tersenyum. Seolah menawarkan pelukan untuk mamaknya.
Marni langsung mengambil sandal. “Dasar anak ini ya! Makin hari makin menjadi-jadi kelakuannya!"
Ge langsung lari keliling ruang tamu. “Mak! Mak! Mak! Kekerasan dalam rumah tangga!”
Marni mengejar. “LU YANG BIKIN RUMAH TANGGA RUSUH!”
Ge tertawa sambil bersembunyi di belakang kursi. “Mak, sumpah nanti aku ganti!”
"Ya sudah sana mandi! Terus makan! Jangan kelayapan lagi! JANGAN BERGADANG!" omel Marni. Meski sering marah-marah, dia tetaplah seorang ibu yang peduli pada anaknya.
"Siap, Mamakku sayang..." sahut Ge cengengesan. Dia segera berlari ke kamar.