Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUNGEON HUTAN BELANTARA
Rian melirik layar ponselnya.
18:30.
Artinya, hanya tersisa tiga puluh menit sebelum sistem memindahkan mereka ke dungeon masing-masing.
Rian menghela napas pelan.
"Berarti tiga puluh menit lagi kita semua akan berpisah."
Suara Rian membuat seluruh murid menoleh.
"Setelah masuk dungeon, kemungkinan besar kita tidak akan berada di tempat yang sama."
"Aku juga tidak bisa melindungi kalian lagi."
Suasana gudang langsung menjadi sunyi.
Wajah para murid yang sebelumnya mulai tenang kembali memucat.
Mereka sadar bahwa selama ini mereka bisa bertahan karena ada Rian.
Jika nanti mereka harus menghadapi bahaya sendirian, tidak ada jaminan mereka bisa selamat.
Ketakutan kembali memenuhi hati mereka.
Bagi orang-orang yang tidak siap, pengumuman sistem itu bagaikan bendera kematian.
Waktu terus berlalu.
Tak terasa tiga puluh menit akhirnya habis.
Tepat pukul 19:00.
Sebuah layar biru kembali muncul di depan setiap orang.
[Proses Pemindahan Dungeon Akan Dimulai]
[Harap Bersiap]
Suara sistem terdengar dingin dan tanpa emosi.
Tubuh seluruh murid perlahan berubah menjadi butiran cahaya berwarna biru.
Sebelum benar-benar menghilang, Rian berteriak.
"Dengarkan baik-baik!"
"Kalau kalian menemukan jiwa atau gumpalan aura aneh, serap secepat mungkin!"
"Itu bisa menyelamatkan hidup kalian!"
Beberapa murid mengangguk panik.
Detik berikutnya, seluruh tubuh Rian berubah menjadi cahaya.
Dunia di sekitarnya menghilang.
...
[Selamat Datang di Dungeon Hutan Belantara]
[Misi: Bertahan Hidup Selama Tiga Jam]
Ketika suara sistem menghilang, Rian perlahan membuka matanya.
Rasa pusing langsung menyerang kepalanya.
"Ugh..."
Ia mengusap pelipisnya.
"Sistem sialan... tidak bisakah memindahkan orang dengan lebih nyaman?"
Tak jauh darinya, seseorang juga mulai terbangun.
Seorang gadis.
Ia memegang kepalanya sambil berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
"Kepalaku sakit..."
"Aku... di mana sekarang?"
Mendengar suara itu, Rian menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Rian sempat terdiam.
Bukan karena gadis itu sangat cantik.
Melainkan karena ia merasa pernah mengenalnya.
Rambut pendek.
Seragam sekolah.
Dan suara yang tidak asing.
Gadis itu berkedip beberapa kali sebelum menunjukkan ekspresi terkejut.
"Kamu... Rian?"
Rian mengernyit.
"Kamu mengenalku?"
Gadis itu mengangguk.
"Tentu saja."
"Aku Indah."
Mata Rian sedikit membesar.
Indah?
Siswi berkacamata yang memberikan kunci gudang dan botol air?
Ia memperhatikan wajah gadis itu sekali lagi.
Tanpa kacamata tebal yang biasa dipakainya, penampilannya memang sangat berbeda.
Tidak heran ia sempat tidak mengenalinya.
"Jadi benar-benar kamu."
Indah tersenyum kecil.
"Syukurlah kita tidak terpisah."
Rian mengangguk.
"Ya. Aku juga tidak menyangka."
Indah mulai melihat ke sekeliling.
"Tunggu..."
"Kacamataku hilang."
Ia mencari-cari di sekitar tempat teleportasi.
Namun tidak menemukan apa pun.
Setelah beberapa saat, ia hanya menghela napas.
"Sudahlah."
"Sepertinya tidak mungkin menemukannya lagi."
Rian berdiri sambil memperhatikan sekeliling.
Tak lama kemudian, dua pedang sederhana muncul di hadapan mereka.
[Senjata Pemula Telah Diberikan]
Rian mengambil salah satunya.
"Ambil pedangmu."
Indah menurut.
Begitu pedang itu berada di tangannya, ukuran pedang perlahan berubah.
Menjadi lebih pendek dan ringan.
Cocok untuk tubuhnya.
Mata Indah langsung membesar.
"Wah..."
"Pedangnya berubah bentuk."
Rian tersenyum tipis.
"Sistem menyesuaikannya dengan pengguna."
Mereka mulai berjalan menyusuri hutan.
Sepanjang perjalanan, mereka sesekali berbincang.
Sampai tiba-tiba Indah tertawa kecil.
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Sebagian besar murid di sekolah mengira kamu itu preman."
Rian hampir tersandung.
"Hah?"
Indah mengangguk serius.
"Mereka bilang kamu pendiam."
"Jarang bicara."
"Dan kelihatannya galak."
Rian hanya bisa menggaruk belakang kepalanya.
"Jadi selama ini citraku seperti itu?"
Indah tertawa pelan.
"Kurang lebih."
Sebelum percakapan berlanjut, langkah mereka terhenti.
Di depan mereka berdiri lima pintu batu raksasa.
Masing-masing memiliki tulisan berbeda.
Level 1.
Level 2.
Level 3.
Level 4.
Level 5.
Indah menelan ludah.
"Apa yang harus kita pilih?"
Tanpa ragu, Rian menunjuk pintu paling kanan.
"Level 5."
Indah langsung membelalakkan mata.
"Level 5?!"
"Itu yang paling berbahaya!"
Namun Rian hanya tersenyum.
"Belum tentu."
Ia menatap kelima pintu itu.
"Di kehidupan sebelumnya, banyak orang takut memilih level tinggi."
"Mereka memilih level rendah karena merasa lebih aman."
"Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu."
Rian menunjuk pintu level 5.
"Kalau tebakanku benar, tulisan tingkat kesulitan ini hanyalah ujian keberanian."
Indah berpikir beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
"Aku percaya padamu."
Rian tersenyum tipis.
"Kalau begitu, ayo masuk."
Mereka berdua berjalan menuju pintu level 5.
Begitu melewati ambang pintu, dunia di depan mereka mulai berubah.
Petualangan pertama mereka pun dimulai.
Yang diatas adalah gambar dari visual indah Permatasari disekolah nya , memang agak tomboy sedikit tapi oke..
...Bye admin alu feed ~~...