Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keesokan harinya, di gedung perkantoran milik keluarga Pratama yang berdiri megah di tengah pusat kota, suasana pagi itu terasa biasa saja. Yogie Pratama duduk di balik meja kerjanya yang luas, menandatangani beberapa berkas sambil sesekali memijat pelipisnya. Sebagai pewaris tunggal dan pemimpin perusahaan, ia merasa cukup bangga dengan apa yang telah dicapai keluarganya. Perusahaan Pratama memang dikenal cukup besar dan disegani di kota ini, menjadi salah satu pemain utama di bidang properti dan konstruksi.
Namun, pagi itu sesuatu yang istimewa terjadi.
Seorang sekretaris muda mengetuk pintu ruang kerjanya, masuk dengan langkah tergesa namun tetap sopan. Di tangannya tergenggam sebuah amplop surat berwarna putih bersih dengan logo emas yang sangat elegan dan asing baginya.
"Ada apa?" tanya Yogie singkat, mengangkat wajahnya.
"Maaf mengganggu, Tuan Yogie. Ini baru saja dikirimkan oleh kurir khusus. Katanya ini undangan resmi, dan pengirimnya memastikan surat ini langsung diserahkan ke tangan Tuan sendiri," lapor sekretaris itu sambil menyodorkan amplop indah tersebut.
Rasa penasaran menyelinap di hati Yogie. Ia mengambil amplop itu, membolak-baliknya, dan matanya terbelalak saat membaca nama pengirim yang tercetak indah di sudut kanan atas: PERUSAHAAN LAKSMANA.
Jantung Yogie seolah berhenti berdetak sejenak. Ia tahu betul nama itu. Siapa saja yang berkecimpung di dunia bisnis kota ini pasti tahu nama Laksana Group. Perusahaan raksasa yang usahanya mencakup hampir semua sektor, mulai dari pertambangan, perbankan, properti, hingga ekspor-impor. Perusahaan yang kekayaan dan jangkauan jaringannya jauh di atas perusahaan Pratama. Bahkan bisa dibilang, Laksana Group adalah penguasa ekonomi di wilayah ini, perusahaan yang dihormati dan ditakuti oleh semua pengusaha, termasuk ayahnya sendiri.
Perusahaan Pratama hanyalah butiran debu jika dibandingkan dengan kemegahan dan kekuatan Laksana Group.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusiasme, Yogie membuka amplop itu. Ia membaca isi surat di dalamnya dengan saksama. Isinya adalah undangan resmi untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahaan yang ke-21 sekaligus acara pelantikan pejabat baru dan pengumuman penting lainnya. Undangan itu ditujukan khusus untuk keluarga besar Pratama.
Wajah tampan Yogie seketika berubah bersinar terang. Senyum lebar mengembang di bibirnya, rasa bangga dan bahagia memuncak di dada.
"Ya Tuhan... Ini nyata? Kita diundang oleh Laksana Group?" gumamnya kaget namun penuh sukacita.
Ia merasa sangat beruntung dan terhormat. Diundang ke acara sebesar itu berarti nama keluarganya mulai dilirik oleh lingkaran bisnis tertinggi. Itu adalah kesempatan emas untuk menjalin koneksi, berkenalan dengan orang-orang paling sukses dan berkuasa, serta mengangkat derajat perusahaan Pratama menjadi jauh lebih tinggi lagi.
Tanpa membuang waktu, Yogie segera beranjak dari kursinya. Ia mengambil jasnya dan bergegas keluar ruangan, berniat menyampaikan kabar gembira ini kepada ayah dan ibunya yang kebetulan sedang berada di ruang rapat utama pagi itu.
Sesampainya di ruang rapat, Ayah dan Ibu Yogie Tuan Pratama dan Nyonya Pratama sedang berdiskusi dengan beberapa manajer. Yogie masuk dengan langkah tegap, wajahnya berseri-seri.
"Ayah, Ibu... Lihat ini!" seru Yogie penuh semangat sambil meletakkan undangan mewah itu di atas meja besar. "Lihat siapa yang mengirimkan ini pada kita."
Tuan Pratama yang awalnya bingung, segera meraih surat itu. Begitu matanya menangkap nama perusahaan pengirim, tangannya langsung bergetar hebat karena kaget dan tak percaya. Matanya membelalak lebar, berkali-kali membaca tulisan itu untuk memastikan ia tidak salah lihat.
"Laksana Group...?" bisik Tuan Pratama parau. "Benarkah ini? Kita... kita diundang ke acara ulang tahun mereka?"
"Benar, Yah! Itu undangan resmi khusus untuk keluarga kita," jawab Yogie bangga.
Suasana ruangan seketika berubah heboh. Nyonya Pratama langsung beranjak mendekat, mengambil surat itu dan menelitinya dengan kagum. Wajahnya berubah sumringah luar biasa.
"Ya ampun... Laksana Group! Perusahaan terbesar di kota ini, bahkan di seluruh provinsi ini!" seru Nyonya Pratama dengan nada suara yang meninggi karena gembira. "Yogie, kau tahu betapa besarnya mereka? Perusahaan mereka sepuluh kali, bahkan seratus kali lipat lebih besar dan lebih kaya dibandingkan perusahaan kita. Kita saja kalau mau kerja sama dengan mereka harus antre bertahun-tahun, tapi sekarang... mereka sendiri yang mengundang kita!"
Tuan Pratama tersenyum lebar, dadanya membusung penuh kebanggaan dan rasa puas. Rasa hormat dan kewibawaan dirinya terasa meningkat berkali-kali lipat.
"Ini kabar terbaik yang aku dengar sepanjang tahun ini," ucap Tuan Pratama lantang, suaranya penuh kemenangan. "Berarti nama kita, nama keluarga Pratama, sudah mulai diakui dan dianggap setara oleh kalangan atas. Ini kesempatan emas, Yogie. Di sana nanti akan hadir para pejabat tinggi, pengusaha konglomerat, orang-orang paling berpengaruh di negeri ini. Kau harus ikut, kita semua harus ikut. Ini adalah langkah besar untuk memajukan perusahaan kita ke tingkat yang jauh lebih tinggi lagi."
Yogie mengangguk mantap, hatinya berbunga-bunga. Ia membayangkan betapa hebatnya pesta itu nanti, betapa megahnya tempatnya, dan betapa bangganya ia bisa berbaur dengan kalangan elit tertinggi. Ia sama sekali tidak menyadari atau curiga mengapa tiba-tiba perusahaan raksasa itu mengundang mereka. Baginya, ini murni keberuntungan dan bukti kehebatan nama besar Pratama.
"Pasti, Yah! Saya akan bersiap sebaik mungkin. Saya ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan itu, Tuan Ardiansyah Laksana. Saya ingin belajar banyak darinya. Siapa tahu dengan kehadiran kita ini, bisa membuka jalan kerja sama besar yang akan membuat perusahaan kita makin jaya," jawab Yogie penuh ambisi.
Kabar bahagia itu tak berhenti sampai di situ. Tak lama kemudian, kabar itu sampai juga ke telinga Pak Joko, Bu Ratih, dan Sania keluarga yang kini sudah dianggap sebagai keluarga dekat oleh Pratama, apalagi setelah rencana pernikahan (meski gagal) dan hubungan kerja sama yang terjalin.
Saat mendengar bahwa keluarga Pratama diundang oleh perusahaan Laksana Group, reaksi mereka bahkan jauh lebih heboh, angkuh, dan penuh rasa sombong.
Di ruang tamu mewah kediaman Pak Joko, mereka bertiga berkumpul kembali. Pak Joko tertawa keras sambil menepuk-nepuk pahanya, matanya berbinar serakah dan bangga.
"Lihat kan? Benar kan apa yang aku bilang? Keluarga Pratama itu hebat, dan kita sudah berada di lingkaran mereka!" seru Pak Joko dengan nada congkak. "Perusahaan Laksana itu... wahai kalian, itu raksasa bisnis. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa masuk ke sana. Dan karena kita dekat dengan keluarga Pratama, berarti pintu itu juga terbuka lebar buat kita!"
Bu Ratna tersenyum bangga, wajahnya bersinar. "Benar, Yah. Kalau kita bisa masuk ke lingkaran itu, nama kita akan makin harum. Semua orang akan tahu kita keluarga terpandang. Dulu saja kita sudah merasa hebat, tapi sekarang... rasanya kita sudah setingkat dengan penguasa kota ini."
Sania yang duduk bersandar santai sambil memainkan gawainya, mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi dengan senyum kemenangan yang sangat sombong. Ia merasa dirinya adalah putri raja yang segalanya serba ada.
"Memang sudah seharusnya kita di tempatkan di posisi tinggi," ucap Sania dengan nada meremehkan. "Lihat saja nanti di acara itu. Semua orang pasti akan memandang kami dengan kagum. Mas Yogie pasti akan sangat bangga memperkenalkan aku di sana. Di saat ada yang sudah diceraikan dan dibuang entah ke mana menjadi sampah di jalanan aku justru akan berdiri bersebelahan dengan Mas Yogie di acara terbesar itu. Aku akan menjadi pusat perhatian, dan aku akan memastikan semua orang tahu bahwa akulah wanita yang pantas mendampingi keluarga Pratama, bukan kakakku yang tidak berguna itu."
Mereka bertiga tertawa puas, tenggelam dalam rasa angkuh dan keserakahan mereka. Mereka merasa hidup mereka semakin hari semakin sempurna, semakin naik derajatnya, sementara musuh-musuh mereka termasuk Salwa sudah dianggap hilang dan hancur tak berbekas.
Tak ada satu pun dari mereka yang sadar, atau yang memiliki firasat buruk sedikit pun. Mereka tidak tahu bahwa undangan mewah yang mereka anggap sebagai kemenangan besar itu, sebenarnya adalah jebakan indah yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Undangan itu bukan tanda persahabatan, melainkan undangan untuk menghadapi penghakiman, undangan untuk melihat kebangkitan orang yang paling mereka benci dan hina, serta undangan untuk menyaksikan kehancuran mereka sendiri perlahan namun pasti.
Di tengah rasa bangga dan kesombongan mereka, mereka hanya sibuk membayangkan kemegahan dan keuntungan yang akan mereka dapatkan, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berjalan mendekat ke mulut naga yang sudah siap menelan mereka hidup-hidup.
bersambung ,,,