NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GSS

Di luar, matahari terus naik. Sementara di dalam rumah itu, sesuatu baru saja runtuh tanpa suara. Tanpa mereka bisa mempersiapkan diri.

Langit masih pucat ketika Ella tiba di lokasi kecelakaan. Ia kesana bersama Bu Vero, ditemani polisi yang menjemput mereka pagi ini.

Udara di pegunungan terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bau tanah basah dan dedaunan memenuhi napasnya. Garis polisi telah terpasang, membentang longgar di antara dua pohon pinus.

Beberapa petugas berdiri di sekitar tepi jurang. Sebuah mobil derek terparkir tak jauh dari sana.

Ella berhenti beberapa langkah sebelum garis itu. Jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Di sinilah. Tanpa benar-benar meminta izin, ia melangkah mendekat.

“Maaf, Mbak, tidak boleh lewat.” Seorang polisi menghalangi, tangannya terangkat setengah.

Ella menatapnya. “Ayah saya,” katanya singkat. “Yang di dalam mobil itu.”

Polisi itu terdiam sejenak. Wajahnya melunak. "Lihat dari sini saja, ya." polisi itu mengarahkan Ella ke arah selatan agar bisa lebih leluasa melihat kedalam jurang. Polisi itu menurunkan tangannya perlahan. Membantu Ella agar tetap aman.“Tapi hati-hati, ya.”

Ella mengangguk. Langkahnya terasa berat saat mendekati tepi jurang. Ia tidak langsung melihat ke bawah. Seolah ada bagian dari dirinya yang belum siap.Namun akhirnya, ia memaksa diri. Dan melihat. Jauh di bawah sana, sisa-sisa mobil itu tampak seperti benda asing yang dipelintir dan dibuang begitu saja oleh sesuatu yang lebih besar. Hancur. Tidak berbentuk. Seperti perasaan Ella saat ini.

"Apakah sekarang aku sendiri?" pertanyaan itu muncul di kepala Ella. Pertanyaan yang dahulu sering muncul ketika ayahnya sakit. Di dunia ini Ella hanya punya Ayah, sejak ibunya meninggal dunia, Ella hanya berpegang pada Ayah. Tapi sekarang, lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu jatuh ke jurang yang bila dipikir dengan logika sehat, jelas gak akan mungkin selamat. Tapi Ella tak bisa menerima kenyataan itu. Mungkin belum bisa sebab sekarang rasanya ia seperti kapas yang diterbangkan angin. Hatinya terombang-ambing.

Ella menahan napas. Bayangan ayahnya di balik kemudi muncul begitu saja dengan sangat jelas. Ia menutup mata sejenak. Lalu membukanya kembali.

“Rem blong, kemungkinan besar,” kata seseorang di belakangnya.

Ella menoleh.

Seorang pria berseragam berdiri dengan clipboard di tangan. Wajahnya datar, profesional. “Jalan licin juga. Kombinasi yang… sering terjadi.”

Sering terjadi. Kata-kata itu terasa salah. Ella kembali menatap jurang. “Mobilnya sudah diperiksa?” tanyanya.

“Masih proses. Tapi dari kondisi jalanan yang terakhir dilalui sebelum masuk jurang, tidak ada bekas rem.” Pria itu berhenti bicara.

Ella menoleh pelan. “Ayah saya selalu cek mobil sebelum pergi jauh,” lanjutnya. “Dia tidak mungkin mengabaikan rem.”

Pria itu tersenyum tipis. Sopan, tapi tidak benar-benar percaya. “Kadang hal tak terduga tetap bisa terjadi, Mbak.”

Ella tidak menjawab. Matanya bergerak, menyapu sekitar. Aspal. Pinggir jalan. Bekas goresan di pembatas besi. Lalu sesuatu yang tidak pada tempatnya. Beberapa langkah dari titik jatuh, ada jejak ban lain. Tipis. Tapi jelas. Seolah sebuah mobil berhenti mendadak atau terlalu dekat.

Ella berjalan menjauh dari jurang, ia menuju jalanan yang dilewati ayahnya, sampai ke ujung. Berjongkok. Ujung jarinya hampir menyentuh jejak itu.

“Area itu sudah kami cek,” suara pria tadi terdengar lagi, kini sedikit lebih tegas. “Tidak ada indikasi tabrakan.”

Ella tidak menoleh. “Ini bukan bekas mobil ayah saya.” Ella sangat yakin sebab setiap mobil punya pola tapak ban berbeda. Mobil Pak Tanto ban standar memiliki pola halus. Sementara jejak ini lebih kasar atau kebar seperti mobil off-road.

Ella bisa tahu jenis ban mobil ayahnya sebab ayahnya sering mengajak Ella ke bengkel bersama. Salah satu yang menjadi bahan perbincangan mereka adalah masalah ban mobil. Ayah Ella adalah orang yang sangat tertib dalam segala hal termasuk urusan kendaraan. Ella bahkan sering diingatkan ayahnya kapan hrus ganti oli dan ban serta servis mobilnya.

Sementara mobil off-road, Ella tahu sebab pekan lalu ia baru saja liburan ke pantai dan naik wahana mobil off-road. Makanya Ella masih ingat betul jejak mobil yang sempat diperhatikannya saat turun ketika mereka mendaki bukit pasir.

Hening. Angin berhembus lebih kencang, menggerakkan pita garis polisi hingga berdesir pelan.

Ella berdiri. Perlahan. Matanya masih terpaku pada jejak itu. “Dia tidak sendirian di sini,” gumamnya.

Tidak ada yang menjawab. Di kejauhan, seorang petugas lain memanggil sesuatu tentang proses evakuasi. Tapi suara-suara itu terasa jauh. Seolah teredam oleh sesuatu yang lain.

Perasaan bahwa ada yang tidak beres menyelimuti hati Ella. Ella melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Turun beberapa meter ke sisi lereng yang lebih landai. Tanahnya lembap. Licin. Ia hampir terpeleset, tapi bertahan. Matanya menyapu semak-semak. Mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu bentuknya.

“Ayah…” bisiknya hampir tak terdengar. Angin membawa suaranya pergi. Ella membuka matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu kesedihan di dalamnya mulai berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih tajam. Lebih dingin. Bernama kebenaran.

Ia akan menemukannya. Ella sudah bertekad untuk menemukannya. Apa pun yang disembunyikan di tempat ini tidak akan terkubur selamanya. Di titik ini, fondasi misterinya sudah kuat yaitu jejak ban misterius. Ella yakin ini bukan kecelakaan tunggal, hanya saja ia tak tahu harus berbagi cerita pada siapa. Bahkan pada ibu tirinya. Ella belum mempercayai siapapun saat ini.

***

"Kita harus pulang!" tiba-tiba Bu Vero sudah berada di belakang Ella.

"Aku," Ella enggan meninggalkan tempat ini, ia masih mencari sesuatu, atau mungkin menunggu hingga ayahnya ditemukan.

"Polisi sudah menurunkan timnya untuk mencari ayahmu. Kita tidak bisa berlama-lama disini, khawatirnya malah mengganggu proses evakuasi. Percayakan saja pada pihak yang berwajib, ayahmu pasti akan ditemukan." Bu Vero memberikan isyarat agar Ella menurut saja.

Bu Vero mendahului Ella, ia melangkah menuju mobil polisi yang membawanya dan Ella ke sini. Sampai di depannya, ia kembali memanggil Ella. Tak ada pilihan lain, meski berat Ella akhirnya menyusul.

"Apakah kita bisa ke sini lagi?" tanya Ella, pelan, saat mereka sudah duduk di bangku penumpang.

"Semoga saja ayahmu sudah ditemukan, jadi kita tunggu saja kabar baiknya." jawab Bu Vero.

"Polisi pasti akan bekerja keras untuk menemukan Ayah. Apalagi ayah juga bukan orang biasa. Ayah seorang yang punya jabatan di pemerintahan. Pasti akan ada bantuan untuk mencari Ayah." Ella mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ia meyakinkan bahwa hari ini juga pasti akan bertemu dengan ayahnya.

Mobil polisi yang mereka tumpangi perlahan bergerak meninggalkan lokasi kecelakaan Pak Tanto. Air mata Ella ikut mengalir.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!