NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kegelisahaan Liana

Leonardo baru saja berdiri dan bersiap untuk segera pulang ke rumah. Ia ingin segera memberitahu Liana tentang semua kebenaran yang baru saja ia ketahui. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada istrinya, yang selama ini juga merasa ada yang tidak beres dan menahan segala rasa cemas sendirian.

Namun, sebelum Leonardo sempat melangkah keluar dari ruangan, Adrian segera berdiri dan menahan lengan sahabatnya itu.

 "Tunggu dulu, Leo , Jangan terburu-buru untuk memberitahu Bu Liana sekarang." cegah Adrian .

Leonardo menoleh dengan tatapan bingung.

"Kenapa, Adrian? Liana juga berhak tahu. Dia sudah menahan segala perasaan sendirian selama ini. Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya lagi."

 "Saya mengerti perasaanmu, Leo . Saya juga merasa tidak tega melihat Bu Liana yang sudah menderita karena rasa cemas dan ketidakpastian. Tapi dengarkan saya dulu. Kita baru saja mendapatkan bukti dari rekaman CCTV, tapi itu saja belum cukup untuk menjadi bukti yang mutlak."

"Maksudmu? Bukankah rekaman itu sudah jelas terlihat bahwa Sari yang menukar bayi kami ?"

 "Memang terlihat jelas, Leo . Tapi kita harus berpikir jernih. Kalau kita memberitahu Bu Liana sekarang, dia akan sangat terkejut dan mungkin tidak bisa menerima semuanya dengan baik. Apalagi selama ini dia masih berharap-harap cemas menunggu hasil tes DNA. Bayangkan saja, jika dia mendengar hal ini sekarang, dia akan merasa hancur sebelum semuanya benar-benar terbukti secara ilmiah."

Adrian berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

"Dan juga, kita harus mempertimbangkan kemungkinan apa pun. Meskipun bukti dari rekaman CCTV sudah sangat kuat, kita masih membutuhkan bukti yang tidak bisa dibantah lagi. Tes DNA yang sedang dilakukan Bu Liana dan gadis itu akan menjadi bukti yang paling kuat dan paling sah. Kalau kita mengungkapkan semuanya setelah hasil tes DNA itu keluar, semuanya akan menjadi lebih jelas dan tidak ada ruang untuk keraguan lagi."

Leonardo terdiam, memikirkan saran yang diberikan oleh Adrian. Ia tahu bahwa sahabatnya itu berbicara dengan akal sehat. Ia juga menyadari bahwa memberitahu Liana sekarang bisa membuatnya terkejut dan bahkan sakit hati, apalagi jika nantinya ada hal-hal lain yang belum diketahui.

 "Tapi bagaimana dengan Liana? Dia akan terus menahan rasa cemas dan tidak tahu apa-apa sampai hasil tes DNA keluar. Itu akan membuatnya semakin menderita."

  "Memang begitu, leo. Tapi setidaknya dengan menundanya sedikit, kita bisa memastikan bahwa semuanya benar-benar terbukti. Kita tidak mau nanti ada hal-hal yang membuat kita menyesal. Dan selama ini, kita bisa mendampingi Bu Liana dengan cara yang lebih baik. Kita bisa menenangkannya, memberinya dukungan, sampai saat yang tepat tiba untuk mengungkapkan semuanya."

Adrian menatap Leonardo dengan tatapan penuh pengertian.

 "Ingat, Leo . Kita ingin kebenaran ini terungkap dengan cara yang paling baik dan paling adil untuk semua orang. Termasuk untuk Bu Liana, untuk gadi itu , dan juga untuk Nayla. Kita tidak mau ada yang terkejut atau terluka lebih dari yang seharusnya."

Leonardo menarik napas panjang, lalu menghela napas pelan. Ia tahu bahwa saran Adrian itu benar. Meskipun hatinya ingin segera bercerita pada Liana, ia juga harus memikirkan dampak yang akan ditimbulkannya.

 "Baiklah, Adrian. Aku akan menundanya. Aku tidak akan memberitahu Liana dulu sampai hasil tes DNA itu keluar. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa menahan diri untuk tidak bercerita padanya, apalagi melihat dia yang terus-menerus diam dan sedih seperti itu."

 "Saya mengerti, Leo . Tapi kita harus kuat untuk sementara waktu ini. Saya akan selalu ada di sini untuk mendukungmu. Dan begitu hasil tes DNA itu keluar, kita akan segera memberitahu semuanya kepada Bu Liana dengan cara yang paling baik."

Leonardo mengangguk, lalu duduk kembali di kursinya. Ia menatap bukti-bukti yang ada di atas meja dengan tatapan yang penuh perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa hari-hari ke depan akan menjadi hari-hari yang sulit, tapi ia harus bersabar sampai saat yang tepat tiba.

 "Terima kasih, Adrian. Kamu memang orang yang paling bisa aku percayai. Tanpa saranmu, aku mungkin sudah membuat keputusan yang salah."

"Sama-sama, Leo. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai sahabat dan orang yang bekerja untuk keluarga Dewantara. Kita akan melewati semuanya bersama-sama."

Sementara itu, di rumah keluarga Dewantara...

Liana masih duduk diam di kamar tidur, menunggu kepulangan Leonardo. Ia masih menahan segala rasa cemas dan harap di dalam hatinya, berharap bahwa hasil tes DNA nanti akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benaknya. Dan di ruang tengah, Nayla masih menunggu dengan perasaan yang tidak menentu, bertekad untuk mencari tahu kebenaran apa pun yang terjadi.

...****************...

 DI RUMAH SEDERHANA KELUARGA SARI

Sore itu, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat Dinda berjalan pulang dari tempat kerjanya. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah ada beban besar yang menekan dadanya. Sejak pagi tadi, ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi ketika ia bertemu kembali dengan Bu Sari dan Pak Agus. Ia yakin, mereka pasti sudah mengetahui bahwa ia tidak ada di rumah seharian, dan pasti akan menanyakan ke mana ia pergi.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Apakah ia harus jujur dan mengatakan bahwa ia pergi melakukan tes DNA dengan Bu Liana? Atau apakah ia harus berbohong untuk sementara waktu, sampai ia mendapatkan hasilnya nanti? Ia bingung dan tidak tahu harus memilih mana.

"Kalau aku jujur, mungkin mereka akan marah atau sedih. Tapi kalau aku berbohong, aku merasa tidak enak hati. Selama ini mereka membesarkan ku dengan baik, meskipun kadang-kadang sikap Bu Sari terasa berbeda. Tapi aku juga berhak tahu kebenaran tentang diriku sendiri," batinnya dengan perasaan yang campur aduk.

Sesampainya di depan rumahnya, Dinda berdiri sejenak di depan pintu, menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum masuk. Ia mendorong pintu perlahan, dan suara pintu yang berderak menarik perhatian orang-orang yang ada di dalamnya.

Di ruang tamu, Bu Sari dan Pak Agus sudah menunggunya. Mereka duduk di kursi dengan wajah yang cemas dan serius. Sejak pagi tadi, mereka sudah menunggu kepulangan Dinda, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti berjam-jam bagi mereka.

Begitu melihat Dinda masuk, Bu Sari segera berdiri dan mendekatinya. Wajahnya tampak pucat dan matanya terlihat sembab seolah ia baru saja menangis.

"Dinda... kamu baru pulang? Kamu pergi ke mana saja dari pagi tadi? Kami sudah menunggumu sejak tadi pagi. Kamu tidak bilang apa-apa, tidak meninggalkan pesan apa-apa. Kamu tahu tidak bagaimana perasaan kami?"

Suara Bu Sari terdengar campur aduk antara marah, khawatir, dan sedih. Dinda menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata ibunya. Ia memainkan ujung bajunya dengan gugup.

 "Maaf, Bu... Maafkan Dinda. Dinda... Dinda pergi ke tempat kerja, Bu. Hari ini ada tugas tambahan yang harus Dinda selesaikan, jadi Dinda pulang sore."

Bu Sari terdiam sejenak, menatap Dinda dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia tahu bahwa Dinda berbohong. Ia tahu persis bahwa Dinda tidak pergi ke tempat kerja, karena ia sudah menanyakan ke kafe tempat Dinda bekerja saat ia merasa cemas tadi siang. Dan pihak kafe mengatakan bahwa Dinda tidak masuk kerja sama sekali hari ini.

"Kamu pergi ke tempat kerja? Benarkah itu, Dinda?"

Dinda Masih menunduk "Iya, Bu. Benar. Ada banyak pesanan yang harus disiapkan, jadi Dinda harus membantu dari pagi tadi."

Suara Bu sari mulai meninggi, dengan nada yang menyakitkan "Jangan berbohong padaku, Dinda! Aku sudah menanyakan ke kafe tempat kamu bekerja tadi siang. Mereka bilang kamu tidak masuk kerja hari ini! Jadi ke mana kamu sebenarnya? Katakan padaku yang sebenarnya!"

Dinda terkejut mendengar hal itu. Ia mengangkat wajahnya, menatap Bu Sari dengan mata yang terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa ibunya akan menanyakan ke tempat kerjanya. Ia merasa terjebak, tidak tahu harus menjawab apa lagi.

 "I... itu... Dinda..."

Pak Agus Mendekat dan menepuk bahu Dinda dengan lembut "Dinda, Nak... Kami orang tuamu. Kami yang membesarkan mu sejak kamu masih bayi. Kami menyayangimu lebih dari apa pun. Jadi tolong... katakan padaku yang sebenarnya. Ke mana kamu pergi hari ini? Apakah kamu pergi menemui Bu Liana? Apakah kamu melakukan tes DNA seperti yang kamu katakan semalam?"

Pertanyaan itu langsung mengenai sasaran. Dinda terdiam, air matanya mulai menetes tanpa ia sadari. Ia tidak bisa berbohong lagi, karena ia tahu bahwa orang tuanya sudah mengetahui semuanya.

"Iya, Bu... Pak... Dinda jujur. Hari ini Dinda pergi menemui Bu Liana. Dan... dan kami pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA."

Suara Dinda terdengar lemah dan bergetar. Ia menundukkan wajahnya lagi, menunggu reaksi dari kedua orang tuanya.

Bu Sari terhuyung mundur, seolah ia baru saja dipukul dengan benda berat. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tangannya gemetar hebat. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi saat mendengarnya langsung dari mulut Dinda, rasanya tetap seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Suara Bu sari terdengar parau "Jadi... kamu benar-benar melakukannya? Kamu benar-benar mencari tahu kebenaran itu?"

 "Maafkan Dinda, Bu... Dinda tidak bermaksud menyakiti Ibu atau Bapak. Tapi Dinda... Dinda hanya ingin tahu siapa diri Dinda sebenarnya. Selama ini banyak orang yang bilang Dinda tidak mirip dengan Ibu dan Bapak. Dinda juga sering merasa ada yang tidak beres. Dan saat Dinda bertemu dengan Bu Liana... Dinda merasa ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan antara kami berdua. Itu sebabnya Dinda ingin melakukan tes DNA ini."

"Lalu apa kalau hasilnya nanti membuktikan bahwa kamu bukan anak kami? Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan meninggalkan kami begitu saja? Kami yang sudah membesarkan mu dengan susah payah selama 17 tahun, kamu akan lupakan begitu saja?"

Air mata Bu Sari akhirnya jatuh juga. Ia duduk di kursi dengan tubuh yang lemas.

Dinda Segera mendekat dan memegang tangan Bu Sari "Tidak, Bu! Tidak akan pernah seperti itu. Apapun hasilnya nanti, Ibu dan Bapak akan tetap menjadi orang tua Dinda. Kalian yang membesarkan Dinda, yang merawat Dinda saat sakit, yang mendidik Dinda sampai seperti sekarang. Dinda tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian. Tapi Dinda hanya ingin tahu... siapa orang tua kandung Dinda yang sebenarnya. Itu saja, Bu."

Pak Agus Menghela napas panjang, matanya juga berkaca-kaca "Dinda... Nak... Kami tahu kamu berhak tahu. Kami juga tahu bahwa kami tidak bisa menyembunyikan rahasia ini selamanya. Tapi... ada hal-hal yang membuat kami takut untuk mengatakannya. Hal-hal yang mungkin akan mengubah hidup kita semua selamanya."

Dinda menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh harap.

"Kalau begitu... kenapa Ibu dan Bapak tidak mau jujur dari awal? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Dinda merasa begitu dekat dengan Bu Liana? Apakah... apakah aku benar-benar anak kandungnya?"

Bu Sari menatap Dinda dengan tatapan yang penuh rasa bersalah dan kesedihan. tapi Bu sari belum mau mengaku . Dia takut kalau dia menjawab jujur , dinda akan meninggalkannya . karena dia berpikir , kalau anak kandungnya belum tentu mau menerimanya , yang berasal dari keluarga miskin. karena anak kandungnya sudah terbiasa dengan kemewahan .

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!