NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Beberapa hari setelah kepergian Yuda, rumah itu terasa terlalu luas untuk satu orang.

Carisa duduk di sofa dengan lutut ditarik ke dada, menatap dengan pandangan kosong. Di luar, hujan turun tanpa sopan santun. Keras, tiba-tiba, tanpa memberi tanda. Seperti beberapa hal lain dalam hidupnya.

Ponselnya tergeletak terbalik di atas meja. Satu kalimat dari Yuda, yang dikirim pagi tadi, masih berdiri jelas di kepalanya.

"Setelah kamu berdamai dengan masa lalumu, datanglah padaku lagi."

Kalimat itu memberi sesuatu yang menyerupai harapan. Tapi bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu?

Saat pikirannya masih berputar di sana, bel rumahnya berbunyi.

Carisa tidak langsung bergerak. Ia membiarkan beberapa detik lewat memberi ruang bagi harapan yang sempat muncul. Lalu ia berdiri, mengusap wajahnya sekali, dan berjalan ke pintu.

Ia membukanya. Dan harapan itu hilang secepat datangnya.

Reynanda berdiri di sana. Bajunya basah menempel di tubuh, rambutnya berantakan oleh hujan, wajahnya seperti seseorang yang berangkat terburu-buru tanpa sempat memikirkan apa pun selain tujuan. Di belakangnya, hujan jatuh tanpa henti, menyatu dengan gelapnya malam.

Carisa menatapnya lama.

“Pergi dari sini!” usirnya.

“Carisa...”

“Pergi, Nanda.” Tangannya mengencang di gagang pintu.

“Aku tahu Yuda meninggalkanmu...”

“Itu bukan urusanmu.” Ia memotong, suaranya datar dengan usaha yang tidak kecil. “Tidak ada satu pun yang terjadi di balik pintu ini yang menjadi urusanmu.”

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Carisa mendorongnya. Telapak tangannya mengenai dada Reynanda, membuat lelaki itu mundur satu langkah ke dalam hujan ke tempat di mana air jatuh tanpa ampun di bahunya.

“Masuk ke mobilmu. Dan pergi dari sini!”

Reynanda tidak bergerak.

Carisa mendorongnya lagi. Dan lagi. Sampai keduanya sama-sama basah, sampai batas antara dalam dan luar jadi kabur antara yang mengusir dan yang bertahan tidak lagi jelas.

“Carisa.” Suara Reynanda berubah. “Aku tidak akan pergi sebelum kamu mendengarkanku...”

“Tidak ada yang perlu kudengar lagi.”

“Aku mohon.”

Ada sesuatu dalam nada itu yang membuat langkah Carisa tertahan.

“Aku tahu aku yang memulai semua ini.” Hujan jatuh di antara mereka. Suaranya tidak melawan derasnya, justru masuk di sela-selanya, pelan, sampai ke tempat yang paling tidak ingin Carisa sentuh. “Aku tahu semua kekacauan ini karena aku. Tapi aku tidak sanggup lagi menyangkal perasaanku kalau aku masih, dan selalu, mencintaimu.”

“Aku sudah tidak mencintaimu lagi.” Suara Carisa bergetar. “Tidak ada yang tersisa di hatiku untukmu.”

Reynanda memejamkan mata sesaat. Lalu membukanya dan ada sesuatu di sana yang tidak bisa disembunyikan oleh hujan atau malam.

“Carisa.” Namanya terdengar pelan, seperti sesuatu yang terlambat. “Maafkan aku.”

“Aku sudah muak mendengar maafmu.”

“Aku tahu aku salah,” kata Reynanda, menatap penuh penyesalan. “Tapi aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi. Cintai aku lagi. Aku mohon.”

Carisa mendorongnya lagi, tapi kali ini lemah. Dan Reynanda menangkap kedua tangannya. Menahannya seperti seseorang yang takut kehilangan untuk kedua kalinya.

“Lepaskan!”

“Sebentar saja!” Reynanda menarik Carisa ke dalam pelukannya. “Aku melepas Humaira. Aku benar-benar gila karenamu.”

“Lepaskan, Nanda...”

“Aku mencintaimu.” Kalimat itu keluar lagi. “Dulu. Sekarang. Aku masih mencintaimu.”

Hujan terus turun di antara mereka. Mengenai bahu, rambut, wajah membuat mereka benar-benar basah kuyup.

Carisa menarik napas panjang, tidak stabil seperti baru ingat cara bernapas.

Lalu melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Reynanda.

“Pulanglah, Nanda.” Tidak lagi marah. Hanya lelah. “Kembalilah pada anak dan istrimu. Dan jangan pernah datang kesini lagi.”

“Carisa...”

“Humaira tidak bersalah.” Suaranya pelan tapi tegas. “Dan Yuda pergi karena aku, bukan karena kamu. Itu yang harus aku selesaikan sendiri.”

“Aku dan Humaira akan segera bercerai,” kata Reynanda. “Kamu juga harus segera bercerai dari Yuda. Demi anak kita, Carisa… mari kita kembali bersama.”

Carisa terdiam. Untuk sesaat, hujan terasa lebih keras dari sebelumnya. Dia baru sadar ternyata laki-laki yang pernah ia cintai mati-matian tenyata hanya seorang laki-laki egois.

“Anak kita?” ulangnya pelan, seolah kata itu terasa asing di mulutnya sendiri.

Matanya naik menatap Reynanda. Tidak ada lagi amarah di sana hanya sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam.

“Jangan bawa-bawa dia.”

“Carisa...”

Kali ini suaranya lebih tegas. “Kamu tidak berhak menggunakan dia untuk memperbaiki sesuatu yang kamu hancurkan sendiri.”

Reynanda terdiam.

Carisa melangkah mundur sedikit, memberi jarak yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ada.

“Aku tidak akan kembali ke kamu,” katanya pelan, tapi jelas. “Bukan karena kita sudah punya pasangan. Bukan, bukan itu, Reynanda. Tapi karena memang dari awal, aku tidak pernah berniat kembali padamu.”

Hujan masih turun. Tapi kali ini, Carisa tidak lagi mundur darinya.

“Pergilah, Nanda.”

Tidak ada dorongan. Tidak ada teriakan. Hanya kalimat sederhana yang menutup semua kemungkinan.

Reynanda berdiri beberapa detik lebih lama. Menatapnya, seolah masih mencari sesuatu yang tersisa.

“Aku tahu kamu bilang begitu hanya untuk menyakitiku,” kata Reynanda, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Tapi aku tidak akan terpengaruh oleh kata-katamu. Aku akan tetap berusaha mendapatkanmu kembali, Carisa.”

“Kamu tidak sedang memperjuangkan aku, Nanda,” katanya akhirnya, pelan. “Kamu hanya sedang mengejar sesuatu yang sudah tidak ada.”

Reynanda menggeleng cepat. “Itu tidak benar.”

Carisa melangkah mundur satu langkah lagi. Jarak itu kecil, tapi cukup untuk membuat batasnya jelas. “Yang kamu kejar itu kenangan. Bukan aku yang sekarang.”

Carisa menarik napas, lalu melanjutkan, lebih tenang.

“Aku sudah berubah.” Matanya tetap pada Reynanda. “Dan kamu juga. Kita bukan lagi dua orang yang dulu.”

“Perasaan tidak berubah,” potong Reynanda.

Carisa menggeleng pelan.

“Perasaan bisa berubah.” katanya. “Begitulah perasaanku padamu..”

"Aku nggak akan berhenti hanya karena kamu berkata begitu."

“Perasaan bisa berubah,” katanya pelan. “Begitulah perasaanku padamu.”

“Aku nggak akan berhenti hanya karena kamu berkata begitu.”

Carisa menghela napas, panjang, seolah lelah harus menjelaskan hal yang sama.

“Berhenti atau tidak, itu urusanmu,” jawabnya tenang. “Tapi perasaanku bukan sesuatu yang bisa kamu paksa kembali.”

Reynanda menatapnya, keras kepala. “Aku tidak memaksa. Aku hanya yakin… kamu belum benar-benar melepaskanku.”

Carisa tersenyum tipis. Bukan karena senang lebih seperti bentuk lelah yang sudah sampai di ujungnya.

“Kamu terlalu percaya diri,” katanya. “Beberapa hal memang butuh waktu untuk hilang,” lanjutnya. “Tapi itu tidak berarti harus dipertahankan.”

Reynanda melangkah sedikit mendekat. “Aku bisa menunggu.”

Carisa menggeleng pelan.

“Jangan tunggu aku,” katanya. “Karena aku tidak sedang menuju ke arahmu.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tegas. Dan kali ini, tidak ada lagi ruang untuk disangkal.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!