NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:135.3k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Ukuran dalam-an

Lova sudah selesai mandi namun ia menggantungkan tangannya di handle pintu, cukup berpikir dua kali untuk menarik itu lalu kembali ke dalam kamar.

Seraya menjatuhkan tatapannya ke arah dada dan bawah perut, praktis wajahnya memerah malu seketika mengingat kejadian tadi.

"Malu banget, ustadz Afif tau deh ukuran isi behaa aku cuma segede kutil, mana belinya yang berenda pula." gumamnya. Sempat diam sejenak di kamar mandi sepaket kebingungannya, tak membuat Lova berlama-lama di dalam, tak mungkin juga menghabiskan malamnya disini.

Berkali-kali ia menghela nafas dan menghembuskannya berkali-kali juga demi menguatkan diri, bukan hanya canggung bertemu dengan Afif saja, melainkan keluarga besar umma yang Lova temui sepanjang ruangan rumah ini, terutama anggota keluarga perempuan.

Namun sepertinya kali ini adalah waktu yang tepat untuk keluar, mengingat sebagian dari mereka termasuk Afif sendiri tadi pamit untuk melaksanakan magrib berjamaah.

"Lova, baru bersih-bersih neng? Nanti gabung makan setelah isya...setelah yang lain pulang dari masjid." Ajak umi ketika sedang sibuk di meja makan bersama umma yang mondar mandir ruang makan-dapur.

"Iya umi." Angguknya melihat umi yang sibuk membuat Lova cenderung malu bila tak berusaha menawarkan bantuan, ia cukup tau diri di rumah orang.

Namun senyum beberapa anggota keluarga perempuan yang rata-ratanya berjilbab dan berkerudung membuat Lova dilanda gugup berkepanjangan, cukup dibuat minder juga, mengingat hanya ia saja yang tak membekali diri dengan jilbab, untung saja ia melilit handuk di kepala jadi rambutnya tak terlihat.

Beberapanya mengangguk tersenyum pada Lova, termasuk tante-tante atau budhe dan bulek dari Afif.

"Umi," panggilnya pada umi Khoti, "iya neng?" tangannya sigap menyusun piring di satu meja panjang dengan tumpukan cukup banyak, sepertinya malam ini akan ada makan besar part 2 setelah tadi siang.

"Kenapa, mau makan sekarang? Atau ada yang dimau?" tembak umma segera, tak ingin membuat anggota keluarga barunya merasa tak nyaman.

Lova menggeleng, "ada yang bisa Lova bantu?"

Umi dan umma tersenyum, "boleh, sini..." ajak umma yang meminta Lova untuk mengelap sendok-sendok dan garpu.

Anggota keluarga berangsur datang, terdengar suara riuh dari luar rumah namun tak mengganggu senda gurau Lova, umi, dan umma. Bahkan tak butuh waktu seminggu untuk Lova bisa menunjukan sifat aslinya yang begitu humoris.

Umi dan umma sampai dibuat tergelak ketika gadis ini bercerita dengan hebohnya, penuh ekspresi dan atraktif. Terlebih saat ia menceritakan bagaimana kenakalannya selalu berujung hukuman yang menjadi satu-satunya kelebihan Lova di sekolah.

Sudah ngaler ngidul Lova bercerita, "iya umi, waktu persami di sekolah itu----"

(...)

"Senakal-nakalnya anak paling nakal di sekolah, ya mi... giliran renungan malam tetep aja nangis. Sampe guru agama bilang, nah-nah! Tobat kan, kalian! Kalian nangis sebab banyak dosa sama ibu di rumah sih...."

"Padahal?" tembak umi menata buah potong di meja.

"Padahal kita bukan nangis karena renungin dosa-dosa sih umi...tapi lebih ke---nangis pengen pulang, soalnya lagi enak-enaknya tidur dibangunin OSIS, pake gebuk gebuk kaleng kue, kan jadinya jantungan udah gitu langsung olahraga."

"Masya Allah...hahah." Umi kembali tertawa.

"Wah...wah, serunya!" abi langsung menyerbu ruang makan disusul Afif dan Afnan yang ketika mendapati mereka, mata keduanya langsung tertuju pada si merah berlilitkan handuk yang memegang begitu banyak sendok di tangan lalu menaruhnya sesuai perintah umi.

"Disini kan ya, mi?"

"Iya neng."

"Eh abi. Iya nih...Seru bi...ini loh, si neng...kalo cerita....alhamdulillah, umi masih dikasih nikmat ketawa," ujar umi.

Begitu pula dengan umma yang sependapat.

Afnan berdehem dan memilih memutar balik, sementara Afif menghampiri Lova mendapati leher jenjang hingga bagian kerah V nya memperlihatkan kulit mulus Lova, bahkan tak tanggung-tanggung sebelah tali behaa Lova ikut ngintip dari sana.

"Betulkan dulu pakaianmu. Biar saya pinjamkan jilbab umi nanti..." pintanya seraya menunjuk ke arah pundak Lova.

"Oh," Lova baru saja tersadar dengan dirinya. Cukup tau diri mengingat banyaknya sanak saudara laki-laki Afif baik dari keluarga umi maupun abi yang malam ini berhamburan masuk, Lova menurut saja. Sebenarnya jika di rumah ia sudah pasti akan mendebat Afif, toh pakaiannya sopan sopan saja.

"Jika hanya abi atau Uqi saja, masih bisa ditolerir. Tapi sekarang sedang banyak keluarga saya, Lova." Ujar Afif diangguki Lova, "iya."

"Kapan kita pulang tadz?" tanya Lova mengekori Afif yang membuka daun pintu.

"Besok, mungkin. Tunggu sebentar, saya minta umi dulu..." ijinnya pamit keluar, hingga tak lama, benar saja....satu persatu dan terdengar cukup banyak, kaum adam berdatangan.

Dan sepanjang malam, tanpa sadar ia lebih memilih duduk mepet-mepet pada Afif. Melingkarkan tangannya di lengan sang suami berada diantara keluarga besar, entahlah...refleksnya mencari rasa aman mungkin. Sebelum akhirnya umi mengajak Lova untuk mengobrol dengan para kaum hawa, maka pelukan itu berpindah pada umi.

Makan malam sudah di lewati dengan banyak topik obrolan, hingga malam semakin larut dan satu persatu dari mereka pamit ke kamar masing-masing, ada pula yang menginap di kamar-kamar asrama tamu.

Lova sudah duluan berada di kamar dan membaringkan badannya menelungkup, dirinya memilih berselancar di dunia maya saat Afif bergabung ke dalam.

Hanya lirikan sekilas saja demi melihat Afif masuk, lantas Lova kembali terkekeh-kekeh dengan obrolannya bersama Alika, dan gerakan menggeser saja yang ia lakukan dalam posisi masih menumpukan kedua sikunya di kasur sementara kaki-kakinya bermain-main tak mau diam demi memberi ruang untuk Afif beristirahat.

Afif menghela nafasnya sedikit berdehem melihat Lova, yang posisinya itu terkesan menantang jiwa lelaki. Untungnya hal itu tak bertahan lama, Lova justru menyambut kedatangannya dengan merubah posisi jadi terduduk di kasur dan menatapnya intens, sadar ada maksud dan tujuan yang diutarakan, Afif akhirnya ikut duduk.

"Ustadz..."

Shhhh, panggilan itu...Lova seperti memberikan jarak dengannya, apakah ia terkesan seperti pedofil? Guru pesantren yang maksa santriwatinya untuk menikah?

"Ya?"

"Lova boleh tanya?" netranya memandang Afif begitu polos malam ini, dengan wajah lugu menggoda, rambut wangi Lova bahkan sudah bersinar di bawah penerangan kamar.yamg berpendar, kenapa mendadak syahdu begini?

Shitt! Afif merasakan hawa panas sebab dekorasi kamar! Harus ia salahkan siapa karena kondisinya malam ini? Tukang dekor? Bulek Ida?

Bahkan ia baru terpikirkan sesuatu jika dirinya dan Lova belum membicarakan apapun tentang pernikahan, tentang aturan dan poin di dalamnya, Afif bahkan sangsi Lova paham dengan poin-poin sebuah pernikahan.

"Ustadz ihhh, malah bengong." Suara itu menyadarkan Afif yang mendadak kesirep malam ini.

Sepertinya Afif akan mendapati kesulitan memenuhi janjinya pada diri sendiri, untuk tidak menggauli Lova sebelum ia benar-benar lulus dan siap.

Ada lengu han berat dan suara samar dari dalam hatinya sendiri, suara yang menyemangati dirinya untuk tidak sekurang ajarr itu.

.

.

.

1
Icka Soesan
cukup bikin geregetan
Siti
good the best lah pokoknya
Ney Maniez
enknya pacaran halal...
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
Ney Maniez
alhamdulilah,, bersyukur ya Va
Ney Maniez
ihhh soo sweett 🥰🫰
Ney Maniez
nahh gituuu va,,CPT move-on karna ad yg halal...
jujur kpn va tentang Afnan ny
Ney Maniez
KLO tau BKN buat Afif gmn,nyesekkk GK sihhh
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny
Trituwani
asikk bener kalian nonton,berasa abg lagi ya mas...tp ya tahan nafas jg klo depan belakang samping kiri kanan ad yg slonong boy gitu berasa milik berdua..... berasa pengen bilang "woee halalin dululah sebelum kecap kecup kemat kemut"jiwa meronta ya va pengen nyakar 😅
Trituwani
cupidnya baru dateng dikala kamu patah, diwaktu yg tepat bgt va
Trituwani
yahhh bunga biasa va...q kira bunga bank sekalian va 😂😂
Trituwani
cieeeeeeeeeeeeee q nganan va ihh 😄
Trituwani
lebih lebihh mantabsnya va... lebihh yahudh pula
Trituwani
jatuh cinta berjuta rasanya...
Rita
Va aduhhh bs dilepas dulu ngga kertas minyaknya pgn romantis buyar gr2 kertas nempel di mukamu😂
Rita
berasa jadul😂
Rita
😂😂😂😂😂😂😂i fell u Va
Rita
😍😍😍
Rita
terAfif Afif skrg🥰
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
wehh😂😂😂😂sklian praktek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!