NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 – Tekanan yang Tak terlihat

Pagi itu terasa berbeda.

Udara di Akademi Kerajaan Averion terasa lebih berat dari biasanya. Langit tampak pucat, tertutup lapisan awan tipis yang membuat cahaya matahari terasa redup.

Sakura berjalan menuju aula latihan.

Langkahnya pelan.

Namun kali ini tatapan orang-orang tidak lagi sama, Jika sebelumnya hanya penuh ejekan dan rasa meremehkan…

Kini ada sesuatu yang lain.

Ragu.

Takut.

Dan… penasaran.

“Dia yang kemarin kalah itu kan?”

“Iya… tapi katanya dia sempat mengeluarkan sesuatu…”

“Aku dengar auranya berubah…”

Bisikan terdengar di mana-mana.

Tidak lagi disembunyikan.

Tidak lagi pelan.

Seolah semua orang menunggu sesuatu darinya.

Sakura menunduk.

Rambut pinknya menutupi sebagian wajahnya.

Namun langkahnya tidak berhenti.

Ia terus berjalan.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Meski setiap tatapan terasa seperti tekanan yang menekan dadanya.

“…Aku tidak peduli…”

Namun bahkan ia sendiri tidak yakin dengan kata-kata itu.

Saat ia masuk ke aula, suara perlahan mereda.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Ruang latihan luas itu terasa tiba-tiba… sempit.

Di tengah ruangan Claudia sudah berdiri.

Tegak.

Tenang.

Seolah memang menunggu.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun tidak hangat.

“Lama sekali.”

Sakura berhenti beberapa langkah dari arena.

“…Ada apa?”

Claudia melangkah mendekat.

Setiap langkahnya ringan.

Namun penuh tekanan.

“Kau pikir aku tidak sadar?” katanya pelan.

“Setelah duel itu…”

Matanya menyipit.

“…kau berubah.”

Sakura diam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Claudia berhenti tepat di depannya.

“Aku benci hal seperti itu.”

Nada suaranya tetap tenang.

Namun ada sesuatu yang dingin di dalamnya.

“Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.”

Tiba-tiba ia meraih pergelangan tangan Sakura.

Gerakannya cepat.

Kuat.

Dan menariknya ke tengah arena.

“Apa?!”

“Kalau kau punya sesuatu…” lanjut Claudia,

“…tunjukkan.”

Instruktur yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas panjang.

Seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Sparing.”

Beberapa murid langsung berbisik antusias.

Sakura membeku.

“…Aku tidak siap”

“Mulai!”

Claudia tidak memberi waktu.

Tangannya langsung terangkat.

Cahaya berkumpul di ujung jarinya.

“Light Arrow!”

Panah cahaya terbentuk dalam sekejap dan melesat.

Cepat.

Terlalu cepat.

Sakura refleks menghindar.

Namun langkahnya sedikit terlambat.

DUK!

Serangan itu menyerempet bahunya.

“UGH!”

Tubuhnya terdorong ke samping.

Belum sempat ia menyeimbangkan diri Claudia sudah bergerak lagi.

“Radiant Bind.”

Cahaya menyebar di tanah lalu melesat naik.

Membentuk ikatan.

Melingkar di tangan Sakura.

Mengunci.

Kencang.

“Apa ini?!”

Sakura mencoba menarik tangannya.

Namun ikatan itu semakin mengencang.

Seolah merespon perlawanan.

Napasnya mulai tidak teratur.

Di dalam tubuhnya aliran energi mulai kacau.

Seperti arus yang saling bertabrakan tanpa arah.

Rasa sakit muncul lagi.

Lebih cepat dari sebelumnya.

“UGHH!”

Ia terjatuh berlutut.

Claudia berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Tatapannya tajam.

“Ayo…” katanya pelan.

“Tunjukkan lagi yang kemarin itu…”

Sakura menggertakkan gigi.

Ia mencoba mengumpulkan sesuatu.

Apa pun itu.

Namun

Tidak ada.

Tidak seperti sebelumnya.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada kekuatan.

Hanya rasa sakit.

“Kenapa… tidak keluar…?”

Tangannya gemetar.

Tubuhnya terasa berat.

Seolah sesuatu di dalam dirinya… menolak.

Claudia berhenti tepat di depannya.

Tatapannya berubah.

Dingin.

“Jadi memang cuma kebetulan.”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya terkumpul lebih besar dari sebelumnya.

Lebih padat.

Lebih berbahaya.

“Berakhir.”

Namun saat itu

DUMM…

Suara berat menggema.

Tidak keras.

Namun dalam.

Seperti sesuatu yang berdetak di dalam bumi.

Semua orang terdiam.

Sakura membeku.

Matanya melebar.

Suara itu…

Sama.

Persis sama seperti yang ia dengar semalam.

Dari arah lorong itu.

Dadanya langsung bereaksi.

“Ah!”

Rasa sakit menjalar tiba-tiba.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Seolah sesuatu di dalam dirinya… merespon panggilan itu.

Konsentrasinya pecah.

Ikatan cahaya melemah

sedikit saja.

Namun cukup.

Sakura refleks menarik tangannya dan berhasil lepas.

Namun terlambat.

BOOM!

Serangan Claudia tetap dilepaskan.

Menghantam langsung.

“AAH!”

Tubuh Sakura terpental.

Terhempas keras ke lantai.

Debu beterbangan.

Hening.

Beberapa murid menahan napas.

Instruktur akhirnya maju.

“Cukup!”

Suaranya tegas.

Claudia menurunkan tangannya perlahan.

Tatapannya masih tertuju pada Sakura.

“Hmph…”

Ia berbalik.

“Mengecewakan.”

Langkahnya ringan saat meninggalkan arena.

“Pada akhirnya…”

“…kau tetap lemah.”

Sakura tergeletak.

Tubuhnya terasa berat.

Napasnya tersengal.

Namun pikirannya bukan pada rasa sakit.

Bukan pada kekalahan.

“…Suara itu…”

Ia menoleh pelan.

Ke arah lorong.

Jauh.

Tidak terlihat dari sini.

Namun ia bisa merasakannya.

Untuk sesaat ia merasa…

Pintu itu memanggilnya lagi.

Lebih kuat.

Lebih jelas.

Seolah tidak sabar.

Malam.

Ruang Alkimia.

Sakura datang dengan langkah pelan.

Luka baru terlihat jelas.

Namun ia tidak mengeluh.

Kaelen sudah ada di sana.

Seperti biasa.

Diam.

Mengamati.

Tatapannya langsung tertuju pada Sakura.

“Kau bertarung lagi.”

Bukan pertanyaan.

Sakura tidak menjawab.

“Duduk.”

Nada suaranya datar.

Namun tidak bisa ditolak.

Sakura menurut.

Tanpa banyak bicara Kaelen mulai menyiapkan ramuan.

Gerakannya cepat.

Terlatih.

Namun kali ini wajahnya lebih serius dari biasanya.

“Kau mendengarnya lagi, bukan?”

Sakura membeku.

Tangannya sedikit menegang.

“…Iya.”

Hening.

Kaelen berhenti sejenak.

Matanya tertutup.

Seolah menahan sesuatu.

“…Ini tidak bagus.”

Ia mengambil ramuan dan memberikannya pada Sakura.

“Minum.”

Sakura menerimanya.

Cairan itu hangat.

Menyebar perlahan di tubuhnya.

Namun kali ini berbeda.

Di balik kehangatan itu ada tekanan.

Halus.

Namun nyata.

“Ugh…”

Sakura meringis.

Kaelen langsung meraih pergelangan tangannya.

Matanya menyipit.

“Aliranmu… bereaksi.”

Sakura menatapnya.

“Terhadap apa?”

Hening.

Beberapa detik.

Namun terasa lama.

Kaelen akhirnya membuka mata.

“…Terhadap sesuatu di dalam akademi ini.”

Sakura menegang.

Jantungnya berdegup kencang.

“Pintu itu?”

Kaelen tidak menyangkal.

Tidak juga mengiyakan.

Namun tatapannya cukup sebagai jawaban.

“Mulai sekarang…”

Ia melepaskan tangan Sakura.

“…latihan kita akan berubah.”

Sakura menatapnya.

“…Lebih berat?”

Kaelen berdiri.

Membelakanginya.

“Lebih berbahaya.”

Dua kata.

Namun cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.

Sakura terdiam.

Namun perlahn ia mengangguk.

“…Aku siap.”

Kaelen menoleh sedikit.

Menatapnya dari sudut mata.

Tatapan itu tajam.

Menilai.

Mengukur.

“Jangan mati.”

Jawaban dingin.

Namun Itu bukan ancaman.

Itu peringatan.

Dan bentuk kepercayaan.

Sakura tidak menjawab.

Namun tatapannya berubah.

Lebih kuat.

Lebih tegas.

Di tempat gelap…

Jauh dari cahaya…

Beberapa sosok berdiri diam.

Prajurit bayangan.

Mereka tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Namun mata mereka tertuju ke satu arah.

Akademi.

“Resonansi meningkat.”

Suara lirih terdengar.

“Target semakin terhubung.”

Hening.

Beberapa detik.

“Perintah tetap.”

“Mengawasi.”

Tidak ada emosi.

Tidak ada keraguan.

Hanya perintah.

Dan ketaatan.

Tatapan mereka tetap terkunci pada satu titik.

Sakura.

Dan di balik kegelapan itu sesuatu berdenyut pelan.

Menunggu.

Saat yang tepat.

---

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!