NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajahku Berdiri di Depanku

📖 BAB 19: Wajahku Berdiri di Depanku

Langkah kaki itu pelan.

Namun setiap bunyinya terasa seperti palu yang menghantam dada Lin Qingyan.

Dari balik bayangan altar, seorang wanita muda berjalan keluar. Tingginya hampir sama. Bentuk wajahnya mirip. Garis rahang, mata, bahkan cara menatap dengan kewaspadaan dingin—

seperti bercermin pada versi lain dari dirinya.

Qingyan tak bergerak.

Untuk pertama kali sejak semua kekacauan dimulai, kata-kata meninggalkannya.

Wanita itu berhenti beberapa meter di depan mereka.

Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana gelap, rambut sebahu tergerai berantakan. Di pelipis kirinya ada bekas luka tipis.

Tatapannya jatuh ke Qingyan.

Lalu bibirnya melengkung tipis.

“Jadi ini dia.”

Suara itu juga mirip.

Qingyan akhirnya berkata,

“Siapa kau?”

Wanita itu menjawab tenang.

“Pertanyaan yang sama ingin kutanyakan.”

---

Beichen bergerak satu langkah ke depan, menempatkan dirinya sedikit di depan Qingyan.

Refleks.

Selalu begitu.

Wanita asing itu menatap gerakan itu dan tertawa pendek.

“Protektif sekali.”

“Nama,” kata Beichen dingin.

“Menyenangkan bertemu juga denganmu, Gu Beichen.”

“Nama.”

“Mereka memanggilku No.9 dulu.”

Han menghela napas pelan.

“Sudah pasti bukan malam yang tenang.”

Mira turun dari tangga altar dan berdiri di tengah.

“Nama yang kupilih sendiri adalah Lin Xue.”

Qingyan menegang.

“Lin?”

Xue mengangkat bahu.

“Nama keluarga itu murah dan mudah dipakai.”

Qingyan menggenggam jemarinya.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya tersinggung.

---

“Jelaskan semuanya,” katanya pada Mira.

Wanita paruh baya itu menatap dua gadis di depannya.

“Dua puluh lima tahun lalu, fasilitas penelitian tempat kalian dibuat terbakar.”

“Dibuat?” suara Qingyan tajam.

“Ya,” jawab Mira tanpa menghindar. “Kalian tidak lahir lewat cara biasa.”

Gereja mendadak terasa makin sempit.

“Kalian adalah hasil program peningkatan genetik yang didanai beberapa keluarga besar dan pihak asing.”

“Qin,” gumam Beichen.

“Qin salah satunya,” jawab Mira. “Tapi bukan satu-satunya.”

Han berbisik, “Selalu ada investor rahasia.”

Xue menyandarkan bahu ke pilar.

“Aku sudah tahu bagian itu. Lanjutkan yang baru.”

Mira menatap Qingyan.

“Dari dua belas bayi yang hidup, hanya tiga yang stabil.”

“...Tiga?” bisik Qingyan.

Mira mengangguk.

“Kau. Xue. Dan satu lagi.”

Sunyi.

Beichen menyipitkan mata.

“Di mana yang ketiga?”

Mira menjawab pelan,

“Aku belum menemukannya.”

---

Qingyan memegang kursi kayu terdekat agar tetap tegak.

Dua belas bayi.

Tiga selamat.

Satu lagi masih hilang.

Hidupnya semakin terdengar seperti mimpi buruk yang ditulis orang kaya gila.

“Kenapa aku dibuang?” tanyanya.

Mira menatap lurus.

“Kau tidak dibuang. Kau diselamatkan.”

“Lalu kenapa aku tumbuh miskin dan tak tahu apa-apa?”

“Karena orang yang membawamu pergi mati dua tahun kemudian.”

“Apa?”

“Aku kehilangan jejakmu setelah itu.”

Qingyan merasa marah, sedih, dan kosong bersamaan.

Xue menatapnya datar.

“Jangan berharap kisahmu akan terdengar indah. Tidak ada yang indah dari awal kita.”

---

Beichen mengambil kaset mini dari kotak kayu.

“Ini apa.”

Mira menjawab, “Rekaman malam kebakaran.”

“Kenapa memberikannya sekarang?”

“Karena seseorang mulai membersihkan jejak lama.”

“Qin?”

“Sebagian.”

“Sebagian?”

Mira menatapnya.

“Ayahmu juga.”

Ruangan membeku.

Tatapan Beichen berubah tajam seperti es.

“Ulangi.”

“Gu Zhengyuan bukan pahlawan bersih seperti yang kau kira.”

Han perlahan mundur setengah langkah.

Insting bertahan hidup.

---

“Jaga ucapanmu,” kata Beichen.

Mira tertawa pahit.

“Kau benar-benar anaknya.”

Qingyan melangkah maju.

“Cukup. Aku tak peduli siapa yang suci atau busuk. Aku mau tahu kenapa kami dibuat.”

Xue menoleh padanya.

“Itu pertanyaan bagus.”

Mira diam cukup lama.

Lalu berkata,

“Untuk menciptakan tubuh yang bisa menahan sesuatu.”

“Apa sesuatu?”

“Energi biologis.”

“Bahasa manusia, tolong.”

Mira menghembus napas.

“Darah tertentu.”

Qingyan dan Beichen saling menoleh.

Mereka tahu darah yang dimaksud.

Darah keluarga Gu.

---

“Ayahku terlibat?” tanya Beichen.

“Bukan sebagai donor utama,” jawab Mira. “Sebagai penjaga akses.”

“Dan keluarga Qin?”

“Pendana serta pengendali hasil.”

Xue menyeringai dingin.

“Singkatnya, mereka ingin membuat manusia yang bisa memegang kunci kekuasaan tanpa menjadi keluarga Gu.”

Han mengangkat tangan kecil.

“Boleh saya muntah sebentar?”

Tak ada yang menanggapi.

---

Tiba-tiba suara mesin terdengar dari luar gereja.

Lampu kendaraan menyapu jendela pecah.

Han menoleh cepat.

“Kita kedatangan tamu.”

Beichen sudah mengeluarkan pistol.

Qingyan menatapnya.

“Kau bawa pistol ke gereja?”

“Aku realistis.”

Xue mengeluarkan dua pisau pendek dari balik jaket.

“Lucu. Aku suka dia.”

“Perasaan itu tak berbalas,” jawab Beichen.

Mira memucat.

“Mereka lebih cepat dari perkiraanku.”

“Siapa?” tanya Qingyan.

Mira menatap pintu besar.

“Tim pembersih.”

---

Pintu gereja dihantam dari luar.

Sekali.

Dua kali.

Kayu tua retak.

Han mengeluarkan senjata juga sambil mengeluh,

“Saya benar-benar butuh kenaikan gaji.”

Beichen menoleh pada Qingyan.

“Di belakangku.”

“Tidak.”

“Qingyan.”

“Aku bukan koper.”

Pintu jebol pada hantaman ketiga.

Lima pria berpakaian hitam masuk cepat dan terlatih. Wajah tertutup. Senjata dengan peredam terangkat serempak.

Tembakan pertama meledak sunyi.

Beichen menarik Qingyan ke bawah tepat waktu.

Kaca patung suci pecah di belakang mereka.

Xue melesat seperti bayangan, pisau di tangannya berkilat. Satu penyerang roboh sambil memegangi leher.

Han menembak dua kali akurat.

Mira berlindung di balik bangku sambil berteriak,

“Ambil kaset itu dan pergi!”

---

Qingyan merangkak ke samping pilar.

Jantungnya nyaris keluar.

Ia melihat satu penyerang mendekat dari sisi kanan dan tanpa pikir panjang mengangkat kaki menendang lutut pria itu sekuat tenaga.

Terdengar bunyi retak.

Pria itu jatuh mengumpat.

“Bagus,” kata Xue sambil menangkis serangan lain. “Akhirnya kau berguna.”

“Terima kasih, psikopat!”

“Pujiannya kuterima.”

Beichen menembak lampu utama.

Ruangan gelap total.

Hanya cahaya kendaraan dari luar menembus jendela.

“KELUAR!” teriaknya.

Ia meraih tangan Qingyan.

Kali ini ia tidak membantah.

---

Mereka berlari melalui pintu samping gereja menuju kuburan tua di belakang.

Angin malam menusuk.

Han memimpin ke mobil.

Xue muncul dari sisi lain seperti hantu.

Mira tertinggal beberapa meter di belakang.

Lalu tembakan terdengar.

Mira tersentak dan jatuh berlutut.

Qingyan berhenti spontan.

“Mira!”

“Masuk mobil!” bentak Beichen.

“Aku tak bisa tinggalin dia!”

Xue berlari balik, menarik Mira berdiri paksa.

“Kalau mati sekarang aku marah,” desisnya.

Mereka semua masuk ke mobil tepat saat peluru menghantam pintu.

Han menginjak gas penuh.

Ban menjerit.

Mobil melesat menuruni bukit.

---

Di dalam mobil, napas semua orang kacau.

Mira berdarah di bahu.

Xue menekan luka dengan kasar.

“Kalau kau pingsan, kubangunkan dengan tamparan.”

“Anak manis sekali,” gumam Mira pucat.

Qingyan menatap kaset mini di tangan Beichen.

Benda kecil itu kini terasa lebih berat dari batu.

“Kalau rekaman ini dibuka...” bisiknya.

“Banyak orang akan jatuh,” jawab Beichen.

Xue menatap Qingyan dari seberang kursi.

Mata mereka bertemu.

Tak ada kelembutan.

Tak ada saudara.

Hanya dua orang asing dengan wajah mirip dan masa lalu yang dicuri.

Lalu Xue berkata tenang,

“Jangan terlalu senang bertemu denganku.”

“Kenapa?”

Karena senyum tipisnya dingin sekali.

“Karena aku datang bukan untuk menyelamatkanmu.”

Ia menunjuk kaset di tangan Beichen.

“Aku datang untuk mengambil itu... dan kalau perlu, menggantikanmu.”

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!