NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Keberhasilan itu datang tanpa pernah benar-benar direncanakan. Novel “Cinta yang Mendua” tiba-tiba ramai dibicarakan, berpindah dari satu pembaca ke pembaca lain, dari satu unggahan ke unggahan berikutnya.

Banyak yang merasa cerita itu terlalu nyata, terlalu jujur, seolah ditulis oleh seseorang yang benar-benar pernah hidup di dalam luka itu. Tetapi yang paling disukai pembaca adalah ketika tokoh utama memilih tidak kembali pada pengkhianat cinta. Apalagi pengkhianatannya sudah termasuk dosa besar.

Sekar membaca komentar-komentar itu dengan perasaan campur aduk, haru, takut, dan tidak percaya. Ia tidak pernah membayangkan tulisannya akan sampai sejauh ini. Tidak pernah membayangkan suaranya yang dulu nyaris hilang kini justru didengar begitu banyak orang.

Namun di balik semua itu, Sekar tetap bersembunyi. Ia menggunakan nama pena, menjaga jarak antara dirinya dan dunia yang mulai memperhatikannya. Hanya Lita dan beberapa orang terdekat yang tahu siapa sebenarnya penulis di balik cerita itu. Untuk sementara, semuanya terasa aman. Tidak ada yang mengaitkan kisah itu dengan hidupnya. Tidak ada yang datang menyerangnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sekar bisa bernapas sedikit lebih lega.

Perekonomiannya perlahan membaik. Royalti mulai masuk, tawaran kecil berdatangan, dan meski belum sepenuhnya stabil, setidaknya ia tidak lagi merasa kehilangan arah. Ia punya sesuatu yang bisa ia sebut sebagai pekerjaan. Ia adalah penulis sekarang, sesuatu yang lahir dari luka, tapi justru menyelamatkannya.

Namun satu hal tetap tidak berubah, kerinduannya pada Sea.

Sekar mulai menyusun cara untuk bisa melihat putrinya lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. Ia mencari tahu sekolah baru Sea, mengamati dari kejauhan, menghafal jam masuk dan pulang. Ia tidak berani mendekat terlalu sering, hanya sesekali, mencuri waktu di antara keramaian orang tua lain yang menjemput anak-anak mereka. Dari balik kerumunan itu, ia melihat Sea berjalan keluar gerbang sekolah dengan tas pink yang dulu ia berikan. Pemandangan sederhana itu saja sudah cukup membuat dadanya hangat sekaligus perih.

Beberapa kali, ia berhasil mendekat. Hanya sekadar menyapa singkat, memberikan pelukan cepat, atau menitipkan bekal kecil yang ia siapkan sendiri. Tidak lama. Tidak mencolok. Tapi cukup untuk membuatnya merasa masih menjadi ibu.

Sampai suatu siang, semuanya berubah.

Sekar baru saja berdiri di dekat pagar sekolah ketika sebuah suara yang terlalu ia kenal terdengar di belakangnya.

“Kamu rajin juga ya… datang diam-diam kayak gini.”

Sekar membeku sejenak sebelum menoleh. Mila berdiri di sana, dengan senyum tipis yang sama, ramah di permukaan, tapi dingin di dalam. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ia curigai.

Sekar tidak langsung menjawab. Ia tahu, satu kata yang salah bisa berujung panjang.

Mila melangkah mendekat perlahan. “Nggak capek? Udah nggak punya kerjaan, masih sempat-sempatnya ngejar-ngejar anak orang.”

Kalimat itu menusuk, tapi Sekar tidak lagi seperti dulu. Ia tidak meledak, tidak juga mundur. Ia hanya menatap Mila dengan tenang, lalu menjawab ringan, hampir santai.

“Kamu juga nggak punya pekerjaan kan?” ucapnya datar. "Makanya ngurusin anak orang." Sekar tertawa mengejek. Meskipun ia paksakan dengan susah payah.

Mila sedikit terkejut, tapi belum sempat membalas, Sekar melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.

“Kita sama… oh, tidak.” Sekar tersenyum tipis. “Kita nggak sama. Aku mengundurkan diri. Kamu dipecat.”

Hening. "Aku mengurus anakku, kamu ngurusin anak orang." Sekar ingin membuat tawa yang lepas, tetapi ia hanya bisa tertawa sinis efek depresi yang ditimbulkan perselingkuhan Aji dan Mila.

Untuk sesaat, ekspresi Mila benar-benar berubah. Senyum tipis itu hilang, digantikan oleh wajah tegang yang tidak bisa lagi disembunyikan. Ucapan Sekar mengenai titik yang paling sensitif egonya. “Kamu berani juga sekarang ya,” desis Mila pelan, suaranya mulai kehilangan lapisan sopan yang tadi ia pakai.

Sekar tidak menjawab. Tapi kali ini, ia tidak menunduk.

Mila mendekat sedikit lagi, suaranya diturunkan tapi justru terdengar lebih mengancam. “Jangan lupa posisi kamu sekarang. Kamu nggak punya apa-apa di sana.” Ia menekankan kata di sana dengan sengaja. “Kalau aku mau… aku bisa pastikan kamu nggak akan pernah ketemu Sea lagi.”

Kalimat itu seperti pisau yang langsung menusuk ke titik paling rapuh dalam diri Sekar. Dan untuk sesaat, hanya sesaat, nyalinya ciut.

Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya langsung dipenuhi kemungkinan terburuk. Ia tahu Mila bukan sekadar menggertak. Ia tahu perempuan itu cukup manipulatif untuk benar-benar melakukannya. Semua keberanian yang tadi ia tunjukkan perlahan goyah, digantikan oleh ketakutan yang sudah lama ia kenal.

Tapi kali ini, Sekar tidak sepenuhnya runtuh.

Ia menelan ludah, menarik napas dalam, mencoba menahan gemetar di dalam dirinya. Tatapannya tetap tertuju pada Mila, meski di dalam dadanya terjadi perang besar antara takut dan tekad.

“Aku ibunya,” ucapnya pelan, tapi jelas.

Mila tersenyum tipis lagi, kali ini lebih dingin. “Tapi yang ada di sampingnya sekarang… aku.”

Suasana di antara mereka menegang, seperti dua dunia yang saling bertabrakan tanpa ruang untuk berdamai.

Di kejauhan, suara anak-anak mulai terdengar keluar dari gerbang sekolah. Sekar refleks menoleh mencari satu wajah yang selalu ia tunggu.

Sea.

Dan di saat itulah, Sekar sadar ia mungkin masih takut, tapi ia tidak akan mundur lagi. Ia berpikir cepat, bagaimana bisa memiliki waktu bersama anaknya tanpa bisa dikendalikan oleh Mila. Saat itu juga Sekar mendapati sosok Bu Ani, wali kelas putrinya. Sekar langsung melambaikan tangannya. "Assalamualaikum Bu Ani!" panggil Sekar.

Guru yang dipanggil Sekar menghampiri. Raut wajah Bu Ani sempat berubah ketika melihat dua ibunya Sea dalam waktu bersamaan. Ada Sekar dan Mila. "Eh ibu-ibu," Bu Ani tampak canggung.

"Bu Ani, ini saya sama mbak Mila pengen ngobrol bentar, boleh?" tanyaku.

Bu Ani seperti sedang bekerjasama dengan Sekar, ia mengambil waktu berbincang dengan Mila, agar Sekar dan Sea bisa menghabiskan waktu. Sekar tahu, Mila kesal, mungkin juga marah, tapi ia tak bisa melakukan apapun sebab harus menjaga image di hadapan Bu Ani, dan untuk saat ini Sekar tak ingin mempedulikan itu. Sekar hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama anaknya.

***

Perpisahan itu akhirnya datang juga, tapi kali ini tidak seperti sebelumnya, tidak ada tarikan paksa, tidak ada suara keras, tidak ada tangisan yang terputus di tengah jalan. Sekar duduk di bangku taman kecil di sudut sekolah, sementara Sea berada di sampingnya, bersandar hangat seperti dulu, seperti tidak ada jarak yang pernah memisahkan mereka.

Waktu yang mereka punya memang tidak lama, tapi cukup untuk mengisi kembali sesuatu yang sempat kosong di hati Sekar. Mereka bercerita, tertawa pelan, bahkan sempat makan bekal sederhana yang Sekar siapkan sendiri. Hal-hal kecil, tapi terasa begitu besar.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!