NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 – Naya

Bab 23 – Naya

“Kenapa kita ketemuan di sini?” tanya Devi begitu aku duduk di hadapannya.

Aku mengajak Devi ketemuan di sebuah kafe kecil di daerah Jakarta Selatan, sesaat setelah mendapatkan pesan dari Alfian.

“Nyobain aja, baru kan kita ke sini?” kataku melihat-lihat menu yang ada di ponsel, setelah memindai barcode yang ada di meja.

“Kita udah temenan dari lama. Biasanya elu ngajak ke tempat baru, kalau bukan karena pengen curhat, pasti pengen minjem duit!”

Aku dengan gemas menabok lengan Devi, “Enak aja! Mana pernah gue pinjem duit!”

Devi manyun, “Jadi gara-gara Bima atau apa?”

 “Pesen dulu lah!”

“Gue lagi bokek, bayarin ya?” Devi memelas dengan dua tangan menangkup di dadanya.

“Iya!” aku sodorkan ponselku padanya. Pesanan di kafe itu ternyata melalui aplikasi. Aku sudah memesan smoothie strawberi, sedangkan Devi memesan cafe latte dingin.

“Jadi kenapa?” tanya Devi membalikan ponsel padaku.

Dengan sigap, aku membuka aplikasi pesan, lalu menunjukkan pesan dari Alfian.

“Anjir!” Devi kaget membaca pesan dari Alfian yang mengajakku ketemuan. “Ngapain dia ngajak ketemu?”

Aku mengangkat kedua bahu sambil mencibir.

“Tanya lah!” Devi menyuruh Naya mengetik di ponselnya.

“Iya?” tanyaku ragu. “Bales?”

“Iya lah! Kalau dia macem-macem, ntar elu tinggal kirim undangan elu sama Bima! Cetasss!” Devi menepuk kedua tangannya.

Dahiku berkerut, berpikir sejenak, “Menurut lu emang bener gue nikah sama ….” aku mengucapkan nama Bima tanpa bersuara.

“Siapa?”

Bi Ma, kataku mengulang mengucapkan nama BIma tanpa bersuara. Supaya orang lain di sekitarku tidak bisa mendengarnya.

“Lima?” tanya Devi heran. “Kenapa bisik-bisik sih, Nay?”

“Nanti orang lain denger!”

“Aduh elah. Elu nyebut nama Bima juga orang lain belum tentu ngira elu bakalan nikah sama Bima Dewantara kali!”

Semua orang menoleh ke arah meja kami, karena suara Devi yang menggelegar.

Aku menunduk di meja. Sementara Devi cengar-cengir melihat sekeliling, “Biasa, lagi halu!”

“Depiii aaaaah!” kataku sambil menyuruhnya diam.

“Sori, sori,” Devi mengecilkan suaranya.

Aku bangkit duduk tegak sambil merapikan kerudung. “Udah lah, mendingan batalin aja ya?”

“Astagfirullah alazim! Kalau gitu, elu apa bedanya sama Alfian?”

“Abisnya…,” kataku menundukkan kepala, melihat keurdung paris ini sudah terlalu bule, aku harus beli yang baru.

“Abisnya apa?”

“Lo nggak denger gosipnya?” tanyaku berbisik.

“Lo udah ngobrol belum sih sama dia?” tanya Devi penasaran.

Pelayan datang mengantarkan pesanan, lalu pergi.

Aku menggelengkan kepala.

“Coba obrolin dulu lah!”

Terdengar suara ponselku berdering.

“Siapa?” tanya Devi.

“Bima…,” kataku lemas.

“Angkat!”

“Nggak ah.”

“Gue yang angkat?” Devi menarik ponsel dariku, lalu menjawab telepon, “Halo!”

“Halo, ini siapa?” tanya Bima heran.

“Ini Devi! Temennya Naya.”

“Naya mana?”

“Ada, sebentar!” Devi memberikan ponselku sambil nyengir dan bicara tanpa suara, ‘jawab!’

“Halo?” kataku yang mengempelkan ponsel ke telingaku, dan berusaha menundukkan wajah, agar tidak ada yang melihatku teleponan. Entah kenapa, mungkin aku malu.

“Aku tadi lagi jalan ke rumah kamu, tapi kamu lagi naik ojol, mau ke mana?”

“Oh, aku ketemuan sama Devi.”

“Di mana?”

“Kenapa?”

“Kenapa nggak bales chat aku?”

“Aku bales.”

“Nggak. Kamu nggak bales, aku ajak ketemuan.”

Aku terdiam.

“Nay?”

“Kamu udah kasih tau sama Mutia soal kita?”

Bima terdiam.

“Belum, kan?” tanyaku agak marah.

“Nggak segampang itu.”

“Kenapa?”

“Makanya, kita ketemuan dulu aja. Aku jelasin.”

“Sekarang aja jelasinnya!”

“Nggak lah, masa jelasin di telepon. Kamu di mana? Aku samperin,” suara Bima terdengar tegas. Aku belum pernah mendengar suaranya seperti itu.

Aku terdiam. Apa aku berlebihan?

Devi memberikan kode, bertanya ada apa?

Aku menggelengkan kepala, sambil memijat dahiku. Pusing.

“Nay, kamu ada di mana?”

“Aku mau ketemu, kalau kamu udah bilang ke Mutia soal kita,” jawabku tegas.

“Aku jelasin dulu, oke?” suara Bima melembut.

“Astaga, Bima!” aku benar-benar kesal.

Bima terdiam. Aku terdiam. Hanya terdengar suara Devi yang menyeruput minumannya.

“Oke!” tiba-tiba Bima bicara.

“Oke?” tanyaku heran.

“Oke, aku bilang sama Mutia soal kita. Tapi…,”

“Tapi apa?” aku makin heran. Ternyata Bima bukan orang yang bisa gampang diatur. Sepertinya Bima lebih suka orang lain mengikuti keinginannya.

“Kamu ikut aku.”

“Hah?” aku menatap Devi heran.

“Kenapa?” Devi bertanya padaku.

Aku menurunkan ponsel sejenak lalu berbisik ke Devi, “Bima ngajak aku ketemuan sama Mutia. Buat jelasin semuanya.”

“Deal!” sahut Devi penuh percaya diri.

“Deal?” tanyaku heran.

“Iya, temuin aja sekalian. Biar si mumut itu tahu, kalau elu yang punya Bima!”

Aku menghela napas panjang lalu menelepon Bima, “Halo?”

“Devi bener. Biar dia tahu kamu itu punya aku!” kata Bima tegas.

Sudah beberapa kali aku mengucapkan kalimat itu. Kamu punya aku. Tapi begitu Bima yang mengucapkan itu kembali padaku rasanya lain. Aku tiba-tiba seperti terbang ke padang rumput yang luas, lalu tiduran dengan bebas, tanpa takut ada cacing atau serangga di rumput. Hanya berbaring di rumput luas yang lapang. Dengan kehangatan sinar matahari dan disapu angin sepoi-sepoi. Bayangan Bima yang duduk di sampingku menghalangi sinar matahari yang menyengat.

“Nay?” tanya Bima membuyarkan lamunanku.

“Oke,” jawabku singkat. Aku memang ingin semua orang – termasuk Alfian – tahu. Aku bersama Bima. “Kita ketemuan sama Mutia. Di mana, kapan?” tanyaku sambil menatap Devi yang mengacungkan kedua jempolnya, bangga padaku.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!