NovelToon NovelToon
Iblis Penelan Langit

Iblis Penelan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.

Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Seribu Harta dan Sang Teratai Merah

Episode 6

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Tetesan air yang dingin menghantam wajah Gu Sheng saat ia melesat di antara bayang-bayang gang sempit di Distrik Bawah Kota Azure. Ini adalah wilayah yang tidak tersentuh oleh kemewahan para bangsawan, tempat di mana hukum rimba berlaku lebih nyata daripada hukum kekaisaran. Di sini, di antara kedai-kedai arak murah dan rumah judi yang berasap, bau kemiskinan dan kejahatan bercampur menjadi satu.

Gu Sheng merasakan napas Qing Er semakin lemah dan panas di dadanya. Racun dari cambuk Gu Lie dan trauma fisik yang dialaminya mulai merusak organ dalamnya. Jika tidak segera diobati dengan pil pemulih tingkat tinggi, nyawa Qing Er akan berada dalam bahaya besar.

"Tuan... Muda... tinggalkan... Qing Er..." bisik gadis itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Tuan... harus... lari..."

Gu Sheng mempererat dekapannya, matanya menatap lurus ke depan dengan ketajaman seekor elang. "Diamlah, Qing Er. Aku sudah kehilangan segalanya sekali. Aku tidak akan membiarkan takdir mengambil apa pun dariku lagi. Jika Dewa Kematian datang menjemputmu, aku akan menelan Dewa itu hidup-hidup."

Langkah kaki Gu Sheng berhenti di depan sebuah bangunan megah yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kumuh. Bangunan itu memiliki tiga lantai, dengan arsitektur kayu cendana yang mahal dan dua patung singa batu giok yang menjaga pintu masuknya. Sebuah papan nama besar tergantung di atas pintu, bertuliskan dengan tinta emas yang berkilau, Paviliun Seribu Harta.

Ini adalah satu-satunya tempat di Kota Azure yang tidak berani diganggu oleh Keluarga Mu maupun Keluarga Gu. Paviliun ini adalah cabang dari organisasi perdagangan lintas benua yang memiliki koneksi hingga ke tanah suci. Di sini, uang dan harta adalah satu-satunya bahasa yang berlaku.

Gu Sheng melangkah masuk. Kehadirannya yang berlumuran darah, jubah compang-camping, dan pedang raksasa di punggungnya segera menarik perhatian para tamu yang berpakaian mewah di dalam aula.

"Berhenti! Pengemis dilarang masuk!" teriak seorang penjaga bertubuh besar yang mengenakan zirah perak. Ia mengacungkan tombaknya, menghalangi jalan Gu Sheng. "Tempat ini adalah untuk para kultivator terhormat, bukan untuk sampah jalanan sepertimu!"

Gu Sheng mengangkat wajahnya. Rambutnya yang basah menutupi sebagian matanya yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. "Aku butuh Pil Pemulih Jiwa tingkat lima dan Cairan Sumsum Giok. Sekarang."

Penjaga itu tertegun sejenak mendengarkan nada bicara Gu Sheng yang penuh otoritas, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Pil tingkat lima? Kau tahu berapa harganya, bocah? Satu pil itu setara dengan sepuluh ribu batu energi tingkat rendah! Apa kau punya uangnya? Atau kau ingin menjual pedang berkarat di punggungmu itu?"

Para tamu lain mulai berbisik-bisik, menatap Gu Sheng dengan tatapan mengejek. "Lihatlah dia, bermimpi mendapatkan pil tingkat lima dalam kondisi sekarat seperti itu."

Gu Sheng tidak memiliki waktu untuk berdebat. Rasa lapar di Dantian-nya mulai bergejolak kembali karena emosinya yang tidak stabil. Ia melangkah maju satu langkah, dan tekanan berat dari pedang Penebas Dosa seketika meretakkan lantai marmer di bawah kakinya.

"Aku tidak suka mengulang kata-kataku," desis Gu Sheng. "Ambilkan barangnya, atau aku akan meratakan tempat ini."

"Mencari mati!" Penjaga itu geram dan hendak mengayunkan tombaknya.

Namun, sebelum tombak itu bergerak, sebuah suara yang merdu namun penuh wibawa bergema dari lantai dua.

"Tahan tanganmu, Zhao Hu."

Seorang wanita perlahan menuruni tangga kayu cendana. Setiap langkahnya seolah-olah menari, membuat gaun merah sutranya yang ketat bergoyang mengikuti lekuk tubuhnya yang sempurna. Ia memiliki rambut hitam yang disanggul elegan dengan hiasan emas, kulit seputih porselen, dan bibir merah yang selalu tampak seperti sedang tersenyum menggoda.

Dia adalah Su Mei, pemilik Paviliun Seribu Harta cabang Kota Azure. Di kota ini, ia dikenal sebagai Teratai Merah yang cantik namun mematikan.

Su Mei menatap Gu Sheng dengan mata yang tajam dan cerdik. Ia tidak seperti penjaganya yang bodoh, ia bisa merasakan aura yang sangat tidak biasa memancar dari pemuda di depannya. Meskipun kultivasinya terlihat hanya di tingkat keempat Qi Refinement, tekanan batin yang ia berikan setara dengan praktisi tingkat Spirit Sea.

"Pelanggan yang terhormat, maafkan ketidaksopanan bawahanku," ucap Su Mei sambil membungkuk sedikit, memperlihatkan sedikit belahan dadanya yang mampu membuat pria mana pun kehilangan fokus. Namun, mata Gu Sheng tetap dingin dan tidak bergerak sedikit pun.

Su Mei sedikit terkejut. Biasanya, tidak ada pria yang bisa menahan daya tariknya, namun pemuda ini seolah-olah sedang menatap sebongkah batu.

"Aku butuh obat untuk gadis ini. Berapa pun harganya," ucap Gu Sheng singkat.

Su Mei melirik Qing Er yang pingsan di pelukan Gu Sheng. Ia segera menyadari tingkat keparahan lukanya. "Obat yang kau minta sangat langka dan mahal, Tuan Muda. Pil Pemulih Jiwa tingkat lima bukanlah sesuatu yang bisa dibeli hanya dengan emas biasa."

Gu Sheng merogoh sesuatu dari balik pakaiannya. Ia mengeluarkan sebuah kantong sutra kecil yang ia ambil dari mayat Gu Lie tadi. Di dalamnya terdapat beberapa batu energi tingkat menengah dan sebuah lencana perak milik penatua Keluarga Gu.

"Ini tidak akan cukup," ucap Su Mei lembut.

"Aku tahu," jawab Gu Sheng. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di atas meja konter. Sebuah energi hitam yang murni dan mengerikan meledak dari tangannya, menciptakan getaran yang membuat seluruh bangunan bergetar. "Tapi aku punya sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di kota ini. Informasi tentang lokasi Mata Air Rohani di dasar Tebing Keputusasaan."

Su Mei membelalak. Matanya berkilat dengan keserakahan yang cerdas. Mata Air Rohani adalah legenda, sebuah tempat di mana energi alam begitu padat hingga bisa mempercepat kultivasi sepuluh kali lipat. Jika Paviliun Seribu Harta memiliki informasi itu, nilai perdagangan mereka akan melonjak drastis.

"Mata Air Rohani... bagaimana aku bisa tahu kau tidak berbohong?" tanya Su Mei, suaranya kini lebih serius.

"Karena aku adalah satu-satunya orang yang pernah kembali dari sana hidup-hidup," jawab Gu Sheng. Ia menatap Su Mei dengan mata merah darahnya. "Sekarang, berikan obatnya, atau aku akan pergi ke Paviliun sainganmu."

Su Mei terdiam sejenak, lalu ia tersenyum lebar, kali ini senyum yang tulus dari seorang pedagang yang melihat keuntungan besar. "Zhao Hu, ambilkan barang yang diminta Tuan Muda ini. Dan siapkan ruang perawatan VIP di lantai atas."

"Tapi Nyonya, dia..."

"LAKUKAN!" perintah Su Mei dengan nada yang tidak terbantahkan.

Beberapa menit kemudian, Gu Sheng berada di sebuah ruangan mewah yang harum dengan aroma terapi. Qing Er dibaringkan di atas ranjang sutra yang empuk. Seorang ahli pengobatan paviliun segera memberikan cairan sumsum giok dan menyuapkan pil tingkat lima ke mulut gadis itu.

Gu Sheng berdiri di dekat jendela, menatap hujan di luar sambil tetap memegang gagang Penebas Dosa. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekat sampai ia yakin Qing Er aman.

Su Mei masuk ke ruangan sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu cangkir di dekat Gu Sheng.

"Kau adalah Gu Sheng, bukan? Putra dari Gu Jianfeng yang dikabarkan sudah mati," ucap Su Mei santai sambil menyesap tehnya.

Gu Sheng tidak menoleh. "Kau cukup berani menyebut nama itu di saat Keluarga Mu sedang memburuku."

"Bisnis adalah bisnis, Tuan Muda Gu," jawab Su Mei dengan nada menggoda. "Keluarga Mu mungkin penguasa kota ini, tapi mereka bukan penguasa dunia. Dan aku... aku selalu bertaruh pada kuda hitam yang memiliki mata seperti iblis."

Su Mei berjalan mendekat, aroma parfum mawar dari tubuhnya memenuhi indra penciuman Gu Sheng. "Kudengar kau baru saja menghancurkan halaman belakang kediamanmu dan membuat Lin Tian terluka. Berita itu akan menyebar ke seluruh kota besok pagi. Kau akan menjadi orang paling dicari di seluruh wilayah Azure."

"Bagus," jawab Gu Sheng dingin. "Itu akan memudahkan mereka untuk menemukan kuburan mereka sendiri."

Su Mei tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak. "Kau benar-benar berubah, Gu Sheng. Enam bulan lalu, kau adalah pemuda jenius yang sopan dan naif. Sekarang... kau seperti pedang yang haus darah. Aku menyukai versi dirimu yang sekarang."

Su Mei meletakkan tangannya di bahu Gu Sheng, jari-jarinya yang lentik merayap pelan. "Jika kau butuh tempat persembunyian sampai Turnamen Kota Azure dimulai, Paviliun Seribu Harta bisa melindungimu. Tentu saja... dengan imbalan yang setimpal."

Gu Sheng menoleh, menatap wajah cantik Su Mei yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ia bisa merasakan detak jantung wanita itu yang sedikit lebih cepat.

"Imbalan apa yang kau inginkan, Teratai Merah?" tanya Gu Sheng, suaranya rendah dan mengancam.

Su Mei tersenyum penuh rahasia. "Selain informasi tentang Mata Air Rohani... aku ingin kau berjanji satu hal. Jika suatu hari kau menjadi penguasa langit, aku ingin Paviliun Seribu Harta menjadi satu-satunya mitra dagangmu. Dan mungkin... aku ingin memiliki tempat kecil di sisimu."

Gu Sheng tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih pinggang Su Mei dan menariknya mendekat, membuat wanita itu sedikit terkejut. Mata merah Gu Sheng menatap dalam ke mata Su Mei, memberikan tekanan batin yang membuat wanita itu merasa telanjang di hadapannya.

"Su Mei, jangan bermain api dengan iblis," bisik Gu Sheng di telinganya. "Jika kau mengkhianatiku, bahkan Paviliun Seribu Harta di Benua Pusat pun tidak akan bisa menyelamatkanmu dariku."

Su Mei justru merasa merinding kegirangan. Ia adalah wanita yang mencintai tantangan dan kekuatan. "Aku tidak pernah takut pada api, Tuan Muda Gu. Aku justru ingin tahu... seberapa panas api iblis di dalam dirimu."

Pertemuan antara sang Iblis dan sang Teratai Merah ini menandai terbentuknya aliansi bayangan yang akan mengguncang stabilitas Kota Azure. Di bawah perlindungan Paviliun Seribu Harta, Gu Sheng memiliki waktu satu minggu untuk memulihkan diri, melatih teknik Penelan Langit-nya ke tingkat yang lebih tinggi, dan mempersiapkan kejutan berdarah bagi Mu Ruoxue di panggung turnamen nanti.

Hujan masih terus turun, namun di dalam Paviliun Seribu Harta, sebuah rencana pembantaian yang lebih besar sedang disusun dengan rapi.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai sekte pedang langit dengan cara paling kejam thor bikin leluhur sekte itu memohon ampunan bunuh dia aja jangan libatkan sektenya bikin mcnya tidak peduli bantai sekte itu serap kultivasi mereka naikin ranah kultivasi habis itu bantai klan lin dan klan zhou
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bantai keluarganya zhou rou bikin mereka semua mengutuk zhou rou karena menganggu mcnya
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat robek musuhnya thor bantai klan zhao
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih dalam proses ia Hehe 😅
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi mcnya sampai puncak habis itu bantai lintian dan zhaoru bikin zhaoru dan lintian memohon jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli thor
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya, semua masih proses hehe 😅🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin mcnya kejam bantai lin tian beserta keluarganya bikin mcnya memasukkan pil itu ke dalam tubuh lintian bikin lintian tidak bisa bereinkarnasi bikin mcnya memakan lintian
M Agus Salim: terima kasih untuk masukannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!