NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:102.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Malam itu hujan turun perlahan di luar rumah. Mobil Harsa memasuki halaman dengan pelan, lalu berhenti tepat di depan teras utama. Beberapa detik, pria itu hanya diam di balik kemudi. Tatapannya tertuju pada buket bunga mawar putih di kursi sebelah.

Tangannya perlahan mengambil bunga itu. Harsa mengembuskan napas panjang. Seumur hidupnya, ia bukan lelaki yang pandai meminta maaf dengan kata-kata. Terlebih setelah apa yang terjadi beberapa malam lalu, rasa bersalah itu terus mengganggu pikirannya.

Ia tahu permintaan maafnya tidak akan cukup.

Pintu rumah terbuka.

Tidak ada suara lembut Arsyi yang menanyakan apakah ia sudah makan. Yang menyambutnya malam itu hanyalah Mbak Sari yang segera berjalan mendekat.

“Selamat malam, Pak.”

Harsa sedikit mengernyit.

“Mbak … Arsyi mana?”

Mbak Sari terlihat ragu sesaat sebelum menjawab,

“Bu Arsyi dari tadi di kamar Melodi, Pak.”

Harsa menoleh sekilas ke arah meja makan. Makan malam sudah tersaji rapi di sana.

“Kok nggak turun?” tanya Harsa lagi pelan.

“Kayaknya Bu Arsyi lagi kurang enak badan,” jawab Mbak Sari hati-hati. “Dari sore kelihatannya meriang, tapi tetap ngurus Nona muda sendiri.”

Kening Harsa langsung berkerut.

“Sakit?”

Mbak Sari mengangguk kecil.

“Tadi wajahnya pucat banget, Pak. Saya sempat minta Bu Arsyi istirahat, tapi beliau nggak mau.”

Entah kenapa dada Harsa terasa sedikit tidak nyaman mendengarnya. Tatapannya perlahan turun pada buket bunga di tangannya. Lalu kembali ke arah tangga lantai atas.

“Sudah makan, Pak?” tanya Mbak Sari lagi.

Namun Harsa menggeleng pelan.

“Nanti saja.”

Ia langsung melangkah menuju tangga.

“Mbak Sari,” panggilnya sebelum naik.

“Iya, Pak?”

“Kalau Arsyi turun, bilang saya di atas.”

“Baik, Pak.”

Sampai akhirnya ia tiba di depan kamar Melodi.

Pintu kamar sedikit terbuka. Dan dari celah itu Harsa melihat Arsyi. Wanita itu sedang tertidur sambil bersandar di sofa kecil dekat boks bayi. Melodi tertidur tenang di dalam boksnya.

Sementara Arsyi terlihat sangat pucat. Padahal niat hati tadi langsung ke kamarnya. Selimut kecil bahkan jatuh di lantai tanpa disadarinya.

Harsa terdiam di ambang pintu. Matanya memperhatikan wajah Arsyi lama. Rambut wanita itu sedikit berantakan. Wajahnya lelah, dan ada lingkar samar di bawah matanya. Harsa benar-benar melihat seberapa besar Arsyi mengurus semuanya sendirian.

Perlahan Harsa masuk ke dalam kamar. Langkahnya hati-hati agar tidak membangunkan Melodi. Ia menaruh buket mawar putih itu di meja kecil dekat sofa. Lalu tanpa sadar tatapannya kembali jatuh pada Arsyi. Sampai akhirnya Harsa berjongkok pelan di depan sofa. Tangannya terangkat ragu, lalu menyentuh dahi Arsyi perlahan.

Kening Harsa langsung mengerut.

“Demam…” gumamnya pelan.

Mungkin karena sentuhan itu, Arsyi bergerak kecil dalam tidurnya. Matanya terbuka perlahan, pandangan wanita itu masih samar beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada wajah Harsa di depannya.

Ia terlihat sedikit terkejut.

“Kak?” Suara Arsyi serak.

Harsa menarik tangannya perlahan.

“Kenapa nggak bilang kalau sakit?”

Arsyi menggeleng kecil.

“Cuma pusing sedikit.”

“Wajah kamu pucat.”

“Aku nggak apa-apa.” Jawaban itu langsung membuat Harsa menghela napas pelan. Karena sejak awal Arsyi memang selalu mengatakan dirinya baik-baik saja. Bahkan saat sebenarnya tidak. Arsyi kemudian baru menyadari sesuatu. Matanya tertuju pada buket mawar putih di meja.

Ia terdiam beberapa detik.

“Kak … itu?”

Harsa ikut melihat ke arah bunga itu. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah canggung.

“Itu…” ia berdeham pelan. “Buat kamu.”

Arsyi membeku, benar-benar tidak menyangka.

“Buat … aku?”

Harsa mengangguk kecil.

“Sebagai permintaan maaf.”

Suasana langsung hening, Arsyi menatap bunga itu lama.

“Kak nggak perlu repot-repot,” ucap Arsyi lirih.

“Aku nggak repot,” jawab Harsa cepat.

Tatapan mereka bertemu. Sampai akhirnya Harsa berkata pelan,

“Aku tahu aku banyak nyakitin kamu.”

Kalimat itu membuat mata Arsyi perlahan melembut. Namun, sebelum ia sempat menjawab Melodi bergerak kecil di dalam boks. Tangisan lirih bayi itu mulai terdengar.

Refleks Arsyi langsung berdiri namun tubuhnya sedikit oleng. Harsa spontan menahan lengannya.

“Hati-hati.” Suara pria itu rendah dan hangat. Sangat berbeda dari biasanya.

Sementara Arsyi menatap tangan Harsa yang masih menahannya dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka hatinya kembali berani berharap sedikit. Tangan Harsa masih menahan lengan Arsyi.

Sementara Arsyi berdiri di hadapannya dengan napas yang sedikit tertahan.

Jarak mereka begitu dekat. Dekat sampai Arsyi bisa mencium samar aroma parfum dan sisa hujan dari tubuh pria itu.

Namun, terasa penuh sesuatu yang sulit dijelaskan. Arsyi menatap Harsa hati-hati.

Biasanya pria itu selalu menghindari menatapnya terlalu lama. Selalu cepat memalingkan wajah, seolah takut melihat sesuatu di dalam dirinya.

Tatapan pria itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus gugup.

“Kak…” panggilnya pelan.

Namun Harsa masih diam menatapnya, tatapannya turun perlahan, ke mata Arsyi. Lalu ke bibir wanita itu sekilas. Dan kembali lagi ke matanya. Napas Arsyi langsung tercekat. Jantungnya berdetak semakin keras. Ruangan terasa mendadak sempit.

Arsyi spontan memalingkan wajah lebih dulu.

Sementara Harsa segera menarik tangannya perlahan, seolah baru tersadar dirinya terlalu lama menahan Arsyi.

Suasana mendadak canggung.

“Aku … ambil Melodi dulu,” ucap Arsyi cepat dengan suara pelan. Ia segera berjalan menuju boks bayi.

Harsa tetap diam di tempatnya. Menatap punggung Arsyi yang kini menggendong Melodi pelan. Wanita itu langsung berubah lembut saat menimang bayi kecil tersebut.

“Sayang … bangun ya?” bisik Arsyi lembut sambil mengusap kepala Melodi. Tangisan bayi itu perlahan mereda.

Harsa mengembuskan napas panjang. Lalu tanpa sadar, pandangannya kembali jatuh pada buket mawar putih di meja.

“Kak Harsa mau makan malam sekarang?” tanya Arsyi tiba-tiba tanpa menoleh.

Suaranya kembali tenang seperti biasa. Harsa tersadar dari lamunannya.

“Iya … nanti.”

Arsyi mengangguk kecil. Lalu kembali fokus pada Melodi.

1
Teh Euis Tea
sudah tamat ternyata thor ga nunggu sampai arsy lahiran tp terima kasih thor atas ceritamu, sehat selalu untuk othor
Teh Euis Tea
si rina udah gila x ya
Angga Gati
bagus ceritanya lope sakebon💖💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝💝
Angga Gati
baru bahagia kok udh tamat kak😍
Aditya hp/ bunda Lia
eeeh, ... ternyata tamat kirain masih lanjut tapi makasih 🙏
Ita rahmawati
Weh tamat benerankan 😅
Ita rahmawati
kalo gtu bikin mati ajalah si rinanya Thor soalnya nti kalo udh bebas dendam dia Pasti lebih bahaya 🤣
Ita rahmawati
beneran kn ini si Rina udh KO 🤣
Aditya hp/ bunda Lia
untunglah selamat dan semoga si Rina lama dipenjara
Teti Hayati
Makasih karya luar biasanya ka...
Rieya Yanie
kok cepet tamatnya
Ikaaa1605
Yaaaahhh uda tamat ajaa
Naufal Affiq
terkejut aku bacanya kak,tiba-tiba sidah tamat
Naufal Affiq
kok ada ya model orang seperti si rina ini
Marini Suhendar
Yach....
Marini Suhendar
good job harsa
Naufal Affiq
mampus kau rina,sudah ketahuan belang mu yang sebenarnya
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kau .... tamat sudah kamu Rina
Ass Yfa
dan rterjawab sudah...siapa yg menemui Nadin sebelum mnggl dia Rina..sengaja buat shock Nadin dan akhirnya jatuh dari tangga..karna pikirannya nggk fokus
Ass Yfa
lah dia yg buat Harsa sibuk..masih pura 2 nanya..bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!