NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Amuk Naga di Gerbang Gunung Tiga Puluh

Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, menyengat persada Andalas dengan panas yang membakar kulit. Namun, bagi dua sosok yang berdiri di kaki Gunung Tiga Puluh, panas mentari tak sebanding dengan api yang berkobar di dalam dada. Di hadapan mereka, jalan setapak mendaki menuju puncak tampak seperti liang kubur yang menganga, dijaga oleh ratusan tombak dan parang yang berkilauan.

Rangga Nata, sang Pendekar Naga, menatap puncak gunung dengan rahang mengeras. Rompi Harimau Putih yang dikenakannya memantulkan cahaya surya, menciptakan aura kewibawaan yang menggetarkan. Di sampingnya, Ayu Wulandari, si Bidadari Penebus Nyawa, berdiri dengan tangan kanan tetap melekat pada hulu pedang mawar merahnya.

"Waktu kita tidak banyak, Nisanak Ayu. Jika matahari terbenam dua kali lagi dan penawar itu belum di tangan, Selasih dan Dewi Melati hanya akan menjadi kenangan," ujar Rangga, suaranya berat mengandung getaran tenaga dalam murni.

Ayu Wulandari mendengus, meski gurat kecemasan tak dapat disembunyikan dari wajah ayunya. "Jangan banyak bicara, Lelaki Ceroboh! Kau lihat sendiri ribuan penjagal di atas sana? Jika kau mati konyol di gerbang bawah, jangan harap aku akan memungut bangkaimu!"

Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung tantangan maut. "Kalau begitu, pastikan matamu tetap terbuka lebar, Bidadari Galak. Karena Naga ini sedang sangat lapar!"

"BERHENTI! SIAPA KALIAN YANG BERANI MENDEKATI ISTANA MACAN HITAM?!"

Sebuah teriakan menggelegar dari balik benteng kayu yang kokoh. Muncul puluhan laki-laki bertubuh raksasa dengan pakaian serba hitam. Mereka adalah pasukan inti Macan Sembilan Langit, pendekar-pendekar kelas dua yang terkenal telengas dan tak kenal ampun.

"Aku datang untuk menagih hutang nyawa!" seru Rangga.

"Ha ha ha! Bocah ingusan dan gadis cantik ini mau menagih hutang? Lebih baik kau serahkan gadismu untuk menjadi santapan malam kami, dan kau akan kami jadikan budak pembersih kandang harimau!" tawa pemimpin penjaga itu meledak, diikuti oleh anak buahnya.

"Mulutmu terlalu kotor untuk tetap berada di tempatnya, Bangsat!" desis Ayu Wulandari.

Sringgg!

Tanpa menunggu aba-aba, Ayu Wulandari melesat bagaikan kilat merah. Pedang mawarnya bergetar, mengeluarkan suara mendenging yang memecahkan gendang telinga.

Crab! Crab!

"Aaakh!"

Dua orang penjaga langsung terkapar dengan leher terputus sebelum mereka sempat mengangkat senjata. Gerakan Ayu Wulandari begitu beringas, jauh dari kesan lembut seorang wanita. Setiap tebasannya mengincar titik mematikan, seolah ia ingin melampiaskan seluruh kebenciannya pada kaum lelaki kepada para penjagal itu.

"Heaaa! Serang mereka! Jangan sisakan!" teriak sang pemimpin penjaga yang mulai panik.

Namun, perhatian mereka segera teralih pada sebuah ledakan udara yang dahsyat. Rangga Nata melompat ke udara, melakukan salto tiga kali, lalu mendarat tepat di tengah-tengah kerumunan musuh.

"HIYAAAAA!"

Rangga tidak langsung mencabut pedangnya. Ia menggunakan jurus Pukulan Naga Menggoncang Bumi. Kedua telapak tangannya menghantam tanah dengan kekuatan penuh.

DUARRRR!

Tanah di sekitar gerbang bergetar hebat seolah diguncang gempa. Sepuluh orang pendekar hitam terpental ke udara, tulang-tulang mereka remuk seketika terkena gelombang tenaga dalam yang dahsyat.

"Siapa sebenarnya bocah ini?! Tenaga dalamnya... luar biasa!" teriak seorang pendekar bersenjata gada rantai.

Rangga tidak memberi kesempatan. Ia bergerak seperti naga yang baru bangun dari tidur panjang. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari sabetan golok, lalu tangannya bergerak cepat melakukan totokan saraf.

Tuk! Tuk! Tuk!

"Aduh! Tanganku mati rasa!"

"Kaki ku tidak bisa digerakkan!"

"Minggir, atau nyawa kalian akan melayang sia-sia!" bentak Rangga. Matanya yang tajam kini mulai memerah, tanda emosinya mulai memuncak.

Di sisi lain, Ayu Wulandari dikepung oleh delapan orang. Namun, sang Bidadari Penebus Nyawa justru semakin beringas. Selendang merahnya keluar dari balik lengan, bergerak seperti ular kobra yang mengincar mata lawan.

"Kau... gadis iblis!" teriak salah satu pengeroyok saat matanya buta terkena sabetan selendang berlumur tenaga dalam.

"Hanya iblis yang bisa melayani iblis seperti kalian!" sahut Ayu Wulandari ketus. Ia melirik ke arah Rangga yang sedang mengamuk. "Hei, Naga Cengeng! Jangan cuma main-main dengan totokan! Cepat buka gerbangnya!"

Rangga terkekeh di tengah kepungan. "Sabar, Nisanak Ayu! Aku sedang memanaskan badan!"

Tiba-tiba, dari arah gerbang istana yang lebih tinggi, meluncur puluhan anak panah beracun.

Siuuut! Siuuut! Siuuut!

"Awas, Ayu!"

Rangga melenting tinggi. Tangannya bergerak ke punggung.

SRINGGGG!

Cahaya emas menyilaukan membelah udara. Pedang Naga Emas Seribu Langit akhirnya terhunus. Rangga memutar pedangnya dengan jurus Naga Melindungi Sarang. Sebuah perisai cahaya terbentuk, merontokkan semua anak panah yang mengarah ke arahnya dan Ayu Wulandari.

"Ketajaman pedang itu... mungkinkah itu Pedang Naga Emas?" gumam seorang tokoh hitam yang mengamati dari kejauhan, Si Muka Mayat, salah satu tangan kanan Macan Hitam.

"Hayo, maju kalian semua! Panggil Nini Suro! Suruh nenek peyot itu menyerahkan penawar racunnya!" teriak Rangga. Suaranya menggema ke seluruh lereng gunung, membuat nyali para penjaga ciut seketika.

Melihat kawan-kawannya banyak yang tumbang, para pendekar golongan hitam mulai kalang kabut. Mereka belum pernah menemui lawan sehebat ini. Rangga Nata benar-benar merangsek maju tanpa ampun. Setiap ayunan pedangnya membawa hawa panas yang menghanguskan pakaian lawan.

"Bangsat! Jangan biarkan mereka masuk ke halaman dalam!" teriak Si Muka Mayat sambil meloncat turun. Ia memegang sepasang belati beracun yang mengeluarkan uap hijau.

Ayu Wulandari segera menghadang. "Lelaki bermuka pucat ini bagianku, Rangga! Cari si nenek sihir itu!"

"Hati-hati, Ayu! Belatunya mengandung bisa!" peringat Rangga.

"Cerewet! Urus saja dirimu sendiri!" sahut Ayu sambil menerjang Si Muka Mayat dengan jurus Bidadari Menjemput Ajal.

Rangga tidak membuang waktu. Ia menerobos gerbang kedua dengan sabetan pedang yang menghancurkan pintu kayu setebal satu jengkal itu hingga berkeping-keping.

BLAARRR!

"NINI SURO! KELUAR KAU DARI LUBANGMU!" teriakan Rangga menggetarkan bangunan istana.

Dari balik bayangan pilar-pilar besar, terdengar suara tawa melengking yang memuakkan. Nini Suro muncul dengan tongkat tengkorak monyetnya, didampingi oleh beberapa pengawal bertopeng hitam.

"Ha ha ha... Jadi ini bocah murid si Gila itu? Kau punya nyali juga datang ke sini untuk mengantar nyawa," ujar Nini Suro, matanya yang cekung menatap rakus pada Pedang Naga Emas di tangan Rangga.

"Berikan penawarnya, atau hari ini tongkatmu itu akan kutanam di tenggorokanmu!" ancam Rangga. Ia berdiri dengan kuda-kuda kokoh, hawa murni dari pedangnya mulai membentuk kabut emas di sekeliling tubuhnya.

"Boleh... boleh... tapi kau harus melewati mayat-mayat pengawalku dulu, Pendekar Ingusan!"

Nini Suro menghentakkan tongkatnya ke lantai batu. Seketika, asap ungu pekat keluar dari mulut tengkorak monyet itu, menyebar dengan cepat ke arah Rangga.

"Jurus Kabut Arwah Pencabut Sukma! Rasakan ini, Bocah!"

Rangga menyipitkan mata. Ia tahu racun ini sangat berbahaya jika terhirup. Namun, dendam dan tanggung jawabnya terhadap Selasih dan Dewi Melati memberinya kekuatan tambahan.

"Seribu langit akan menjadi saksi, Nini Suro... Naga tidak akan tunduk pada asap busukmu!"

Rangga menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya ke mata pedang. Pertarungan hidup mati di jantung pertahanan Macan Hitam baru saja dimulai. Di luar, suara denting pedang Ayu Wulandari masih bersahutan dengan teriakan kematian para penjaga istana.

Bersambung....

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!