Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Sang Penyelamat yang Tak Dikenal
Jakarta siang itu rasanya membara, tapi hati Arjuna tetap sedingin es. Ia berdiri di depan Wijaya Tower, gedung pencakar langit milik ayahnya yang dulu menjadi tempat ia diusir. Penampilannya bersahaja; kemeja putih bersih, sarung hitam, dan tas kusam yang berisi Lontar Emas dari laut selatan.
.
"Mas, niki kantor, sanes terminal. Mboten pareng mlebet mriki nek mboten wonten janji. (Mas, ini kantor, bukan terminal. Tidak boleh masuk sini kalau tidak ada janji,)" cegat satpam bertubuh tegap di lobi.
.
Arjuna tersenyum tipis, matanya menatap tenang. "Nyuwun sewu, Pak. Kulo namung badhe ngeterke 'layang' kagem Romo Wijaya. (Mohon maaf, Pak. Saya cuma mau mengantarkan 'surat' buat Ayah Wijaya.)"
.
Satpam itu tertegun. Entah kenapa, suaranya yang tadi keras mendadak jadi pelan karena melihat wibawa Arjuna. "N-nggih, Mas. Monggo... (I-iya, Mas. Silakan...)"
.
Di lantai paling atas, suasana sedang sangat panas. Pak Wijaya tampak pucat, dikepung oleh Mr. Richard dan Guntur yang sudah memegang bolpoin untuk memaksa ayahnya tanda tangan surat pengalihan aset.
.
"Pa, tanda tangan saja! Daripada Papa mati jantungan di sini, mending kasih semua ke Guntur! (Pa, tapak asmo mawon! Timbangane Papa pejah amargo jantung neng kene, luwung kasih kabeh neng Guntur!)" bentak Guntur dengan mata merah karena ambisi.
.
"Guntur... kowe kok tego temen karo wong tuwomu dhewe? (Guntur... kamu kok tega sekali sama orang tuamu sendiri?)" rintih Pak Wijaya sambil memegangi dadanya yang sesak.
.
Mr. Richard diam-diam menuangkan cairan hitam ke dalam gelas air minum Pak Wijaya. Itu adalah Racun Santet kiriman dukun kelas kakap. Begitu gelas itu hendak didekatkan ke bibir Pak Wijaya...
.
BRAK!
.
Pintu ruangan itu terbuka sendiri. Arjuna melangkah masuk dengan tenang. Di dimensi gaib, Kyai Loreng menggeram dahsyat. "RRRHHHAAARRRR!" Suaranya hanya terdengar oleh batin orang-orang yang ada di sana, membuat bulu kuduk mereka berdiri.
.
"Sampun, Mas Guntur. Ampun diteruske duso niku. (Sudah, Mas Guntur. Jangan diteruskan dosa itu,)" ucap Arjuna dengan nada rendah namun menggetarkan ruangan.
.
Guntur melonjak kaget. "K-kamu?! Gembel penjara itu?! Ngapain kamu di sini?!"
.
Mr. Richard panik dan mencoba membuang gelas beracun itu, tapi gelas itu mendadak melayang di udara, tertahan oleh kekuatan zikir Arjuna.
.
Arjuna mengambil selembar Lontar Emas dari tasnya. "Ingkang bener niku bener, ingkang luput niku luput. (Yang benar itu benar, yang salah itu salah.)"
.
Arjuna meniup gelas itu pelan. PYARRR! Gelas itu pecah berkeping-keping dan air hitam di dalamnya berubah menjadi asap yang bau busuknya minta ampun. Mr. Richard mendadak terjungkal, hidungnya mengeluarkan darah segar karena serangan gaibnya membalas ke dirinya sendiri.
.
Pak Wijaya terbelalak. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi kuli dekil, melainkan putranya yang bersinar. "Juna... niki temenan kowe, Le? (Juna... ini benaran kamu, Nak?)"
.
Arjuna berjalan mendekat, lalu bersujud di kaki ayahnya. Air mata Pak Wijaya tumpah membasahi punggung Arjuna. "Nggih, Romo. Juna wangsul mboten madosi bondho, nanging madosi donga. (Iya, Ayah. Juna pulang bukan mencari harta, tapi mencari doa.)"
.
Bunda Siti yang baru masuk ruangan langsung menjerit dan memeluk Arjuna erat sekali. "Anakku... Juna! Ngapurane Bunda, Le! Bunda wis duso banget karo kowe! (Anakku... Juna! Maafkan Bunda, Nak! Bunda sudah berdosa sekali sama kamu!)"
.
Arjuna membelai tangan ibunya dengan lembut. "Mboten nopo-nopo, Bun. Sedoyo niku sampun kersane Gusti. (Tidak apa-apa, Bun. Semua itu sudah kehendak Tuhan.)"
.
Guntur yang terduduk lemas di pojokan hanya bisa gemetar. Ia melihat kakaknya yang dulu ia injak-injak sebagai sampah, kini berdiri seperti Raja Tanpa Mahkota yang dilindungi oleh harimau putih raksasa.
.
"Mas Juna... ngapurane aku, Mas... aku khilaf... (Mas Juna... maafkan aku, Mas... aku khilaf...)" rintih Guntur sambil menangis sesenggukan.
.
Arjuna menatap adiknya dengan rasa iba, bukan dendam. "Ilangi sifat sombongmu kuwi, Guntur. Bondho dunyo kuwi mung titipan, ora bakal digowo mati. (Hilangkan sifat sombongmu itu, Guntur. Harta dunia itu cuma titipan, tidak akan dibawa mati.)"
.
Sore itu, Wijaya Tower kembali tenang. Arjuna berhasil membersihkan "sampah" gaib dan pengkhianatan di kantor itu. Namun, ia tidak mau duduk di kursi empuk ayahnya. Ia tetap memilih jalannya sebagai musafir yang berjalan di atas bumi dengan kerendahan hati.
Di tengah ketegangan ruangan kantor yang mewah itu, Arjuna malah duduk bersila di atas lantai marmer. Ia tampak sangat santai, kontras dengan Guntur yang masih gemetar ketakutan di pojokan.
.
"Laras, Mentari... mrene, Ndhuk. (Laras, Mentari... ke sini, Dek,)" panggil Arjuna lembut.
.
Kedua adik perempuannya itu mendekat dengan wajah sembab. Arjuna merogoh saku sarungnya, mengeluarkan lembaran uang lecek hasil keringatnya jadi kuli semen tempo hari.
.
"Niki dhuwit kuli, dhuwit halal. Tulung tumpaske rokok kretek karo kopi ireng neng warung ngisor gedung nggih. Masmu selak pengen 'ngukus'. (Ini uang kuli, uang halal. Tolong belikan rokok kretek sama kopi hitam di warung bawah gedung ya. Kakakmu sudah kebelet ingin 'berasap',)" perintah Arjuna sambil tersenyum tipis.
.
Laras dan Mentari sempat bingung, di gedung mewah begini kok malah disuruh beli rokok warung. Tapi mereka menurut saja, merasa ini kehormatan bisa melayani kakak sulung mereka lagi.
.
Setelah adik-adiknya pergi, Arjuna menoleh ke arah Guntur yang masih megap-megap. Pak Menteri Burhan di sebelah Guntur juga cuma bisa diam seribu bahasa karena kakinya kaku secara gaib.
.
Arjuna mengambil korek kayu dari sakunya, lalu berdehem keras. "Guntur... kowe kuwi wong lanang kok ra rokokan? Ra penak, Le. (Guntur... kamu itu laki-laki kok tidak merokok? Tidak enak, Dek.)"
.
Guntur cuma bisa menunduk, air matanya menetes di lantai.
.
"Wong kuwi nek ra nate ngerasakke paité rokok karo paité urip, dadine koyo kowe... gampang nggondhel (bergantung) karo menungso. (Orang itu kalau tidak pernah merasakan pahitnya rokok dan pahitnya hidup, jadinya seperti kamu... gampang bergantung sama manusia.)"
.
Arjuna berdiri sebentar, mendekati jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Ia menunjuk ke arah langit yang mulai mendung.
.
"Kowe kuwi aneh, Guntur. Kowe kuwi 'gaweane' Gusti Allah, tapi kok malah wedi karo 'gaweane' menungso? (Kamu itu aneh, Guntur. Kamu itu 'buatan' Allah, tapi kok malah takut sama 'buatan' manusia?)"
.
Arjuna tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat berwibawa namun menyakitkan bagi telinga yang berdosa.
.
"Pak Menteri iki menungso, dhuwit kuwi menungso sing nggawe, jabatan yo menungso sing nggawe. Kok kowe malah wedi dadi miskin? Wong 'gaweane' Gusti Allah kok wedi kere? (Pak Menteri ini manusia, uang itu manusia yang buat, jabatan ya manusia yang buat. Kok kamu malah takut jadi miskin? Wong 'buatan' Allah kok takut melarat?)"
.
"Nek kowe wedi karo menungso, uripmu yo bakalan remuk mergo menungso dhewe. (Kalau kamu takut sama manusia, hidupmu ya bakal hancur karena manusia sendiri.)"
.
Tak lama, Laras dan Mentari datang membawa kopi hitam plastik dan sebungkus rokok kretek. Arjuna menerima kopi itu, menyeruputnya pelan sambil memejamkan mata. "Alhamdulillah... paité pas."
.
Arjuna menyumet rokok kreteke. Cret! Asap tebal mengepul, menutupi wajah Arjuna yang tampak bersinar. Di balik asap itu, Pak Menteri Burhan melihat bayangan Kyai Loreng yang sedang menjilati taringnya tepat di samping kursi Pak Wijaya.
.
Pak Wijaya yang mendengarkan sindiran Arjuna tadi hanya bisa terdiam sambil memegangi dadanya. Ia tersadar, putra sulungnya yang dulu ia usir karena dianggap "beban", ternyata jauh lebih kaya karena tidak punya rasa takut selain kepada Tuhannya.
.
"Mpun, Pak Menteri... mboten usah pucet. Niki kopi pait kulo taksih turah sithik, nopo kerso? (Sudah, Pak Menteri... tidak usah pucat. Ini kopi pahit saya masih sisa sedikit, mau?)" tawar Arjuna sambil menyodorkan cup plastiknya dengan nada meremehkan yang sangat berkelas.
Asap rokok kretek Arjuna memenuhi ruangan kantor yang dulunya hanya beraroma parfum mahal. Laras dan Mentari yang baru saja kembali membawakan kopi plastik, kini malah duduk lesehan di lantai di samping kakak sulungnya itu. Kedua gadis itu tidak peduli lagi dengan baju bermerek mereka yang terkena debu, yang penting mereka bisa dekat dengan Mas Juna.
.
"Mas, niki kopine. (Mas, ini kopinya,)" bisik Mentari sambil tersenyum tulus.
.
Arjuna menyeruput kopi pahit itu, lalu matanya terpejam sejenak menikmati rasa pekatnya. "Wah, paité joss! (Wah, pahitnya mantap!)" Arjuna kemudian mengeluarkan bungkus rokoknya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Guntur yang masih pucat. "Guntur, kowe ra pengen nyoba? Rokok kretek iki luwih jujur tinimbang janjine Pak Menteri. (Guntur, kamu nggak pengen coba? Rokok kretek ini lebih jujur daripada janjinya Pak Menteri.)"
.
Guntur hanya bisa menggeleng-geleng sambil menangis sesenggukan. Pak Menteri Burhan yang kakinya masih kaku secara gaib hanya bisa mengerjapkan mata, bingung melihat Arjuna yang begitu santai seolah sedang berada di warung angkringan, bukan di tengah kepungan musuh.
.
"Laras, Mentari... kowe ngerti ora? (Laras, Mentari... kalian tahu tidak?)" Arjuna menghembuskan asap rokok dari hidungnya. "Urip kuwi sejatine koyo ngopi iki. Nek kowe wedi pait, kowe ora bakal ngerasakke nikmate. (Hidup itu sejatinya seperti ngopi ini. Kalau kamu takut pahit, kamu tidak bakal merasakan nikmatnya.)"
.
Arjuna kemudian menatap Pak Wijaya yang masih berdiri kaku seperti patung. "Romo, ampun tegang-tegang. Menungso kuwi nek kakehan mikir dunya, sirahe malih koyo mesin sing karaten. (Ayah, jangan tegang-tegang. Manusia itu kalau kebanyakan mikir dunia, kepalanya jadi seperti mesin yang karatan.)"
.
Arjuna tertawa lirih, lalu menggenggam tangan Laras dan Mentari. "Cah ayu-ayu... ojo dadi menungso sing wedi mlarat. Wong mlarat kuwi mung sing ra duwe Gusti Allah neng atine. (Anak cantik-cantik... jangan jadi manusia yang takut melarat. Orang melarat itu cuma yang tidak punya Allah di hatinya.)"
.
"Mas Juna, mboten neng panti malih nggih? (Mas Juna, tidak ke panti lagi kan?)" tanya Mentari dengan nada manja, berharap kakaknya tidak pergi lagi.
.
Arjuna menyemburkan asap kreteknya ke langit-langit ruangan. "Mas iki dudu sopo-sopo, Ndhuk. Mas iki mung 'Debu'. Nanging debu sing eling dalan mulih. (Mas ini bukan siapa-siapa, Dek. Mas ini cuma 'Debu'. Tapi debu yang ingat jalan pulang.)"
.
Suasana yang tadinya tegang seperti akan pecah perang, mendadak berubah menjadi hangat karena Arjuna sangat pandai membawa suasana. Ia bahkan menceritakan kisah-kisah lucu saat ia menjadi kuli semen dulu, membuat Laras dan Mentari tertawa cekikikan di tengah kemewahan kantor yang kini terasa lebih manusiawi.
.
"Mpun, saiki kabeh donga wae. Polisi sedhéla maneh teka nggawa 'hadiah' nggo Pak Menteri. (Sudah, sekarang semua berdoa saja. Polisi sebentar lagi datang bawa 'hadiah' buat Pak Menteri.)"
.
Arjuna menyeruput kopinya lagi sampai habis. Meskipun ia adalah penyelamat keluarga itu, Arjuna tetap merasa lebih nyaman duduk di karpet daripada di kursi direktur yang harganya ratusan juta. Baginya, kemuliaan manusia itu bukan dari tempat ia duduk, melainkan dari seberapa luas hatinya melapangkan maaf.
Suara sirine polisi mulai terdengar meraung-raung di bawah gedung Wijaya Tower. Di dalam ruangan, Arjuna masih sangat tenang. Ia menghisap dalam-dalam rokok kreteknya, seolah tidak peduli dengan keributan yang akan terjadi.
.
BRAKK!
.
Pintu ruangan didobrak oleh belasan polisi bersenjata lengkap. Pak Menteri Burhan yang tadinya membeku secara gaib, tiba-tiba bisa bergerak dan langsung berteriak histeris.
.
"Pak Polisi! Tangkap orang gila bersarung itu! Dia pakai ilmu hitam! Dia menyandera kami semua!" teriak Pak Menteri sambil menunjuk ke arah Arjuna.
.
Namun, kapten polisi itu justru melangkah mendekati Arjuna, lalu menunduk hormat dengan sangat takzim. "Maaf, Gus. Bukti-bukti korupsi dan rencana jahat Pak Menteri sudah kami terima lengkap. Terima kasih atas bantuannya."
.
Pak Menteri langsung lemas, wajahnya sepucat kertas. Guntur pun makin histeris, ia mencoba memeluk kaki polisi sambil menangis ketakutan.
.
"Kulo namung dijebak! Kulo namung dikon Pak Menteri! (Saya cuma dijebak! Saya cuma disuruh Pak Menteri!)" teriak Guntur memelas.
.
Arjuna bangkit berdiri, merapikan sarung hijaunya yang harum aroma melati. Ia menatap Guntur dengan sorot mata yang penuh rasa iba.
.
"Guntur... kowe kuwi menungso gaweane Gusti Allah, kok wedi dadi kere? (Guntur... kamu itu manusia ciptaan Allah, kok takut jadi miskin?)" tanya Arjuna rendah namun menggetarkan hati.
.
Arjuna melirik Pak Menteri yang sedang diborgol kasar oleh polisi. "Wong nek wedi miskin, dhuwit bakal dadi gustine. Nek dhuwit wis dadi gusti, menungso bakal dadi kewan. (Orang kalau takut miskin, uang akan jadi tuhannya. Kalau uang sudah jadi tuhan, manusia akan jadi hewan.)"
.
Pak Wijaya mendekat dengan langkah gontai. Air matanya menetes, ada rasa malu yang luar biasa besar di dadanya. "Juna... ojo lungo maneh, Le. Romo wis sadar. Gedung iki, dhuwit iki, kabeh nggo kowe. (Juna... jangan pergi lagi, Nak. Ayah sudah sadar. Gedung ini, uang ini, semua buat kamu.)"
.
Arjuna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang namun terasa sangat jauh. Ia menggeleng perlahan.
.
"Mboten, Romo. Juna sampun mboten saged manggon neng kene. (Tidak, Ayah. Juna sudah tidak bisa tinggal di sini.)"
.
Arjuna mematikan puntung rokok kreteknya di asbak kristal mahal milik ayahnya. Ajaibnya, meski sudah mati, asap tipis dari puntung itu tetap mengepul harum.
.
"Drajat menungso kuwi dudu seko gedunge, dudu seko mobile. Tapi seko sepiro kowe wani mlarat nanging tetep eling marang Gusti. (Derajat manusia itu bukan dari gedungnya, bukan dari mobilnya. Tapi dari seberapa kamu berani melarat namun tetap ingat kepada Tuhan.)"
.
Arjuna memeluk Bunda Siti yang menangis sesenggukan, lalu mencium kening Laras dan Mentari secara bergantian.
.
"Mas pamit, Ndhuk. Jogo Bapak karo Bunda nggih. (Kakak pamit, Dek. Jaga Ayah sama Ibu ya.)"
.
Tanpa menoleh lagi ke arah harta benda yang ada di sana, Arjuna melangkah keluar dengan tas ransel kusamnya. Di lobi bawah, ratusan wartawan mencoba memotretnya, namun hasilnya selalu sama: wajah Arjuna tampak buram tertutup asap rokok, seolah ia dilindungi oleh kekuatan yang tak terlihat.
.
"Gusti Allah mboten sare... (Allah tidak tidur...)" gumam Arjuna sambil berjalan kaki menembus keramaian, kembali menjadi musafir yang hanya mencari ridho Tuhannya.