Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Iblis
DRAP!
DRAP!
DRAP!
"Hah...hah...hah..."
"Kemana? Kemana mereka membawa ayah?!" tangis Myra pecah.
Dengan piyama biru yang kotor dan rambut kusut, ia berlari tanpa alas kaki. Jalanan sunyi menjadi saksi bisu ketakutannya.
Fajar baru saja menyingsing, namun cahaya pagi tak mampu mengusir bayangan jeep hijau yang beberapa menit lalu membawa paksa tubuh ayahnya.
Myra terus berlari hingga telapak kaki kecilnya perih, robek oleh benda tajam di aspal. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan hancurnya hati melihat ayahnya hilang di depan mata.
DRT...
DRT...
Dering telepon menyentak Myra dari lamunan kelam masa lalu. Ia mengusap wajah, berusaha kembali ke realita.
"Halo?"
"Selamat pagi," sahut suara pria di seberang sana. "Apakah Nona ada waktu siang ini? Ada klien yang ingin melanjutkan kontrak."
Matanya menatap tajam ke arah jam. Myra merendahkan suaranya, " Kebetulan hari ini aku senggang. Jam berapa dan dimana?"
"Jam 12 tepat. Di kedai kopi Jalan Anggrek."
...----------------...
Kediaman Willy,
"Kenapa kalian masih di sini?! Apa penjelasanku belum cukup?!"
Suara Willy, mantan Wakil Gubernur menggelegar di ruang tamu. Di masa senjanya, pria itu harus menghadapi interogasi polisi di rumahnya sendiri.
"Apa kalian pikir orang setua aku sanggup melakukan hal sekeji ini?" Willy mendengus, alisnya bertaut murka. "Sekali lihat pun, sudah ketahuan pelakunya Sang Iblis! Tangkap saja dia, jangan ganggu aku!"
"Sang Iblis?" Rafan menyipitkan mata, kebingungan. Reflek menatap tajam ke arah Andre guna menagih penjelasan. "Siapa yang dia maksud?"
Andre tampak gugup. "I-itu... sebutan untuk ketua kelompok pembunuh bayaran yang paling ditakuti, Pak."
Rafan menggertakkan gigi. Aura dingin terpancar dari wajahnya saat ia berbalik pergi tanpa pamit. Andre tersentak, segera membungkuk hormat pada Willy sebelum berlari menyusul atasannya.
"Terima kasih atas kerja sama Anda! Kami Permisi!" seru Andre terburu-buru.
Di dalam mobil, suasana terasa tegang. Rafan mencengkeram kemudi, meski mesin belum dinyalakan. "Jelaskan padaku, siapa Sang Iblis ini?!"
"Hanya sedikit orang yang tahu identitas aslinya, Pak," Andre memulai dengan suara gemetar. "Dia dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Siapa pun targetnya, jika dia mau, orang itu akan mati dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak."
"Sudah banyak keluarga kaya yang menyewa jasa Sang Iblis untuk membalas dendam atau sekedar menghilangkan nyawa lawannya."
"Maksudmu, pembunuhan Dendi Hasno dilakukan oleh pihak ketiga?" simpul Rafan.
"Kemungkinan besar---iya, Pak."
"Lalu kenapa dia masih berkeliaran? Apa polisi di sini tidak becus?" cecar Rafan.
"Aparat takut, Pak. Tidak ada yang berani berurusan dengannya,"
"Kami pernah mencoba menangkapnya dua kali. Pertama, petugas yang menyelidiki ditembak mati di rumahnya sendiri. Kedua, tim mencoba bernegoisasi, tapi mereka dinyatakan menghilang semua tanpa kabar." jelas Andre lirih,
Rafan terdiam sejenak, lalu matanya berkilat penuh tekad. "Antarkan aku ke sana."
"Hah? Tapi, Pak..." Andre memucat. "Itu sama saja dengan bunuh diri!"
"Kamu tunggu saja di luar. Biar aku masuk sendiri,"
20 menit kemudian.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Halamannya luas, dipenuhi tanaman bunga yang tertata rapi. Pagar kayu dan suasana asrinya membuat tempat itu tampak seperti rumah warga biasa, jauh dari kesan sarang pembunuh.
"Ini rumahnya, Pak." gumam Andre pelan. Ia menoleh ke arah Raan yang sudah siap turun,
"Tunggu di sini," perintah Rafan singkat.
"Tapi Pak, setidaknya bawalah senjata!"
Rafan melirik penampilannya di cermin, kaos santai tanpa seragam dinas. "Tenanglah. Penampilanku saat ini tidak akan memicu kecurigaan. Aku hanya ingin bertamu,"