NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Khusus Dewasa 📌

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Hampir dua jam berlalu sejak suara kuncian pintu itu bergema di lorong kamar yang sunyi. Selama itu pula, Calista tidak beranjak satu inci pun dari posisinya di depan pintu kamar mandi. Ia duduk bersandar pada kayu jati yang dingin, terus mendengarkan suara gemericik air yang sesekali diselingi helaan napas berat dan sunyi yang mencekam dari dalam sana. Di sela-sela waktu tunggu yang menyiksa itu, Calista bergerak dengan tenang namun sigap; ia menyiapkan pakaian tidur katun yang nyaman, handuk bersih yang hangat, dan segelas air putih hangat di atas nakas, mencoba mengalihkan rasa cemas yang menggelayuti hatinya. Setiap kali ia mendengar suara hantaman atau erangan dari dalam, jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap setia menunggu dengan kesabaran yang luar biasa, memastikan bahwa suaminya tidak berjuang sendirian melawan pengaruh buruk obat tersebut.

"Calista..."

Suara parau Denis memanggil namanya dari balik pintu. Nada suaranya tidak lagi meledak-ledak atau penuh erangan liar seperti sebelumnya, melainkan terdengar sangat letih, serak, dan tenang, meski sisa-sisa otoritasnya masih terasa kental.

"Buka pintunya," perintahnya pelan, hampir berupa bisikan yang sarat akan kelelahan fisik dan mental yang mendalam setelah melewati pergulatan batin yang sangat hebat.

Dengan tangan yang sedikit dingin dan gemetar, Calista bangkit berdiri dan memutar anak kunci dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, uap dingin yang tajam dari air es yang digunakan Denis merembes keluar, menyentuh kulit Calista dan membuatnya sedikit menggigil. Pemandangan di depannya membuat napas Calista tertahan sejenak di tenggorokan, melihat sosok pria yang biasanya begitu tangguh kini tampak begitu rapuh.

Denis berdiri di sana dalam keadaan polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya yang atletis. Kulitnya yang biasanya hangat dan dominan kini terasa sangat dingin akibat guyuran air es selama berjam-jam, namun rona merah yang tidak wajar akibat pengaruh obat tadi telah memudar secara signifikan. Rambutnya basah kuyup, menempel di dahi dan meneteskan air ke lantai marmer dengan irama yang teratur. Sebelum Calista sempat berkata apa pun atau merasa canggung oleh keadaan suaminya, Denis melangkah maju dengan langkah yang masih sedikit limbung namun penuh keyakinan.

Tanpa peringatan, ia langsung melingkarkan lengannya yang kokoh ke tubuh Calista, menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang posesif namun lembut. Ia memeluk Calista dengan sangat tenang dan erat. Tidak ada lagi nafsu yang liar, tidak ada paksaan, dan tidak ada sisa-sisa kebuasan kimiawi. Hanya sebuah pelukan yang dalam, penuh perlindungan, dan rasa terima kasih yang tak terucapkan yang terpancar dari dekapannya. Denis membenamkan wajahnya di bahu Calista, membiarkan kehangatan tubuh istrinya perlahan-lahan mengusir sisa-sisa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulangnya.

"Terima kasih karena sudah menguncinya dan tetap di sini menungguku," bisik Denis tepat di telinga Calista. Suaranya terdengar sangat tulus, menunjukkan sisi emosional yang sangat rapuh sebuah pemandangan yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia bisnisnya yang keras dan penuh tipu daya.

Calista terpaku sejenak, namun perlahan tangannya naik dan mengusap punggung Denis yang masih basah dan dingin. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran dari tubuh suaminya yang telah berjuang keras melawan insting paling rendah manusia demi menghargai keberadaan dan harga diri Calista sebagai seorang wanita. "Mas sudah merasa lebih baik? Tubuhmu dingin sekali, kau bisa jatuh sakit jika terus begini," tanya Calista dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti belaian yang menenangkan jiwa.

Denis hanya mengangguk pelan dalam dekapan itu, seolah enggan melepaskan satu-satunya sumber ketenangan dan kewarasan yang ia miliki malam ini. Di dalam pelukan itu, ketegangan yang selama ini menyelimuti hubungan mereka seolah mencair begitu saja, menyisakan ruang bagi sesuatu yang lebih murni dan emosional di antara mereka berdua.

Setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan yang sangat intim, Denis perlahan melonggarkan pelukannya. Ia menatap Calista dengan tatapan mata yang kini sudah kembali jernih dan tajam, meski tampak lingkaran hitam kelelahan di bawah matanya yang menunjukkan betapa terkurasnya energinya. Calista segera mengambil handuk besar yang sudah ia siapkan di lengannya dan memberikannya kepada Denis dengan sikap yang sangat hormat namun penuh perhatian yang tulus.

"Pakailah ini dulu, Mas. Aku sudah menyiapkan pakaian bersih di atas tempat tidur agar kau tidak jatuh sakit karena kedinginan," ucap Calista sembari sedikit menundukkan kepalanya, mencoba mengendalikan rona merah yang kini menghiasi pipinya saat menyadari kedekatan fisik mereka yang begitu nyata dan tanpa jarak.

Denis menerima handuk itu dan mengeringkan tubuhnya dengan gerakan singkat sebelum mengenakan pakaian tidur yang telah disiapkan Calista. Melihat bagaimana Calista begitu telaten dan detail menyiapkan segala kebutuhannya mulai dari pakaian yang tertata rapi hingga segelas air hangat yang suhunya pas membuat sesuatu yang membeku di dalam hati Denis selama bertahun-tahun seolah mulai retak dan mencair perlahan. Ia menyadari bahwa di balik kontrak yang mereka tandatangani, ada seseorang yang benar-benar peduli pada keselamatannya lebih dari sekadar urusan uang atau status sosial.

Denis duduk di tepi tempat tidur, menyesap air hangat yang diberikan Calista dalam diam yang menenangkan jiwa. Calista berdiri di dekatnya, memandangi wajah suaminya yang kini tampak jauh lebih rileks dibandingkan saat ia pulang tadi dengan kondisi yang sangat kacau. Ruangan itu kini tidak lagi terasa mencekam, melainkan dipenuhi dengan rasa saling percaya yang baru saja teruji oleh badai gairah dan prinsip yang saling berbenturan.

"Tidurlah, Mas. Kau butuh istirahat total untuk memulihkan tenagamu. Besok pagi aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu, termasuk Nyonya Susi dan Puput," ujar Calista lembut sembari menarik selimut sutra untuk menyelimuti tubuh Denis yang masih sedikit menggigil.

Sebelum Calista sempat menjauh, Denis meraih pergelangan tangannya dengan gerakan yang pasti. Ia menatap Calista cukup lama dalam diam, seolah sedang merekam setiap detail wajah istrinya ke dalam memori permanennya sebagai satu-satunya jangkar dalam hidupnya. "Malam ini kau membuktikan bahwa kau bukan sekadar seseorang yang berada di sisiku karena alasan ekonomi semata, Calista. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa kupercayai di rumah besar yang penuh kepalsuan ini. Tetaplah bersamaku, jangan pernah pergi."

Kalimat itu menggantung di udara malam, memberikan beban emosional yang sangat baru dan mendalam bagi Calista. Saat ia akhirnya ikut berbaring di sisi lain tempat tidur yang luas itu, ia menyadari bahwa meski kontrak tetaplah dasar hubungan mereka secara hukum, malam ini mereka telah berbagi sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, materi, atau kata-kata manis belaka. Di balik kemewahan dan intrik keluarga Satrya yang licik, sebuah ikatan yang tulus mulai menampakkan wujudnya, tumbuh dari sebuah pintu yang terkunci rapat dan sebuah dekapan hangat yang menyelamatkan martabat mereka berdua. Calista memejamkan mata dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan bahagia, namun satu hal yang pasti: ia merasa jauh lebih aman dan memiliki arti di samping pria ini daripada sebelumnya, menyadari bahwa hatinya mungkin mulai terlibat lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan. Ia merasa bangga telah berdiri tegak sebagai pelindung bagi suaminya di saat pria itu sedang berada di titik terlemahnya.

Bagaimana? Komen dan like dulu yaa ❤🥰🙏

1
Blu Lovfres
cinta sudah hadir cuman belum menyadari nya aja,baik denis maupun callista
Blu Lovfres
apa alasannya denis begitu lemah dn tetap diam, dgn kelakuan ibu tirinya dn adik tirinya
Blu Lovfres
semua novel mu sangat sangat bagus thor👍👍
Blu Lovfres
pemeran denis sangat col
Blu Lovfres
best banget denis
Blu Lovfres
tetaplah seperti itu callista
Blu Lovfres
tetap semangat thor 💪💪💪
Blu Lovfres
orang seperti callista jg berbahaya jg ,dgn kecerbohannya yg merasa, pede ,ga enakan,sok kuat sok baik dgn perasaan nya sendiri,
Blu Lovfres
siapa yg menabur orang itu sendiri yg menuainya😁
Blu Lovfres
ceyeeeee😁 kuncup putik bunga sudah mulai tumbuh di taman hati sang ceo😁😁😁
Blu Lovfres
👍👍👍💪
Blu Lovfres
so sweet 😘😘😘
Ainun Mahya
novel sebagus ini baru aku baca😍😍😍, tetap semangat menulis thor
Ainun Mahya
good
Blu Lovfres
👍👍💪
Blu Lovfres
good job callista 👍
Blu Lovfres
👍👍👍😘😘😘
Blu Lovfres
seharusnya callista tu bertemu denis suatu rejeki dn keberkahan
Blu Lovfres
sekalian aja tu susinya😁😁
Blu Lovfres
salah besar lo ,mengangap denis tidak tau apa-apa 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!