NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Ambar dengan telaten membantu Baskara keluar dari bathtub dan mengeringkan tubuh suaminya dengan handuk lembut.

Kemudian ia memakaikan pakaian santai berupa kaus katun berkualitas tinggi dan celana pendek yang nyaman, sembari menunggu tim rias internasional yang dijadwalkan tiba sebentar lagi.

Setelah Baskara duduk nyaman di kursi rodanya, Ambar mengambil botol minyak kayu putih.

Ia berlutut di lantai, lalu mulai menggosok telapak kaki dan betis Baskara yang tampak kaku dengan gerakan memijat yang lembut.

Aroma hangat kayu putih seketika memenuhi ruangan, memberikan rasa rileks yang menenangkan.

Baskara menunduk, memperhatikan jemari lentik Ambar yang bekerja tanpa rasa canggung sedikit pun di kakinya yang tak berdaya.

Sebuah tawa kecil yang tulus keluar dari bibirnya.

"Aku merasa seperti bayi, Ambar. Semuanya harus kau urus," ucap Baskara, suaranya terdengar jauh lebih ringan dan damai daripada semalam.

Ambar mendongak sejenak, menyunggingkan senyum manis yang membuat matanya menyipit cantik.

"Bayi besar, Bas," sahut Ambar dengan nada bercanda yang mulai berani.

"Bayi besar yang punya perusahaan raksasa dan hobi memerintah."

Baskara kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Panggilan "Bas" dari mulut Ambar terasa begitu akrab di telinganya, seolah mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, bukan baru hitungan jam.

Ambar menutup botol minyak kayu putih itu dan berdiri, merapikan sedikit rambutnya yang terkena uap air.

"Sudah selesai. Sekarang giliranku, aku mandi dulu ya, Bas. Tim rias mungkin sebentar lagi sampai."

Baskara menganggukkan kepalanya, matanya tidak lepas dari sosok Ambar.

"Jangan lama-lama. Aku tidak terbiasa ditinggal sendirian di kamar seluas ini."

Ambar hanya tertawa kecil mendengar rengekan suaminya yang manja itu sebelum melangkah masuk kembali ke kamar mandi.

Di dalam kamar, Baskara menyandarkan punggungnya dan menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

Di kepalanya, ia sudah merancang skenario untuk resepsi siang nanti.

Ia membayangkan wajah Hendra, Jayden, dan Gea saat melihat wanita yang mereka buang kini bersinar di puncak kasta tertinggi di kota ini.

"Bayi besar ini akan menunjukkan pada mereka bagaimana cara menghancurkan sebuah keluarga tanpa harus mengotori tangan istrinya," gumam Baskara dengan senyum dingin yang kembali muncul di wajahnya.

Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan sisa uap hangat ke dalam kamar yang luas itu.

Ambar melangkah keluar, rambutnya terbungkus handuk putih, dan tubuhnya berbalut bathrobe sutra yang disediakan Gabby.

Ia berjalan menuju lemari besar, memunggungi Baskara yang masih duduk di kursi rodanya dekat jendela.

Saat Ambar sedikit membungkuk untuk mengambil pakaian dalam dari laci bawah, kerah bathrobe-nya sedikit melonggar dan merosot di bahu kanannya.

Baskara mendongak, dan detak jantungnya seolah berhenti seketika.

Di kulit punggung Ambar yang putih mulus, tepat di belikat kanan hingga turun ke pinggang, terukir parut luka bakar yang mengerikan.

Jaringan parutnya berwarna kemerahan, berkerut, dan tampak jelas itu adalah luka lama yang didapat dengan paksa, bukan kecelakaan biasa.

Luka itu terlihat kontras dan menyakitkan di tubuhnya yang anggun.

Tangan Baskara yang memegang cangkir susu jahe kosong bergetar hebat.

Amarah mencuat di dadanya, lebih panas dari api yang membakar punggung istrinya dulu.

"Ambar..." suara Baskara terdengar berat, serak, dan penuh tuntutan yang tertahan.

"Apa yang terjadi dengan punggungmu?"

Ambar tersentak. Ia segera menarik kerah bathrobe-nya ke atas, menutupi parut itu dengan tergesa-gesa.

Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menatap pantulan dirinya di cermin lemari.

Ia perlahan berbalik menghadap Baskara, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Mereka menyiksaku," bisik Ambar, suaranya parau, nyaris tak terdengar.

Ambar meremas jari-jarinya sendiri. "Tiga tahun lalu, saat Gea menginginkan posisi sebagai model utama di perusahaan Papa, aku menolaknya karena kemampuannya belum cukup. Malamnya Mama Sinta mengunci kamarku. Papa menyulut puntung rokoknya di punggungku berkali-kali, lalu Mama menyiramkan air panas. Mereka bilang itu hukuman karena aku tidak tahu diri dan berani melawan adikku."

Air mata Ambar luruh, membasahi pipinya yang lembap.

"Mereka mengancam akan membunuhku jika aku melapor polisi. Sejak saat itu, aku selalu memakai pakaian tertutup. Aku takut Jayden jijik melihatku. Tapi ternyata Jayden membuangku bahkan sebelum Jayden tahu cacatku."

Baskara terdiam seribu bahasa. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol parah.

Ia mencengkeram tuas kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih.

Hatinya hancur mendengar kekejaman yang dialami wanita di depannya—wanita yang mereka sebut "kuno" tapi ternyata menahan penderitaan fisik sedalam itu sendirian.

"Ambar," panggil Baskara, kali ini suaranya lembut namun mengandung ketegasan yang mutlak.

"Kemarilah."

Ambar melangkah ragu mendekat, air mata masih mengalir deras. Ia berhenti tepat di depan Baskara.

Baskara mengulurkan tangannya, meraih tangan Ambar yang gemetar dan menciumnya perlahan.

Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata Ambar yang basah.

"Dengarkan aku baik-baik," ucap Baskara, setiap kata penuh penekanan.

"Hari ini, di resepsi pernikahan kita, parut di punggungmu tidak akan menjadi aib. Parut itu adalah bukti bahwa kau adalah seorang pejuang yang selamat."

Baskara mengusap air mata Ambar dengan ibu jarinya.

"Dan demi nama Mahendra, aku bersumpah, Ambar. Puntung rokok dan air panas yang mereka berikan padamu akan aku kembalikan kepada mereka dalam bentuk neraka dunia yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka. Pesta siang ini hanyalah permulaannya."

Ketukan di pintu kamar besar itu memecah

keheningan emosional antara Baskara dan Ambar.

Gabby masuk, diikuti oleh tim MUA internasional yang terdiri dari empat orang berpakaian hitam rapuh, membawa koper-koper kosmetik perak yang besar.

Pemimpin tim, seorang wanita paruh baya dengan aksen Prancis yang kental, membungkuk hormat pada Baskara.

"Tuan Mahendra, kami siap membuat Nyonya Anda menjadi wanita paling bersinar hari ini," ucapnya profesional.

Baskara mengangguk datar, namun matanya tetap tertuju pada Ambar yang masih tampak rapuh setelah menceritakan masa lalunya.

"Ingat pesanku, 'Mademoiselle'. Buat dia mempesona, bukan menyembunyikan kekuatannya."

Ambar duduk di depan meja rias besar, sementara tim MUA mulai bekerja dengan ketelitian tinggi.

Baskara tidak pergi; ia mendorong kursi rodanya ke sudut ruangan yang strategis, dari mana ia bisa terus mengawasi setiap gerak-gerik tim perias yang sedang mendandani istrinya.

Dua jam berlalu dalam keheningan yang sibuk. Baskara memperhatikan bagaimana wajah Ambar yang tadinya kusam karena air mata, perlahan bertransformasi menjadi kanvas yang memukau.

Riasan flawless yang menonjolkan mata tegasnya, sapuan blush on yang natural, dan lipstik merah bold yang memancarkan keberanian.

Rambut Ambar disanggul modern dengan aksen berlian kecil yang berkilau lembut.

Hingga tibalah saatnya Ambar harus

mengenakan gaun utamanya.

Gabby membantu Ambar berdiri dan melepaskan bathrobe-nya.

Sebuah gaun malam haute couture berwarna merah marun gelap, terbuat dari sutra premium yang menjuntai indah ke lantai, melekat sempurna di tubuh Ambar.

Kainnya berkilau lembut setiap kali Ambar bergerak. Namun, detail yang paling mencolok dari gaun itu adalah potongan backless yang sangat rendah, mengekspos seluruh punggung Ambar—termasuk jaringan parut luka bakar yang mengerikan akibat siksaan ayahnya.

Tim MUA sempat tertegun melihat luka itu, namun mereka segera mengingat instruksi rahasia Baskara.

Alih-alih menyembunyikan luka itu dengan concealer tebal, mereka justru mengaplikasikan body shimmer emas halus di sekitar parut tersebut, membuatnya berkilau seperti guratan takdir yang tak terhapuskan.

Saat Ambar berbalik menghadap cermin besar, ia tersentak.

Di cermin itu berdiri seorang wanita yang begitu mempesona, begitu elegan, dan begitu dingin.

Matanya menyala dengan api yang berbeda. Parut di punggungnya, yang selama tiga tahun ini ia anggap sebagai aib yang memalukan, kini tampak seperti jubah kehormatan—bukti bahwa ia telah selamat dari neraka dunia yang dibuat oleh keluarganya sendiri.

Baskara mendorong kursi rodanya mendekati Ambar.

Ia mendongak, menatap istrinya dengan tatapan penuh kekaguman dan kebanggaan yang tak terbendung.

Jantungnya berpacu kencang melihat kecantikan Ambar yang mematikan ini.

"Kamu sangat cantik, Ambar. Sangat mempesona," puji Baskara, suaranya parau karena emosi yang meluap.

"Parut itu bukan lagi tanda kelemahanmu. Mulai hari ini, itu adalah mahkota kekuatanmu di hadapan duniaku."

Ambar menatap suaminya melalui pantulan cermin, menganggukkan kepalanya pelan.

Air mata haru menggenang di sudut matanya, namun ia segera menguapinya dengan tekad yang baru.

"Aku siap, Bas. Aku siap menunjukkan pada mereka siapa Nyonya Mahendra yang sesungguhnya."

Baskara tersenyum dingin. "Ayo, Istriku. Kereta kencana kita sudah menunggu di lobi. Dan di hotel mewah itu, keluarga Wijaya sedang menunggu kehancuran mereka dalam balutan gaun pengantin bekasmu."

1
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!