Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasingan
Pagi-pagi buta Jessy di paksa mandi air dingin dan hanya sarapan bakpao keras. Setelah itu dia memakai hanfu pernikahan tanpa riasan atau perhiasan apapun. Cermin di zaman ini sangat buram, Jessy bahkan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia benar-benar sangat polos dan sederhana, bahkan kereta kuda yang membawa nya pun lebih buruk dari kereta barang.
“Pergi lah tanpa membuat keributan, ingat lah bahwa setelah ini kau bukan lagi bagian dari keluarga Shen. Jangan pernah menyebutkan marga Shen untuk nama mu, ingat itu baik-baik.” Ucap Bibi tua dengan keras.
“Aku sangat menantikan kabar mu kak.” Cibiran lainnya pun datang.
Jessy bahkan tidak menoleh sama sekali, dia menatap lurus ke arah kereta reot di depannya. Dia akan segera pergi dari desa jahat ini, dia akan menemukan dunia baru sesuai keinginan nya.
“Nona, saya akan ikut anda sampai ibu kota. Saya akan menyempatkan melihat upacara pernikahan anda, saya harap anda benar-benar hidup dengan baik.” Ucap Xio.
“Tenang saja Xio, aku pasti akan baik-baik saja. Kau juga akan menjadi wanita sukses, aku yakin itu.” Ucap Jessy dengan sungguh-sungguh.
Xio hanya mengangguk dengan sedih, keduanya naik kereta reot lalu pergi menuju istana kekaisaran Mo. Waktu tempuh dengan kereta kuda mungkin sekitar 5 jam, saat ini masih pagi buta sekitar pukul 03.30 jadi mereka akan sampai pukul 09.30 waktu setempat.
Perjalanan cukup berliku namun tidak ada kendala yang berarti, kereta juga tidak mogok di jalan. Mungkin karena Jessy dan Xio itu kurus jadi tidak terlalu menjadi beban roda kereta kuda. Xio turun dari kereta cukup jauh dari istana, meskipun kemudian dia tetap berjalan ke istana untuk menyaksikan pernikahan nona nya sebelum bertemu majikan baru.
Kereta akhirnya berhenti di depan gerbang istana, banyak orang yang datang untuk mencemooh. Di depan kereta kuda milik Jessy, berdiri seorang pria yang sangat tinggi dengan hanfu merah yang di pakai asal, tangan dan kaki nya di rantai dengan rambut berantakan menutupi wajahnya.
“Sesuai wasiat dari mendiang Ayahku. Karena dedikasi dan kesetiaan Jendral Agung, beliau memberikan hadiah pernikahan. Aku Kaisar Mo telah memaafkan sikap dan perbuatan Jendral Agung, namun aturan tetap harus di jalankan. Setelah upacara pernikahan di gelar, maka Jendral Agung bersama Istrinya akan di asingkan dan statusnya di ubah menjadi rakyat biasa.” Seorang pemuda berjubah emas mengucapkan pidato dengan lantang.
“Saya menerima keputusan Kaisar Mo yang bijaksana.” Suara dingin terdengar dari sosok pria tinggi yang merupakan Mo Ziang.
Mo Ziang di bantu oleh beberapa pengawal berjalan dengan susah payah menuju kereta kuda Jessy. Suara rantai yang bergesekan dengan lantai membuat semua meringis ngilu, terdengar menakutkan.
Kriieettt\~
Pintu kereta terbuka, Jessy turun sendiri dan berdiri di samping Mo Ziang dengan tenang. Siapa sangka tubuh Shen Yue ini cukup tinggi, mungkin sekitar 165cm karena tinggi nya sebatas dada Mo Ziang.
Jessy membantu Mo Ziang berjalan menuju altar, keduanya melakukan upacara pernikahan dengan sangat sunyi. Setelah arak pernikahan di teguk, semua prajurit mengacungkan pedang ke arah mereka dan itu membuat Jessy ketakutan.
“Lohh lohhh kok.” Batin Jessy ketar-ketir.
Empat orang pelayan mendekat, mereka melepas paksa hanfu yang di pakai oleh Jessy dan Mo Ziang. Mereka menggantinya dengan jubah hitam polos, Jessy hanya bisa tersenyum karir karena merasa di permalukan.
Mata mereka di tutup kain hitam, tangan di ikat. Mereka di masukan ke dalam kereta barang, di perlakukan seperti hewan dan budak padahal salah satu dari mereka adalah seorang pangeran.
“Atas nama langit dan bumi, antarkan para pendosa menuju tempat renungan. LAKSANAKAN.” Ucap Kaisar Mo.
“LAKSANAKAN.” Jawab para pengawal.
Kereta kuda pembawa narapidana itu di bawa ke sebuah tempat yang tidak di ketahui. Jessy hanya bisa pasrah saja, semoga saja pria di sebelahnya ini memiliki niat untuk kabur.
“Suamiku, apa kau baik-baik saja?.” Tanya Jessy basa-basi.
“Siapa nama mu?.” Tanya Ziang datar.
“Jessy Pitarossa.” Jawab Jessy.
“Hah? bicara apa kau?.” Ziang terdengar heran.
“Nama ku Jessy.” Ulang Jessy.
“Berbeda dengan nama yang ku dengar sebelum nya.” Ucap Ziang tidak senang.
“Ahh maksud mu Shen Yue? aku tidak boleh menggunakan nama itu lagi. Jadi aku menggunakan nama pemberian Ibu ku yaitu Jessy.” Ucap Jessy menggabungkan kebenaran dan kebohongan.
“Seharusnya kau kabur.” Ucap Ziang.
“Tidak apa-apa, aku bersyukur bisa keluar dari tempat itu. Apa lokasi pengasingan kita ini jauh?.” Tanya Jessy dengan polos.
“Mana mungkin aku tahu.” Decak Ziang.
“Kenapa tidak tahu? bukan kah orang kota tahu banyak hal?.” Jessy pura-pura polos.
“Diam lah.” Ucap Ziang dingin.
Jessy langsung menutup mulutnya rapat, apa yang akan terjadi pada nya setelah ini? apa dia harus pasrah saja? sepertinya sosok Ziang di sebelah ini juga malas untuk melakukan sesuatu.
srakk
srakk
Jessy merasakan gerakan dari Ziang, lalu setelah itu penutup mata nya di tarik kasar hingga terlepas. Untuk pertama kali nya, Jessy dan Ziang saling menatap dari dekat setelah menjadi suami istri.
“T-tolong hamili aku sekarang jug___
cetakk
“Akkhhhhhhh.”
Ziang menyentil dahi Jessy keras, seketika Jessy tersadar dan merasa malu karena mulutnya selalu tidak tahu malu jika melihat pria tampan.
“Diam di sini, apa pun yang terjadi di luar jangan pernah keluar.” Ucap Ziang serius.
“Tunggu, kau mau meninggalkan aku ya?!.” Bisik Jessy menahan lengan berotot Ziang.
“Aku akan benar-benar meninggalkan mu jika kau terus berisik.” Lirikan maut Ziang benar-benar menakutkan.
Jessy beringsut mundur dan duduk lemas seperti ayam sayur, untuk sekarang dia akan mengandalkan suami jadi-jadian nya ini. Semoga saja dia pria yang bisa di andalkan.
Klang
Klang
bugh
Klang
Arghhhh
Suara gesekan pedang dan teriakan terdengar di luar kereta. Jessy menahan nafas karena ini pertama kali nya dia berada di situasi berbahaya seperti ini.
Krieettt
Deg.
Jessy langsung menoleh terkejut saat pintu kereta tiba-tiba terbuka. Tapi kemudian dia menghela nafas lega karena itu Ziang, meskipun kini dia menakutkan karena banyak darah di jubah nya.
“Cepat keluar.” Ucap Ziang.
Jessy buru-buru turun dan mengikuti langkah lebar Ziang dengan kaki mungil nya. Keduanya pergi entah kemana, sampai akhirnya Ziang tiba-tiba terdiam dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
“Hei kau kenapa?.” Jessy reflek merangkul lengan kekar Ziang.
“Cepat lari lah ke utara, di dekat perbatasan ada sebuah desa pelarian. Kau akan baik-baik saja jika tinggal di sana__
“Lalu bagaimana dengan mu? ayo pergi bersama.” Potong Jessy, dia panik.
“Sialan, luka nya dalam. Aku tidak akan bisa pergi lebih jauh, aku akan baik-baik saja di sini dan menyusul mu.” Ucap Ziang, nafas nya menderu dan wajahnya pucat.
“Belum pasti kau akan menyusul ku atau menyusul yang maha kuasa kan?.” Kesal Jessy.
“Pftt.. lalu kau mau apa sekarang?.” Ziang terkekeh.
“Aku akan mengobati mu, ah tidak aku akan menggendong mu.” Jawab Jessy dengan sangat yakin.
“Dasar tidak berakal.” Ziang ingin pingsan rasanya.