NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Harga Sebuah Nyawa

Apartemen sempit di pinggiran Jakarta itu biasanya terasa damai bagi Aisyah. Aroma buku tua dan minyak telon yang samar selalu menjadi penenang setelah hari-hari panjang di kampus atau klinik relawan. Namun malam ini, udara terasa berat. Seolah-olah oksigen di ruangan itu telah dicuri oleh sesuatu yang besar dan mengancam.

Aisyah duduk di tepi tempat tidurnya, jemarinya masih gemetar saat ia melepaskan jarum pentul yang menyatukan cadarnya. Bayangan pria di pelabuhan itu—Arkan—terus menghantuinya.

Darah yang membasahi tangannya seolah masih terasa hangat, meski ia telah mencucinya berkali-kali dengan sabun antiseptik hingga kulitnya memerah.

"Siapa dia sebenarnya?" bisik Aisyah pada kesunyian.

Ia tahu pria itu berbahaya. Senjata api yang tergeletak di sampingnya, tato di lehernya yang berbentuk sayap hitam yang patah, dan cara pria itu menatap maut tanpa rasa takut sama sekali.

Arkan Xavier bukan sekadar korban perampokan biasa. Dia adalah badai yang seharusnya tidak pernah Aisyah dekati.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan. Bukan ketukan lembut tetangganya, melainkan ketukan yang dalam, berwibawa, dan menuntut untuk dibuka.

Aisyah segera mengenakan kembali cadarnya dengan tergesa. Jantungnya berdegup kencang.

Ia mengintip melalui lubang kecil di pintu. Di luar, berdiri dua pria tegap mengenakan setelan jas hitam dengan earpiece di telinga mereka. Mereka tampak seperti robot tak berperasaan yang siap menghancurkan pintu itu jika ia tidak membukanya.

"Nona Aisyah? Tuan Xavier ingin bertemu," ucap salah satu dari mereka tanpa ekspresi.

Aisyah menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Saya tidak mengenal Tuan Xavier. Silakan pergi, atau saya panggil keamanan."

"Keamanan apartemen ini sudah berada di bawah kendali kami, Nona. Mohon kerja samanya."

Pintu itu tidak didobrak, melainkan terbuka perlahan seolah kuncinya adalah mainan bagi mereka. Aisyah mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur rak buku. Di ambang pintu, sesosok pria tinggi besar muncul.

Arkan Xavier.

Pria itu tidak lagi bersimbah darah. Ia mengenakan kemeja hitam berbahan sutra yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan perban putih yang melilit dadanya. Wajahnya pucat, namun matanya—sepasang mata elang yang tajam—berkilat dengan intensitas yang mengerikan. Ia berjalan masuk seolah ruangan itu adalah miliknya, membuat apartemen kecil Aisyah terasa semakin sesak.

"Kau..." Aisyah menelan ludah, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Anda seharusnya di rumah sakit, Tuan. Luka Anda sangat dalam."

Arkan berhenti tepat dua meter di depan Aisyah. Ia menghirup udara di ruangan itu, aroma kayu cendana dan kebersihan yang asing baginya.

"Rumah sakit adalah tempat bagi mereka yang menyerah pada takdir. Aku tidak."

Arkan menatap sekeliling. Matanya terpaku pada sajadah yang masih tergelar di sudut ruangan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai sinis yang tidak sampai ke mata. "Jadi, ini sarang malaikat yang menyelamatkanku? Sangat... kecil."

"Apa mau Anda?" tanya Aisyah tegas, meski jemarinya meremas kain gamisnya sendiri. "Saya menolong Anda karena kewajiban saya sebagai manusia. Saya tidak mengharapkan apa-apa."

Arkan merobek keheningan dengan tawa rendah yang terdengar seperti geraman. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah cek yang sudah ditandatangani. Ia meletakkannya di atas meja makan kecil milik Aisyah.

"Lima miliar," ucap Arkan pendek. "Anggap itu bayaran untuk kain hitammu yang kotor karena darahku, dan tutup mulutmu tentang apa yang kau lihat malam itu."

Aisyah menatap kertas tipis itu tanpa minat sedikit pun. Nilainya mungkin cukup untuk membeli sepuluh apartemen seperti ini, tapi di mata Aisyah, kertas itu tampak seperti api neraka yang siap membakarnya.

"Ambil kembali uang Anda, Tuan Xavier," ujar Aisyah pelan namun tajam. "Nyawa tidak bisa dibeli dengan angka. Saya menolong Anda karena Allah, bukan karena ingin menjadi kaya dalam semalam."

Rahang Arkan mengeras. Tidak ada yang pernah menolak pemberiannya. Orang-orang biasanya bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan seperseribu dari jumlah itu. "Jangan sok suci, Aisyah. Semua orang punya harga. Mungkin kau ingin lebih? Sepuluh miliar? Atau kau ingin rumah di Menteng?"

Aisyah melangkah maju satu langkah, keberaniannya membuncah. "Anda mungkin bisa membeli seluruh kota ini dengan uang haram Anda, tapi Anda tidak bisa membeli prinsip saya.

Silakan keluar. Kehadiran Anda di sini hanya membawa kegaduhan bagi jiwa saya."

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arkan merasa terpukul—bukan oleh peluru, tapi oleh kata-kata. Ia menatap mata Aisyah yang berkilat marah di balik cadar itu. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa ia taklukkan dengan kekerasan maupun kekayaan. Sesuatu yang murni, yang membuatnya merasa sangat kotor.

"Kau tahu siapa aku?" Arkan mendekat, suaranya kini rendah dan berbahaya. Ia bisa mencium aroma mawar dari tubuh Aisyah. "Aku bisa membuatmu menghilang besok pagi. Aku bisa meratakan tempat ini dalam hitungan menit."

Aisyah tidak gentar. Ia menatap langsung ke dalam mata gelap Arkan. "Anda bisa mengambil nyawa saya, Tuan. Tapi Anda tidak akan pernah bisa mengambil iman saya. Kematian bagi saya adalah kepulangan, tapi bagi Anda... mungkin itu adalah awal dari ketakutan yang sesungguhnya."

Hening yang mematikan menyelimuti ruangan. Leo, tangan kanan Arkan yang berdiri di pintu, sudah bersiap menarik senjatanya jika wanita itu bicara satu kata lagi yang menghina tuannya.

Namun, Arkan justru mengangkat tangannya, memberi kode agar Leo tetap diam.

Arkan menatap Aisyah lama, seolah sedang membaca sebuah teka-teki yang paling sulit di dunia. Sesuatu di dalam dirinya—bagian yang sudah lama mati dan terkubur—tiba-tiba berdenyut.

"Kau menarik," gumam Arkan. Ia mengambil kembali cek itu dan meremasnya hingga menjadi bola kertas kecil. "Uang ternyata terlalu rendah untukmu. Kalau begitu, aku akan membayarmu dengan cara lain."

"Saya tidak butuh apa-apa—"

"Kau butuh perlindungan," potong Arkan cepat.

"Musuhku melihatmu malam itu. Mereka tahu kau yang membantuku kabur. Mulai detik ini, kau bukan lagi warga sipil biasa. Kau adalah target mereka. Dan karena kau sudah mencampuri urusanku, kau sekarang adalah tanggung jawabku."

Wajah Aisyah memucat di balik cadarnya. "Apa maksud Anda?"

"Artinya, ke mana pun kau pergi, bayanganku akan mengikutimu. Kau akan belajar bahwa dunia tidak seindah yang kau doakan di atas kain sembahyangmu itu, Aisyah."

Arkan berbalik, jubah kekuasaannya seolah menyapu seluruh ruangan. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar tanpa menoleh. "Jangan mencoba lari. Aku punya mata di setiap sudut kota ini. Sampai jumpa di pertemuan kita selanjutnya, Malaikat Penyelamat."

Arkan melangkah pergi, meninggalkan Aisyah yang luruh ke lantai. Kakinya lemas. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, hidupnya yang tenang telah berakhir. Ia telah menarik perhatian seekor singa yang terluka, dan singa itu tidak akan melepaskannya sampai ia berhasil menyeretnya ke dalam guanya yang gelap.

Di luar, Arkan masuk ke dalam mobil Rolls-Royce hitamnya. Ia menyandarkan kepalanya, merasakan denyut di lukanya yang kian hebat.

"Tuan, apa perintah selanjutnya?" tanya Leo.

Arkan memejamkan mata, namun wajah Aisyah justru semakin jelas di kegelapan matanya.

"Pasang penyadap di apartemennya. Dan pastikan tidak ada satu pun orang dari klan Scorpio yang mendekatinya. Jika mereka menyentuh sehelai saja rambutnya... aku sendiri yang akan menguliti mereka."

Arkan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh dengan obsesi baru. Ia tidak butuh uang Aisyah, ia butuh kemurnian wanita itu untuk membasuh jiwanya yang berkarat. Dan ia akan melakukan apa pun untuk memilikinya—meski ia harus membakar seluruh dunia untuk itu.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!