Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Miliaran Rupiah
Hari-hari berlalu dengan berat namun penuh kehangatan. Arga bekerja lebih keras dari sebelumnya, mulai dari jadi kuli angkut sampai tukang cuci mobil di pinggir jalan. Wajahnya kini lebih gelap karena terbakar matahari, tapi tatapannya justru semakin dewasa dan berwibawa.
Clara pun tidak mau kalah. Wanita yang dulu tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga, kini dengan senang hati membantu Arga membersihkan alat-alat, bahkan rela berjualan gorengan keliling bersama suaminya.
Mereka bahagia. Sangat bahagia. Meski uang yang mereka punya cukup buat makan sehari-hari saja, tapi rasa sayang di antara mereka tumbuh begitu subur tanpa perlu disiram materi.
Hingga suatu sore, kedamaian itu kembali terganggu.
Saat Arga sedang mencuci mobil seorang pelanggan, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Kaca jendela diturunkan, memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa dan kaya raya.
Pria itu bukan orang lain, melainkan Tuan Leonard, sahabat bisnis ayah Clara dan juga pemilik konglomerat terbesar di kota itu.
Arga menghentikan kegiatannya, menyeka keringat di dahinya. "Mau cuci mobil, Pak?"
Tuan Leonard tidak menjawab, ia hanya menatap Arga dari atas ke bawah dengan tatapan sulit dibaca.
"Masuklah ke dalam mobil. Kita perlu bicara serius," ucap Tuan Leonard datar.
"Aku lagi kerja, Pak. Kalau mau cuci silakan, kalau tidak saya harus kerja cari uang," jawab Arga jujur dan rendah hati.
"Uang?" Tuan Leonard tersenyum miring. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku cek dan pulpen dari jasnya. Dengan santai ia menulis sejumlah angka yang sangat besar, lalu menyodorkannya ke arah Arga.
"Ambil ini. Seratus Miliar Rupiah. Cukup buat kau hidup mewah turun-temurun tanpa perlu mencuci mobil lagi seumur hidupmu."
Arga mengerutkan kening, bingung. "Apa maksud Bapak?"
"Maksudku sederhana," Tuan Leonard mencondongkan tubuhnya. "Ambil uang ini, dan tinggalkan Clara. Pergi jauh-jauh dari hidupnya. Biarkan dia kembali ke keluarganya dan menikah dengan orang yang sederajat."
Arga terdiam. Matanya menatap lembaran cek itu. Angka dengan banyak nol di sana berkilau memikat. Seratus Miliar... Dengan uang itu, dia bisa membangun kembali bengkelnya jadi yang terbesar di kota. Dia bisa hidup bahagia selamanya.
Godaan itu sangat besar. Sangat menggiurkan.
Tapi kemudian bayangan wajah Clara muncul di benaknya. Wajah wanita yang rela meninggalkan kemewahan, yang mau makan nasi kucing bersamanya, yang memeluknya hangat di bawah jembatan, dan yang membela harga dirinya mati-matian.
"Aku sayang banget sama kamu, Mas Arga..."
Suara lembut itu bergema di telinga Arga.
Perlahan, Arga mendorong kembali buku cek itu ke arah Tuan Leonard. Wajahnya tenang namun penuh harga diri.
"Kembalikan lagi, Pak."
Tuan Leonard terkejut. "Apa? Kau gila? Itu seratus miliar! Kau tahu itu berapa banyak?!"
"Saya tahu," jawab Arga tenang. "Uang itu sangat banyak. Bisa beli apa saja. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang itu."
"Apa itu?"
"Cinta dan Kesetiaan," jawab Arga tegas. "Istri saya adalah nyawa saya. Dia sudah memilih saya saat saya tidak punya apa-apa. Masa kini saya tinggalkan dia saat ada godaan datang?"
Arga tersenyum tipis, tatapannya tidak gentar sedikitpun menghadapi orang sekelas Tuan Leonard.
"Bapak boleh punya banyak uang, tapi Bapak tidak akan pernah mengerti rasanya punya istri sebaik Clara. Jadi tolong jangan tawarkan saya hal yang mustahil. Saya tidak akan pernah menjual istri saya demi harta sekalipun."
Tuan Leonard terdiam lama. Ia menatap mata Arga lekat-lekat. Mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan dan kejantan yang luar biasa.
Senyum kecil mulai terbit di wajah Tuan Leonard.
"Bagus... sungguh bagus," gumamnya pelan. "Aku salah menilaimu, Nak. Ternyata kau bukan pria sembarangan."
"Terima kasih atas tawarannya, Pak. Tapi saya harus kembali kerja. Istri saya pasti sudah menunggu saya pulang makan," ucap Arga sopan lalu mau berbalik pergi.
"Tunggu!" seru Tuan Leonard.
Arga berhenti.
"Kau benar-benar mencintainya?" tanya Tuan Leonard lagi.
"Lebih dari hidup saya sendiri," jawab Arga tanpa ragu.
Tuan Leonard mengangguk pelan. "Kalau begitu... pertahankan dia. Dan jagalah dirimu baik-baik. Karena mungkin saja... ujian terberatmu belum selesai."