Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Lampu-lampu gantung di perpustakaan pusat mulai berpijar kuning, memberikan kesan kuno sekaligus mencekam pada deretan rak kayu ek yang menjulang tinggi. Debu-debu halus menari di udara saat Liana mengelap rak terakhir dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya pegal, punggungnya terasa seolah akan patah, dan yang paling parah, perutnya sudah tidak berhenti berbunyi sejak satu jam yang lalu karena ia sengaja melewatkan makan siang sebagai bentuk aksi protes diam.
Jeffrey dan Albert tampak lebih mengenaskan. Mereka duduk bersandar pada tumpukan buku ensiklopedia, napas mereka terengah-engah seolah-olah baru saja berlari maraton.
Tepat pukul 16:00, suara langkah sepatu yang sangat dikenal Liana bergema di lantai marmer. Morgan Bruggman muncul dari balik lorong buku sejarah, penampilannya masih sebersih pagi tadi, seolah debu perpustakaan tidak berani menempel pada jas hitamnya yang mahal.
"Hentikan semuanya," ucap Morgan datar. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra, lalu menggunakannya untuk memeriksa permukaan meja terdekat. Tidak ada debu.
Jeffrey dan Albert seketika berdiri, mata mereka berbinar penuh harapan. "Pak ... apakah kami sudah boleh pulang?" tanya Jeffrey dengan suara serak.
Morgan mengalihkan pandangannya pada kedua mahasiswa itu. Ia diam sejenak, memberikan tekanan psikologis yang membuat ruangan itu terasa semakin sunyi. "Saya sudah memeriksa laporan asisten saya mengenai kinerja kalian hari ini. Meski lambat, kalian menyelesaikan tugas dengan cukup rapi. Saya harap insiden di ruang ujian tadi adalah yang terakhir. Kejujuran adalah mata uang paling berharga di fakultas ini. Jika kalian menghilangkannya, kalian tidak akan punya apa-apa lagi untuk ditawarkan pada dunia."
"Kami mengerti, Pak! Kami janji tidak akan mengulanginya!" sahut Albert cepat, hampir seperti memohon.
"Pergilah. Dan jangan biarkan saya melihat wajah kalian di sekitar ruang dosen sampai minggu depan," Morgan memberikan isyarat pengusiran dengan satu gerakan tangan yang elegan.
Tanpa menunggu perintah kedua, Jeffrey dan Albert segera menyambar tas mereka dan berlari keluar seolah-olah dikejar setan, meninggalkan Liana yang masih berdiri mematung dengan kain lap di tangannya.
Kini, hanya ada kesunyian yang tebal di antara mereka. Morgan tidak langsung bicara. Ia berjalan perlahan menuju meja pustakawan yang besar di tengah ruangan, lalu meletakkan sebuah kotak makan tingkat berbahan stainless steel di sana.
"Apa kau lelah?" tanya Morgan pelan. Kali ini, suaranya tidak setajam di kelas. Ada nada rendah yang sedikit lebih lunak, meski wajahnya tetap sedatar tembok.
Pertanyaan itu seperti menyulut sumbu dinamit di dalam dada Liana. Ia melemparkan kain lap kotor itu ke lantai dengan gerakan kasar, lalu berjalan menghampiri Morgan dengan mata yang berkilat marah.
"Lelah? Kau bertanya apakah aku lelah?!" teriak Liana, suaranya menggema di sela-sela rak buku. "Kau menyiksaku seharian! Kau mempermalukanku di depan klinik, kau menghancurkan nilaiku di kelas, dan sekarang kau membuatku bekerja seperti budak! Kau pikir kau siapa, Morgan? Hanya karena Kak Liam memberikan 'izin' padamu, bukan berarti kau bisa memperlakukanku seperti sampah!"
Liana mengatur napasnya yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku membenci setiap detik aku berada di dekatmu! Aku benci caramu mengatur makanku, benci caramu mengatur jam tidurku, dan aku sangat membenci caramu berdiri di sana seolah-olah kau adalah orang paling suci di dunia ini! Kau monster kaku tanpa perasaan!"
Morgan mendengarkan seluruh cacian itu tanpa memotong. Ia hanya berdiri tegak, tangannya terselip di saku celana, memperhatikan bagaimana Liana meluapkan seluruh emosinya hingga wajah gadis itu memerah.
Setelah Liana terdiam karena kehabisan kata-kata, Morgan mengulurkan tangan. Ia membuka tutup kotak makan itu, menampakkan nasi merah dengan potongan salmon panggang dan asparagus yang masih mengepulkan uap tipis.
"Aku tahu kau belum makan dengan benar sejak pagi," ucap Morgan dingin, seolah omelan Liana tadi hanyalah angin lalu. "Aku meminta asistenku membelikannya dari restoran sehat di dekat kampus. Makanlah."
Liana menatap makanan itu dengan perasaan bingung yang bercampur aduk. Perutnya bergejolak lapar, namun harga dirinya menolak untuk menerima kebaikan dari "musuhnya". "Aku tidak butuh belas kasihanmu! Makan saja sendiri!"
"Ini bukan belas kasihan. Ini adalah kewajibanku untuk memastikan mahasiswaku—dan istriku—tidak pingsan karena malnutrisi," Morgan mengambil sebuah sendok, menyendok sedikit nasi dan potongan salmon, lalu menyodorkannya tepat ke depan bibir Liana.
"Buka mulutmu, Liana."
Liana memalingkan wajahnya dengan kasar. "Tidak mau! Aku bukan bayi!"
"Liana," suara Morgan berubah menjadi lebih berat, memberikan peringatan yang halus namun tegas. Ia tidak menurunkan tangannya, tetap menahan sendok itu di udara dengan stabilitas yang luar biasa. "Jangan memaksa aku untuk bersikap lebih keras di tempat ini. Sekarang hanya tinggal kita berdua di sini, di bawah atap ini, dan kau adalah istriku secara sah. Maka menurutlah."
Liana menatap mata Morgan. Di balik lensa kacamata itu, ia tidak melihat kemarahan, melainkan sebuah dominasi yang begitu tenang namun mencekik. Ada sesuatu dalam suara Morgan yang memberitahunya bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi ini.
Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, Liana akhirnya membuka mulutnya sedikit. Morgan menyuapkan sendok itu dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada butiran nasi yang jatuh mengenai baju Liana.
Saat rasa gurih salmon itu menyentuh lidahnya, Liana tidak bisa berbohong bahwa itu adalah hal terenak yang ia rasakan sepanjang hari. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi wajah yang masam. Morgan terus menyuapinya dengan ritme yang konstan, sabar namun tetap kaku, tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Momen itu terasa sangat intim namun canggung. Di tengah perpustakaan yang luas dan sunyi, seorang dosen paling ditakuti sedang menyuapi mahasiswinya yang paling pembangkang. Tangan Morgan yang satu lagi sesekali terangkat untuk menyingkirkan rambut Liana yang jatuh menutupi wajahnya, sebuah gerakan yang sangat lembut namun dilakukan dengan ekspresi wajah yang tetap beku.
"Kenapa kau melakukan ini, Morgan?" bisik Liana setelah suapan kelima. Suaranya tidak lagi berteriak, ia terdengar lelah dan kalah. "Kenapa kau mau repot-repot menjagaku jika kau begitu membenciku?"
Morgan berhenti sejenak. Ia menatap Liana dalam-dalam, lalu meletakkan sendok itu kembali ke dalam kotak makan.
"Aku tidak pernah bilang aku membencimu, Liana," ucap Morgan sambil mengambil selembar tisu dan mengusap sudut bibir Liana yang terkena saus dengan gerakan yang sangat perlahan. "Aku hanya membenci pilihan-pilihan bodoh yang kau buat. Dan tugasku adalah memastikan kau tidak menghancurkan dirimu sendiri sebelum kau sempat menyadari betapa berharganya masa depanmu."
Liana tertegun. Ia merasakan sentuhan jemari Morgan di bibirnya—dingin namun terasa sangat kokoh. Untuk sesaat, ia lupa bahwa ia seharusnya membenci pria ini.
"Selesaikan makanmu sendiri. Aku harus merapikan dokumen di meja bawah," Morgan menutup kembali kotak makan itu setelah menyisakan setengah porsi, lalu ia berbalik, meninggalkan Liana yang masih terpaku memegangi dadanya yang berdegup tidak karuan.