"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Bulan Madu yang Hangat
...GAMON...
...Bab 26: Bulan Madu yang Hangat...
...POV Bima & Rina...
...---...
Minggu – 09.00 WIB
Bandara Soekarno-Hatta – Terminal 3
Rina pegang tiket erat-erat. Kayak takut ilang. Padahal tiket cuma kertas—tapi ini pertama kalinya dia naik pesawat. Pertama kalinya dia ke Bali. Pertama kalinya... bulan madu.
Dia lihat Bima di sebelah. Lagi sibuk sama ponsel. Mungkin bales ucapan selamat. Atau cek kerjaan. Atau... apa.
"Bim."
"Hmm?" Mata Bima masih ke layar.
"Lo sadar nggak? Kita lagi bulan madu."
Bima angkat muka. Senyum tipis.
"Iya. Gue sadar."
"Lo seneng?"
Bima tatap dia. Matanya—ada sesuatu. Tapi dia cepet nutup.
"Seneng."
Rina tahu itu nggak 100% tulus. Tapi dia pilih percaya. Karena hari ini hari bahagia. Dia nggak mau rusak.
---
12.30 WITA
Bandara Ngurah Rai – Bali
Udara panas. Tapi beda sama Jakarta—ada angin, ada bau laut tipis. Rina hirup dalam-dalam.
"Bau laut, Bim!"
Bima lihat dia excited. Senyum.
"Iya. Kita di Bali."
Mereka ambil taksi. Sepanjang jalan, Rina nggak bisa diem. Teriak-teriak liat patung, liat sawah, liat orang naik motor tanpa helm—hal biasa buat Bima, tapi luar biasa buat dia.
"Itu Patung GWK! Bim, nanti kita ke sana, ya?"
"Iya."
"Terus ke Pantai Pandawa! Terus ke Uluwatu! Terus—"
Bima tertawa. Tawa pertama hari ini.
"Sabar, Rin. Kita seminggu di sini."
Rina senyum lebar. Tangannya cari tangan Bima. Digenggam.
---
15.00 WITA
Villa di Umalas – Canggu
Villanya kecil. Tapi cantik. Dinding putih, kolam renang pribadi di tengah, kamar tidur dengan jendela besar yang langsung lihat ke sawah. Suasana adem. Sepi. Cuma suara jangkrik dan angin.
Rina masuk duluan. Mata langsung ke kolam.
"Bim! Renang yuk!"
Bima taruh koper. Capek. Tapi liat Rina excited, dia nggak tega nolak.
"Nanti sore. Sekarang istirahat dulu."
Rina cemberut dikit. Tapi nurut. Duduk di tepi ranjang. Ranjang besarnya—kayu ukir, kelambu putih di atasnya. Romantis banget.
"Bim."
"Hmm?"
"Ini... kayak mimpi."
Bima duduk di sampingnya.
"Mimpi yang indah?"
Rina tatap dia. Matanya—cokelat, hangat—berbinar.
"Mimpi yang nggak pernah aku bayangin jadi nyata."
Bima elus pipinya. Pelan.
"Ini nyata, Rin."
Mereka berpelukan. Di ranjang itu. Dengan suara alam dari luar jendela.
Tapi di dalam kepala Bima, ada suara lain. Suara yang nanya: "Apa ini nyata buat lo, Bim?"
Dia diem. Rina nggak tahu.
---
18.30 WITA
Pantai Batu Bolong – Canggu
Matahari mulai turun. Jingga. Oranye. Ungu tipis di ufuk. Ombak pecah di pinggir pantai. Orang-orang pada foto-foto. Pasangan-pasangan muda bergandengan.
Bima dan Rina duduk di pasir. Sandal dilepas. Kaki dicelupin ke air—dingin, tapi nyaman.
Rina nyender di pundak Bima.
"Cantik banget."
"Iya."
"Lo tahu, aku pernah mimpi dateng ke sini sama suami." Rina senyum. "Waktu itu aku masih kecil. Liat iklan TV. 'Bali, surga dunia'. Aku bilang ke ibu: 'Bu, nanti aku mau ke sini sama suamiku'."
Bima dengerin.
"Ibu cuma ketawa. Bilang, 'Nanti kalau udah gede, kamu cari suami yang bisa bawa kamu ke sana'." Rina tatap Bima. "Dan sekarang... aku di sini. Sama lo."
Bima tatap dia. Matanya—untuk pertama kalinya hari ini—beneran lihat Rina.
"Makasih udah milih aku, Rin."
Rina senyum. Tapi matanya berkaca-kaca.
"Makasih udah mau sama aku."
Mereka ciuman. Di pantai. Pas sunset. Kayak di film-film.
Tapi di sela-sela ciuman itu, Bima pejam mata. Dan di balik kelopak, dia liat Keana lagi. Keana di pantai—bukan pantai ini, pantai lain. Waktu itu mereka lagi liburan. Keana ketawa, rambut berantakan kena angin, pegang es krim.
Bima buka mata. Cepet.
Rina masih di depannya. Tersenyum.
"Lo kenapa?"
Bima geleng. "Nggak. Kebelet pipis."
Rina ketawa. "Ya udah, sana. Aku tunggu di sini."
Bima berdiri. Jalan ke arah toilet. Tapi pas udah agak jauh, dia berhenti. Liat ke belakang. Rina masih di pinggir pantai. Sendiri. Liat ke laut. Cantik.
Dia lanjut jalan. Tapi di dalam, dia nggak tahu kenapa, rasanya sesak.
---
20.00 WITA
Restoran Jimbaran – Makan Malam
Meja di pinggir pantai. Lampu-lampu kecil di pohon. Bau ikan bakar. Suara ombak.
Rina lahap. Ikan bakar, udang, cumi. Jari-jarinya belepotan sambal. Tapi dia senyum terus.
"Ini enak banget, Bim! Cobain!"
Dia suapin Bima. Bima makan.
"Enak?"
"Iya."
Mereka makan, ngobrol, ketawa. Kayak pasangan normal. Kayak nggak ada beban.
Tapi Bima tahu, ada.
Malem ini adalah malem pertama mereka sebagai suami istri. Setelah ini, mereka pulang ke villa. Dan...
Bima geleng. Usir pikiran itu.
"Bim, lo kok diem?"
"Nggak. Capek aja."
Rina tatap dia. Lama.
"Lo tahu, aku nggak akan maksa lo buat sempurna."
Bima angkat muka.
"Tapi kalau lo lagi ada apa-apa... cerita, ya."
Bima diem.
Rina balik makan. Kayak nggak ngomong apa-apa.
Tapi kata-kata itu nggak ilang. Nyangkut di dada Bima.
---
22.00 WITA
Villa – Kamar Tidur
Suasana romantis. Lampu temaram. Lilin-lilin kecil di sudut-sudut. Ranjang besar dengan kelambu putih.
Rina di kamar mandi. Suara air.
Bima di ranjang. Duduk. Tangan di pangkuan. Jantung berdebar—bukan karena mau mlm pertama. Tapi karena... takut.
Bukan takut sama Rina. Tapi takut sama dirinya sendiri.
Takut pas dia harusnya hadir, dia malah pergi. Takut pas Rina butuh dia, dia malah mikirin yang lain.
Pintu kamar mandi terbuka. Rina keluar.
Rambut basah. Wangi sabun. Pake daster tipis—sederhana, tapi cantik.
Dia jalan ke ranjang. Duduk di samping Bima.
"Bim."
"Hmm?"
"Lo... takut?"
Bima kaget. Kok Rina bisa tebak?
"Maksud lo?"
Rina senyum. Lemah lembut.
"Aku juga takut. Pertama kali."
Bima napas lega. Rina kira dia takut karena... itu.
"Iya. Takut dikit."
Rina pegang tangannya.
"Nggak usah takut. Kita jalan bareng-bareng."
Mereka berpelukan. Lalu rebahan. Saling hadap. Jarak beberapa senti.
Bima tatap Rina. Cantik. Lembut. Tulus.
Dia harusnya bahagia.
Tapi di dalam, masih ada yang kosong. Masih ada yang nanya: "Ini yang lo mau, Bim?"
Rina mendekat. Cium keningnya.
"Makasih buat hari ini, Bim."
Bima pejam mata.
"Makasih juga, Rin."
Malam itu, mereka bercinta. Bukan karena nafsu. Tapi karena mereka suami istri. Karena ini malam pertama. Karena mereka harus.
Tapi setelah semuanya selesai, Rina tidur. Nyenyak. Capek. Bahagia.
Bima? Dia masih buka mata. Tatap langit-langit.
Di samping, Rina tidur. Tangannya masih megang lengan Bima. Napasnya pelan.
Bima dengar suara jangkrik dari luar. Angin sepoi. Suara alam yang damai.
Tapi di dalam, dia nggak damai.
Dia inget lagi. Ingat janji lama. Ingat kata-kata di surat itu.
"Aku sayang kamu. Sekarang, besok, dan selama-lamanya."
Sekarang?
Dia sayang Rina. Iya. Tapi kenapa masih ada rasa itu? Rasa yang nggak bisa dia jelasin. Rasa yang mungkin namanya... gamon.
Dia pejam mata. Coba tidur.
Tapi tidurnya nggak datang.
---
03.00 WITA
Tengah Malam
Bima bangun. Atau mungkin dia nggak tidur sama sekali.
Dia duduk di tepi ranjang. Liat Rina tidur. Tenang. Damai.
Dia berdiri. Jalan ke jendela. Lihat ke luar. Sawah. Gelap. Tapi ada lampu-lampu kecil dari jauh—mungkin dari villa lain.
Ponsel di tangan. Dia buka galeri. Tanpa sadar, jarinya cari.
Foto lama. Foto Keana. Yang dia pikir udah dihapus. Tapi ternyata masih ada di backup. Satu.
Dia tatap foto itu lama.
Keana. Rambut panjang. Senyum. Pegang es krim. Latar belakang Bandung.
"Lo bahagia, Kean?" bisiknya.
Nggak ada jawaban.
Cuma angin malam. Sepoi. Tapi dingin.
---
05.30 WITA
Subuh
Rina bangun. Bima belum tidur. Dia di balkon. Lihat matahari terbit.
Rina dateng dari belakang. Selimut dibawa—diselimutin Bima.
"Lo nggak tidur?"
Bima nengok. Senyum tipis.
"Udah. Kebangun."
Rina diem. Tapi dia tahu. Dia tahu Bima bohong.
Tapi dia nggak nanya. Dia cuma peluk dari belakang.
"Aku di sini, Bim."
Bima pegang tangannya yang melingkar di perut.
"Iya."
Mereka lihat matahari terbit bareng. Cantik. Oranye. Merah. Keemasan.
Tapi di antara mereka, ada jarak. Tipis. Tapi nyata.
---
Bersambung ke Bab 27: Rina Mulai Curiga
---
...📝 Preview Bab 27:...
Bulan madu masih berlangsung. Tapi Rina mulai lihat tanda-tanda.
Bima sering melamun. Matanya kosong ke laut. Kadang dia liat ponsel, lalu tutup cepet-cepet.
Rina nggak bodoh. Tapi dia takut nanya.
Sampai suatu malam, di restoran yang sama, dia lihat Bima buka galeri. Foto cewek lain.
Bab 27: Rina Mulai Curiga—segera!
---