Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Sayang yang Tetap Tinggal
Sesampai di rumah, langit terlihat mendung, berbeda saat dia masih di kantor. Langit seperti menahan hujan yang tak kunjung jatuh.
"Kok mendung sih?" gumam Naya cemberut.
Di dalam kamar Naya, suasana terasa sunyi. Naya duduk di dekat jendela dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuannya. Ia menggunakan baju rumah sederhana. Matanya masih sembab, tanda tangis yang belum lama berhenti.
Dari dapur terdengar ibunya yang sedang sibuk memasak. Sejak kepergian Damar, Naya belum pernah ke dapur. Padahal dulu Naya sangat suka memasak. Mencoba beberapa resep untuk dicoba Damar.
Sekarang dia merasa itu semua tak ada artinya, tak ada alasan untuk mencoba ide-ide baru lagi. Damar sudah tak ada.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Siapa, ya?" tanya ibunya mendengar suara ketukan.
“Pak? Bapak? tolong buka pintu itu. Sepertinya ada tamu.” Ucap Ibu Naya dari dapur.
Ayah Naya sedang duduk di sofa sambil menikmati sore dengan kopi hangat dan membaca koran.
Ayah Naya berdiri dan membuka pintu.
“Selamat sore, Pak.” Sapa ibu Damar.
Melihat mereka berdiri di depan pintu, ayah Naya terkejut. “Sore. Silahkan masuk.” katanya tersenyum namun di pikirannya ada pertanyaan, ada apa mereka ke rumahnya.
Ibu dan Ayah Damar segera masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Siapa, Pak?” tanya ibu Naya yang masih di dapur.
“Ada tamu, Bu,” suara ayah Naya pelan.
“Sebentar ya, Pak, Bu.” kata ayah Naya menunduk sopan.
Ayah Naya meninggalkan mereka, dan segera pergi ke dapur.
“Loh….Kok Bapak ke sini, bukannya ada tamu? Siapa?” tanya ibu Naya heran.
“Iyah, itu ada Ayah dan Ibu Damar di ruang tamu.” Suara ayah Naya gugup.
Tanpa banyak kata, ibu Naya langsung meninggalkan dapur meskipun masakannya belum siap untuk disajikan.
“Oh....ada tamu,” ucap ibu Naya dengan wajah datar.
“Apa kabar Bu Marlina?” Ibu Damar tersenyum.
“Selalu baik.”
Dari dalam kamar, Naya mendengar suara lain yang pastinya bukan suara Ayah Ibunya.
"Suara itu.... seperti...."
“Naya ada di rumah?” tanya Ibu Damar lembut.
Naya membuka pintu kamarnya, dan mengangkat kepala perlahan.
Naya melihat Ibu dan Ayah Damar.
Tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu harus tetap berdiri atau mendekati mereka.
Melihat Naya berdiri di depan pintu kamarnya, Ibu Damar tersenyum lembut, meskipun matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat Naya.
“Naya….” Suaranya lirih.
Naya melangkah perlahan. Kakinya terasa lemah.
“Mama…..ehh….tante” kata Naya setengah sadar dan bingung.
Naya memanggil ibu Damar dengan panggilan mama, itu menjadi kebiasaan yang sudah lama tertanam sejak dia bersama dengan Damar.
Ibu Damar langsung melangkah mendekat dan memeluknya erat, "Naya...."
Naya membeku sejenak, lalu membalas pelukannya. Tangis yang ia tahan pecah begitu saja.
Ibu Damar mengusap rambut Naya pelan.
“Sayang, mama rindu.” Bisiknya.
Ibu Naya memperhatikannya sebentar, lalu Ia berdiri dan mendekati Naya.
“Ayok duduk, sayang.”
Ibu Damar dan Naya saling melepas pelukan dan sadar bahwa bukan cuman mereka berdua yang sedang berada di tempat itu.
Semua duduk di ruang tamu. Ibu Naya memegang tangan Naya seperti takut kehilangan.
“Kami hanya ingin melihat Naya.” Kata Ayah Damar hati-hati. “Sudah lama tak bertemu.”
“Naya baik-baik saja. Kami ada selalu menjaganya. Tidak perlu khawatir.” Jawab Ibu Naya ketus.
_
Angin sore berganti menjadi angin malam. Ayah dan ibu Damar berdiri dan pamit untuk pulang.
Sebelum pulang, ibu Damar mengelus tangan Naya, “Mama selalu sayang sama Naya, Damar memang sudah pergi selamanya tapi Damar tinggal di hati kita.”
Naya menunduk. Air matanya jatuh lagi.
Ibu Naya mengernyit sedikit, tampak tidak nyaman.
Dia berdiri, “Naya sedang berusaha kuat,” katanya.
Ibu Damar mengangguk.
Ayah Damar mendekati Naya.
“Kami sudah merasa Naya bagian dari keluarga kami.” Ayah Naya tersenyum.
Naya menutup mulutnya, berusaha menahan tangis.
Ibu Naya langsung menatap tajam, meskipun masih berusaha tersenyum tipis.
“Naya tetap anak kami,” katanya tegas.
Ibu Damar buru-buru mengangguk.Ia menatap Naya dengan penuh kasih.
“Kami hanya…..menyayanginya.”
Ibu Naya kembali membalas kalimat itu, "Tapi kami jauh lebih menyayanginya."
Naya merasakan dadanya sesak. Dua perasaan berbeda bertabrakan di dalam dirinya. Hangat dan bersalah sekaligus.
Ibu Damar menggenggam tangan Naya sekali lagi lebih erat.
“Kalau Naya mau, sesekali datang ke rumah. Kami selalu siap dengan kedatangan Naya.”
Air mata Naya jatuh lagi.
Ibu Naya memegang bahu Naya.
“Ibu Ratna, mohon maaf sekali. Naya harus istirahat.” Jawabnya tegas dan tersenyum.
Ayah Naya menghela napas pelan, mencoba mencairkan suasana.
“Terimakasih sudah datang ke rumah kami, Pak Mahesa.”
Ayah Damar mengangguk, "Terima kasih juga, Pak. Sudah mengijinkan kami menjenguk Naya."
Ibu Naya mendengar pernyataan itu, ekspresi wajahnya terlihat jelas bahwa dia tidak suka.
Setelah orangtua Damar pamit dan pintu tertutup, rumah kembali sunyi.
Naya masih berdiri di ruang tamu.
Ibunya duduk di sofa, menatap ke arah pintu.
“Bu…..”kata Naya pelan.
Ibunya menoleh.
“Naya boleh tetap sayang sama mereka kan?”
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap mata Naya yang merah dan penuh kehilangan.
Akhirnya Ayah Naya yang menjawab.
“Boleh nak,”
Naya menatap ayahnya.
“Naya kembali ke kamar dulu.”
Di luar, hujan akhirnya turun perlahan, seperti kesedihan yang mulai menemukan tempatnya.
Di ruang tamu, Ayah dan Ibu Naya masih tetap disana.
“Pak, Ibu kurang nyaman ya…. kalo ibu Ratna dan suaminya itu selalu perhatian berlebihan kepada Naya.” Ucap ibu Naya tegas.
“Bapak rasa itu nggak berlebihan, Bu.” Berusaha menenangkan istrinya.
“Intinya Ibu mau Naya kembali bangkit seperti dulu tanpa bayangan Damar. Naya berhak bahagia dengan orang baru.”
Ibu Naya meninggalkan suaminya dan kembali ke dapur.
Naya masih terus menangis di tempat tidurnya.
Dia mengambil foto Damar yang ada di mejanya.
“Dam, aku rindu. Aku mau cerita banyak sama kamu.”
Naya menangis sambil memeluk foto Damar.