NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XIX—SAUDARA

Sepi, sunyi dan kosong suasana yang sekarang menimpa ruang tamu sore setelah hujan. Tak ada suasana mencekam yang ada hanya rasa bersalah dan rasa sesal telah dia alami oleh Chandra karena pertanyaan yang asal di ucapkan. Ibunya hanya diam tak berkata, ingin tahu bagaimana anaknya dapat mengatasi perkataannya sendiri.

“Maaf Ka” Ucap Chandra memandang wajah Arka dengan wajah yang menyesal.

“Untuk apa Chand”

“Maaf telah bertanya demikian”

Arka menghela nafas agak pajang seakan ingin menjelaskan secara panjang kepada Chandra “Tentang ibuku tadi ya? Aku tak tahu dia kemana, dari kecil aku diberi tahu Bang Toyib kalo ibu meninggal waktu aku masih bayi, tapi kenyataannya tak seperti itu”.

“Waktu aku umur 13 tahun, aku mendengar percakapan Pak Cipto dan istrinya” Lanjutnya

“Kasihan Den Bagus ya buk, dari bayi sudah di tinggal ibunya pergi sama laki-laki lain dan ayahnya gila akan pekerjaan karena hanya itulah yang membuat dirinya lupa akan kekasih yang meninggalkannya bahkan meninggalkan anaknya yang baru lahir belum genap dari 3 bulan”

“Begitu aku mendengar apa yang telah terucap dari mulut Pak Cipto, aku langsung menemui Bang Toyib yang sedang di ruangan kerja pribadi, aku bertanya kepadanya apakah benar Ibu tak benar-benar mati? Apakah dia berbohong selama ini? Apa benar Ibunya pergi karena pria lain?, semua pertanyaan aku lontarkan kepadanya, tapi dia hanya diam tak menjawab satu kalimatpun.”

Seketika ruang tamu semakin sunyi oleh suara, hanya suara jam dinding yang terdengar. Chandra yang sungguh merasa bersalah hanya dapat berdiam berdiri dan Arka yang telah bercerita juga demikian hanya diam dengan wajah yang begitu melas. Di saat seperti ini, Mandira menghampiri Arka dengan duduk di sampingnya lalu memeluknya dengan hangat seperti seorang ibu memeluk anaknya.

“Tante kenapa…kog tiba-tiba…”

“Shuttt…diam”

Mandira memeluk dengan begitu lama, awalnya Arka meronta untuk menolak. Lama kelamaan hatinya tergugah tak meronta lagi, sekarang ia hanya merasakan kehangatan pelukan yang tak pernah ia rasakan selama ini, pelukan dari seorang ibu yang seharusnya di miliki setiap anak di dunia ini.

Karena kehangatan tersebut, air matanya keluar dengan sendirinya. Air mata yang menunggu pelukan dari seorang ibu. Air mata yang jatuh dengan hangat tak kalah dari pelukan yang di berikan Mandira.

“Nak, kamu boleh menganggap tante Ibu kamu, dan Chandra sebagai saudara kamu, kamu boleh ke sini setiap hari untuk bertemu Chandra maupun Ibu, Pintu kami terbuka untukmu” Ujar Mandira membawa haru ruangan tamu.

Dengan air mata yang masih berlinang di antara kedua pipinya ia menjawab dengan suara patah-patah “I…Iya…Bu.”

Pelukan yang penuh kehangatan tersebut berlangsung lama, dengan Chandra yang masih merenung karena masih merasa bersalah atas perkataannya.

Setelah semua haru keluar, Mandira menyiapkan makan malam dan kedua anak tersebut membersikan diri dan melakukan kewajiban. Anehnya saat akan melakukan ibadah, Arka bimbang dengan sendirinya.

Chandra ikut kebingungan “Ka…Kenapa kau?”

“Eh…anu…Chand…Aku gatau bagaimana cara melakukannya.”

“HAH?! selama ini kau gak pernah melakukannya? Maaf telah mengajakmu, tolong tunggu saja di luar.”

“Bukan begitu Chand, dari kecil aku tak pernah diajari dalam hal beragama, jadi aku gatau sama sekali cara melakukannya.” Ucapnya menunduk malu.

Arka yang terlahir di keluarga kaya selalu di ajarkan tentang adap yang tinggi dan pengetahuan yang tinggi namun tak pernah sedikitpun diajari caranya beragama, bahkan tak pernah diajari adanya Tuhan didunia ini.

Chandra mengangguk mengerti “Kau di belakangku, ikuti saja setiap gerakanku dan kau jangan berbicara sedikitpun saat itu. Kau harus yakin bahwa setiap gerakan itu kau hadapkan kepada Tuhan.”

“Aku paham, tapi apa gak perlu baca-baca apa gitu?” Tanyanya memastikan.

Chandra menggelang “Tak usah dulu yang penting sekarang kau tahu gerakannya dulu dan kau tujukan kepada siapa gerakan tersebut.”

Arka hanya mengangguk paham, mereka berdua melakukannya dengan khusyuk seolah Tuhan berada dihapan mereka berdua. Setelahnya Chandra membaca doa-doa dan Arka hanya mendengarnya dengan seksama dan yakin bahwa doa-doa tersebut sungguh memohon tentang kebahagiannya dan kebahagiaan ibunya.

Setelah doa-doa tersebut telah selesai di panjatkan, Chandra mengejak Arka bersalaman tetapi Arka agak malu-malu dan bingung kenapa kog berjabat tangan juga. Chandra menjelaskan bahwa ketika antara seseorang yang berjabat tangan maka dosa-dosa kecilnya akan rontok oleh pertemuan kedua tangan tersebut.

Arka sekali lagi mengangguk paham namun sekali lagi melontarkan pertanyaannya kembali “Tadi saat kau membaca doa yang begitu panjangnya…apa yang kau minta dari Tuhan.”

Dengan hati yang mantap begitu pula dengan wajah yang yakin Chandra menjawab “Aku meminta kebahagiaan Ibuku.”

Anggukannya kembali terlihat. Keduanya berdiri dan bersiap untuk makan malam. Setelah makan malam keduanya selesai mereka keluar ke teras rumah dengan beberapa perbincangan. Suasana malam itu begitu dingin hingga membuat bulu badan ikut merasakannya. Meskipun hawa dingin menerpa, keduanya tetap berada di depan teras dengan menikmati suasana dan melihat keaatas langit dengan bulan yang tertutup oleh awan-awan putih.

“Maaf telah bertanya demikian…sungguh aku menyesalinya.” Lirih Chandra menunduk.

“Tak apa Chand…justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu, dengan pertanyaanmu itu aku bisa merasakan hangatnya pelukan dari seorang Ibu. Aku berterima kasih kepadamu.” Ucapnya dengan senyum memandangi langit.

Chandra merasa lega dengan jawaban dari Arka “Iya sama-sama.”

Di sela senyuman itu Arka mengeluarkan pertanyaan pendek dengan raut yang sudah tak tersenyum lagi “Bagaimana denganmu Chand?.”

“Apanya”

“Tentang ayahmu…”

Chandra hanya menatap kosong dan tetap diam, seolah tak memiliki jawaban.

“Apa kau membencinya?.”

Chandra mengepalkan tangannya dan menundukan kepalannya serendah-rendahnya untuk menutupi segala ekspresi yang berada di dalam wajahnya “ Benci ya? Mungkin tidak. Untuk membenci seseorang, kau harus masih peduli.”

Arka menatap Chandra dengan wajah kebingungan “Apa maksudmu?.”

“Jika seseorang masih bisa untuk membenci, berarti dia masih memikirkan orang itu. Bukankah kebencian tersebut tetap saja bentuk dari kepedulian.” Dalihnya dengan mengangkat dagunya untuk kembali menatap kearah langit.

“Mungkin tepatnya seperti ini. Aku tidak membencinya… aku hanya tidak lagi mengharapkannya. Sekarang yang terpenting ialah Ibuku bukan dia.” Lanjutnya yang sekarang menatap ke arah Arka.

“Kau benar…kenapa aku tak bisa sepertimu untuk tak membencinya ya….”

“Kau masih mengharapkannya kembali kan?.”

“Bohong jika aku bilang tak mengharapkannya kembali Chand. Meski aku tahu wakahnya di foto yang di simpoan oleh ayahku tapi itu masih kurang bagiku, aku ingin tahu bagaimana suaranya, bagaimana sikapnya dan bagaimana kasih sayangnya.” Timpalnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Chandra kembali menatap langit dan berkata “tak kusangka kau sama denganku ka…sesuai kata dari ibu tadi kau sekarang ialah saudaraku…”

Arka menatap kaget kearah Chandra lalu berkata “Terimakasih Chand…benar katamu, kita sama dan kau saudaraku.” Ucapnya dengan penuh senyuman.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!