NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan dan Luka yang Ditinggalkan.

Beberapa saat kemudian… Hana berdiri sendiri di luar aula. Langit mulai berubah warna. Sore perlahan turun, menyisakan cahaya jingga yang redup di halaman sekolah.

Suara siswa lain terdengar samar. Jauh. Tidak benar-benar sampai padanya. Pikirannya tidak lagi di sana. Masih terjebak… di dalam aula tadi.

Di satu kalimat. Kalimat yang terus berulang— datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar hilang, karena meninggalkan luka di dalam bekas luka yang tidak pernah sembuh.

“Kamu tahu kan rasanya dituduh kayak gitu?”

Hana diam waktu itu. Tidak menjawab.

Dan sebelum ia sempat berpikir— Eliza melanjutkan.

“Karna SMP juga kamu pernah gitu.”

Suasana langsung sunyi. Semua orang menoleh. Eliza menatapnya.

“Dan orang langsung percaya… tanpa denger penjelasan kamu.”

Kalimat itu— masih terngiang-ngiang di kepalanya, berulang tanpa henti, seolah sedang memutar rekaman video.

Hana menutup matanya perlahan. Napasnya terasa berat, dan tanpa ia sadari— pikirannya mulai ditarik mundur. Ke masa lalu. Ke waktu yang sudah lama ia coba lupakan.

*** Flashback on

Dulu… Sebelum semuanya rumit. Sebelum ada jarak di antara mereka. Sebelum ada rasa sakit yang tidak pernah benar-benar hilang.

Eliza adalah orang pertama yang Hana kenal.

Sejak kecil. Rumah mereka tidak jauh. Mereka tumbuh bersama. Main sepeda bareng. Belajar bareng. Bahkan sering tidur di rumah satu sama lain.

Eliza— bukan cuma teman. Tapi seperti bagian dari hidup Hana sendiri. Tetapi saat mereka masuk SMP… segalanya mulai berubah.

Hari itu, Hana masih ingat jelas. Hari pertama mereka bertemu dia. Gio. Anak baru di kelas. Duduk di bangku belakang. Dia ramah dan pandai bergaul.

Dia yang pertama kali mendekat. Yang pertama kali ngajak ngobrol. Yang pertama kali— bikin dia merasa nyaman.

Dari obrolan ringan— jadi sering duduk bareng. Jadi sering pulang bareng. Sampai tanpa sadar— perasaan itu timbul di dalam diri Hana. Pelan. Tapi pasti.

Hana tersenyum kecil. Perasaan itu dulu terasa sederhana. Ringan. Dan… bahagia, seolah ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.

Sampai suatu sore— Hana duduk di kamar Eliza.

“Za…”

Eliza yang sedang tiduran menoleh. “Hmm?”

Hana ragu sebentar. Tapi tetap bicara.

“Aku kayaknya suka sama Gio.”

Sunyi sebentar. Lalu Eliza tersenyum.

“Serius?”

Hana mengangguk kecil.

“Iya…”

Eliza bangkit duduk.

“Ya udah, deketin aja. Aku dukung kok kamu sama dia."

Nada suaranya biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa. Tetapi saat itu— Hana percaya sepenuhnya. Ia bahkan merasa… didukung.

Tapi ternyata itu awal dari sesuatu yang tidak pernah Hana bayangkan. Beberapa minggu setelah itu, suasana mulai berubah.

Gio mulai menjauh darinya tanpa sebab. Balas chat lebih lama. Jarang ngobrol. Dan yang paling terasa— ia lebih sering bersama Eliza.

Awalnya Hana tidak berpikir aneh-aneh. Sampai… ia melihat sendiri. Di koridor sekolah. Eliza dan Gio berdiri berdekatan. Terlalu dekat. Tangan mereka— saling menggenggam.

Dunia Hana seperti berhenti sejak saat itu. Langkahnya terhenti. Ia tidak mendekat. Tidak bertanya. Hanya melihat.

Sampai mereka menyadari kehadirannya. Eliza yang pertama melepas tangan. Wajahnya berubah.

“Hana—”

Gio hanya diam. Dan saat itu— Hana sudah tahu. Tanpa perlu penjelasan, Hana langsung pergi meninggalkan mereka.

Malamnya, Eliza datang ke rumah Hana. Wajahnya gelisah. “Aku mau jelasin…”

Hana hanya diam. Menunggu penjelasan darinya.

Eliza menunduk. “Aku sama Gio… udah deket duluan.”

Kalimat itu langsung menusuk. Hana mengernyit. “Maksudnya?”

Eliza menggenggam tangannya sendiri.

“Jadi… waktu kamu bilang kamu suka dia… sebenarnya…”

Ia berhenti. Hana menatapnya.

“Sebenarnya apa?”

Eliza menarik napas. “Aku juga udah suka dia duluan, dia juga temenan sama kamu biar bisa deket sama aku."

Hana membeku. “Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” suaranya pelan, tapi bergetar.

Eliza terdiam. “Aku… nggak enak. Takut kamu kecewa.”

Hana tertawa kecil. Hampa.

“Dan ini nggak bikin aku kecewa?”

Eliza tidak menjawab. Dan saat itu— sesuatu di dalam diri Hana… retak. Tapi yang lebih buruk adalah yang terjadi setelahnya.

Cerita itu menyebar. Tapi bukan yang sebenarnya. Bukan tentang Hana yang lebih dulu bercerita. Bukan tentang Eliza yang menyembunyikan.

Tapi— Hana yang disebut “mengganggu hubungan orang”. Hana yang dianggap sebagai PHO. Bisik-bisik muncul. Tatapan berubah. Teman-teman menjauh. Perlahan. Tapi pasti.

Dan yang paling menyakitkan— Eliza tidak pernah meluruskan. Tidak pernah benar-benar membela.

Ia hanya diam. Dan diam itu— cukup untuk membuat Hana sendirian.

***Flashback off

Hana membuka matanya. Langit di depannya sudah semakin redup. Dadanya terasa sesak. Kalimat itu masih ada. Masih berputar.

“Dan orang langsung percaya… tanpa denger penjelasan kamu.” Hana tertawa kecil. Pelan. Hampir tidak terdengar.

“Iya…karena kamu pelakunya” gumamnya lirih.

“Aku tahu rasanya.”

Tapi kemudian— satu pertanyaan muncul. Pelan. Namun, seolah mencabik-cabik dadanya.

Kenapa…? Kenapa sekarang harus terulang lagi?

Tatapannya kosong ke depan.

Kenapa Nisa melakukan itu padanya?

Ia bahkan… tidak pernah punya masalah dengan Nisa. Tidak pernah menyakitinya. Tidak pernah mengambil apapun darinya.

Lalu kenapa…?

Hana menunduk. Jari-jarinya sedikit mengepal.

( Apa aku memang seperti itu…?)

(Apa aku memang selalu jadi orang yang salah…?

(Apa aku memang nggak pantas punya teman…?)

Pikiran-pikiran itu bersarang dalam benaknya, seolah menjadi parasit yang tak akan hilang. Hana terus memikirkan itu secara berulang.

Angin sore berhembus pelan. Tapi tidak cukup untuk meredakan sesak di dadanya. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Hana merasa… luka lama itu, kembali terbuka tanpa sempat untuk sembuh.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!