Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Melihat gurat keputusasaan yang membayang di wajah Melanie, hati Amara mencelos. Ia sangat memahami luka yang tersembunyi di balik sikap ceria sahabatnya itu. Tanpa kata, Amara membuka kedua lengannya, menawarkan dermaga bagi jiwa Melanie yang sedang terombang-ambing. Melanie langsung menghambur, memeluk Amara seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan di dunia yang kejam ini.
"Tolong jangan berpikir seperti itu, Mel," bisik Amara lembut sembari mengusap punggung Melanie dengan gerakan menenangkan. "Tidak apa-apa jika saat ini hatimu masih membeku. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mencintai siapa pun; menjadi dirimu sendiri dan berdiri di atas kakimu sendiri sudah lebih dari cukup."
Mereka terhanyut dalam keheningan pelukan itu selama beberapa menit. Saat akhirnya melepaskan diri, Amara berjalan menuju sofa dengan langkah yang lebih mantap.
“Lagipula,” lanjut Amara, sementara Melanie mengekor di belakangnya seperti anak anjing yang kehilangan induk, “kamu tahu kan, suatu hari nanti aku memang harus pindah? Itu adalah bagian dari langkahku untuk benar-benar bebas. Aku tidak bisa selamanya berlindung di bawah sayapmu, Mel.”
Melanie mengerucutkan bibir, namun akhirnya mengangguk pasrah. “Baiklah. Tapi ingat, pindah rumah bukan berarti kau menghilang ke planet lain!” Ia menunjuk Amara dengan nada memperingatkan yang jenaka. “Pastikan ponselmu selalu aktif, atau aku akan melaporkanmu sebagai orang hilang.”
Amara tertawa renyah. “Siap, Bos!” jawabnya, yang langsung disambut lemparan bantal tepat di wajahnya.
Tawa mereka perlahan menyurut saat Melanie mulai menanyakan detail tentang harinya. Begitu nama Bethany terucap, atmosfer di ruangan itu seketika mendingin. Amarah yang tadi sempat mereda kini kembali berkobar di dada Amara, terutama saat bayangan memar-memar di tubuh Bethany terlintas kembali.
"Sepertinya ada badai besar yang sedang kau tahan," ujar Melanie, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Amara.
"Banyak hal yang tidak beres, Mel," gerutu Amara. Ia sempat bimbang sejenak, namun ia sadar bahwa untuk menghancurkan monster seperti suami Bethany, ia butuh bantuan sang ahli gosip dan jaringan.
"Jadi?" desak Melanie.
"Bethany... dia disiksa oleh suaminya," jawab Amara lugas. "Dia meneleponku dengan suara hancur. Saat aku sampai di sana, tubuhnya penuh memar yang mengerikan. Jeremiah—suaminya—adalah seorang monster."
"Apa kamu sudah lapor polisi?"
Amara menggeleng getir. “Bethany memohon agar aku diam. Bajingan itu menyimpan foto-foto pribadi Bethany dan mengancam akan menyebarkannya jika dia berani menggugat cerai. Bethany terjebak, Mel. Dia mengorbankan dirinya demi reputasi ibunya, Madam Sinclair.”
"Kau melakukan ini demi proyek bisnis itu?" tanya Melanie menyelidik.
"Bukan!" tegas Amara. Mata beralih menjadi tajam. "Aku melakukan ini karena aku tahu rasanya terjebak. Aku tidak bisa membiarkan bajingan itu terus menginjak-injak harga diri seorang wanita. Aku akan membebaskannya."
Melanie menatap Amara lama, lalu mengangguk mantap. "Oke. Apa rencananya?"
"Kita harus menghapus foto-foto itu langsung dari ponsel suaminya. Begitu bukti itu hilang, dia tidak punya taring lagi. Tapi itu tidak cukup, kita butuh sesuatu untuk mengancamnya balik agar dia tidak berani mendekati Bethany lagi."
Amara menggenggam tangan Melanie erat. "Aku butuh bantuanmu mencari semua kebusukan dan skandal Jeremiah. Dan aku butuh perangkat lunak, semacam virus, yang bisa menyusup ke ponselnya dan menghapus data secara permanen."
"Lalu bagaimana cara memasukkannya?" Melanie menyipitkan mata.
"Aku harus mendekatinya, Mel. Aku harus menjadi umpan," jawab Amara tanpa ragu.
Melanie tersentak. "Itu terlalu berbahaya, Amara! Kau masuk ke kandang singa sendirian. Sekali kau salah langkah—"
"Aku siap mengambil risiko itu," potong Amara dengan nada yang tak terbantahkan. "Aku lebih baik mempertaruhkan nyawaku daripada terus-menerus merasa tak berdaya melihat orang lain dihancurkan. Aku tidak akan mundur."
Hening sejenak sebelum Melanie akhirnya menghela napas kalah. "Baiklah. Aku akan menghubungi kenalanku untuk menyiapkan virusnya. Tugasmu adalah mencari tahu di mana bajingan itu biasa bersenang-senang."
Percakapan serius itu berakhir saat Amara bangkit menuju kamarnya. Namun, kakinya tak sengaja menyenggol sebuah kotak cokelat di lantai hingga isinya tumpah ruah—memperlihatkan berbagai jenis mainan dewasa yang eksotis.
Mata Amara terbelalak. "Mel! Apa-apaan ini?!"
Melanie tertawa defensif, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa malu. "Itu sampel dari kantor baruku! Tadinya mau kuberikan padamu sebagai hadiah 'kebebasan'."
"Diberikan padaku?! Sejak kapan kantor kosmetik membagikan benda-benda... er... seperti ini?" Amara tampak ngeri sekaligus malu setengah mati.
Melanie tersenyum nakal. "Anggap saja ini wellness product. Lagipula, aku yakin kau sudah lama tidak 'mendapat jatah', Mara. Sepertinya kau juga tidak punya rencana mencari pria dalam waktu dekat, kan?"
"Keluar, Mel! Bawa benda-benda ini pergi!" seru Amara, wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus saat Melanie mulai mengejarnya sambil mengayun-ayunkan salah satu alat tersebut.
"Coba dulu satu! Ini bagus untuk meredakan stres!" goda Melanie sambil tertawa terpingkal-pingkal sebelum akhirnya diusir keluar kamar.
Kini sendirian, Amara menatap benda mungil yang tertinggal di atas tempat tidurnya. Wajahnya masih terasa panas. Ia memutuskan untuk mandi demi mendinginkan kepalanya yang berdenyut.
Dua puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Aroma sabun yang segar menyelimutinya, namun matanya tak sengaja kembali tertuju pada benda itu. Tiba-tiba, ingatan tentang adegan panas di film yang ia tonton semalam terlintas, memicu sensasi hangat yang aneh di perut bawahnya.
Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan keinginan seperti ini. Pernikahannya dengan Tobias hanya menyisakan kenangan tentang pengabaian dan kedinginan di atas ranjang.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Amara perlahan mendekat. Jemarinya yang ramping menyentuh benda itu dengan ragu. Ada rasa ingin tahu yang liar yang mulai bangkit. Mungkin, pikirnya, ini adalah bagian dari mengenal dirinya kembali. Bagian dari mengambil alih kendali atas tubuhnya sendiri.
Ia mematikan lampu kamar, menyisakan cahaya remang-remang dari luar jendela, dan mulai mengeksplorasi sensasi yang sudah lama ia lupakan.