NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERAMPOKAN

"Bangsat!" umpat Raka dalam hati saat mendengar racauan Wahyu yang melantur.

"Kerjaan hari ini udah numpuk, lu malah nambah-nambahin masalah aja!"

"Kondisi mabuk kayak anjing begini mana bisa kerja, mending gua anter lu balik deh!"

Raka yang juga pusing memikirkan rentetan urusan sepele di Grup Adiyaksa akhirnya memutuskan untuk mengambil alih kemudi dan membawa Wahyu pulang ke salah satu apartemen pribadinya untuk beristirahat.

Pemandangan Raka memapah Wahyu masuk ke dalam mobil langsung bikin semua karyawan di lobi melongo.

Mbak resepsionis di lantai satu menatap dengan mata berbinar-binar. "Wah, gua juga pengen mabuk biar dianterin pulang sama Pak Raka."

"Mimpi aja lu," celetuk seorang satpam sambil menjitak pelan kepalanya. "Mending gua aja yang anterin lu balik, itu baru realistis!"

Si resepsionis cantik cuma mendelik sinis ke arah satpam itu, lalu kembali menatap punggung Raka yang menjauh dengan tatapan terobsesi.

Meski Raka sudah menggeber sportcar-nya pergi meninggalkan pelataran gedung, pandangan para penonton di sana seolah tak beralih sedetik pun.

Di tengah perjalanan.

"Lu tuh bener-bener nyusahin ya," keluh Raka sambil melirik Wahyu di kursi penumpang. "Sebenernya lu yang kerja buat gua, atau gua yang jadi babysitter lu sih?"

"Hngg..." Wahyu yang teler berat cuma bisa bergumam tak jelas untuk menunjukkan rasa tak terimanya.

"Lu berani protes?" Raka tertawa dingin. "Kenapa sih lu nggak bisa bikin gua tenang dikit aja?"

Walaupun mulutnya ngomel tanpa henti, nada bicaranya diam-diam menyiratkan kepedulian tulus khas seorang ibu-ibu.

"Bikin darah tinggi aja."

Raka ngedumel sepanjang jalan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah apartemen mewah atas namanya. Tempat ini memang selalu kosong dan tak pernah ia huni, tapi Raka yang visioner sudah menyewa kontraktor interior untuk merenovasinya sampai full furnished dari jauh-jauh hari.

"Udah, lu tidur sini dulu," ucap Raka sambil melempar tubuh Wahyu ke atas sofa.

"Terus lu... mau ke mana?" erang Wahyu. Hebatnya, Raka masih bisa menangkap maksud racauannya.

Raka tertawa pasrah. "Gua mau ke ruang kerja bentar, baca buku."

Sudah lama dia tidak merasakan waktu luang sesantai ini. Sekalian saja dia memakai alasan menemani Wahyu untuk mencuri waktu istirahat dari jadwal padatnya.

"Lu kan udah punya... asisten baru. Lu udah nggak butuh gua lagi," rancau Wahyu dengan nada merengek, bergumam memakai logat daerah yang untungnya masih bisa dipahami Raka.

Raka meringis geli. "Lu cemburu ya?"

Dia merasa situasi ini sangat lucu. Belakangan ini, dia memang lebih sering berinteraksi urusan pekerjaan dengan Satria, asisten barunya. Apalagi Wahyu juga selalu punya setumpuk proyek sibuknya sendiri, jadi mau tak mau Raka lebih sering membawa Satria menemaninya keluar. Masa iya sohibnya ini benar-benar ngambek cuma gara-gara itu?

"Ya elah, gua kira hati lu seluas samudra, ternyata sekecil biji ketumbar!" ledek Raka.

Kenyataannya, jangankan sibuk, seandainya Wahyu tidak masuk kerja sama sekali pun, Raka akan tetap mentransfer gaji utuh dan bonusnya tanpa memotong sepeser pun. Meski status mereka secara teknis sama-sama asisten, posisi kedua orang itu di mata Raka jelas berbeda. Wahyu adalah saudara sedarah sehidup sematinya.

Karena sofa dirasa terlalu empuk, Raka khawatir punggung Wahyu akan sakit. Dengan susah payah dan napas ngos-ngosan, dia akhirnya menyeret temannya itu ke atas kasur kamar utama.

Ranjang di kamar ini cukup unik. Bukan spring bed empuk pada umumnya, melainkan dipan khusus dengan kasur terapi super keras yang terbuat dari balok marmer utuh.

"Tidur di alas keras tuh bagus buat tulang punggung," gumam Raka setelah berhasil meletakkan Wahyu.

"Awas lu ya kalau berani muntah di sini," ancam Raka sambil menatap Wahyu dengan cemas akibat bau alkohol yang menyengat. "Gua nggak ngerti caranya bersih-bersih rumah!"

Tiba-tiba, terdengar ketukan dari luar.

"Siapa sih? Perasaan gua kagak pernah ngasih tau siapa-siapa kalau gua tinggal di apartemen ini?" Raka merasa heran, namun tetap melangkah menuju pintu.

Tapi begitu dia sampai di depan pintu, suara ketukannya mendadak berhenti.

Hal menjengkelkan itu terjadi berulang kali. Diketuk, berhenti. Berjalan ke pintu, kosong.

Kehabisan kesabaran, Raka langsung membuka pintu lebar-lebar.

"Nggak ada orang?" Batinnya mulai merasa merinding. Masa iya siang bolong begini ada setan nyasar?

Brak!

Tiba-tiba, saat dia sedang lengah, komplotan tiga sampai lima orang pria berpakaian serba hitam merangsek masuk ke dalam. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung beringas menyasar barang-barang berharga di ruangan itu.

Butuh waktu tiga detik penuh bagi Raka untuk memproses situasi.

Bangsat, ini mah perampokan!

Bukannya panik dan lari, insting pertama Raka justru langsung memblokir pintu utama agar mereka tidak bisa kabur.

"Minggir lu bocah, kalau masih sayang nyawa!" ancam salah satu perampok bertampang paling sangar. "Atau lu mau gua bikin cacat?!"

Ancaman itu malah bikin Raka ketawa saking gelinya.

Sekawanan curut ini jelas tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Dia ini grandmaster yang pernah membantai gerombolan begal bersenjata api waktu di luar negeri!

"Oh ya? Hebat banget kalian." Raka menatap mereka dengan tatapan pembunuh yang sedingin es. "Justru gua yang peringatin kalian. Taruh barang-barang itu sekarang, atau gua yang bakal bikin kalian nyesel udah dilahirin ke dunia."

Para perampok itu sempat kaget sesaat, sebelum akhirnya memaki keras, mencabut belati lipat dari saku, dan langsung menerjang Raka.

Memanfaatkan celah sepersekian detik, Raka melesatkan tendangan keras tepat ke pergelangan tangan si penyerang pertama.

Terdengar bunyi patahan tulang disusul jeritan kesakitan saat pisau itu terlempar menancap ke lantai.

Melihat rekannya tumbang, yang lain langsung emosi dan mengeroyok maju. Raka malah menyambut mereka dengan senyum lebar, lalu mendaratkan kombinasi pukulan dan tendangan kilat bertubi-tubi. Ini benar-benar ajang pemanasan otot yang seru buatnya.

Pada akhirnya, gerombolan itu terkapar tak berdaya di lantai, babak belur kehabisan napas.

"Ampun, ampun... mundur, woi cabut!" erang sang bos perampok memberi aba-aba pada sisa anak buahnya.

Raka hanya menyeringai jahat, membalikkan badan, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

"Kalian pikir rumah gua ini Indomaret? Bisa masuk keluar seenak jidat?"

"Terus lu mau apa hah?!" Meski sekujur tubuhnya ngilu, bos perampok itu masih berusaha sok keras.

Raka tertawa sinis, lalu melangkah perlahan mendekati mereka, menekan mental para bajingan itu sampai ke titik nadir.

"Gimana? Lu mau bunuh kita?! Bunuh orang itu tindak pidana, goblok!" teriak si perampok mulai panik, mundur perlahan.

Raka nyaris kelepasan ngakak. "Bunuh orang emang pidana, lah emangnya ngerampok rumah orang dapet piala dari kelurahan?!"

Tepat saat gerombolan itu mengira riwayat mereka bakal tamat di lantai apartemen itu, Raka malah dengan santainya menekan panic button darurat yang terhubung dengan pos sekuriti.

Tak berselang lama, polisi gabungan pun tiba di lokasi.

"Ada kejadian apa ini, Pak? Orang-orang yang babak belur ini perampoknya?" tanya salah satu polisi terheran-heran.

Raka hanya mengangkat bahu membenarkan.

Di bawah tatapan takjub para petugas kepolisian, Raka duduk dengan santai di sofa kulitnya sambil menyalakan sebatang rokok.

Para polisi itu lantas memborgol komplotan perampok yang sudah pasrah layaknya pepes ikan.

"Mas, tolong ikut kami ke Polsek sebentar ya," pinta polisi.

"Pak, jadwal saya padat merayap. Udah bantu nangkepin begal, masa sekarang saya yang mau dipenjara?" protes Raka.

"Bukan gitu, Mas. Cuma buat bikin BAP doang, ini murni SOP dari kepolisian."

"...Yaudah deh."

Raka menyerahkan file rekaman CCTV apartemennya, lalu mengekor rombongan polisi kembali ke Polsek. Ia menghabiskan waktu sekitar dua jam penuh hanya untuk diinterogasi. Selama dua jam itu, energinya habis cuma buat menjelaskan kronologi logis bagaimana caranya dia bisa meratakan kawanan bandit bersenjata itu sendirian.

"Komplotan ini tuh residivis kakap, Mas. Kami yang aparat aja sering kewalahan nangkapnya. Lha kok Masnya bisa ngebabat mereka sekaligus? Pakai ilmu apa?" tanya penyidik kepolisian yang masih gagal paham.

Kehabisan kata-kata, Raka terpaksa berdiri dan mengangkat ujung kaosnya, memamerkan perut dengan eight-pack yang tercetak sangat tajam.

"Bapak butuh bukti apa lagi?" keluh Raka pasrah. "Kalau perlu saya stripping buka baju sekalian deh, toh di sini cowok semua."

"Eh, nggak usah, Mas! Udah cukup, kami percaya kok!" tolak pak polisi buru-buru sambil melambaikan tangan, ngeri disangka yang iya-iya.

Saat dia kembali ke apartemen, hari sudah sangat larut.

Melihat Wahyu yang masih terlelap mendengkur di atas kasur marmer, Raka pun bisa bernapas lega.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Insiden barusan membuat Raka menyadari bahwa sistem keamanan di area apartemen mewah ini sangat bapuk dan membahayakan.

"Halo, Pak Sutanto?" Raka langsung menelepon pemilik perusahaan Property Management yang mengelola kawasan apartemen tersebut.

"Iya betul, Pak Raka. Saya ada save nomor Bapak kok."

"Bisa tolong take over dan jual perusahaan management properti Bapak ke saya nggak?" tembak Raka langsung.

"Waduh... gimana ya Pak... Perusahaan ini kan jerih payah saya yang dibangun dari nol. Anak istri saya semuanya numpang makan dari profit bisnis ini..."

"Tiga puluh miliar?"

"Deal, Pak Raka!"

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!