Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Yang tersisa
Angin laut menerobos masuk melalui celah-celah gudang tua di pelabuhan. Di dalamnya, suasana terasa sangat tegang. Darius berdiri hanya beberapa langkah dari Viktor, Pistol di tangannya terarah lurus ke kepala pria itu, Tidak ada keraguan di matanya, Tidak ada belas kasihan. Hanya kemarahan yang dingin.
"Ini akhirnya," kata Darius pelan.
Viktor menatapnya tanpa takut, Justru senyumnya perlahan muncul lagi "Kau terlihat berbeda malam ini."
Darius tidak menjawab, Namun tangannya semakin kuat mencengkeram pistol "Kau membunuh anakku."
Kalimat itu keluar sangat pelan, Namun cukup membuat udara di gudang terasa membeku. Viktor mengangkat alisnya "Aku tidak menembaknya."
Darius berjalan satu langkah lebih dekat."Tapi semuanya terjadi karena kau."
Viktor tidak menjawab, Namun ia memperhatikan sesuatu, Emosi Darius, Itu kelemahannya. Dan Viktor selalu tahu cara memanfaatkannya.
"Kau tahu sesuatu yang lucu?" katanya santai.
"Apa?" jawab Darius dingin.
Viktor tersenyum tipis "Kau mulai menjadi seperti ayah Lyra Marcus Ardent."
Kalimat itu membuat mata Darius semakin gelap.
"Jangan sebut namanya."
Namun Viktor melanjutkan "Dia juga pernah berdiri seperti itu." Tatapannya tajam "Penuh amarah."
Sunyi beberapa detik, Lalu Viktor berkata pelan,
"Masalahnya…"
"...orang yang dikuasai amarah selalu membuat kesalahan."
Detik berikutnya Lampu gudang tiba-tiba padam.
GELAP. Leon langsung berteriak "Tuan!" Suara tembakan terdengar.
DOR! DOR
Anak buah Viktor mulai menembak dari berbagai arah. Kekacauan langsung terjadi, Lampu darurat berkedip merah. Ketika lampu menyala kembali Viktor sudah tidak ada, Darius menoleh ke sekeliling.
Gudang kosong, Ia sudah kabur. Leon berlari mendekat. "Tuan, dia kabur lewat pintu belakang!"
Darius tidak bergerak beberapa detik, Kemudian—
BRAKK!
Ia meninju meja besi di dekatnya, Logam itu sampai penyok. Para anak buahnya langsung terdiam.
Mereka jarang melihat Darius kehilangan kendali seperti ini, Namun malam ini berbeda. Ia hampir membunuh Viktor, Dan sekali lagi pria itu lolos.
Darius berkata dengan suara rendah "Cari dia."
Leon langsung mengangguk "Kami akan menemukannya." Namun Darius menambahkan satu kalimat lagi "Sampai ujung dunia."
Sementara itu di rumah sakit Keadaan Lyra justru semakin memburuk. Dokter berdiri di samping tempat tidurnya. Beberapa mesin medis kini terpasang di sekeliling tubuhnya, Salah satunya…
ventilator. Selang pernapasan kini terpasang di mulutnya. Mesin membantu paru-parunya bernapas.
Hssss… bip… hssss… bip…
Elena berdiri di samping dokter dengan wajah pucat.
"Apa yang terjadi?"
Dokter menjawab dengan serius.
"Tekanan darahnya turun beberapa kali malam ini."
Ia melihat monitor.
"Tubuhnya masih berjuang… tapi kondisinya sangat rapuh."
Elena menatap Lyra dengan sedih "Dia bahkan belum bangun."
Dokter mengangguk pelan. "Ada kemungkinan tubuhnya mengalami trauma yang lebih dalam."
Ia menambahkan dengan hati-hati "Dan kehilangan kehamilan itu mungkin memperburuk kondisi fisiknya."
Elena menutup matanya sebentar, Lyra bahkan belum tahu. Ia kehilangan bayinya, Pintu ruangan terbuka.
Darius masuk, Kemejanya masih sedikit berantakan dari perkelahian tadi. Ia langsung berhenti ketika melihat ventilator, Matanya menegang "Apa itu?"
Dokter menoleh.
"Kami harus membantu pernapasannya."
Ruangan langsung sunyi, Darius berjalan mendekat perlahan. Ia melihat wajah Lyra yang pucat.
Selang ventilator membuatnya terlihat jauh lebih rapuh. Tangannya menggenggam tangan Lyra lagi.
Dingin, Sangat lemah, Darius berkata pelan. "Kau belum boleh pergi."
Mesin ventilator terus berbunyi.
Hssss… bip…
Tidak ada jawaban, Namun Darius tetap duduk di sana, Menunggu. Seolah berharap wanita itu tiba-tiba membuka mata. Elena menatapnya dari kejauhan.
Ia belum pernah melihat Darius setenang ini.
Namun di balik ketenangan itu Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Karena semua orang tahu satu hal.
Jika Lyra tidak bangun Darius mungkin benar-benar akan berubah menjadi monster yang Lyra selalu takutkan. Dan perang ini Belum selesai.