NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15 : Rubah

Di dalam ruangan kedap suara yang mewah itu, Jimmy terus membelai surai rambut Crystal, mencoba meredam kegelisahan putrinya yang sebenarnya hanyalah bumbu akting belaka.

Sementara di luar sana, Menara Kusuma kembali mencekam. Asisten Clyde bergerak secepat kilat. Tim medis internal perusahaan tiba di lokasi dalam hitungan menit.

Mereka menemukan tubuh staf wanita itu bersimbah darah, dengan posisi kepala yang menekuk tidak wajar di antara anak tangga lantai 79.

Dokumen-dokumen yang tadinya ia bawa kini berhamburan, sebagian terendam genangan darah segar yang mulai mengental.

​"Dia masih bernapas! Cepat pasang penyangga leher!" teriak salah satu petugas medis.

​Helena hanya bisa menyandar di tembok luar tangga darurat dengan lemas. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu.

Pikirannya melayang pada sosok wanita yang kini sedang dievakuasi tersebut. Namanya adalah Riana, seorang staf administrasi dari departemen logistik yang baru saja naik jabatan.

​Helena teringat kejadian tiga hari lalu yang sempat ia saksikan sekilas. Riana memang tipe wanita yang ambisius.

Saat mengantarkan berkas ke ruangan Jimmy, ia sengaja mengenakan parfum yang sangat menyengat dan mencoba mencondongkan tubuhnya saat Jimmy sedang fokus membaca dokumen.

Saat itu, Crystal tampak sedang tertidur pulas di sofa panjang. Akan tetapi Crystal tidak benar-benar tidur. Iblis kecil itu mengamati setiap gerak-gerik Riana dari balik kelopak mata yang menyipit.

​"Lapor Tuan, korban sedang dibawa ke Rumah Sakit Pusat Kusuma. Kondisinya kritis akibat trauma kepala berat," suara Clyde terdengar melalui sambungan telepon di meja kerja Jimmy.

​Jimmy yang masih mendekap Crystal hanya menjawab dingin, "Pastikan tidak ada berita yang bocor ke media. Dan panggil Clyda. Aku ingin tahu kenapa dia bisa jatuh di area yang seharusnya tidak dilewati staf saat jam seperti ini."

​Mendengar nama Clyda, Crystal menyeringai dalam pelukan daddynya. Ia tahu Clyda adalah pengacara yang handal namun malas, tetapi jika menyangkut urusan keluarga Kusuma, Clyda akan tetap menjalankan tugasnya tepat waktu.

Bagaimanapun Crystal tidak takut. Jejak minyak itu sangat transparan, dan ia sudah memastikan jejak itu berada di area yang cukup sulit terlihat oleh kamera CCTV yang sudutnya terbatas di tangga darurat.

​Satu jam berlalu Arum masuk ke ruangan Jimmy dengan wajah yang luar biasa pucat. Sebagai Chief Human Resources Officer, ia merasa sangat bertanggung jawab atas keselamatan stafnya.

​"Tuan, saya... saya sudah memeriksa area pantry dan lantai 85. Semuanya bersih. Saya tidak tahu bagaimana Riana bisa jatuh sedalam itu di tangga darurat," suara Arum bergetar.

​Crystal bangkit dari pelukan Jimmy, menatap Arum dengan mata yang berkaca-kaca. "Bibi Arum... jangan sedih. Tadi supnya enak sekali. Aku habiskan udangnya banyak," ucapnya sambil memegang tangan Arum.

​Arum terenyuh. Di tengah ketakutannya, ia merasa Crystal adalah satu-satunya pelipur lara. "Terima kasih, Sayang. Maafkan Bibi ya, suasana jadi kacau begini."

​"Bibi, apa tante yang jatuh itu tadi lari-lari?" tanya Crystal tiba-tiba.

​Jimmy menoleh pada putrinya. "Kenapa Crystal tanya begitu?"

​"Soalnya, kalau lari-lari di tempat gelap pasti jatuh. Daddy bilang kita harus hati-hati kalau jalan," jawab Crystal dengan logika anak kecil yang sangat masuk akal.

​Jimmy mengangguk, menyetujui ucapan putrinya. Namun, di kepalanya, Jimmy mulai berpikir. Benarkah Riana hanya sekadar jatuh karena lari?

Ataukah ada hal lain? Ia teringat Stella sebulan lalu. Mengapa semua kejadian ini melibatkan staf wanita yang berusaha mendekatinya? Apakah ini kutukan, ataukah ada seseorang yang sedang "membersihkan" jalan untuknya?

​Namun, setiap kali Jimmy menatap wajah polos Crystal, pikiran negatif itu hilang seketika. Tidak mungkin bocah dua tahun bisa merencanakan hal serumit ini. Itu mustahil.

​Pukul 20:00 malam, Clyda tiba di Menara Kusuma. Kali ini ia tampak lebih rapi dengan setelan jas, meski dasinya masih terpasang miring karena ia buru-buru dipaksa Clyde untuk bangun dari tidur sorenya.

​"Tuan, aku sudah melihat lokasi," ujar Clyda masuk ke ruangan Jimmy. Ia melirik Crystal yang kini sedang asyik bermain dengan biji jagung dan kacang hijau di atas meja kopi, seolah-olah kejadian berdarah tadi sama sekali tidak mengganggunya.

​"Lalu?" tanya Jimmy singkat.

​"Ada sesuatu yang aneh. Lantai tangga itu sangat bersih, tapi ada satu titik kecil yang terasa sedikit... licin. Bukan darah, tapi seperti zat organik. Mungkin minyak atau cairan kimia pembersih yang tertinggal," jelas Clyda.

​Jantung Helena yang ikut mendengarkan dari balik pintu terasa berhenti berdetak. Minyak? Ia teringat Arum sedang memasak udang tempura sore tadi.

​"Tapi," sambung Clyda sambil menguap, "CCTV menunjukkan Riana masuk ke tangga darurat dengan terburu-buru sambil bermain ponsel. Jadi, besar kemungkinan ini murni kecelakaan karena kelalaian staf. Dia tidak memperhatikan pijakannya."

​Crystal diam-diam menghela napas lega. Ia tahu ponsel adalah pengalih perhatian terbaik manusia dewasa. Dan ia sengaja memancing Riana untuk masuk ke sana saat wanita itu sedang sibuk membalas pesan, mungkin pesan dari rekan kerjanya yang sedang bergosip tentang Jimmy.

​"Ajukan surat peringatan keras untuk departemen logistik. Dan pastikan keluarga Riana mendapatkan kompensasi agar mereka tutup mulut. Aku tidak mau reputasi Kusuma Corp rusak lagi," perintah Jimmy tegas.

​"Baik, Tuan," jawab Clyde dan Clyda serempak.

​Setelah semua orang keluar, ruangan kembali sunyi. Jimmy menghampiri Crystal, menggendongnya kembali. "Ayo pulang, Sayang. Hari ini sudah cukup melelahkan untukmu."

​"Daddy, nanti di rumah kita main boneka ya? Aku mau jadi ratu, Daddy jadi pengawalnya," ucap Crystal sambil memeluk leher Jimmy erat.

​"Tentu, Tuan Putri," jawab Jimmy sambil mengecup kening putrinya.

​Saat mereka melangkah keluar dari ruangan menuju lift pribadi, Crystal menyandarkan kepalanya di bahu daddynya. Ia menatap ke arah meja Helena yang kosong karena Helena sedang mengurus administrasi di bawah.

​Di dalam hatinya Crystal tersenyum puas. Riana mungkin tidak mati secepat Stella, tapi dengan trauma kepala seberat itu, ia yakin Riana tidak akan pernah bisa kembali ke kantor ini untuk menggoda daddynya lagi.

Satu per satu, "rubah-rubah" itu akan ia singkirkan.

Harusnya jika ingin jadi rubah. Jadilah rubah ekor sembilan seperti Helena. Berburu di club atau pub sepulang kerja. Cari pria kaya yang lajang. Bukannya merebut milik Crsytal.

​Bagi dunia Menara Kusuma adalah pusat bisnis yang megah. Namun bagi Crystal, ini adalah kerajaan pribadinya, tempat di mana ia bisa membuang siapa saja yang tidak ia sukai ke dalam jurang kegelapan, cukup dengan sedikit minyak udang dan wajah polos yang menipu.

​"Selamat tidur, Tante Riana... semoga mimpi indah di rumah sakit," batin Crystal saat pintu lift tertutup rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!