💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 : Rencana meminta maaf.
Viona terkejut, tangannya masih menggenggam pegangan pintu kamar Arsen. Bibirnya sedikit terbuka namun tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa, pikirannya sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab Farel.
"Aku... aku sedang memanggil Paman Arsen untuk sarapan," ucapnya, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya masih berdebar kencang.
Farel mendekat, matanya beralih ke arah dalam kamar dan melihat Arsen yang masih hanya mengenakan handuk di pinggang. Ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius, bahkan terlihat sedikit marah.
"Kamu cukup memanggilnya dari luar dan tidak perlu sampai masuk kedalam kamarnya, Viona." tekan Farel, lalu meraih tangan Viona dan menggenggamnya erat. "Ayo kita turun, semua orang sudah menunggu kita."
Sekali lagi Farel menatap pada Arsen sebelum menarik tangan Viona pergi dari sana. Viona mengikuti langkah Farel yang semakin cepat. Rasa khawatir memenuhi hatinya, khawatir Farel akan salah paham lebih jauh.
Di ruang makan, semua orang sudah menunggu. Tuan Danu melihat ke arah Farel yang berjalan dengan terburu-buru sambil menggandeng tangan Viona. Raut wajah cucunya itu terlihat sedikit kesal.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Dan dimana paman Arsen?" tanya Tuan Danu dengan nada cemas.
"P-paman... dia..."
"Sebentar lagi paman akan turun kok, Kek." Farel memotong cepat ucapan Viona, lalu menatap pada kedua orang tuanya yang sedang duduk dan menatap pada mereka dengan tatapan bingung. "Kami pergi sekarang ya, Ma, Pa, takut ibu dan bibinya Viona menunggu lama. Nanti biar kami sarapan bersama mereka saja."
Bima mengangguk, meskipun masih sedikit bingung dengan perubahan sikap putranya yang tiba-tiba, "Ya sudah, sampaikan salam kami untuk mereka. Nanti siang asisten Papa akan datang kesana untuk mengantarkan mereka pulang."
Farel mengangguk dan segera menarik Viona keluar dari ruang makan. Saat mereka melewati bawah tangga, Viona melihat Arsen yang baru saja akan turun dan sudah mengenakan pakaian rapi. Mata mereka bertemu sebentar, dan dia bisa melihat rasa khawatir di mata pria itu sebelum Farel cepat menariknya pergi.
Di dalam mobil, Viona tetap diam dengan pandangan menatap jalanan yang mereka lewati. Tangan Farel menggenggam setir dengan kuat, dia masih masih kesal dengan kejadian tadi.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan paman Arsen, Viona," ucap Farel tiba-tiba, memecah keheningan. "Kamu tidak tahu bagaimana cara berpikir pria dewasa seperti paman yang belum memiliki pasangan. Aku khawatir dia memiliki niat yang tidak baik terhadapmu."
Viona menoleh cepat dengan kening sedikit mengerut. "Kenapa kamu bisa berpikiran negatif seperti itu tentang Paman Arsen? Dia adalah keluargamu, Farel. Dan aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitiku."
"Kamu terlalu polos, sayang," jawab Farel, menurunkan sedikit suaranya. "Aku hanya ingin melindungimu. Apalagi sekarang kamu adalah tunanganku."
Viona menghela napas pelan. Dia tahu Farel sudah mulai memberikan perhatian sejak awal mereka saling bertemu. Tapi entah mengapa dia merasa tidak senang saat Farel seolah sedang meragukan Arsen.
"Aku bukan anak kecil lagi, Farel," ucap Viona dengan nada yang sedikit tegas. "Aku bisa membedakan siapa yang ingin menyakitiku dan siapa yang tidak. Paman Arsen cukup baik, meskipun dia terlihat dingin dan tidak peduli."
Viona terpaksa berbohong, dia hanya tidak ingin ada selisih paham antara paman dan keponakan itu apabila dia bercerita yang sebenarnya. Lagipula, Arsen sudah membantunya, meskipun dengan cara yang tergolong sedikit memaksa. Seperti saat semalam pria itu membantunya memasangkan kembali pengait bra-nya yang lepas.
-
-
-
Arsen tengah duduk di kursi kerjanya. Matanya tetap fokus pada layar komputer yang menampilkan data proyek baru, namun pikirannya terus terbang ke kejadian pagi tadi bersama dengan Viona.
"Dia pasti sangat tidak nyaman dengan perilakuku," gumamnya pelan, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
Pintu ruangan terbuka perlahan dengan Sinta yang masuk membawa beberapa berkas dokumen. "Pak Arsen, semua data proyek sudah siap seperti yang Anda minta," ucapnya dengan sopan. "Saya perhatikan sejak pagi Anda terlihat kurang fokus. Apakah ada masalah?"
Arsen menggelengkan kepala dan memberikan senyum yang lemah. "Tidak apa-apa, Sinta. Hanya sedikit masalah keluarga saja."
"Oya, kamu pasti tahu barang-barang apa yang biasanya disukai oleh wanita?" tanya Arsen tiba-tiba, membuat Sinta sedikit terkejut.
"Maaf Pak? Barang apa yang disukai wanita?" tanyanya ulang, berusaha menahan senyum diwajahnya saat melihat bos-nya yang biasanya bersikap dingin kini tampak sedang berpikir keras tentang sesuatu diluar pekerjaan.
Arsen menggelengkan kepala dan tersenyum pelan. "Maafkan aku, Sinta. Aku hanya bingung ingin memberi sesuatu pada keponakanku sebagai bentuk maaf. Aku merasa telah membuatnya tidak nyaman dengan perilakuku pagi ini."
Sinta mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Ah begitu, Pak. Padahal biasanya Anda sangat hati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain."
"Aku juga bisa membuat kesalahan, Sinta." ucap Arsen dengan nada rendah. "Dia baru saja datang dan tinggal di rumah keluarga kami, aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman."
Sinta berpikir sejenak sebelum memberikan saran. "Kalau boleh saya kasih saran, Pak, wanita pada umumnya senang dengan hal-hal yang menunjukkan perhatian. Misalnya saja bunga, atau mungkin barang-barang yang berhubungan dengan hobinya."
"Aku tidak tahu sampai sedetail itu tentangnya," ucap Arsen dengan sedikit senyuman yang terlihat menyakitkan. "Hobi ataupun sesuatu yang dia suka, aku tidak tahu semua."
"Kalau begitu mungkin sesuatu yang sederhana namun berarti saja, Pak," saran Sinta dengan senyum ramah. "Seperti buku dengan sampul cantik, atau mungkin boneka dengan sebuah kartu ucapan yang ditulis dengan tulus."
Arsen mengangguk pelan, berpikir tentang saran itu. "Kamu benar, Sinta. Terima kasih banyak atas sarannya," ucap Arsen dengan senyum yang lebih hangat.
"Sama-sama, Pak."
"Saya akan pergi keluar sebentar," Arsen segera berdiri dari kursinya, mengambil jasnya yang digantung di sandaran kursi dan memakainya. "Sinta, tolong kamu urus semuanya disini ya. Saya akan segera kembali."
"Baik, Pak. Saya akan mengurus semua pekerjaan yang ada," jawab Sinta dengan sopan.
Arsen keluar dari ruangan dan langsung menuju lift yang akan membawanya menuju ke lantai dasar. Dia tidak sabar ingin mencari hadiah spesial yang akan diberikan pada Viona sebagai bentuk permintaan maaf.
-
-
-
Bersambung...