"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
...
..
Tiga tahun telah berlalu sejak kabut tebal di Bandara Heathrow menjadi saksi bisu hilangnya jejak Elena Kalila. Dunia mungkin masih mengingat skandal Jionel Group yang mengguncang bursa saham, atau berita tentang CEO muda yang mendekam di balik jeruji besi, namun bagi sebuah desa kecil di pegunungan Alpen, Austria, semua itu hanyalah dongeng dari negeri yang sangat jauh.
Di tepi Danau Hallstatt yang airnya sebening kristal, sebuah toko bunga kecil bernama "Lili’s Garden" berdiri dengan anggun. Aroma mawar liar, lavender, dan tanah basah selalu menyambut siapa pun yang melintasi pintunya. Pemiliknya adalah seorang wanita Asia yang dikenal penduduk lokal sebagai Lea. Ia selalu mengenakan gaun linen longgar, rambut sebahu yang dibiarkan alami, dan senyum yang jauh lebih tulus daripada senyum mana pun yang pernah ia tunjukkan di Jakarta dulu.
Kalea—atau Lea—kini benar-benar bebas. Tidak ada lagi paspor palsu, tidak ada lagi pelarian tengah malam. Dengan bantuan jaringan rahasia jurnalis yang ia bangun selama di London (sebelum ia benar-benar menghilang ke Austria), ia berhasil mendapatkan status legal yang bersih. Ia tinggal di sebuah rumah kayu dua lantai yang menghadap langsung ke pegunungan salju.
"Mama! Liat! Bunga lili-nya sudah bangun!"
Suara cempreng seorang bocah laki-laki berusia dua setengah tahun memecah kesunyian pagi. Bocah itu berlari kecil dengan kaki gempalnya, menuju ke arah Kalea yang sedang memotong tangkai bunga matahari. Wajahnya adalah perpaduan yang sangat membingungkan; ia memiliki mata cokelat madu milik Kalea, namun garis rahang yang tegas dan tatapan intens itu... tak pelak lagi adalah warisan dari Liam Jionel.
Leo. Itu nama yang Kalea berikan. Sebuah nama yang berarti singa, namun bagi Kalea, Leo adalah matahari kecilnya.
"Iya, Sayang. Lili-nya sudah mekar karena Leo rajin kasih air," ucap Kalea sambil menggendong putranya, mencium pipinya yang kemerahan karena udara dingin pegunungan.
Di Hallstatt, tidak ada yang tahu siapa ayah Leo. Penduduk desa hanya tahu Lea adalah seorang janda muda dari Asia yang sangat mandiri. Kalea telah berhasil menghapus jejaknya dengan sangat rapi. Ia tidak pernah menggunakan media sosial, ia hanya bertukar surat fisik dengan Surya lewat alamat perantara di Swiss, dan ia tidak pernah sekalipun mencari nama "Liam Jionel" di internet.
Siang itu, Surya datang berkunjung. Ayahnya kini sudah menetap di sebuah kota kecil di perbatasan Jerman-Austria agar bisa sering menjenguk cucunya. Mereka duduk di dermaga kayu pribadi di depan toko bunga, menyesap cokelat panas sementara Leo asyik memberi makan angsa di pinggir danau.
"Dia sudah bebas bulan depan, Kal," ucap Surya pelan, matanya menatap riak air danau yang tenang.
Kalea terdiam sejenak. Jantungnya sempat berdesir, namun tidak ada lagi ketakutan yang melumpuhkan seperti dulu. Ia sudah bukan lagi gadis rapuh yang bisa dibeli dengan satu miliar. "Biar saja, Yah. Jarak antara Hallstatt dan Jakarta bukan cuma soal kilometer, tapi soal nyawa yang berbeda. Dia tidak akan pernah menemukan kita di sini."
"Kamu yakin, Kal? Aris masih mencarimu. Kenzo bilang Liam menghabiskan jutaan dolar hanya untuk menyewa detektif internasional guna menyisir seluruh Eropa Timur," Surya memperingatkan.
Kalea tersenyum tipis, menatap Leo yang tertawa riang. "Dia mencari 'Kasia Nowak' di Polandia, atau 'Elena Kalila' di London. Dia tidak mencari 'Lea' si tukang bunga di desa terpencil Austria. Aku sudah mengubur masa lalu itu dalam-dalam, Yah. Sekarang, aku hanya ingin Leo tumbuh tanpa tahu bahwa ayahnya adalah seorang monster."
Sementara itu, di Jakarta, di sebuah gedung pencakar langit yang baru saja selesai direnovasi, seorang pria berdiri di depan jendela kaca raksasa. Liam Jionel. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, tampak lebih matang dengan beberapa helai rambut putih di pelipisnya—tanda stres selama masa tahanan.
Ia baru saja keluar dari penjara dua minggu lebih awal karena remisi khusus. Namun, bukannya merayakan kebebasannya dengan pesta mewah, Liam justru berdiri menatap peta besar yang dipenuhi coretan merah di dinding ruang kerjanya.
"Tiga tahun, Aris. Tiga tahun dia membodohiku," suara Liam rendah, lebih dingin dari es di puncak Alpen.
Aris berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk. "Kami sudah menyisir Krakow, Warsawa, bahkan sampai ke Praha, Tuan. Jejaknya hilang total di sebuah stasiun kereta kecil di perbatasan Jerman."
Liam memutar kursinya, menatap sebuah foto buram yang diambil oleh kamera CCTV tiga tahun lalu di London. Foto Kalea yang sedang mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Dia punya anakku, Aris. Seorang pewaris Jionel tumbuh di suatu tempat yang tidak bisa kujangkau. Itu penghinaan terbesar bagiku," Liam mengepalkan tangannya. "Tapi aku tahu Kalea. Dia mencintai alam. Dia membenci keramaian. Dia akan mencari tempat yang sunyi untuk bersembunyi."
Liam berjalan menuju peta, jarinya berhenti di sebuah area pegunungan di Eropa Tengah. "Perkecil pencarian. Cari semua toko bunga, toko buku, atau galeri seni yang dimiliki oleh wanita tunggal asal Asia di desa-desa wisata pegunungan. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Jika aku harus mendatangi setiap rumah di Alpen, aku akan melakukannya."
Kembali ke Hallstatt, sore itu matahari mulai tenggelam di balik gunung, memberikan warna keunguan yang magis pada permukaan danau. Kalea menutup toko bunganya, menggandeng tangan kecil Leo untuk pulang ke rumah mereka.
"Mama, nanti malam kita baca buku tentang naga lagi ya?" tanya Leo manja.
"Tentu, Sayang. Tapi naganya yang baik ya, bukan naga yang suka gigit," jawab Kalea sambil tertawa.
Saat mereka berjalan menyusuri jalanan setapak yang berbatu, seorang turis pria dengan jaket musim dingin abu-abu tampak sedang memotret pemandangan danau. Pria itu sempat melirik ke arah Kalea dan Leo, lalu tertegun sejenak sebelum kembali memfokuskan kameranya.
Kalea merasakannya. Sebuah insting lama yang sempat mati kini mendadak bangkit. Ia mempercepat langkahnya, menarik Leo lebih dekat. Ia tidak menoleh ke belakang, namun bulu kuduknya meremang.
Sesampainya di rumah, Kalea segera mengunci pintu dan menutup gorden. Ia mengatur napasnya yang memburu. Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya mencoba menenangkan diri. Sudah tiga tahun. Kamu sudah aman, Kalea.
Ia menatap foto ibunya, Elena, yang ia letakkan di atas perapian. "Aku sudah menjaganya, Bu. Dia tumbuh dengan sehat dan bahagia."
Namun, di bawah cahaya lampu jalanan Hallstatt, pria berjaket abu-abu itu tidak pergi. Ia duduk di sebuah bangku taman, membuka laptopnya, dan mengirimkan sebuah email dengan subjek: "Target Terkonfirmasi. Koordinat: Hallstatt, Austria."
Di Jakarta, ponsel Liam Jionel bergetar di atas meja kerja mahoganinya. Liam membuka email tersebut, melihat foto seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak laki-laki di depan toko bunga.
Air mata jatuh dari mata Liam yang biasanya tak tersentuh—bukan air mata sedih, tapi air mata kemenangan yang mengerikan. Ia menyentuh wajah bocah di layar itu. "Mata itu... dia bener-bener anakku."
Liam berdiri, mengambil paspornya dari laci. "Siapkan jet pribadi, Aris. Kita berangkat ke Austria malam ini. Dan kali ini... jangan bawa senjata. Bawa sebuah cincin lili putih. Aku ingin menjemput 'istriku' pulang dengan cara yang paling terhormat."
Badai kedamaian di Hallstatt baru saja akan berakhir. Sang predator sudah menemukan koordinat rumah barunya, dan kali ini, ia tidak datang untuk menculik, melainkan untuk mengklaim kembali takhta yang menurutnya telah lama kosong. beb_