NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Malam hari.

Kamar Quinn cukup terang dengan lampu meja menyala.

Ia duduk bersila di atas kasur sambil memegang ponsel di telinganya.

Wajahnya sudah terlihat kesal dari lima menit yang lalu.

Di seberang telepon terdengar suara sahabatnya.

Finka.

“Ya ampun Quinn, santai dikit kek—”

Quinn langsung memotong dengan nada tinggi.

“SANTAI KATA LO?!”

Ia menepuk kasur kesal.

“Lo tau nggak sih hari ini Darren muncul di sekolah gue?!”

Finka tertawa kecil.

“Hehe… tau.”

Quinn langsung menegang.

“JADI EMANG LO YANG KASIH TAU?!”

Finka buru-buru membela diri.

“Ya gimana dong!”

Quinn mendengus.

“GIMANA APANYA?!”

Finka mulai menjelaskan dengan nada memelas.

“Gue kasian sama Darren, Quinn!”

Quinn memutar mata.

“Kasian pala lo.”

Finka tidak peduli.

“Dia mohon-mohon banget mau tahu lo di mana.”

Quinn mencibir.

“Drama.”

Finka melanjutkan.

“Dia bahkan sampe kehujanan di depan rumah gue!”

Quinn terdiam sebentar.

“Hah?”

Finka makin dramatis.

“Iya! Dari sore sampe malem!”

Quinn masih tidak percaya.

“Terus?”

Finka menjawab santai.

“Terus dia pingsan.”

Quinn langsung menegakkan badan.

“APA?!”

Finka mengangguk walau Quinn tidak bisa melihatnya.

“Iya, pingsan di depan pagar rumah gue.”

Quinn menghela napas kesal.

“Hallah… alesan aja lo.”

Finka protes.

“Serius, woy!”

Quinn tetap kesal.

“Ya terus kenapa harus kasih tau dia gue pindah ke Jakarta?!”

Finka menjawab cepat.

“Karena dia nangis!”

Quinn langsung membeku.

“….”

Finka menambahkan.

“Nangis beneran.”

Quinn langsung menutup wajah dengan tangan.

“Astaga…”

Finka melanjutkan dengan nada memelas.

“Gue nggak tega, say.”

Quinn langsung mengangkat kepala lagi.

“JANGAN PANGGIL GUE SAY.”

Finka tertawa kecil.

“Maaf.”

Quinn kembali ngomel.

“Finka lo tuh ya! Gue pindah jauh-jauh juga salah satunya karena pengen jauh dari drama itu!”

Finka mencoba membela diri.

“Ya gue pikir kalian bisa balikan—”

Quinn langsung memotong.

“NGGAK MAU!”

Ia mengacak rambutnya sendiri kesal.

“Dia selingkuh, Fin!”

Finka terdiam sebentar.

“Iya sih…”

Quinn menggerutu.

“Terus lo malah jadi agen informasi dia!”

Finka terkekeh kecil.

“Kayak intel ya.”

Quinn hampir meledak lagi.

“FINKA!”

“OKE OKE SORRY!”

Finka langsung menyerah.

“Gue salah.”

Quinn masih menggerutu.

“Ya jelas salah.”

Finka menghela napas.

“Maafin gue dong.”

Quinn diam.

Finka melanjutkan dengan nada manja.

“Quinn…”

“…”

“Say…”

Quinn langsung mendesis.

“Gue tutup nih telepon.”

Finka cepat-cepat berkata.

“OKE. MAAF BENERAN!”

Quinn mendengus.

“…”

Finka melanjutkan.

“Gue janji nggak bakal kasih tau info lo ke siapa-siapa lagi.”

Quinn masih diam.

Finka mencoba lagi.

“Quinn… please.”

Beberapa detik hening.

Akhirnya Quinn menghela napas panjang.

“Ya udah.”

Finka langsung lega.

“YEEEEY!”

Quinn menunjuk ponselnya walau tidak terlihat.

“Tapi kalau Darren tiba-tiba muncul lagi gara-gara lo—”

Finka cepat menjawab.

“Gue pura-pura nggak kenal dia.”

Quinn tertawa kecil.

“Bagus.”

Finka terkekeh.

“Jadi kita masih bestie?”

Quinn menjawab malas.

“Hm.”

Finka lega.

“Alhamdulillah.” katanya lebay.

Quinn melirik jam.

“Udah ya. Gue mau tidur.”

Finka langsung bercanda.

“Titip salam buat cowok Jakarta.”

Quinn mengerutkan dahi.

“Cowok apa?”

Finka menyeringai.

“Yang namanya Ryuga itu.”

Quinn langsung memerah.

“GUE TUTUP!”

“HAHAHA—”

TUT.

Telepon terputus.

Quinn melempar ponselnya ke kasur.

“Dasar barbar.” katanya lupa ngaca.

Ia berbaring sambil menatap langit-langit.

Namun baru beberapa detik—

DRRRT.

Ponselnya bergetar lagi.

Quinn mengerang.

“Aduh siapa lagi sih…”

Ia mengambil ponselnya.

Di layar tertulis:

Vexa Calling...

Quinn langsung mengangkat.

“Apa?”

Di seberang, Vexa terdengar sangat semangat.

“Quinn! Keluar yuk!”

Quinn mengerutkan dahi.

“Keluar ke mana?”

Vexa menjawab excited.

“Nonton balapan.”

Quinn langsung duduk.

“Balapan?”

“Iya!”

Quinn menggeleng.

“Ogah.”

Vexa langsung protes.

“Kenapa?! Seru tau!”

Quinn menjawab datar.

“Males.”

Vexa masih membujuk.

“Ayolah!”

Quinn tetap keras.

“Enggak.”

Vexa terdiam sebentar.

Lalu berkata santai.

“Oh ya udah.”

Quinn mengangguk.

“Nah gitu.”

Vexa menambahkan pelan.

“Padahal Ryuga ikut tanding.”

Quinn langsung membeku.

“….”

Dua detik hening.

Quinn mengerutkan dahi.

“Ryuga?”

Vexa tersenyum di seberang telepon.

“Iya.”

Quinn duduk lebih tegak.

“Balapan motor?”

“Yup.”

Quinn tiba-tiba merasa tidak nyaman.

“Balapan liar?”

Vexa tertawa kecil.

“Ya iya lah. Masak balapan bekicot.”

Quinn menggigit bibirnya sedikit.

“Dia sering ikut?”

Vexa menjawab santai.

“Lumayan. Dia kan King Racing.”

Quinn terdiam.

Entah kenapa ia langsung membayangkan sesuatu yang buruk.

Jalan gelap.

Motor ngebut.

Kecelakaan.

Quinn langsung menggeleng.

“Bahaya banget…”

Vexa menangkap nada khawatir itu.

Ia langsung menyeringai.

“Lo khawatir ya?”

Quinn cepat membela diri.

“Nggak.”

Vexa tertawa.

“Bohong.”

Quinn mendengus.

“Gue cuma—”

Ia berhenti.

“Ya pokoknya bahaya.”

Vexa santai.

“Makanya ikut nonton.”

Quinn masih ragu.

“…”

Vexa melanjutkan.

“Siapa tau dia kenapa-kenapa.”

Quinn langsung melotot ke ponsel.

“JANGAN NGOMONG GITU!”

Vexa tertawa keras.

“NAH KAN!”

Quinn menggerutu.

“Isssh.”

Vexa kembali membujuk.

“Ayo lah.”

Quinn berpikir beberapa detik.

Akhirnya ia menghela napas.

“…ya udah.”

Vexa langsung teriak.

“YES!”

Quinn menunjuk ponselnya seolah Vexa bisa melihat.

“Tapi cuma nonton.”

Vexa tertawa.

“Iya iya.”

Quinn bangkit dari kasur.

“Lo jemput?”

Vexa menjawab cepat.

“10 menit.”

Quinn mendengus.

“Cepet amat.”

Vexa tertawa.

“Gue udah di jalan.”

Quinn melotot.

“APA?!”

“BYE!”

TUT.

Telepon terputus.

Quinn menatap ponselnya.

“Gila.”

Ia lalu berdiri dan mengambil jaket.

Sambil berjalan ke lemari ia bergumam pelan.

“…semoga dia nggak kenapa-napa.”

Beberapa detik kemudian Quinn langsung berhenti.

Ia memukul pelan kepalanya sendiri.

“Apaan sih.”

Quinn mendengus.

“Kenapa juga gue khawatir.”

...----------------...

Malam itu pinggiran kota berubah jadi arena balap liar.

Lampu-lampu motor menyala terang.

Deru mesin terdengar bersahut-sahutan.

BRROOOOM—!

Bau bensin dan asap knalpot memenuhi udara.

Ratusan orang berdiri di sepanjang jalan yang dijadikan trek dadakan.

Ada yang duduk di kap mobil, ada yang berdiri sambil membawa minuman, ada juga yang sibuk merekam dengan ponsel.

Di tengah kerumunan itu—

Quinn berdiri bersama Vexa.

Quinn memakai jaket hitam oversized dengan rambut panjangnya tergerai.

Penampilannya langsung menarik perhatian.

Beberapa cowok bahkan terang-terangan melirik.

“Buset…”

“Cewek siapa tuh?”

“Cantik banget.”

Quinn mendengar itu semua.

Tapi ia mengabaikannya.

Matanya justru jelalatan mencari seseorang.

RYUGA.

“Mana sih…”

Vexa yang berdiri di sampingnya malah lebih heboh.

“QUINN!”

Quinn melirik.

“Apa?”

Vexa menunjuk ke arah kerumunan biker.

“LIAT!”

Quinn mengikuti arah jarinya.

Di dekat garis start berdiri beberapa pria dengan motor besar.

Salah satunya adalah Ryuga.

Ia berdiri santai di samping motor sport hitamnya.

Helm ada di tangannya.

Di sampingnya ada tiga orang lain.

Zayden bersandar di motor sambil memainkan korek api.

Keano tertawa keras sambil menepuk bahu seseorang.

Sementara Elric berdiri dengan ekspresi dingin seperti patung.

Vexa langsung menutup mulutnya.

“GILA.”

Quinn mengangkat alis.

“Kenapa?”

Vexa menunjuk mereka satu-satu.

“Yang jaket abu-abu itu ganteng banget.”

“Itu kan Zayden, Xa.” kata Quinn datar.

Vexa langsung menunjuk lagi.

“Astaga... Keano kalau ketawa juga ganteng banget.”

Quinn memutar bola matanya malas.

Vexa hampir pingsan.

“Yang paling dingin itu juga ganteng banget, Quinn!”

“Elric maksud lo?”

Vexa mengangguk cepat, lalu memegang kepala Quinn.

“KENAPA TEMEN RYUGA SEMUANYA GANTENG?!”

Quinn tertawa kecil.

“Lo ke sini buat nonton balapan apa casting boyband?”

Vexa menyeringai.

“Dua-duanya.”

Quinn memutar mata.

Vexa tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.

“Gue harus dokumentasiin ini.”

Quinn mengerutkan dahi.

“Dokumentasi?”

Vexa mulai berjalan mundur.

“Momen langka!”

Quinn memanggil.

“Xa—”

Namun Vexa sudah pergi sambil berkata cepat.

“GUE VIDEOIN MEREKA!”

Quinn menghela napas.

“Dasar.”

Sekarang ia berdiri sendirian.

Ia kembali melirik ke arah Ryuga.

Namun saat itu—

Seseorang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

“Nih.”

Quinn menoleh.

Seorang pria tinggi dengan jaket hitam memegang botol minuman.

Itu Kael.

Quinn sedikit terkejut.

“Eh…”

Matanya melebar.

“Lo?”

Kael tersenyum miring.

“Hm.”

Quinn melirik botol minuman itu.

“Tapi gue nggak haus.”

Kael mengangkat bahu santai.

“Gue tahu.”

Ia tetap mengulurkan botol itu.

“Anggap aja ini ucapan terima kasih gue buat yang waktu itu.”

Quinn langsung ingat kejadian sebelumnya.

Saat ia tanpa sengaja menolong Kael.

Quinn terlihat ragu.

Ia menatap Kael beberapa detik.

Kael berkata santai.

“Tenang. Bukan racun.”

Quinn tertawa kecil.

“Gue juga nggak mikir gitu.”

Akhirnya ia menerima botol itu.

“Thanks.”

Kael tersenyum tipis.

Mereka berdiri sebentar dalam suasana agak canggung.

Kael akhirnya membuka percakapan.

“Lo sering ke tempat kayak gini?”

Quinn menggeleng.

“Ini pertama kali.”

Kael mengangkat alis.

“Serius?”

Quinn mengangguk.

“Gue diajak temen.”

Kael melirik sekitar.

“Temen lo yang mana?”

Quinn menunjuk kerumunan.

“Yang lagi sibuk jadi paparazzi.”

Kael melihat Vexa yang sedang memvideokan para pembalap dengan penuh semangat.

Kael terkekeh pelan.

“Menarik.”

Quinn tersenyum kecil.

Kael bertanya lagi.

“Jadi lo datang buat nonton siapa?”

Quinn langsung menjawab tanpa berpikir.

“Ryuga.”

Lalu ia baru sadar apa yang ia katakan.

Quinn cepat menambahkan.

“Eh! Maksud gue… temen-temen dari sekolah gue.”

Kael memperhatikan reaksinya.

Senyumnya sedikit berubah.

“Oh.”

Quinn mengalihkan topik.

“Lo sendiri?”

Kael menjawab santai.

“Gue juga balapan.”

Quinn melirik motornya.

“Serius?”

Kael mengangguk.

Quinn tertawa kecil.

“Kenapa semua cowok di sini hobinya nyari masalah sih?”

Kael terkekeh.

“Adrenalin.”

Quinn memutar mata.

“Alasan klasik.”

Kael menatapnya sebentar.

“Lo beda.”

Quinn mengangkat alis.

“Maksudnya?”

Kael menjawab jujur.

“Kebanyakan cewek takut ke tempat kayak gini.”

Quinn mengangkat bahu.

“Gue lebih takut tikus daripada motor.”

Kael tertawa.

“Serius?”

Quinn mengangguk.

“Trauma.”

Kael masih tertawa kecil.

Percakapan mereka mulai mengalir lebih santai.

Kael bahkan melempar candaan receh.

“Kalau motor gue jatuh, lo bakal nolong juga?”

Quinn menjawab cepat.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung lo ganteng atau nggak.”

Kael tertawa keras.

“Sadis.”

Quinn ikut tertawa.

Ia juga tidak menyangka.

Cowok yang kelihatannya dingin seperti Kael ternyata bisa bercanda.

Namun di sisi lain—

Dari jauh—

Ryuga baru saja memakai sarung tangannya.

Ia menoleh ke arah kerumunan.

Lalu melihat sesuatu.

Matanya langsung menyempit.

Di sana—

Quinn sedang tertawa.

Bersama Kael.

Rahang Ryuga langsung mengeras.

Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Zayden yang berdiri di dekatnya langsung sadar.

“Eh! Kenapa, Ga?”

Ryuga diam tak menjawab, membuat Zayden mengikuti arah pandangnya.

Zayden tersenyum miring.

“Waaah.... Kayaknya balapan malam ini bakal seru nih.”

Keano ikut melihat.

“Loh itu Quinn kan?”

Elric tetap diam tapi matanya juga menoleh.

Zayden menepuk bahu Ryuga.

“Cewek incaran lo lagi ngobrol sama musuh lo tuh.”

Ryuga melirik dingin.

“Berisik.”

Namun tangannya masih mengepal.

Matanya tajam menatap Kael.

Sementara itu—

Di rumah Quinn.

Darren berdiri di depan pintu rumah besar itu.

Ia mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Seorang wanita elegan muncul.

Itu Selena, ibu Quinn.

Selena terlihat terkejut.

“Eh… Darren?”

Darren langsung tersenyum sopan.

Ia menyalami Selena.

“Selamat malam, Tante.”

Lalu menyalami pria yang berdiri di belakangnya.

“Om.”

Itu Armand, ayah Quinn.

Armand mengangguk.

“Ren.”

Selena tersenyum.

“Kapan datang?”

Darren menjawab sopan.

“Aku baru sampai siang tadi, Tante.”

Selena mengangguk.

“Ada apa, Ren?”

Darren terlihat sedikit gugup.

“Emm…”

Ia menoleh ke dalam rumah.

“Quinn ada, Tante?”

Selena terlihat menyesal.

“Aduh… maaf ya.”

Darren langsung tegang.

“Kenapa, Tante?”

Selena menjawab lembut.

“Anak Tante baru aja keluar sama temannya.”

Darren langsung panik.

“Hah?!”

Selena sedikit heran.

“Kenapa?”

Darren cepat bertanya.

“Siapa, Tante?”

Nada suaranya agak tegang.

Ia takut Quinn pergi dengan cowok.

Selena menjawab santai.

“Vexa, teman sekolahnya.”

Darren langsung mengangguk lega. “Oh… Syukurlah...”

Selena tersenyum melihatnya.

Lalu Darren bertanya lagi.

“Kira-kira mereka ke mana ya, Tante?”

Selena menggeleng.

“Kalau itu Tante nggak tahu, Ren.”

Armand ikut bicara.

“Anak muda kalau keluar malam kadang susah ditebak.”

Darren tertawa kecil.

“Iya juga sih, Om.”

Ia akhirnya mundur sedikit.

“Kalau gitu aku pamit dulu ya, Tante… Om.”

Selena tersenyum.

“Hati-hati di jalan ya.”

Armand mengangguk.

“Salam buat orang tuamu.”

Darren mengangguk.

“Pasti, Om.”

Ia berbalik dan berjalan pergi.

Namun wajahnya tidak tenang.

Di dalam pikirannya hanya ada satu hal.

Quinn lagi di mana sekarang…?

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!