NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Tak Ingin Waktu Cepat Berlalu

Di kantor, Samudra baru saja menyelesaikan rapat panjang yang melelahkan. Namun alih-alih mendapat jeda, ia langsung disambut tumpukan berkas yang seolah tak ada habisnya. Map-map tebal memenuhi meja kerjanya, sebagian sudah terbuka, sebagian masih menunggu disentuh.

Ia duduk tegak di kursinya, mata tajam menelusuri baris demi baris tulisan. Tangannya sesekali bergerak memberi tanda paraf, lalu berpindah ke halaman berikutnya tanpa ragu. Bagi orang lain, pekerjaan sebanyak itu mungkin terasa menyesakkan. Tapi bagi Samudra, kesibukan justru seperti benteng tempat ia bersembunyi dari hal-hal yang tak ingin ia pikirkan.

Tok… tok… tok.

Ketukan pelan di pintu membuat matanya terangkat sebentar.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan masuk dengan map di tangannya. Ia adalah Sania, sekretaris Samudra.

“Ada apa?” tanya Samudra datar, tanpa basa-basi.

“Ini, Pak. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani hari ini,” jawab Sania sopan.

Samudra hanya mengangguk tipis. “Taruh di situ saja,” ujarnya sambil menunjuk sisi meja, tatapannya tetap kembali pada dokumen yang sedang ia baca.

Sania menurut. Ia melangkah mendekat, meletakkan map-map itu dengan rapi di tempat yang ditunjuk.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak.”

Samudra kembali mengangguk singkat, bahkan tanpa menoleh.

Sania keluar dengan langkah tenang, menutup pintu pelan di belakangnya.

Perempuan itu memang bukan sekretaris biasa. Ia adalah pilihan langsung dari ayah Samudra mantan pimpinan perusahaan sebelum kursi itu diwariskan pada putranya. Dulu Sania hanyalah staf administrasi biasa. Tapi ketelitian, kecepatan kerja, dan sikap profesionalnya membuat ia menonjol di antara karyawan lain. Hingga akhirnya ia dipromosikan menjadi sekretaris pribadi Samudra.

Dan sejak saat itu, ia hampir tak pernah melakukan kesalahan.

Di dalam ruangan, Samudra meraih map baru yang tadi dibawa Sania. Ia membukanya cepat, matanya bergerak membaca isi dokumen dengan fokus penuh. Tangannya sudah siap memegang pena ketika...

ting.

Suara notifikasi ponsel.

Gerakannya berhenti.

Matanya melirik layar ponsel yang tergeletak di samping laptop.

Nama pengirimnya muncul.

Samira.

Jari Samudra terdiam di udara beberapa detik.

Pesannya singkat.

"Mas, aku izin pergi ke mall sama Mama dan Binar, ya."

Ia membaca sekali.

Lalu dua kali.

Lalu menatap layar itu tanpa ekspresi. Tak ada kata-kata panjang. Tak ada penjelasan berlebihan. Bahkan kalimat itu lebih terdengar seperti laporan daripada permintaan.

Perempuan itu selalu memberi kabar.

Selalu.

Bahkan untuk hal kecil yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui.

Samudra menarik napas pelan.

Tangannya bergerak mengetik.

Hanya satu kata.

"Boleh."

Ia menekan kirim.

Layar kembali gelap.

Samudra meletakkan ponselnya seperti tak terjadi apa-apa, lalu kembali menunduk pada berkas di depannya. Pena kembali bergerak, tanda tangan tercetak rapi di sudut halaman.

Namun konsentrasinya tidak sepenuhnya sama lagi.

Tanpa sadar, pikirannya melayang sebentar.

Ke pagi tadi.

Ke meja makan.

Ke suara lembut Samira.

Ke cara perempuan itu menunduk saat bicara padanya.

Samudra berhenti menulis.

Rahangnya mengeras sedikit.

Ia menutup map di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

Sunyi.

Ruangan itu mendadak terasa terlalu tenang.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia meraih ponselnya lagi. Layarnya dibuka.

Percakapan dengan Samira masih terbuka di sana.

Pesan terakhir tetap sama.

"Boleh."

Hanya satu kata.

Terlalu singkat.

Terlalu dingin.

Jempolnya bergerak, seolah ingin mengetik sesuatu lagi.

Namun berhenti di tengah jalan.

Samudra menatap layar itu lama.

Lalu, perlahan… ia mengunci kembali ponselnya.

Ia tidak menambah pesan apa pun.

Karena ia sendiri tidak tahu harus menulis apa.

•••••

Di luar ruangan, Sania berdiri di mejanya sambil memeriksa jadwal. Ia mencatat beberapa agenda siang hari ketika seorang rekan kerja mendekat.

“Pak Samudra lagi sibuk?” bisiknya.

Sania mengangguk kecil. “Seperti biasa.”

“Serem ya kalau lagi kerja,” celetuk rekannya pelan.

Sania tersenyum tipis. “Beliau bukan serem. Cuma memang tampangnya seperti itu.”

“Bedanya tipis.”

Sania tidak membalas. Ia hanya menutup buku jadwalnya pelan.

Karena sebenarnya… ia tahu satu hal yang tidak diketahui banyak orang.

Bosnya itu memang terlihat dingin.

Tapi bukan berarti tidak punya perasaan.

Ia hanya… menyimpannya terlalu dalam.

Dan mungkin... bahkan dirinya sendiri belum berani membukanya.

•••••

Di dalam mall, Samira, Sinta, dan Binar tengah asyik menghabiskan waktu di area playground. Suara tawa anak-anak bercampur dengan musik ceria yang mengalun pelan dari pengeras suara, menciptakan suasana hangat dan hidup.

Samira berdiri di luar pagar pembatas, kedua tangannya bertumpu ringan pada besi kecil itu. Senyumnya tak pernah lepas sejak tadi. Matanya mengikuti setiap gerakan putrinya yang berlari kecil dari satu permainan ke permainan lain.

Binar tampak begitu bahagia.

Pipi kecilnya memerah karena terlalu banyak tertawa. Rambut kuncir duanya sedikit berantakan, pita di sisi kiri bahkan mulai miring. Tapi justru di situlah letak lucunya.

Tanpa suara, Samira mengeluarkan ponselnya.

Ia mengangkatnya pelan.

Klik.

Ia memotret saat Binar meluncur dari perosotan warna-warni.

Klik.

Ia memotret saat Sinta ikut masuk ke dalam arena bola, duduk di sana sambil pura-pura tenggelam dan membuat Binar tertawa keras.

Klik.

Ia memotret saat putrinya memeluk neneknya dari belakang.

Samira menurunkan ponselnya perlahan.

Dadanya terasa hangat.

Momen-momen kecil seperti ini selalu ingin ia simpan seolah takut waktu akan berlalu terlalu cepat dan ia tak sempat mengingatnya lagi nanti.

Di dalam arena, Sinta menoleh.

“Nak!” panggilnya.

“Iya, Mah?”

“Kamu foto-foto terus. Ikut sini sekalian main!”

Samira tertawa kecil sambil menggeleng. “Nggak apa-apa, Mah. Samira di sini aja.”

“Ah, nggak seru. Masa yang main cuma Oma sama cucu,” protes Sinta.

Binar langsung ikut menoleh. “Mamaaa! Siniii!”

Samira menunjuk dirinya sendiri, pura-pura kaget. “Mama?”

“Iyaa! Mama harus ikut!” seru Binar sambil melompat-lompat.

Samira ragu sebentar. Ia melirik sekeliling, lalu menatap sepatu yang ia pakai seolah mencari alasan.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

Sinta berdiri, berjalan mendekat ke pagar, lalu meraih tangannya.

“Ayo,” katanya lembut tapi tegas. “Sekali-sekali kamu jadi anak kecil lagi.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa… tepat mengenai sesuatu di hati Samira.

Ia menatap tangan mertuanya yang menggenggam tangannya.

Hangat. Meyakinkan. Tanpa tekanan.

Perlahan, sudut bibir Samira terangkat.

“Iya, Mah,” ucapnya pelan.

Ia membuka sandal, lalu masuk ke dalam arena.

Begitu kakinya menginjak lantai empuk playground, Binar langsung berlari memeluknya.

“Mamaa ikut main!” serunya girang.

Samira tertawa, lalu memeluk balik anaknya.

“Iya, Mama ikut.”

•••••

Beberapa saat kemudian, waktu bermain mereka akhirnya selesai. Napas Binar terdengar sedikit terengah, pipinya memerah, dan butir-butir keringat kecil tampak mengilap di dahinya setelah hampir seharian berlarian ke sana kemari.

Samira langsung berjongkok di depannya. Dengan lembut ia mengeluarkan saputangan kecil dari tas, lalu mengusap keringat di dahi anaknya pelan.

“Capek, sayang?” tanyanya lembut.

Binar menggeleng cepat, meski napasnya masih naik turun. “Enggak… masih kuat!”

Sinta terkekeh melihat itu. “Masih kuat katanya. Tapi keringatnya udah kayak habis lomba lari.”

Binar nyengir lebar.

Sinta lalu menepuk tangan pelan. “Yuk, kita cari makan. Dari tadi kita main terus.”

Samira mengangguk setuju. “Iya juga, Mah. Binar pasti lapar.”

“Aku mau makan ayam!” seru Binar cepat, seolah sudah menunggu kesempatan itu sejak tadi.

Sinta menaikkan alis. “Ayam lagi? Kemarin ayam, tadi ayam, sekarang ayam.”

“Hehe…” Binar tertawa malu sambil memeluk lengan neneknya.

Samira tersenyum. “Ya sudah, kita cari tempat makan yang ada ayamnya, ya.”

“Horeee!” Binar melonjak kecil.

Mereka pun berjalan keluar dari area playground. Samira menggandeng tangan Binar, sementara Sinta berjalan di sisi lainnya. Langkah mereka santai, tanpa terburu-buru, menikmati suasana mall yang ramai oleh pengunjung siang itu.

Saat melewati etalase toko mainan, langkah Binar melambat.

Matanya langsung terpaku pada sebuah boneka besar berwarna pastel yang dipajang di balik kaca.

Ia berhenti.

“Mama…” panggilnya pelan.

Samira ikut berhenti. “Kenapa?”

Binar menunjuk pelan ke arah boneka itu. “Lucuuu…”

Sinta melirik sekilas, lalu tersenyum tipis melihat ekspresi cucunya yang sudah seperti anak kucing menemukan gulungan benang.

“Kamu suka?” tanya Sinta.

Binar mengangguk cepat. “Suka banget…”

Samira menatap boneka itu, lalu menatap anaknya. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tak mau, tapi karena ia sudah hafal kebiasaan Binar—kalau melihat sesuatu yang lucu, pasti langsung jatuh hati.

Sinta mencondongkan badan sedikit ke arah Samira dan berbisik pelan, “Mama beliin ya?”

Samira spontan menggeleng kecil. “Nggak usah, Mah. Nanti aja. Binar masih punya banyak boneka di rumah.”

Sinta tersenyum mengerti. Ia tak memaksa.

Lalu ia menepuk bahu Binar pelan. “Boneka itu tetap di situ kok. Dia nggak ke mana-mana. Sekarang kita isi perut dulu, nanti kalau masih kepikiran… kita lihat lagi, ya.”

Binar berpikir sebentar.

Lalu mengangguk.

“Oke.”

Samira tersenyum bangga. Ia mengusap rambut anaknya pelan. “Anak Mama pintar.”

Mereka kembali berjalan.

Tak lama, aroma makanan mulai tercium dari area food court. Suara piring beradu, percakapan orang-orang, dan wangi aneka masakan bercampur jadi satu.

Perut Binar langsung berbunyi kecil.

Sinta tertawa. “Nah, itu tandanya udah waktunya makan beneran.”

Binar menutup perutnya dengan tangan, malu. “Perut Bibi ngomong…”

Samira ikut tertawa. “Dia bilang: kasih aku ayam.”

“Iyaaa!” Binar mengangguk semangat.

Sinta menunjuk deretan restoran. “Putri Oma mau pilih sendiri atau Oma yang pilih?”

Binar menatap kiri kanan dengan serius, seolah sedang menentukan keputusan besar dalam hidupnya.

Beberapa detik kemudian ia menunjuk satu tempat dengan yakin.

“Itu!”

Samira dan Sinta mengikuti arah jarinya.

Dan lagi-lagi mereka saling tersenyum.

Karena hari itu jelas...

Keputusan paling penting di dunia… adalah pilihan makan siang seorang anak kecil yang sedang bahagia.

•••••

Langkah mereka bertiga mulai melambat saat keluar dari lift menuju area parkiran. Lampu-lampu neon memantul di lantai beton yang sedikit lembap, menciptakan bayangan panjang di bawah kaki mereka. Binar yang sudah mengantuk bersandar di bahu Samira, matanya setengah terpejam, sementara Sinta berjalan santai di samping sambil membawa tas belanja.

Namun tiba-tiba—

Bruk.

Tubuh Sinta tanpa sengaja menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan. Tas di tangannya hampir saja jatuh kalau ia tidak sigap menangkapnya kembali.

“Maaf, saya nggak—” ucap Sinta refleks.

Kalimatnya terhenti di tenggorokan.

Orang di depannya juga tampak sama terkejutnya.

Mata mereka bertemu.

Waktu seperti berhenti.

“Tante…?”

Suara itu.

Suara yang sangat ia kenal.

Jantung Sinta berdetak sekali lebih keras.

Udara di parkiran mendadak terasa jauh lebih sunyi.

•••••

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Fina Silaban Tio II
cerita luar biasa
Favmatcha_girl
akhirnya ya🥺
Favmatcha_girl
Betul itu😍
Favmatcha_girl
Biarin😝
Favmatcha_girl
Gak jadi kayaknya mah, anaknya lagi kecintaan🤭
Favmatcha_girl
Tumben amat🤭
Favmatcha_girl
Gampang ya nyuruh² orang😅
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!