seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
*****
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk ke ruang rawat Dita, memantul di atas lantai marmer yang mengilap. Suasana di dalam ruangan itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dinda sedang duduk di tepi ranjang, menyisir rambut Dita yang halus dengan jemarinya, sementara Dika sedang merapikan tas sekolahnya yang sudah lama tidak tersentuh.
"Kak, hari ini Kakak masuk kerja?" tanya Dika sambil menyampirkan tas di bahunya.
Dinda menggeleng pelan. "Enggak, Dik. Kakak dapat cuti beberapa hari ke depan. Pihak pabrik bilang Kakak boleh fokus rawat Dita dulu sampai dia benar-benar stabil. Lagipula, dokter bilang Dita masih harus observasi beberapa hari lagi, belum boleh pulang."
Dika mengangguk paham. Ia merasa sedikit lega mengetahui kakaknya tidak perlu kelelahan di lantai produksi untuk sementara waktu. Namun, tatapannya beralih pada Dita yang sedang menatap jendela dengan pandangan rindu.
"Dika... kamu enak ya, bisa sekolah," gumam Dita pelan. Suaranya masih agak serak, namun binar matanya sudah kembali. "Aku kangen sama temen-temen. Kangen jajan di depan gerbang. Aku benci di sini terus, bau obat."
Mendengar itu, hati Dika serasa diiris. Ia melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang kembarannya. Dengan lembut, ia mengelus puncak kepala Dita.
"Dengar ya, Ta. Kamu fokus saja sama kesembuhanmu. Makan yang banyak, minum obatnya jangan ada yang lewat," bisik Dika dengan nada kakak laki-laki yang protektif. "Aku janji, saat Ujian Nasional nanti, kamu akan ikut. Kalau kamu masih lemas, aku yang akan menggendongmu ke ruang kelas. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal kelas sendirian."
Dita tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. "Beneran, Dik?"
"Iya. Nanti sore atau malam, kalau aku ke sini lagi, aku bawakan buku catatan. Aku bakal rangkum semua pelajaran penting buat kamu pelajari di tempat tidur. Jadi kamu nggak bakal ketinggalan," janji Dika.
Dinda yang memperhatikan interaksi kedua adiknya hanya bisa tersenyum haru. "Ya sudah, Dika. Kamu berangkat sekarang, nanti terlambat. Jangan bolos lagi ya?"
"Iya, Kak. Aku pulang sekolah mau istirahat sebentar di rumah, mungkin agak malam baru ke sini lagi," pamit Dika.
Dinda mengangguk tanpa curiga. Ia tidak tahu bahwa "istirahat di rumah" adalah kode bagi Dika untuk menuju toko Pak Galih dan mulai memeras keringat sebagai kuli angkut demi mengumpulkan uang secara mandiri. Bagi Dika, setiap keringat yang jatuh adalah langkah menuju kemerdekaan dari bantuan Allandra Ryuga.
***
Tak lama setelah Dika pergi, sebuah mobil mewah hitam berhenti di lobi rumah sakit. Allandra Ryuga turun dengan langkah mantap. Namun, ia tidak langsung menuju kamar Dita. Ia berbelok menuju ruang kepala dokter spesialis hematologi yang menangani Dita.
Di dalam ruangan tersebut, Alan duduk dengan sikap yang sangat dominan.
"Katakan secara jujur, apa prosedur terbaik untuk menjamin kesembuhan Anindita?" tanya Alan tanpa basa-basi.
Dokter itu menghela napas, membuka hasil laboratorium terbaru. "Kondisi Nona Anindita membaik secara signifikan berkat obat yang Anda minta, Tuan. Namun, leukemia adalah musuh yang licik. Kemoterapi saja tidak cukup untuk jangka panjang. Prosedur yang paling efektif saat ini adalah transplantasi sumsum tulang belakang."
"Lakukan kalau begitu," perintah Alan singkat.
"Masalahnya adalah mencari donor yang cocok, Tuan. Biasanya saudara kandung adalah kandidat terbaik, namun dalam kondisi Nona Adinda yang juga baru pulih dan Andika yang masih di bawah umur, kita harus mencari donor dari luar. Itu sulit dan sangat mahal."
Alan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "Saya tidak peduli soal biaya. Kerahkan jaringan medis internasional. Cari donor yang paling cocok di seluruh penjuru negeri atau luar negeri sekalipun. Berapapun harganya, saya yang tanggung. Pastikan dia mendapatkan yang terbaik."
"Baik, Tuan. Kami akan segera memasukkan nama Nona Anindita ke dalam daftar prioritas pencarian donor internasional," jawab dokter itu dengan patuh.
***
Setelah menyelesaikan urusan medis, Alan melangkah menuju kamar VVIP. Ia masuk tepat saat Dinda sedang membacakan sebuah buku cerita untuk Dita. Dinda segera berdiri, merasa sedikit kikuk dengan kehadiran pria itu.
"Tuan Alan, selamat pagi," sapa Dinda sopan.
"Pagi. Bagaimana kondisinya hari ini?" Alan mendekat ke ranjang, menatap Dita yang tampak jauh lebih segar.
"Jauh lebih baik, Tuan. Terima kasih atas semuanya," jawab Dinda tulus.
Alan mengangguk, lalu menoleh pada Dinda. "Dinda, saya ingin bicara sebentar dengan Anda. Bisa kita bicara di balkon?"
Dinda mengikuti Alan menuju balkon kamar yang luas dengan pemandangan kota. Alan berbalik, menatap Dinda dengan intensitas yang membuat jantung Dinda berdebar tidak karuan.
"Saya ingin memberikan tawaran," buka Alan. "Saya tidak ingin Anda kembali bekerja di bagian produksi pabrik."
Dinda terkejut. "Maksud Tuan? Apa saya dipecat?"
"Bukan dipecat. Tapi dipindahkan," Alan menyandarkan punggungnya pada pagar balkon. "Saya tahu latar belakang Anda. Saya dengar dari beberapa rekan Anda di pabrik kalau Anda sebenarnya mahasiswa berprestasi sebelum... keadaan memaksa Anda berhenti. Saya butuh seseorang yang cerdas dan berdedikasi seperti Anda di kantor pusat."
Dinda terpaku. "Tapi saya belum menyelesaikan gelar saya, Tuan."
"Itu tidak masalah bagi saya. Saya membutuhkan sekretaris pribadi tambahan untuk mengurus agenda-agenda khusus. Gaji yang saya tawarkan adalah dua kali lipat dari gaji lembur Anda di pabrik. Anda juga tidak perlu lagi bekerja shift malam. Jam kerja Anda akan lebih teratur, jadi Anda punya waktu lebih banyak untuk adik-adik Anda."
Dinda merasa dunianya seolah berputar. Gaji dua kali lipat? Jam kerja teratur? Itu adalah mimpinya selama ini. Dengan uang itu, ia bisa membayar biaya sekolah Dika dengan lebih layak, membeli vitamin untuk Dita, dan mungkin mulai menabung untuk masa depan mereka.
"Kenapa Tuan menawarkan ini pada saya?" tanya Dinda ragu.
"Karena saya menghargai kompetensi, bukan hanya selembar ijazah," bohong Alan lancar. Sebenarnya, ia hanya ingin memastikan Dinda berada di bawah pengawasannya setiap hari. "Pikirkan baik-baik. Ini kesempatan untuk mengubah hidup keluarga Anda."
Dinda menunduk, pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ini adalah jawaban dari doa-doanya. Namun di sisi lain, ia melihat bayangan wajah Dika yang keras kepala. Jika Dika tahu kakaknya bekerja sebagai sekretaris pribadi pria yang sangat ia benci, rumah mereka pasti akan meledak dalam amarah.
"Berapa lama saya punya waktu untuk menjawab, Tuan?"
"Ambil waktu Anda sampai Dita keluar dari rumah sakit," ujar Alan tenang. "Tapi saran saya, jangan biarkan harga diri atau ketakutan menghalangi kesejahteraan adik-adik Anda."
**
Sementara itu, di sebuah sudut kota, Dika tidak sedang berada di dalam kelas. Jam sekolah memang sudah selesai satu jam yang lalu, namun Dika langsung melesat menuju toko Pak Galih. Ia mengganti kemeja putihnya dengan kaos hitam yang ia bawa di tas.
"Sudah datang, Le?" sapa Pak Galih saat melihat Dika terengah-engah.
"Sudah, Pak. Maaf agak telat sepuluh menit," Dika langsung menuju tumpukan karung beras berukuran 50 kilogram.
Tanpa banyak bicara, Dika memanggul satu karung di pundaknya. Beratnya terasa menekan tulang selangkanya, namun ia menggertakkan gigi. Satu karung lagi, Dita bisa makan enak. Satu karung lagi, Kak Dinda bisa istirahat, batinnya.
Dika terus bekerja hingga otot-otot lengannya terasa gemetar. Pak Galih memperhatikannya dari jauh dengan tatapan iba sekaligus kagum. Remaja itu tidak mengeluh sedikit pun meski keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
"Istirahat dulu, Andika. Ini ada air es," Pak Galih menyodorkan segelas air.
Dika meminumnya dengan rakus. "Terima kasih, Pak."
"Kenapa kamu bersikeras cari uang sendiri? Bukannya kakakmu kerja di pabrik besar?" tanya Pak Galih penasaran.
Dika menatap gelas kosong di tangannya. "Aku nggak mau bergantung sama orang lain, Pak. Terutama sama orang-orang kaya yang merasa bisa membeli semuanya. Aku mau membuktikan kalau kami bisa berdiri di atas kaki sendiri."
Pak Galih tersenyum tipis, menepuk bahu Dika. "Terkadang, dunia ini memang tidak adil bagi orang jujur. Tapi ingat, jangan sampai kebencianmu membuatmu buta akan bantuan yang tulus."
Dika hanya diam. Baginya, Allandra Ryuga bukanlah bantuan yang tulus, melainkan ancaman bagi kedamaian keluarganya.
**
Sore harinya, Alan masih berada di rumah sakit, bahkan membawakan beberapa buku pelajaran baru dan tablet untuk Dita agar tidak bosan. Dinda merasa semakin tidak enak dengan semua perhatian ini.
"Tuan Alan, Anda tidak perlu repot-repot seperti ini," ujar Dinda saat mereka duduk di sofa ruang rawat.
"Ini hal kecil," jawab Alan. Ia menatap Dinda yang sedang merapikan selimut Dita. "Apakah Anda sudah memikirkan tawaran saya?"
Dinda menelan ludah. "Jujur, Tuan... saya sangat tergiur. Tapi saya memikirkan Dika. Dia sangat protektif. Dia pasti akan menganggap saya... saya menjual diri atau semacamnya jika bekerja sedekat itu dengan Anda."
Alan menatap Dinda dengan tajam. "Lalu, apakah pendapat seorang remaja yang emosional lebih penting daripada nyawa adiknya yang membutuhkan biaya pengobatan rutin seumur hidup?"
Dinda terdiam. Kata-kata Alan sangat menohok.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Dika muncul di ambang pintu. Tubuhnya tampak sangat lelah, rambutnya acak-acakkan, dan ada noda debu putih di celana sekolahnya. Ia membeku saat melihat Alan masih berada di sana, duduk begitu dekat dengan kakaknya.
"Sedang apa dia di sini lagi?" tanya Dika, suaranya parau dan penuh amarah yang tertahan.
Alan berdiri, menatap Dika dengan tenang. "Saya hanya mengunjungi Dita. Apa ada yang salah, Andika?"
Dika melangkah masuk, mengabaikan Alan dan langsung menuju kakaknya. "Kak, ayo pulang sekarang. Aku nggak mau Dita lama-lama di sini kalau orang ini terus muncul."
"Dika, tenanglah. Dita belum boleh pulang!" cegah Dinda.
***
Bersambung...