Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami yang Terlalu Tenang
Siang itu sebuah restoran keluarga di pusat kota tampak jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Restoran itu terkenal cukup eksklusif, dengan interior kayu hangat, lampu gantung bergaya klasik, dan jendela besar yang menghadap ke jalan utama.
Suasana di dalamnya di penuhi aroma kopi, steak panggang, dan musik jazz pelan yang mengalun dari pengeras suara. Bagi kebanyakan orang, tempat ini cocok untuk makan siang santai atau pertemuan bisnis penting. Namun bagi Alya Prameswari, tempat ini terasa seperti ruang sidang tempat nasib hidupnya akan diputuskan.
Alya duduk di kursi dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas meja. Ia mengenakan blouse baby blue dengan potongan sederhana yang membuat kulit putihnya terlihat semakin bersih, sementara rambut lurus panjangnya dibiarkan jatuh rapi di bahu. Ia sengaja berdandan lebih manis hari ini, bahkan sedikit menata senyumnya di depan cermin tadi pagi agar lesung pipinya terlihat jelas.
Meski begitu, jauh di dalam pikirannya, Alya sedang mempersiapkan strategi besar yang hanya ia sendiri yang tahu.
Di seberangnya, ayahnya duduk dengan wajah yang jauh lebih tegang dibanding biasanya. Bima Prameswara sesekali melihat jam di tangannya, lalu kembali menatap pintu restoran seolah menunggu seseorang yang sangat penting. Sementara itu Lestari duduk di samping Alya, mencoba terlihat tenang meskipun jelas-jelas ia juga sedikit gugup.
“Ayah,” bisik Alya pelan sambil mencondongkan tubuh ke depan, “orangnya serem gak?”
Bima menghela napas pendek. “Tidak.”
“Galak?”
“Tidak juga.”
“Botak?”
"Ganteng gak?"
Lestari langsung menyenggol lengan Alya. “Alya.”
“Apa? Alya cuma tanya.”
Bima menatap putrinya dengan ekspresi lelah. “Tolong bersikap normal hari ini.”
Alya tersenyum polos. “Alya sangat normal, Ayah.”
Namun tepat ketika Bima hendak menjawab, pintu restoran terbuka pelan.
Seorang pria tinggi masuk dengan langkah tenang.
Perhatian beberapa orang di dalam restoran langsung tertarik tanpa sadar. Bukan karena ia melakukan sesuatu yang mencolok, melainkan karena aura yang dibawanya terasa berbeda.
Jas hitam yang ia kenakan terlihat rapi sempurna, rambut hitamnya tersisir rapi, dan langkahnya stabil tanpa terburu-buru. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, namun ekspresinya sangat datar..., ya, terlalu datar untuk seseorang yang baru datang ke pertemuan penting.
Bima langsung berdiri.
“Adrian.”
Pria itu berhenti di depan meja mereka dan mengangguk sopan. “Pak Bima.”
Suara Adrian rendah dan tenang, hampir tidak menunjukkan emosi apa pun.
Alya memperhatikan pria itu dari ujung kepala sampai kaki dengan mata sedikit menyipit. Dalam hati ia harus mengakui satu hal yang sangat menyebalkan.
Orang ini… tampan.
Terlalu tampan malah.
Namun Alya tidak akan membiarkan fakta itu mengganggu misinya.
Ia langsung berdiri dengan senyum yang sangat manis, senyum yang sudah ia latih tadi pagi. Lesung pipinya muncul jelas di kedua sisi pipi saat ia menatap Adrian dengan mata berbinar.
“Halo,” katanya ceria.
Adrian menoleh padanya.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Alya menunggu beberapa detik, berharap pria itu sedikit terkejut, atau setidaknya menunjukkan reaksi kecil melihat senyumnya yang sengaja diperlebar. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan tenang yang hampir tidak berubah.
“Hallo,” jawab Adrian singkat.
Alya berkedip.
Itu saja?
Tidak ada senyum balasan, tidak ada ekspresi kagum, bahkan tidak ada perubahan kecil di wajah pria itu.
Mereka kemudian duduk kembali. Seorang pelayan datang membawa menu, namun percakapan pertama mereka dimulai bahkan sebelum siapa pun sempat memesan minuman.
Alya menyandarkan siku di meja dan menatap Adrian dengan rasa penasaran yang tidak ia sembunyikan sama sekali. Matanya bergerak mengamati wajah pria itu dengan santai, seolah sedang menilai sesuatu yang menarik.
“Kamu seriusan mau nikah sama aku?” tanyanya tiba-tiba.
Bima hampir tersedak air.
“Alya!”
Namun Alya tidak peduli. Ia terus menatap Adrian dengan wajah polos.
“Alya cuma memastikan aja, Ayah.”
Adrian tetap terlihat santai.
“Iya,” jawabnya pendek.
Alya mengangguk perlahan, lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Senyumnya kembali melebar hingga lesung pipinya terlihat jelas.
“Kamu harus tahu satu hal dulu,” katanya dengan nada konspiratif.
Adrian menunggu dengan tatapan datar.
“Aku kalau tidur ngorok loh.”
Sunyi beberapa detik.
Bima menutup wajahnya dengan tangan.
Namun Alya masih melanjutkan dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.
“Aku juga suka ngiler sampai bantal basah. Kadang malah sampai harus beres-beres seprai pagi-pagi.” Ia mengangkat bahu santai. “Lebih baik kamu pikir-pikir dulu sebelum menyesal.”
Lestari memejamkan mata seolah sedang berdoa.
Namun Adrian hanya menatap Alya selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan nada datar, “Tidak masalah.”
Alya berkedip lagi.
Ia tidak menyerah.
“Aku juga berisik loh. Bangettt malah.”
Adrian masih tenang. “Saya tahu.”
“Kamu tahu?”
“Iya.”
Alya menyipitkan mata curiga. “Terus kamu tetap mau nikah?”
Adrian mengambil gelas air di depannya lalu minum seteguk sebelum menjawab dengan nada yang sama tenangnya.
“Iya.”
Alya mulai merasa aneh.
Ia mencoba strategi lain.
“Kadang aku juga suka ngomong sendiri,” lanjutnya santai. “Terus kalau lagi kesal aku bisa cerewet banget. Kayak radio rusak.”
Adrian tetap tidak terlihat terganggu sedikit pun.
“Tidak masalah.”
Alya menatapnya lebih lama.
Dalam hati ia mulai berpikir, ini orang sabarnya kebangetan atau memang tidak punya emosi?
“Aku juga suka makan tengah malam,” tambahnya lagi. “Kadang mie instan jam dua pagi.”
“Tidak masalah.”
Alya menghela napas pelan lalu bersandar di kursi.
“Ya ampun,” gumamnya. “Kamu ini manusia apa robot sih?”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Adrian bergerak sangat sedikit.
“Hanya manusia biasa.”
Bima akhirnya ikut bicara untuk menyelamatkan situasi. “Mungkin kita bisa membahas soal pernikahan kontrak ini lebih jelas.”
Alya langsung menoleh cepat. “Nah itu dia. Kontraknya berapa lama sih?”
Bima terlihat sedikit ragu.
Adrian justru menjawab lebih dulu.
“Tiga tahun.”
Alya hampir menjatuhkan sendok yang ia pegang.
“Berapa?”
“Tiga tahun,” ulang Adrian tenang.
Alya menatap ayahnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Ayah bilang satu tahun!”
Bima terlihat salah tingkah.
“Awalnya begitu…”
“Ayah!”
Lestari mencoba menenangkan situasi. “Dengarkan dulu.”
Namun Adrian menambahkan dengan santai, “Sebenarnya tiga tahun setengah.”
Alya menoleh perlahan ke arahnya.
“...t-t-ttiga tahun setengah?”
“Iya.”
Alya menatap langit-langit restoran seolah mencoba mengontrol emosinya.
“Tiga tahun itu bukan kontrak,” gumamnya. “Itu masa hukuman.”
Bima berdeham.
Namun sebelum siapa pun sempat menenangkan Alya, Adrian kembali berbicara dengan nada tenang yang sama.
“Saya ingin mempercepat pernikahan.”
Semua orang di meja itu langsung menoleh padanya.
“Secepat mungkin,” lanjutnya.
Alya bahkan sampai membuka mulut sedikit.
“Kamu serius?”
“Iya.”
“Kenapa cepat sekali?”
Adrian menatapnya langsung.
“Lebih efisien.”
Alya memijat pelipisnya.
“Ya ampun.”
Ia lalu menoleh ke ayahnya dengan wajah penuh protes. “Ayah, ini tidak adil.”
Bima hanya tersenyum kaku.
Namun Alya masih belum selesai.
Ia kembali menatap Adrian dengan ekspresi menantang, lesung pipinya muncul lagi saat ia menyeringai.
“Oke,” katanya pelan. “Kalau begitu kita lihat saja.”
Adrian menatapnya tanpa berubah.
“Apa maksudmu?”
Alya menyandarkan dagu di tangan dengan senyum yang terlalu manis.
“Engga ada, gapapaaa.”
Namun di dalam kepalanya, Alya sudah membuat keputusan baru.
Jika kontrak ini harus berjalan tiga tahun…
Ia akan memastikan tiga tahun itu menjadi tiga tahun paling melelahkan dalam hidup Adrian Wijaya.