Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Simpati
Sore itu selesai bertugas, Davin menghampiri Alvian. "Halo, Vian. Mau saya temani?" katanya sambil tersenyum hangat.
"Eh, Pak Dokter," ucap bocah itu dengan senyumnya yang polos.
Davin merasa simpati, bocah sekecil itu yang seharusnya bisa bermain bersama teman-temannya yang lain, berlari, bermain sepeda atau bermain sepakbola, tetapi karena keadaan harus menerima nasib hanya bisa berbaring dan duduk di tempat tidur.
Davin mengusap kepala Alvian lembut, lalu duduk di kursi plastik dekat ranjang yang Alvian tempati.
"Biasanya Kak Mel pulang jam berapa?" tanyanya membuka topik pembicaraan.
"Nggak tentu, Pak Dokter. Kadang kalau pekerjaannya sedikit ya, pulangnya cepat," jawab bocah itu.
"Kamu sama siapa di rumah?"
"Sendirian. Kalau Kak Mel nggak kerja, nggak punya uang. Kalau nggak punya kita nggak makan."
Davin tersenyum miris, hingga sesaat kemudian ponselnya berdering. Dia segera mengambilnya dari saku jas dokter-nya. Sesaat tampak mengerutkan keningnya.
"Suster Dewi? Ada apa dia menelponku?" gumamnya pelan.
Takut ada sesuatu yang penting, Davin pun berinisiatif untuk menerimanya.
"Sebentar ya, Vian. Saya angkat telepon dulu," ujar Davin, tangan kirinya mengusap kembali pucuk kepala Alvian dan mendapat anggukan dari bocah itu. Lalu dia berjalan keluar dari ruang perawatan.
Namun, begitu tombol hijau dia gulirkan suara lain yang dikenalnya memenuhi indra pendengarannya
"Halo, Dok. Ini saya Renata." Terdengar suara dari seberang.
Seketika wajah Davin berubah dingin. "Ada apa?" tanyanya singkat tanpa basa-basi.
"Dok, bagaimana kabarnya? Anda baik-baik saja kan, di sana?" Renata mencoba mengulur waktu agar bisa bicara lebih lama.
Namun, berbeda dengan Davin, pemuda itu tampak kesal. "Katakan ada apa menghubungi saya dan memakai ponsel Suster Dewi?"
"Em... Itu." Renata berpikir sejenak. "Kenapa Anda memblokir kontak saya, Dok? Apa salah saya?" tanyanya mencoba menarik simpati, seolah tak bersalah.
"Anda seorang yang pintar dan pasti sudah tahu alasannya tanpa saya katakan. Mulai saat ini jangan lagi menghubungi saya. Anggap saja kita tak pernah saling kenal."
Klik.
Davin memutuskan panggilan teleponnya. Sementara di seberang sana, Renata tampak panik. Ia memanggil-manggil nama Davin, sayangnya panggilan telah terputus.
"Aahh, si*l! Bagaimana nasib aku selanjutnya di sini? Tanpa backingan tentu karirku akan stag di tempat," pikir Renata khawatir. Tangannya masih menggenggam ponsel Dewi dengan erat.
Dewi tersenyum tipis melihatnya lalu berniat meminta ponselnya kembali, ketika Renata justru akan memasukkan ponsel itu ke dalam saku jasnya.
"Eh... maaf, Dok. Itu ponsel saya," kata Dewi membuat Renata tersentak.
"Oh, maaf, Sus," ucapnya seraya menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya. "Terima kasih."
Kemudian Renata pergi begitu saja, wajahnya tampak murung. Dewi menatap kepergiannya, ia mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
Davin berniat kembali ke ruang perawatan. Di depan pintu masuk, dia berpapasan dengan Dahlia yang merupakan Bidan Desa itu sekaligus anak Pak Lurah. Davin mengangguk kecil dan tersenyum tipis ke arah Dahlia sebagai bentuk kesopanan bertemu orang baru.
Namun, berbeda dengan Dahlia, angannya langsung melambung tinggi begitu mendapatkan senyuman dari Davin, yang menurutnya sangat sempurna. Tampan, tinggi, mapan pula. Siapa yang tak tergiur? Begitulah pemikiran Dahlia.
Ia langsung mengulurkan tangannya, tak lupa memasang senyuman semanis mungkin. "Kenalkan nama saya Dahlia, Dok. Saya bidan di desa ini. Jika butuh bantuan jangan sungkan untuk memberitahu saya," ucapnya percaya diri.
Davin mengernyit tipis menatap Dahlia heran sekaligus bingung. Namun, dia akhirnya mengangguk dan menjabat tangan Dahlia singkat. "Terima kasih," ucapnya dan segera berlalu.
Dahlia menatapnya dengan kagum dan mata berbinar. Ia tersenyum penuh arti. Kemudian pandangannya tertuju pada sepeda Melodi yang terparkir manis di halaman Puskesmas.
"Itu kan, sepeda Melodi? Kenapa ada di sini? Siapa yang membawanya kemari?"
Tak lama dari kejauhan tampak Melodi datang dengan berjalan kaki. Wajahnya tampak lelah, dan berkeringat. Namun, ia langsung tersenyum begitu melihat sepedanya sudah terparkir di sana.
Melodi mendekat, lalu memeriksa ban sepedanya. "Alhamdulillah, sepedaku sudah jadi. Berarti Pak Dokter memang nggak bohong."
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu, Mel? Memang siapa yang memperbaiki sepeda kamu?" tanya Dahlia datang mendekat.
"Eh, Bu Bidan." Melodi membungkuk sopan. "Itu tadi pagi waktu saya mau berangkat ke rumah Pak Lurah ketemu sama Pak Dokter di jalan, terus beliau menawarkan untuk membawa sepeda saya ke bengkel."
"Mari, Bu Bidan. Saya masuk ke dalam." Melodi segera pergi tak mau lama-lama di sana.
"Si*alan, rupanya ia sudah tebar pesona sama dokter kota itu," umpat Dahlia dalam hati.
Dahlia lantas menyusul masuk ke dalam. Ia merasa penasaran dengan Melodi.
Di dalam ruang perawatan, Melodi terkejut melihat Alvian adiknya tampak gembira dan tertawa bersama orang yang baru dikenalnya. Entah apa yang mereka tertawakan. Ia pun masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya. Ia tak ingin menemui adiknya dalam keadaan bermandi peluh. Apalagi ada orang lain di sana.
Sesaat kemudian Melodi mendekat, dan mengucap salam. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Davin dan Alvian serempak. Lalu Alvian meraih tangan Melodi dan mencium punggung tangannya takzim.
Davin mengamatinya dalam diam, dan menilai.
"Kak Mel sudah pulang?" Wajah Alvian tampak berbinar. "Kakak tahu nggak, Pak Dokter temani Vian di sini loh, jadi Vian nggak kesepian, deh," ucapnya antusias.
"Pak Dokter juga pinjamkan ini pada Vian, Kak," beritahunya sambil menunjukkan benda pipih persegi empat dengan logo apel tergigit pada kakaknya.
Mata Melodi membelalak seketika. Bagaimana tidak, itu benda yang sangat mahal harganya, bagaimana kalau tak sengaja Alvian menjatuhkannya. Maka dengan cepat Melodi merebut benda itu dari tangan adiknya dan mengembalikannya pada Davin.
"Maaf, Pak Dokter," kata Melodi. "Saya tahu maksud Pak Dokter baik, ingin memberi hiburan pada adik saya."
"Tapi sekali lagi maaf, jangan pinjamkan benda berharga Anda, saya nggak berani ambil resiko jika benda itu tak sengaja terjatuh. Saya nggak sanggup menggantinya," sambungnya sambil menunduk.
Davin tercengang, tak dapat berkata-kata mendapati reaksi Melodi yang menurutnya berlebihan. Namun, dia berusaha mengerti. Satu pelajaran dia dapatkan lagi.
Sementara tak jauh dari sana tepatnya di depan pintu masuk, Dahlia mengucek matanya berulang kali. "Nggak mungkin kan, Melodi sama dokter kota itu bisa akrab secepat itu? Pasti ada sesuatu," pikir Dahlia curiga.
"Ini nggak bisa dibiarkan, aku nggak boleh kalah sama pembantu udik itu! Nggak level banget, aku harus bisa membuat dokter kota itu menjauh bahkan membencinya," ujarnya penuh tekad.