seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
Malam turun dengan keanggunan yang hanya dimiliki oleh hutan tua. Cahaya lampu tenaga surya yang dipasang Mahesa bertahun-tahun lalu kini tersembunyi di balik rimbunnya tanaman merambat, memberikan pendar hijau yang lembut di sepanjang jalan setapak desa.
Arla, putri kecil mereka, sudah tertidur lelap di dalam pondok, ditemani dengkur halus seekor kucing oranye—keturunan dari kucing liar yang dulu pernah mereka beri makan. Siska dan Andi masih bertahan di teras, duduk di kursi ulin ergonomis yang kini sudah memiliki patina alami akibat cuaca.
"Ndi," suara Siska memecah keheningan, "tadi Siti menunjukkan sesuatu di laboratorium. Dia berhasil memetakan sistem komunikasi antarakar ulin menggunakan sensor frekuensi rendah yang dulu pernah Mahesa rintis."
Andi menoleh, menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengasah pisau ukir. "Lalu?"
"Ternyata, pohon-pohon induk seperti Si Mbah Jagat benar-benar mengirimkan nutrisi ke bibit-bibit yang paling lemah melalui jaringan jamur di bawah tanah. Mereka tidak berkompetisi untuk menjadi yang paling tinggi, Ndi. Mereka memastikan seluruh hutan tetap hidup."
Andi tersenyum, menyandarkan punggungnya. "Persis seperti yang kita lakukan di sini. Kita bukan penguasa, kita hanya bagian dari jaringan itu. Mahesa di Jakarta menjadi 'akar' yang menyuplai perlindungan politik, kita di sini menjadi 'batang' yang menjaga ekosistem, dan Dedi serta Siti adalah 'pucuk' yang akan membawa Arlan lebih tinggi lagi."
Tiba-tiba, suara derak ranting terdengar dari kegelapan di bawah teras. Bukan suara langkah manusia. Itu adalah langkah yang berat namun sangat tenang.
Andi dan Siska diam mematung, bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat yang mendalam. Dari kegelapan, muncul sosok predator yang sepuluh tahun lalu hanya mereka lihat sekejap mata. Sang penguasa loreng itu kini terlihat lebih besar, lebih tua, dengan tatapan kuning yang tetap tajam namun tidak mengancam.
Harimau itu berhenti sejenak, menatap ke arah teras rumah mereka. Tidak ada geraman. Hanya sebuah pengakuan sunyi. Seolah-olah ia datang untuk memastikan bahwa penjaga rumahnya masih ada di sana. Setelah beberapa detik yang terasa abadi, ia berbalik dan menghilang kembali ke dalam pelukan rimba tanpa suara.
"Dia datang untuk menyapa," bisik Siska, tangannya menggenggam erat tangan Andi.
"Dia tahu kita tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Andi pelan.
Kehidupan di Arlan telah mencapai titik di mana batas antara manusia, hewan, dan tumbuhan telah lebur. Di sini, tidak ada lagi ambisi untuk menaklukkan, yang ada hanyalah keinginan untuk saling menjaga.
Beberapa tahun setelah Arlan Way menjadi model restorasi dunia, tantangan baru muncul. Arlan tidak bisa terus-menerus bergantung pada donasi atau dana pribadi Mahesa. Mereka butuh ekosistem ekonomi yang mandiri agar warga desa tidak kembali tergoda oleh tawaran perusahaan sawit di luar sana.
"Kita harus berbisnis, Ndi," ujar Siska suatu pagi di atas jembatan ulin. "Tapi bukan bisnis yang mengambil dari hutan. Bisnis yang memberikan alasan bagi hutan untuk tetap tegak."
Andi mengerutkan kening. "Kau ingin membawa orang-orang berbaju jas itu kembali ke sini, Sis?"
Siska menggeleng. "Tidak. Kita akan membawa hasil hutan ini ke dunia, tapi dengan aturan kita."
Maka, lahirlah "Arlan Organics".
Bisnis ini tidak dimulai di ruang rapat mewah, melainkan di lantai kayu pondok mereka. Produk pertamanya adalah Minyak Gaharu dan Atsiri yang diekstrak menggunakan teknologi penyulingan uap rendah energi yang dirancang Mahesa. Mereka hanya mengambil kayu gaharu dari pohon yang sudah mati secara alami di dalam hutan—sebuah proses pencarian yang butuh kesabaran luar biasa.
"Satu botol kecil ini," ujar Siska sambil menunjukkan botol kaca gelap berisi minyak kental, "harganya bisa membiayai sekolah sepuluh anak desa selama satu semester. Dan kita tidak menebang satu pun pohon hidup untuk ini."
Andi mengambil peran sebagai kepala produksi dan kurasi. Ia memastikan setiap produk kayu—seperti perlengkapan meja makan kecil atau alat tulis—hanya dibuat dari kayu sisa (limbah) atau kayu yang jatuh karena badai. Setiap barang diberi nomor seri yang jika dilacak di situs Arlan, akan menunjukkan koordinat pohon asalnya dan foto bibit ulin baru yang ditanam sebagai "balas budi".
Mahesa, dari Jakarta, bertindak sebagai jembatan. Ia tidak mencari investor, melainkan mitra distribusi yang memiliki visi serupa di Eropa dan Jepang.
"Mereka bukan membeli minyak atau kayu, Ndi," jelas Mahesa lewat panggilan video. "Mereka membeli 'udara bersih' dan 'keberlanjutan'. Di dunia yang semakin panas, produk Arlan adalah simbol kemewahan baru: kemewahan nurani."
Keuntungan dari bisnis ini tidak masuk ke rekening pribadi Siska atau Andi. Sebanyak 70% keuntungan masuk ke "Dana Abadi Arlan", yang digunakan untuk membeli lahan-lahan di sekitar hutan Arlan yang terancam dikonversi menjadi tambang, lalu menghutankannya kembali.
Dedi kini memimpin divisi logistik. Ia menggunakan jalur sungai dan transportasi listrik untuk membawa produk keluar, memastikan jejak karbon mereka mendekati nol. Sementara Siti mengelola unit pemberdayaan perempuan desa, melatih ibu-ibu di sana untuk mengolah madu hutan dan tanaman obat tanpa merusak sarang lebah atau akar induk.
Suatu sore, Siska duduk di depan laptopnya—alat yang dulu ia gunakan untuk memecat orang, kini ia gunakan untuk menyetujui beasiswa bagi anak-anak Arlan yang ingin belajar biologi kelautan dan kehutanan di luar negeri.
"Dulu aku berpikir bisnis adalah tentang kompetisi," ujar Siska pada Andi yang sedang mengepak kotak kayu pesanan dari Kyoto.
Andi tersenyum, menyeka keringat di dahinya. "Sekarang kau tahu, bisnis yang paling menguntungkan adalah yang membuat semua orang—termasuk pohon dan harimau itu—tetap bisa bernapas."
Bisnis Arlan kini menjadi bukti nyata bagi dunia korporat di luar sana: bahwa ekonomi hijau bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan sebuah jalan hidup yang tangguh. Arlan tidak lagi hanya menyelamatkan dunia lewat doa dan harapan, tapi lewat kemandirian ekonomi yang berakar pada bumi.
Pertumbuhan ekonomi Arlan tidak luput dari radar dunia. Suatu pagi, sebuah surat elektronik masuk ke akun koordinasi desa. Bukan dari aktivis, melainkan dari Global Green Corp, salah satu konglomerat pangan dan kosmetik terbesar di dunia. Mereka menawarkan akuisisi senilai jutaan dolar untuk merek "Arlan Organics".
"Mereka ingin membeli nama kita, Sis," ujar Mahesa lewat layar monitor di laboratorium desa. "Mereka menawarkan pembangunan pabrik pengolahan modern di pinggir kota, jalur distribusi global yang instan, dan tentu saja, kekayaan yang bisa membuat seluruh warga desa ini tidak perlu bekerja lagi selama tiga turunan."
Siska terdiam, menatap deretan botol minyak atsiri yang baru saja selesai dikemas secara manual oleh ibu-ibu desa. Andi, yang sedang mengasah pisau ukir di pojok ruangan, hanya bergumam pendek, "Pabrik di pinggir kota berarti kita butuh truk. Truk butuh jalan aspal. Jalan aspal butuh membuka hutan."
Siska akhirnya memutuskan untuk mengundang perwakilan perusahaan itu datang. Ia ingin mereka melihat sendiri "kantor pusat" Arlan.
Dua minggu kemudian, seorang eksekutif wanita berpenampilan sangat tajam tiba. Ia membawa tumpukan dokumen legalitas dan proyeksi laba. Namun, Siska tidak membawanya ke ruang rapat. Ia membawanya berjalan kaki menelusuri jalur pencarian kayu gaharu mati di tengah hutan, di bawah hujan rintik yang membuat sepatu mahal sang eksekutif hancur dalam hitungan menit.
"Ibu Siska," ujar eksekutif itu sambil terengah-engah, "dengan dana kami, Anda tidak perlu berjalan di lumpur seperti ini. Kami bisa membangun fasilitas ekstraksi dengan efisiensi sepuluh kali lipat dari apa yang Anda miliki sekarang."
Siska berhenti di depan sebuah pohon ulin yang sudah tumbang puluhan tahun lalu, tempat Andi sedang memilah bagian kayu yang bisa diambil.
"Anda tidak mengerti," sahut Siska lembut. "Bisnis kami bukan tentang efisiensi. Bisnis kami adalah tentang ritme. Kalau kami mengekstraksi sepuluh kali lebih cepat, hutan ini tidak akan punya waktu untuk bernapas dan menggantinya. Keuntungan Anda adalah angka di kertas, tapi keuntungan kami adalah setiap helai daun baru yang tumbuh di sana."
Siska mengembalikan dokumen akuisisi itu tanpa membukanya.
"Katakan pada pimpinan Anda: Arlan tidak dijual. Tapi, jika Anda ingin belajar bagaimana cara menjalankan pabrik Anda di luar sana tanpa merusak sungai, silakan kirim insinyur Anda ke sini untuk magang pada Dedi dan Siti. Kami akan mengajarinya, gratis."
Penolakan itu menjadi berita besar di kalangan bisnis internasional. Arlan Organics tetap kecil, namun nilainya justru meroket karena integritasnya. Mereka tidak menjadi perusahaan massal; mereka menjadi standar emas.
Malam itu, di bawah keremangan lampu tenaga surya, warga desa berkumpul. Siska menjelaskan mengapa ia menolak uang triliunan itu.
"Uang itu akan habis dalam satu generasi," ujar Siska di depan warga. "Tapi hutan ini, jika kita jaga dengan cara yang benar, akan memberi makan anak cucu kita selamanya. Kita tidak butuh pabrik besar untuk menjadi kaya. Kita hanya butuh rasa cukup."
Andi menggenggam tangan Siska di bawah meja kayu ulin mereka. Bisnis Arlan kini bukan lagi tentang mencari untung, tapi tentang menunjukkan pada dunia bahwa moralitas adalah mata uang yang paling stabil.
Arla, yang duduk di pangkuan ibunya, memegang sebuah botol kecil minyak atsiri. Di matanya, botol itu bukan barang dagangan, melainkan esensi dari rumah yang ia cintai. Perjalanan bisnis Arlan pun berlanjut—lambat, pasti, dan tidak akan pernah mengkhianati akarnya.