"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Dara masuk ke kamarnya lalu berkacak pinggang dengan dada yang terlihat naik turun tanda dia tengah emosi. Dia melirik ke belakang, ke arah pintu kamar yang sudah tertutup dan menghembuskan napas berat.
“Nyebelin banget jadi orang. Dia pikir, dia doang yang gak kepaksa nerima pernikahan ini?!” geram Dara.
“Terus apa tadi katanya? Pernikahan ini gak sebanding sama hutang yang harus ayah bayar? Lalu apa tadi? Masa depannya hancur juga karena pernikahan ini? Hah!”
Dara menyentak napas kasar dan melangkah menuju lemari duduk di lantai lalu kembali mengeluarkan baju dari koper miliknya.
Tapi, sesaat kemudian dia melempar pakaiannya kembali ke dalam koper. Mood nya yang sudah buruk semakin memburuk setelah mendengar ucapan suaminya.
Di kamarnya, Rafa tengah melihat wajahnya sendiri di depan cermin. Ucapan Dara yang menyebutnya tua tadi cukup mengusik pikirannya. Dilihatnya wajah bagian samping kanan, kiri, mata, hidung bahkan bibirnya juga turut dia perhatikan dengan serius.
Oh, tidak lupa Rafa juga memeriksa rambutnya. Takut ada uban di sana. “Tampan,” gumamnya.
“Kerutan juga gak ada. Apanya yang tua?” gumamnya lagi.
“Ck.” Rafa berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
“Bodoh! Mengapa juga kau percaya pada ucapannya.” Rafa merutuki pikirannya sendiri.
**
Malamnya, semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Emm… hanya tiga orang sih sebenarnya. Oma Atira, Dara dan juga Rafa.
Oma Atira tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat Dara dan Rafa duduk bersebelahan dan tampak menikmati makanan mereka masing-masing dengan tenang.
“Nanti, setelah makan. Ada yang mau Oma bicarain sama kamu ya, Dara,” ucap Oma Atira.
Dara menunjuk dirinya sendiri. Ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar.
“Iya kamu. Memangnya ada lagi di sini yang bernama Dara?” sahut Oma Atira lalu tertawa pelan.
“Ck. Katanya pintar, tapi masa kayak gitu aja nggak ngerti,” cibir Rafa dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Dara. Ya secara kan Dara duduk persis di sebelah Rafa.
Dara yang semula tengah tersenyum tipis kepada Oma Atira pun seketika mencebikkan bibirnya. Tidak ingin menyahuti ucapan suaminya meski dia ingin. Masalahnya, di sana bukan hanya ada mereka berdua. Ada Oma Atira juga yang mungkin akan melihat bahkan mendengar perdebatan dia dan Rafa.
Di sini, di salah satu ruangan santai yang menghadap ke kolam renang, Dara dan Oma Atira duduk di sofa yang ada di sana. hanya berdua, karena Rafa langsung pergi ke kamarnya setelah selesai makan tadi. Terlebih, bukannya tadi Oma Atira juga hanya mengajak Dara seorang?
Dara tidak mengatakan apapun, lebih tepatnya dia bingung hendak mengatakan apa. Dia hanya diam sampai Oma Atira yang memulai percakapan.
“Kamu tahu, Oma sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali melihatmu di taman waktu itu,” ucap Oma Atira. “Kamu mengingatkan Oma pada seseorang,” sambungnya.
“Seseorang? Siapa?” tanya Dara penasaran.
Oma Atira tersenyum lembut. “Ada. Seseorang yang begitu berjasa di hidup Oma.”
Meski masih merasa penasaran, Dara memilih untuk tidak bertanya lagi. Dia masih merasa kalau dia hanya orang asing di rumah itu. Merasa tidak pantas untuk bertanya lebih banyak mengenai hal pribadi Oma Atira.
Dara terkesiap saat Oma Atira tiba-tiba memegang kedua tangannya. Dara melihat ke arah mata Oma Atira yang nampak berkaca-kaca.
“Oma …”
“Oma mohon. Kamu mau ya bersabar lebih banyak dalam menghadapi sifat dan sikap Raka,” ujar Oma Atira.
“Oma tahu kamu pasti masih kesal kepada Oma. Kamu pasti merasa Oma menjadikanmu sebagai alat untuk membayar hutang ayahmu.” Oma Atira menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali melanjutkan ucapannya, “tidak ada sedikit pun niat di hati Oma untuk menjadikanmu sebagai alat untuk membayar semua hutang ayahmu. Namun, entahlah. Oma hanya merasa begitu yakin untuk menjadikanmu bagian dari keluarga ini. Jadi pendamping hidup Rafa, cucu Oma satu-satunya. Hanya saja mungkin cara Oma yang terkesan keterlaluan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang berhubungan dengan ayahmu.”
Dara agak panik saat tiba-tiba Oma Atira meringis sambil memegangi dada nya. “Oma kenapa?” tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Oma Atira menggelengkan kepalanya lemah, “Oma gak apa-apa. Rafa memang terlihat dingin dan menyebalkan. Tapi percayalah, hatinya begitu rapuh dan Oma percaya kamu bisa merubahnya menjadi pribadi yang hangat seperti dulu.”
“Tapi … mengapa harus aku? Apa istimewanya aku? Braden saja mencampakkanku, apalagi Rafa?” pertanyaan yang hanya bisa Dara ucapkan di dalam hati. Karena Oma Atira langsung diajak untuk istirahat oleh Suster Tiara.
Dara masih termenung di sana seorang diri. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan masalah hidup yang harus dia alami padahal dia masih pelajar, masih remaja.
“Apa sebenarnya yang sudah kau rencanakan untuk hidupku, Tuhan?” gumamnya kemudian berdiri dan memilih untuk pergi ke kamar.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Dara masih belum bisa tidur. Entah karena dia tidur di tempat yang masih terasa asing untuknya, atau karena banyaknya masalah yang dia pikirkan.
Ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk. Dara bangun dan mengingsut hingga kini bersandar pada headboard ranjang. Sang ayah mengirimnya pesan dan Dara langsung menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang campur aduk dan dia sendiri bingung harus menanggapi seperti apa.
“Maafkan Ayah.” Pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya hanya dua kata.
Dara menunduk, menyembunyikan wajahnya di kedua lutut dan tidak berselang lama, Dara terisak. Dia menangis seraya memukul pelan dada nya yang terasa amat sesak.
Semenjak ayahnya mengatakan perihal kalau dia harus menikah demi melunasi hutang, Dara tidak pernah bertegur sapa lagi dengan ayahnya tersebut. Dia bukannya marah, dia hanya merasa sangat kecewa. Kecewa dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.
Dara menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas yang ada di samping ranjang. Dia mengusap air mata di kedua pipinya lalu menghela napas panjang.
“Gak ada gunanya lo nangis terus kayak gini, Dara. Lo harus kuat, gak boleh cengeng. Lo gak boleh keliatan lemah apalagi di depan Braden dan suami lo yang nyebelin itu,” gumam Dara menyemangati dirinya sendiri.
Sementara di kamarnya, Rafa sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Besok adalah hari pertamanya mengajar di sekolah. Sekolah yang sebenarnya menjadi tempat bersejarah antara dirinya dan Khaylila dulu.
Sama seperti malam-malam sebelumnya selama lima tahun terakhir ini, dia selalu merasa kesulitan untuk tidur. Rafa menyibak selimut dan duduk di tepi ranjang. Atensinya tertuju pada laci nakas yang ada di sebelah ranjang.
Rafa menghembuskan napas berat. Dia membuka laci itu dan mengambil sesuatu dari sana. Obat tidur selalu menjadi pilihan terakhirnya di saat dia ingin tidur dengan nyenyak.
Setelah meminumnya, Rafa kembali menyimpan botol obat tersebut dan merebahkan tubuhnya hingga sesaat kemudian pengaruh obat itu datang. Kelopak mata Rafa perlahan terpejam dan dia pun berkelana ke alam mimpi.
❤️
Paginya, Dara sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia bersiap lebih pagi karena jarak dari tempat tinggalnya yang sekarang lebih jauh dari rumahnya yang dulu.
Dara memindai penampilannya di depan cermin, ucapan Braden dan Monica yang menyebutnya culun tiba-tiba berdenging di telinganya. Dara melepaskan kacamata yang dipakainya, lalu membiarkan rambutnya terurai.
Cantik, dia tentu terlihat lebih cantik jika tidak menggunakan kacamata besar dan tebal tersebut. Namun, sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan. Kembali memakai kacamata tersebut dan mengepang rambutnya.
Dara mengangguk mantap, dia tidak ingin merubah kembali penampilannya saat ini. Tidak ingin terkesan menunjukkan diri kepada orang-orang yang sudah menghinanya. Setidaknya, tidak untuk saat ini.
Sebenarnya bisa saja dia menyebarkan bukti kalau dia memang kekasih Braden. Banyak koleksi fotonya dengan Braden di ponselnya. Tapi Dara terlalu malas. Dengan dia bersikap seperti itu, pasti ke depannya akan banyak masalah yang menghampirinya. Dan dia tidak mau itu. Sekarang saja masalah hidupnya sudah terasa berat, apalagi kalau ditambahi dengan masalah di sekolah?
Dara turun ke lantai bawah dan di sana ternyata sudah ada Oma Atira dan Rafa yang sedang sarapan.
“Pagi, Sayang.” Sapaan yang tentunya diucapkan oleh Oma Atira, bukan oleh Rafa.
“Pagi, Oma.”
Dara melirik sejenak ke arah suaminya yang tidak menyapa atau meliriknya. Cuek, Dara pun duduk dan ikut sarapan bersama.
Rafa melirik sejenak ke sampingnya dan berdecih dalam hati melihat penampilan istri kecilnya. Gaya Dara sungguh tidak masuk ke dalam kriteria wanita idamannya. Sayang sekali, karena pada kenyataannya, gadis culun itu berstatus sebagai istrinya.
“Kamu berangkat bareng Rafa, kan?” tanya Oma Atira.
Baik Rafa atau pun Dara langsung menggelengkan kepalanya cepat.
“Gak, Rafa buru-buru.”
“Gak, Oma. Aku udah pesen ojol barusan.”
“Padahal kan–”
“Rafa pergi dulu.” Rafa berdiri setelah menyelesaikan sarapannya. Di mencium kening sang oma seperti biasa dan langsung pergi tanpa pamit kepada istrinya. Selang beberapa saat, Dara pun ikut beranjak pergi karena ojol pesanannya sudah datang.
Di teras, Dara dan Rafa saling pandang beberapa saat setelah akhirnya Dara pergi lebih dulu. Hari senin, jadwal upacara sekaligus jadwal piketnya.
Setelah sampai, Dara memberikan ongkos dan berjalan menuju gerbang. Di sana, ada Braden sedang mengecek setiap murid yang datang. Dara memegang erat rok bagian sampingnya dan menghela napas berat lalu kembali melanjutkan langkahnya setelah memastikan kalau dia sungguh baik-baik saja.
“Dara!”
Dara kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ada Bebi yang baru turun dari mobil dan berlari ke arahnya.
“Baru datang juga?” tanya Bebi lalu membenarkan letak kacamatanya.
Dara mengangguk seraya tersenyum tipis dan membiarkan saja Bebi menggandeng lengannya. Mereka berjalan sambil berbincang dan sesekali tertawa pelan.
Braden pun melihat kedatangan Dara. Dia menatap intens Dara yang dengan cueknya lewat di depannya. Bahkan melirik ke arahnya pun tidak.
Ada yang terasa kurang di hati Braden saat melihat sikap cuek Dara. Bukan karena dia masih sayang atau cinta kepada Dara, tapi karena Braden merasa heran. Mantan kekasihnya itu terlihat baik-baik saja. Bukankah seharusnya Dara terlihat sedih karena dia tahu betul kalau perasaan Dara amat besar untuknya? Tapi mengapa gadis itu tidak terlihat sedih sama sekali?
“Biasa aja dong natapnya!” dari arah samping, Monica berceletuk. Dia juga merupakan anggota OSIS, jabatannya malah sekretaris. Makanya Braden dan Monica disebut sebagai pasangan kekasih yang serasi di SMA Ibu Pertiwi. Sama-sama pintar dan good looking.
“Cemburu nih ye,” goda Braden menoel dagu Monica.
“Gue? Cemburu sama dia? Yang bener aja!” Monica tersenyum
meremehkan. “Tapi, lo beneran gak kenal dan gak ada hubungan apa-apa kan sama dia?”
Braden menghembuskan napas berat dia menghadap ke arah Monica yang menatapnya penuh selidik. “Enggak, Babe. Harus berapa kali gue bilang? Hm?”
Monica hanya mengedikkan bahunya dan Braden pun terkekeh pelan.
“Dih. Ceweknya lagi ngambek bukannya dibujuk malah diketawain!” ujar Monica sebal.
Braden semakin tertawa mendengarnya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengirim pesan pada Monica.
Braden menunjuk ke arah ponsel yang ada di saku seragam Monica dengan dagunya. Monica yang paham pun mengambil ponsel dan membaca pesan yang masuk dari Braden.
Seketika Monica langsung tersenyum dan mengangguk. “Oke. Gue tunggu nanti!”
**
“Dara, pertanyaan gue yang waktu itu belum dijawab lho,” ucap Bebi. Keduanya masih berjalan menyusuri koridor sekolah karena kelas mereka ada di lantai dua.
“Nanti. Nanti gue cerita. Sekarang gue mau piket dulu sebelum upacara,” jawab Dara.
Bebi pun mengangguk dan keduanya melanjutkan langkah menuju kelas.
“Heh, Dara! ambil spidol sama penghapus sana! Sekalian juga lo ambil buku paket di meja nya Bu Uci. Hari ini Bu Uci cuman ngasih tugas doang.”
Baru saja memasuki kelas, teriakan Renita langsung menyambut kedatangan Dara. Hari ini dia memang kebagian piket dengan Renita dan satu lagi namanya Juno.
Tidak menyahut apalagi menolak, Dara kembali keluar kelas setelah menyimpan tasnya. Dia kembali berpapasan dengan Braden dan Monica di depan ruang guru.
Sama seperti tadi, Dara memilih untuk cuek dan pura-pura tidak mengenal Braden. Dia belok dan masuk ke ruang guru lalu mencari meja Bu Uci seperti yang tadi Renita katakan padanya.
Lagi, Braden merasa tidak nyaman dengan sikap Dara padanya. Bagaimana mungkin dalam waktu tiga hari saja perasaan Dara berubah untuknya? Braden yakin, kalau Dara masih mencintainya.
“Cupu aja sombong!” Monica berucap, “Gue yakin, dia kayak gitu padahal dalam hatinya ngerasa malu banget karena waktu itu ngaku-ngaku jadi pacar lo. Ya kan?” Monica menyenggol pelan lengan
Braden, membuat pemuda itu terkesiap dan menganggukkan kepalanya.
“Ya udah sih. Gak usah dipikirin. Cuek aja,” sahut Braden terdengar santai.
“Gue masih gedeg banget tau gak? Nama gue sama lo hampir tercoreng gara-gara dia. Waktu itu, dia secara gak sengaja nuduh gue sebagai pelakor. Sin-ting emang,” ucap Monica menggebu. “Buktinya dia gak bisa ngasih bukti kan kalau dia emang pacar lo?” lanjutnya.
“Bukti?” batin Braden agak cemas.
**
Jam istirahat pertama, Dara
memilih untuk di kelas saja. Dia sudah sarapan tadi, jadi sekarang masih merasa kenyang.
“Eh, eh. Kalian tau gak? Barusan gue denger katanya kalau ada guru baru, buat gantiin Pak Budi. Gila! Cakep banget anjir! Beda jauh sama Pak Budi yang udah bapak-bapak!” seru salah satu murid perempuan yang baru saja kembali dari ruang guru untuk menyimpan tugas pelajaran Bu Uci.
“Beneran?”
“Bener. Gue sempet ambil fotonya barusan.”
“Aaaa. Ganteng banget!”
“Jam nya Pak Budi sekarang kan? Berarti ... bakal masuk ke
kelas kita dong?”
“Iya. Eh lo bawa catokan kan? Pinjem gue!”
Dara dan Bebi yang mendengarnya pun memilih untuk cuek. Mereka sibuk dengan buku komik yang tengah mereka baca. Ternyata Dara dan Bebi mempunyai selera dan hobi yang sama yaitu membaca komik.
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda istirahat pertama berakhir pun berbunyi. Para murid mulai kembali duduk ke bangku masing-masing. Begitu juga dengan Dara dan Bebi yang bergegas memasukkan buku komik mereka ke dalam tas.
Dara berdecak saat pulpen miliknya jatuh. Dia harus membungkuk untuk mengambil pulpen yang ada di kolong meja.
Tidak berselang lama, suara bisik-bisik pun terdengar saat guru baru yang tadi dibicarakan masuk ke dalam kelas.
“Selamat siang, semuanya. Perkenalkan, saya guru matematika baru di sekolah ini.”
Deg!
Suara itu, Dara terasa mengenalnya. Dia kembali duduk tegak saat pulpennya sudah berhasil dia ambil. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan sana.
Begitu juga dengan guru tersebut, sama terkejutnya saat melihat Dara.