NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Asap tipis masih mengepul di beberapa sudut markas yang baru saja menjadi medan pertempuran. Bau mesiu bercampur dengan aroma darah dan keringat memenuhi udara, menciptakan suasana yang berat dan menyesakkan. Namun perlahan, ketegangan itu mulai mereda. Suara tembakan sudah lama berhenti, digantikan oleh langkah kaki para anak buah Enzo yang sibuk membereskan kekacauan.

Beberapa orang menyeret tubuh-tubuh tak bernyawa ke halaman belakang. Tanpa banyak kata, mereka menumpuknya, lalu api dinyalakan. Lidah-lidah api menjilat tubuh-tubuh itu tanpa ampun, menghapus jejak pertempuran yang baru saja terjadi. Sementara itu, yang masih hidup meski dalam kondisi babak belur, mereka diikat dan dilempar ke dalam ruang tahanan bawah tanah. Jeritan dan rintihan mereka menjadi latar suara yang mengiringi malam itu.

Di tengah semua itu, Enzo duduk dengan santai di kursi besarnya. Seolah semua kekacauan ini hanyalah rutinitas biasa baginya. Dengan satu tangan, ia memegang rokok yang menyala, menghisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap ke udara. Tatapannya kosong, dingin, tanpa emosi.

Namun beberapa detik kemudian, alisnya berkerut. Ia merasakan sesuatu yang basah di balik kemeja hitam yang ia kenakan.

Perlahan, tangannya bergerak meraba bagian perutnya. Ketika ia menarik tangannya kembali, terlihat jelas cairan merah yang mulai merembes.

“Shit... jahitannya lepas,” umpatnya pelan, nada suaranya tetap datar, tapi sorot matanya menajam.

Joe yang duduk tidak jauh darinya langsung menoleh. Pria itu dengan cepat mendekat, wajahnya berubah tegang ketika melihat kondisi atasannya.

“Kenapa, tuan?” tanyanya, meski sebenarnya ia sudah bisa menebak jawabannya.

Enzo menghembuskan asap rokok terakhirnya sebelum mematikannya dengan kasar.

“Antar aku ke rumah sakit sekarang. Lukaku berdarah lagi,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.

Joe mengerutkan kening. Ia melirik luka di tubuh Enzo yang jelas bukan luka ringan. Tapi membawa Enzo keluar markas dalam kondisi seperti ini bukanlah keputusan yang aman.

“Anda bisa memanggil Dokter Dico ke sini, Tuan,” ujar Joe mencoba memberi saran. “Anda tidak perlu repot-repot ke rumah sakit lagi. Lebih aman juga.”

Enzo hanya mengendikkan bahunya, seolah saran itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia berdiri perlahan, meski gerakannya sedikit tertahan karena rasa sakit yang mulai menjalar.

“Aku ingin dia yang mengobatinya,” ucap Enzo tenang, namun tegas. Tidak ada ruang untuk bantahan dalam nada suaranya.

Joe terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, menahan komentar yang sebenarnya ingin ia lontarkan.

Di kepalanya, hanya ada satu kesimpulan. Bosnya itu bukan sekadar memilih dokter karena kemampuan. Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang jarang sekali terlihat dari seorang Enzo, pria yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah melibatkan perasaan dalam keputusan apa pun.

Joe menyipitkan matanya sedikit, lalu tersenyum tipis penuh arti. “Baik, tuan. Kita berangkat sekarang,” katanya akhirnya.

Beberapa anak buah langsung sigap ketika melihat Enzo berjalan keluar. Mobil hitam sudah disiapkan di depan, mesin menyala, siap melaju kapan saja.

Saat Enzo masuk ke dalam mobil, tangannya kembali menekan luka di perutnya. Rasa nyeri itu semakin terasa, tapi tidak sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

Justru di balik rasa sakit itu, pikirannya melayang. Pada sosok seorang wanita. Seorang dokter yang entah bagaimana berhasil menarik perhatiannya.

Bukan karena kelembutan. Bukan karena ketakutan. Tapi karena keberaniannya.

Senyum tipis terukir di bibir Enzo, nyaris tak terlihat.

Mobil pun melaju membelah malam, meninggalkan markas yang perlahan kembali sunyi—menuju satu tempat yang bagi Enzo, entah kenapa, terasa lebih menarik dari sekadar penyembuhan luka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Drrtt…

Drrtt…

Suara ponsel yang bergetar tanpa henti memecah keheningan malam di kamar Evelyn. Lampu kamar masih padam, hanya cahaya redup dari layar ponsel yang berkedip-kedip di atas nakas, seolah memaksa untuk segera diangkat.

Di atas ranjang, Evelyn masih terlelap. Tubuhnya yang lelah setelah dua hari penuh berjibaku di rumah sakit belum benar-benar mendapatkan istirahat yang cukup. Alisnya sedikit berkerut, merasa terganggu dengan suara yang terus memanggilnya kembali ke kenyataan.

Dengan mata yang masih terpejam, ia menggerakkan tangannya perlahan, meraba-raba permukaan nakas hingga akhirnya menemukan benda yang terus bergetar itu. Tanpa membuka mata, ia langsung mengangkat panggilan tersebut dan menempelkannya ke telinga.

“Halo… ada apa?” tanyanya dengan suara serak khas orang yang baru terbangun, bahkan ia tidak sempat melihat siapa yang meneleponnya.

Di seberang sana, suara seorang perawat terdengar sedikit panik namun berusaha tetap profesional.

“Dok, ada pasien yang membutuhkan penanganan. Dia tidak mau ditangani oleh dokter lain… maunya hanya Anda.”

Kalimat itu membuat Evelyn sedikit tersadar, meski matanya masih terpejam. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan rasa lelah yang belum sempat hilang.

Dalam benaknya, ia sempat berharap ini hanya panggilan biasa yang bisa dialihkan ke dokter lain. Tapi kenyataan berkata lain.

Rumah sakit… tidak pernah benar-benar memberinya waktu untuk beristirahat.

Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong selama beberapa detik.

“Suruh dia nunggu… aku akan segera ke sana,” ucap Evelyn akhirnya, nada suaranya masih datar, namun sudah kembali pada profesionalitasnya sebagai seorang dokter.

“Baik, Dok. Kami tunggu,” jawab perawat itu sebelum sambungan terputus.

Evelyn menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap layar yang kini kembali gelap, lalu memejamkan mata sejenak, seolah mencoba mencuri sisa-sisa kantuk yang masih menggantung.

Namun ia tahu, itu mustahil.

Dengan napas berat, ia bangkit dari tempat tidur. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih menyisakan lelah, tapi sorot matanya mulai berubah menjadi lebih fokus.

Ia turun dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Air dingin yang menyentuh kulitnya membuatnya sedikit lebih segar, meski rasa lelah belum sepenuhnya hilang.

Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri. “Pasien yang keras kepala…” gumamnya pelan.

Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelip di dalam hatinya. Bukan kesal, bukan juga penasaran sepenuhnya.

Seperti firasat. Bahwa pasien yang memanggilnya di tengah malam ini… bukan pasien biasa.

Tanpa membuang waktu lagi, Evelyn segera bersiap. Ia mengenakan pakaian dengan cepat, mengambil tasnya, lalu melangkah keluar dari kamar.

Beberapa menit kemudian, mobilnya sudah melaju membelah jalanan kota yang lengang. Lampu-lampu jalan menjadi satu-satunya penerang di tengah sunyinya malam.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar. Siapa pasien itu? Kenapa hanya mau ditangani olehnya? Dan kenapa… perasaannya jadi tidak tenang seperti ini?

Evelyn keluar dari dalam mobil, dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit. Salah satu perawat bergegas menghampirinya.

"Dok, pasien yang kemarin kembali" ucapnya.

"Jadi pasien yang ingin aku tangani itu dia?" tanya Evelyn dengan perasaan kesal.

"Iya dok. Dia sudah menunggu di ruangan anda" katanya.

Dengan perasaan jengkel Evelyn melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya. Setibanya di depan ruangannya Evelyn menghentikan langkahnya, lalu membuka pintu ruangannya.

Ceklek.....

Terlihat Enzo sudah berada di atas ranjang dengan posisi terlentang.

Evelyn melangkahkan kakinya masuk, dan menaruh tasnya di atas meja.

"Untuk apa kamu kesini hah?" sentak Evelyn membuat Enzo yang sedang memejamkan matanya terlonjak kaget.

Enzo membuka matanya, menoleh ke arah Evelyn. "Jahitan lukaku kembali terbuka" ucapnya.

"Bukan urusanku, aku ngantuk mau tidur. Kalau kamu mau jahit saja sendiri" ucap Evelyn, dia duduk di kursinya kemudian menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Mulut Enzo menganga lebar, dia tidak percaya Evelyn benar-benar tidur, tidak mau mengobati lukanya.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!