NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XXVIII—Pangeran Yang Terbuang

Langkah kaki Jayendra bergema di lorong sunyi menuju lantai tiga. Namun, suasana kali ini terasa sangat berbeda. Jika sebelumnya ia hanya ditemani oleh kesunyian yang mencekam dan gema langkahnya sendiri, kini ada dua kehadiran yang menyertainya. Di bahu kanannya, terdapat Garlak, sang Raja serta panglima perang Orc yang dulunya bertubuh raksasa. Kini mewujud dalam bentuk bayangan kecil yang tampak seperti boneka imut namun dengan mata merah yang tetap menyala tajam. Di bahu kirinya, ada Aridius sang Raja suci yang jatuh, tampak seperti siluet ksatria mini dengan jubah bayangan yang berkibar halus.

Meskipun penampilan mereka kini terlihat kecil dan menggemaskan, Jay bisa merasakan aura haus darah dan pengalaman tempur ratusan tahun yang mengalir dari keduanya. Mereka bukan sekadar hiasan semata, mereka adalah manifestasi dari dendam yang belum tuntas.

“Tuan, berhati-hatilah,” bisik Aridius, suaranya terdengar seperti desiran angin yang dingin di telinga Jay. “Lantai tiga bukanlah tempat bagi mereka yang takut akan ketinggian. Di sana, hukum gravitasi hanyalah saran, dan maut datang dari titik buta di atas kepala. Jangan pernah sekalipun kau melepaskan pandanganmu dari cakrawala.”

Garlak mendengus, kepalan tangan bayangan kecilnya meninju udara dengan penuh semangat. “Penghuni langit itu sangat menyebalkan, Tuan. Mereka sombong karena memiliki sayap dan memandang rendah kita yang merayap di tanah. Namun waspadalah, cakar mereka bisa membelah baju zirah terkuat sekalipun dalam satu serangan menukik yang tak terduga.”

Jayendra hanya terdiam, matanya menatap pintu gerbang besar di ujung lorong yang terbuat dari perak kusam dengan ukiran sayap yang membentang luas. Ia meletakkan tangannya di atas permukaan dingin gerbang itu dan mendorongnya sekuat tenaga.

KREEEAAAK...

Udara dingin yang tajam, tipis, dan beraroma belerang langsung menerjang wajah Jay. Saat pintu terbuka sepenuhnya, ia tidak disambut oleh dinding batu dungeon yang lembap, melainkan oleh pemandangan yang akan membuat siapa pun pusing seketika. Ia berdiri di sebuah platform batu yang menggantung tinggi, ribuan meter di atas permukaan tanah. Di depannya, langit membentang luas dengan warna oranye keunguan yang abadi, seolah matahari terjebak dalam proses terbenam yang tak kunjung usai.

Lembah-lembah raksasa yang puncaknya menembus awan berdiri kokoh di sekelilingnya seperti pilar-pilar raksasa yang menopang kubah langit. Jembatan-jembatan gantung dari rantai besi hitam yang berkarat menghubungkan satu tebing ke tebing lainnya, bergoyang hebat ditiup angin kencang yang menderu-deru layaknya tangisan jiwa-jiwa yang tersesat.

“Selamat datang di Aerie of the Fallen,” suara Aridius terdengar muram, penuh dengan kenangan pahit.

“Di mana musuhku?” tanya Jay pendek, matanya memicing mencoba menembus kabut awan yang bergulung-gulung di bawahnya.

“Hanya satu, Tuan,” jawab Garlak dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. “Namun satu itu sudah cukup untuk membantai satu legiun manusia tanpa berkeringat. Ia adalah sang Pangeran Terbuang, putra dari Raja Griffin yang legendaris. Namanya telah dihapus dari sejarah bangsanya sendiri, dibuang seperti sampah dari kerajaan langit yang megah.”

Jay melangkah maju ke jembatan rantai. Setiap langkahnya membuat logam tua itu berderit mengerikan, menciptakan irama yang mencekam di tengah keheningan ketinggian. Di kejauhan, sebuah pekikan nyaring membelah langit, suara yang begitu melengking dan kuat hingga menciptakan gelombang kejut yang membubarkan gumpalan awan di sekitarnya.

Dari balik puncak gunung tertinggi yang puncaknya tertutup salju abadi, sesosok makhluk muncul. Ia meluncur dengan keanggunan yang mematikan, membelah angin dengan presisi seorang pembunuh. Tubuhnya sebesar rumah kecil, dengan bagian depan berupa singa emas yang perkasa namun tertutup bulu-bulu baja berwarna perak yang berkilau di bawah cahaya oranye. Sayapnya bukan terbuat dari bulu biasa, melainkan membran yang tampak sekuat berlian dan setajam silet. Kepalanya adalah kepala elang dengan paruh yang berkilau hitam, melengkung dan runcing seperti belati yang baru saja diasah dengan darah.

Griffin itu mendarat di puncak pilar batu yang berada tepat di depan Jay. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh dengan kebencian yang mendalam terhadap segala sesuatu yang bernapas.

“Dahulu, saat kami pertama kali bertemu dengannya,” Aridius memulai cerita, suaranya bergetar pelan, “ia masih begitu muda. Sang Penyelamat membawanya saat sayapnya patah berkeping-keping dan matanya buta karena pengkhianatan saudaranya sendiri di kerajaan langit. Penyelamat kita, orang yang sama yang mengulurkan tangan kepadaku dan Garlak, ia adalah sosok yang memberinya kesempatan kedua. Ia menyembuhkannya, memberinya kekuatan untuk terbang kembali, namun dengan syarat ia harus menjadi penjaga abadi di lantai ini.”

Jay menatap Griffin itu. Ada luka bakar besar yang melintang di dada makhluk itu, membentuk pola parut yang aneh dan menyeramkan. “Jadi dia juga korban pengkhianatan? Sama seperti kalian?”

“Dunia ini dibangun di atas fondasi pengkhianatan, Tuan,” sahut Garlak dengan nada geram, matanya yang merah menyala lebih terang. “Itu sebabnya kita di sini. Bukan untuk mencari kedamaian, tapi untuk membalas semuanya. Untuk membakar mereka yang telah membakar kita.”

Griffin itu melebarkan sayapnya yang perkasa, menciptakan tekanan udara yang begitu besar hingga memaksa Jay untuk memasang kuda-kuda agar tidak terlempar dari jembatan. Makhluk itu tidak langsung menyerang. Ia seolah sedang menilai sosok yang berani menginjakkan kaki di wilayah terlarangnya.

“Dia adalah Xerxes,” lanjut Aridius. “Ia tidak akan membiarkan siapa pun lewat kecuali mereka memiliki kecepatan yang mampu menandingi kilat dan tekad yang lebih keras dari gunung batu ini. Bagi dia, setiap penyusup adalah bayangan dari saudaranya yang mengkhianatinya.”

Jayendra menarik nafas panjang, membiarkan udara tipis yang dingin memenuhi paru-parunya. Ia bisa merasakan adrenalin mulai meledak-ledak di dalam pembuluh darahnya. Di pundaknya, dua roh legendaris itu bersiap. Meski kecil, aura hitam yang keluar dari tubuh bayangan mereka mulai menyelimuti Jay, memberikan perlindungan pasif terhadap tekanan angin yang dahsyat.

“Xerxes!” teriak Jay, suaranya menggelegar menantang badai, memecah kesunyian lembah. “Aku tidak punya urusan dengan masa lalumu yang menyedihkan itu, tapi aku punya urusan dengan masa depan yang akan kuhancurkan! Jika kau menghalangi jalanku, maka sayapmu akan kupatahkan sekali lagi, dan kali ini takkan ada 'Sang Penyelamat' yang akan datang untuk menyembuhkanmu!”

Griffin itu menjawab dengan raungan yang menggetarkan fondasi lembah. Ia melompat dari pilar batu, melipat sayapnya, dan menukik tajam ke arah Jay seperti meteor perak yang jatuh dari surga. Kecepatannya melampaui segala sesuatu yang pernah dilihat Jay di dunia manusia.

“Samping kiri, Tuan! Sekarang!” teriak Garlak.

Jay berguling di atas jembatan rantai yang bergoyang hebat. Sepersekian detik kemudian, cakar Xerxes yang sebesar batang pohon menghantam tempat Jay berdiri tadi. Rantai besi raksasa itu putus seketika, terpotong dengan rapi seolah-olah itu hanya benang jahit. Percikan api memercik saat cakar itu bergesekan dengan logam sebelum makhluk itu kembali melesat ke atas.

Xerxes kembali terbang ke angkasa, berputar-putar di udara dengan kelincahan yang mustahil bagi makhluk dengan massa sebesar itu. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Di matanya yang kuning tajam, Jay hanyalah mangsa kecil yang menunggu untuk dicabik-cabik. Namun bagi Jay, Griffin ini adalah ujian sesungguhnya, sebuah kesempatan untuk melihat sejauh mana ia bisa mengoordinasikan kekuatan barunya dengan kekuatan Garlak dan Aridius.

1
ラマSkuy
lanjut thor👍
ラマSkuy
agak lambat alurnya tapi seru Thor , lanjutkan 👍
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
Yikkii: Terimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!