Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dengan nafas naik turun, Naka menatap Zea tajam. Dadanya bergemuruh hebat.
Zea memalingkan wajah, tatapan Naka menusuk hingga jantungnya. "Ada alasan aku melakukan semua itu, Naka," berusaha membela diri, meski dalam hati tetap merasa bersalah.
"Alasan apa yang membuat seorang wanita menukar cintanya kalau bukan demi uang dan hidup enak!" menatap nyalang Zea dengan rahang mengeras. "Tapi Tuhan maha adil, dia tak membiarkan kamu bahagia sementara aku menderita sendirian. Dia mengambil suamimu saat anakmu masih bayi. Bukankah itu karma yang sangat adil?" menyeringai tipis.
Zea mengangguk perlahan, "Iya, kau benar. Tuhan sudah memberiku karma. Kita sudah impas, Naka. Sekarang, mari kita lanjutkan hidup masing-masing. Aku do'akan kamu bahagia dengan pendamping hidupmu, dan biarkan aku melanjutkan hidupku bersama anakku." Ia tak ingin lagi bersinggungan dengan keluarga mereka. Arka taruhannya, ia tak mau kalau Naka tahu Arka anaknya, laki-laki itu bisa saja mengambilnya. "Sekali lagi, aku minta maaf. Sekarang, tolong pertemukan aku dengan Arka."
Zea tak mau menantang Naka, baginya melawan laki-laki itu sama dengan menantang maut. Bukankah sudah begitu adanya, orang miskin, jangan melawan orang kaya. Dulu ia kalah telak dengan Tuan Very, dan sekarang, ia tak mau mengulang kekalahan melawan Naka. Ia hanya ingin hidup tenang bersama Arka.
"Gampang," Naka tersenyum penuh arti. Ia berjalan mengitari Zea.
Jantung Zea berdebar kencang, sudut matanya mengikuti setiap langkah Naka, mulai waspada.
"Ze," Naka berbisik di dekat telinga Zea. Hembusan nafasnya, membuat Zea merinding dan langsung memejamkan mata. "Aku bisa mengembalikan Arka padamu, tapi dengan satu syarat."
"Apa?" Zea perlahan membuka matanya.
"Tidur denganku malam ini, layani aku."
"Gila!" Zea mendorong kedua bahu Naka menjauh darinya.
Naka terkekeh melihat reaksi Zea, mengusap bahunya yang baru disentuh wanita itu. "Kenapa marah?" tersenyum mengejek. "Hanya tidur denganku, apa masalahnya? Bukankah kita sudah biasa melakukan itu dulu." Ia kembali mendekati Zea, berbisik di telinganya. "Aku bahkan masih ingat Ze, seberapa merdu suaramu saat men de sah."
Kedua telapak tangan Zea mengepal kuat, dadanya bergemuruh. Sampai sekarang, ia bahkan masih terus menyesal saat ingat seperti apa dia dulu. Dulu, cinta mengalahkan logikanya, mengalahkan prinsip, juga mengalahkan rasa takutnya pada Sang Pencipta.
"Gak usah sok suci, Ze. Ayo!" Naka menarik kasar lengan Zea menuju kamar.
"Lepas, Naka! Lepas!" Zea berontak, berusaha menarik lengannya lepas dari Naka. Ia sudah bertaubat, tidak mau lagi melakukan zina.
Naka tak peduli dengan rontaan Zea, terus saja ia tarik wanita itu hingga masuk ke dalam kamar lalu mendorongnya hingga terjerembab ke kasur.
"Enggak, aku gak mau," dengan tubuh gemetaran, Zea buru-buru bangun, menatap Naka nyalang.
"Kamu ingin bertemu Arka kan? Jadi turuti saja kemauanku," Naka mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Zea panik, tapi ia tak mau menunjukkan itu di depan Zara. Ia tak boleh terlihat lemah. Hanya ada mereka di apartemen ini. Mau teriak sekencang apapun, rasanya juga percuma. Melawan tenaga Naka, bisa dipastikan ia juga kalah.
"Cepat buka bajumu!" titah Naka sambil menyeringai. "Bukankah dulu kau sudah terbiasa membuka bajumu sendiri," tersenyum mengejek. Ia melepas kancing terakhir di pergelangan tangan, lalu melemparkan kemejanya tepat ke wajah Zea.
Zea menyingkirkan kemeja tersebut, kemeja khas bau parfum Naka yang hingga saat ini masih ia ingat, meletakkan tepat di sebelahnya. Berusaha untuk menenangkan diri sendiri. Dulu, ia sudah terbiasa menghadapi ketantruman Naka, harusnya sekarang ia juga bisa.
Naka menarik ke atas kaos dalamnya hingga terlepas, dan sekali lagi melemparkan ke wajah Zea. "Cepat, atau aku paksa dengan kasar," berjalan mendekati wanita yang terlihat ketakutan itu. Menarik ke atas pergelangan tangan Zea, mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu hingga nyaris tak berjarak. "Kamu ingin bertemu anakmu kan, layani aku malam ini."
"Sekarang aku tahu penyebab kamu menculik Arka," Zea tersenyum miris. "Sebenarnya, kamu hanya ingin tidur denganku, kan? Apa kamu sudah miskin sekarang, tak mampu membayar pelacur?"
Naka yang tak terima dengan hinaan itu, mendorong kasar Zea hingga terlentang di atas ranjang.
"Kamu sudah tak ada uang untuk membayar pelacur, hingga menculik anak kecil untuk bisa meniduri ibunya," Zea kembali mengejek. "Menjijikkan! Caramu sungguh kampungan."
Naka melongo dikatakan seperti itu membuat mulutnya sampai menganga lebar, namun beberapa saat kemudian ia tertawa. "Kalau ada yang gratisan, kenapa musti bayar. Bener gak?" balasnya. "Bukankah kamu biasa tidur dengan laki-laki tanpa dibayar? Astaga, sepertinya aku salah. Bukan gak dibayar, tapi dibayar dengan sangat mahal. 1 milyar," tekannya. "Baiklah kalau begitu," mengambil dompet di saku belakang celana, mengambil semua uang yang ada lalu melempar ke muka Zea. "Apa itu cukup untuk membeli tubuhmu hah?"
Zea menggigit bibir bawah, berusaha menahan tangis. Sakit sekali direndahkan seperti ini.
"Aku tak mau menunggu lama," Naka membuka ikat pinggangnya. "Keputusan ada di tangan kamu. Kalau mau bertemu dengan putramu, layani aku malam ini."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣