NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:40.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Terjebak Dalam Drama Murahan

Bagi Raden Seta, kasta adalah segalanya.

Seorang putri buangan tak punya hak untuk mengangkat dagu di hadapannya.

Namun, Sawitri tak sedikit pun gentar.

Ia menyelesaikan cuci tangannya, mengeringkannya dengan gerakan terukur, barulah ia berbalik dan menatap tepat ke arah Raden Seta.

Tatapannya tidak mengandung amarah, melainkan dingin dan analitis, seolah ia sedang mengukur kelayakan pemuda itu untuk dibedah di atas meja operasi.

"Kulo hanya menyatakan fakta. Adab adalah hal mendasar yang membedakan manusia dari hewan ternak."

Wajah Raden Seta merah padam menahan murka.

"Kowe..." tangannya terkepal kuat, langkahnya maju satu tindak, bersiap memberi pelajaran fisik pada gadis lancang itu.

Namun, sebelum Raden Seta sempat mengangkat tangannya, sebuah suara bariton yang dalam dan berat memotong ketegangan di ruangan itu.

"Kulo sarankan jenengan mundur satu langkah, Raden Seta. Atau kulo akan memastikan tangan jenengan mboten akan pernah bisa memegang keris lagi."

Raden Cakrawirya berdiri di ambang pintu, bersandar santai pada kusen berukir dengan lengan bersilang.

Senyum miringnya khas, namun matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

Raden Seta tersentak, wajahnya seketika memucat saat mengenali sosok yang berdiri di sana.

Meski Cakrawirya menyamar dengan pakaian sederhana, rumor tentang seorang pangeran keraton yang sering berkelana di Mataram sudah menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan tingkat atas.

"R-Raden Cakrawirya..." Raden Seta menelan ludah, buru-buru menundukkan kepalanya, kesombongannya menguap seketika. "Kulo mboten bermaksud..."

"Keluar," perintah Cakrawirya pelan, namun nadanya absolut.

Tanpa berani membantah lagi, Raden Seta mundur teratur dan segera meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seperti tikus yang baru saja lolos dari cengkeraman elang.

Sawitri menatap Cakrawirya dengan wajah tanpa ekspresi, tak menunjukkan rasa terima kasih sedikit pun.

"Kulo mboten butuh bantuan jenengan untuk menangani lalat pengganggu," ucap Sawitri dingin, kembali mengemasi peralatan bedahnya ke dalam kotak kayu jati.

Cakrawirya terkekeh pelan, melangkah masuk mendekati gadis itu.

"Kulo tahu. Kulo hanya mboten ingin lantai kamar Den Bagus kotor oleh darah pangeran sombong itu jika jenengan memutuskan untuk melumpuhkannya dengan jarum jenengan."

Sawitri tak menjawab, ia menutup kotaknya dan berjalan melewati Cakrawirya begitu saja.

Perjalanan menuju kediaman utama Tumenggung Danurejo setelahnya terasa lebih lengang.

Namun, ketika pedati Sawitri akhirnya memasuki gerbang megah kediaman ayahnya, senja telah turun menyelimuti Mataram. Semburat jingga memudar digantikan bayang-bayang malam yang merayap.

Sawitri turun dari pedati, langkahnya mantap tak ragu. Di belakangnya, Nyi Inggit dan Ndari mengekor dengan kepala tertunduk, tubuh mereka gemetar menahan takut.

Suasana di pendopo pringgitan sangat tegang.

Tumenggung Danurejo duduk di kursi kebesarannya dengan wajah gelap menahan murka.

Kumis tebalnya bergetar, matanya menyiratkan kemarahan seorang ayah yang merasa otoritasnya dilecehkan.

Di sisi kanannya, Nyai Selir Sukmawati berdiri dengan senyum tipis yang penuh kelicikan, tangannya mengipas pelan seolah udara petang itu terlalu panas.

Di belakang selir itu, Ratih Kumala menatap Sawitri dengan kilat kebencian yang nyata.

"Kowe tahu jam berapa sekarang, Sawitri?!" bentak Tumenggung Danurejo, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru pendopo.

"Berani-beraninya kowe membuat romo menunggu?!"

Sawitri berdiri tegak di tengah pendopo, menatap lurus ke mata ayah kandungnya tanpa berkedip.

"Kulo mboten pernah meminta untuk ditunggu, Romo," jawab Sawitri dingin, nadanya sangat tenang, kontras dengan kemarahan meledak-ledak di depannya.

"Kulo punya urusan medis darurat. Nyawa manusia lebih rasional untuk didahulukan daripada basa-basi keluarga yang sudah sepuluh tahun mboten saling menyapa."

"Wani Kowe...!" Tumenggung Danurejo bangkit dari kursinya, tangannya menunjuk Sawitri dengan murka.

"Kowe semakin kurang ajar! Sepuluh tahun di pesanggrahan ternyata mboten membuatmu belajar tata krama!"

"Kanjeng Tumenggung, sabar," Nyai Selir Sukmawati menyentuh lengan suaminya dengan lembut, suaranya dibuat semanis madu, tapi matanya menatap Sawitri bak ular berbisa.

"Mungkin Sawitri lupa cara bersikap karena terlalu lama hidup bersama batur rendahan. Kita harus memaklumi kebodohannya, apalagi dia akan segera menjadi istri Pangeran Demak. Kita mboten pingin dia pergi dengan membawa dendam, bukan?"

Sawitri memiringkan kepalanya sedikit, menatap Nyai Selir Sukmawati dengan sorot mata menilai yang tajam.

"Berbicara tentang dendam, Nyai," Sawitri melangkah maju satu tindak.

"Kulo lebih suka menerima serangan langsung daripada pengecut yang menyelinap di tengah malam untuk menaruh kalajengking di bawah bantalku."

Wajah Nyai Selir Sukmawati pias seketika, kipas di tangannya berhenti bergerak.

Ratih Kumala di belakangnya membelalakkan mata, tubuhnya menegang.

"Kalajengking? Bicara apa kowe ini?!" Tumenggung Danurejo menoleh pada istrinya, lalu menatap Sawitri dengan bingung.

"Tanyakan pada selir kesayangan Romo," Sawitri tersenyum sinis, aura dinginnya menyelimuti pendopo.

"Dan pada putri yang diam-diam menyelinap mencuri persediaan makananku sebagai pengalih perhatian semalam."

Ratih Kumala tak tahan lagi.

"Kowe bohong! Kulo mboten tahu menahu soal kalajengking!" jeritnya melengking, wajahnya merah padam karena panik.

Namun, di saat yang bersamaan, seorang gadis cantik berpakaian mewah melangkah anggun dari arah dalam keraton. Raden Ajeng Wandira.

Wandira tersenyum manis, namun matanya berkilat penuh perhitungan.

"Wonten nopo niki, Romo? Kenapa Ratih berteriak-teriak?" sapa Wandira lembut, pura-pura tidak tahu situasi.

Ia melirik Sawitri sekilas, lalu beralih menatap Ratih dengan pandangan merendahkan.

Sawitri tak ingin terjebak dalam drama murahan ini. Ia memotong segala basa-basi dengan efisiensi mematikan.

"Romo," Sawitri kembali fokus pada Tumenggung Danurejo.

"Kulo menerima perjodohan ini. Kulo akan pergi ke Demak. Namun, kulo punya syarat mutlak yang mboten bisa diganggu gugat."

Tumenggung Danurejo masih berusaha memproses tuduhan kalajengking tadi, namun kata-kata "menerima perjodohan" meredakan sebagian kemarahannya.

Pria itu kembali duduk, mengendalikan napasnya.

"Apa syaratmu?"

"Kulo akan membawa Nyi Inggit dan Ndari bersama kulo ke Demak. Kulo yang akan mengatur semua persiapan pernikahan kulo sendiri, mboten wonten campur tangan dari Nyai Selir Sukmawati atau siapa pun. Dan yang terpenting..."

Sawitri menatap tepat ke arah Ratih dan ibunya bergantian.

"...jika terjadi sesuatu padaku sebelum pernikahan ini terlaksana, kulo pastikan Adipati Sasongko dan seluruh petinggi Mataram tahu persis siapa dalang di baliknya, beserta bukti-buktinya."

Ancaman itu begitu nyata dan terukur.

Nyai Selir Sukmawati menggigit bibir dalamnya dengan keras.

Rencananya untuk menyingkirkan Sawitri secara diam-diam dan menggantikan posisi itu untuk putrinya sendiri kini hancur berantakan.

Gadis di depannya ini bukanlah Sawitri yang lemah seperti sepuluh tahun lalu.

Ini adalah lawan yang tahu cara menggunakan informasi sebagai senjata mematikan.

Tumenggung Danurejo terdiam.

Keberanian putrinya itu sungguh di luar dugaan, tapi ambisi politiknya lebih besar dari apa pun.

Menikahkan Sawitri dengan pangeran Demak adalah aliansi yang sangat ia butuhkan untuk memperkuat kekuasaannya.

"Baik," putus Tumenggung Danurejo berat.

"Kowe boleh mengatur sendiri persiapanmu. Dan batur-baturmu boleh ikut."

"Keputusan yang rasional," sahut Sawitri dingin.

Ia membalikkan badan, tanpa memberikan salam perpisahan, berjalan menembus keheningan pendopo, meninggalkan keluarganya yang masih membeku.

Malam itu, Sawitri menempati sebuah paviliun tamu yang jauh lebih layak daripada pesanggrahannya, meski terasa asing dan dingin.

Nyi Inggit dan Ndari sibuk menata barang-barang mereka, masih terguncang oleh keberanian majikannya menentang seluruh keluarga keraton.

Sawitri duduk di dekat jendela kayu berukir, menatap bulan yang bersinar pucat di langit Mataram.

Pikirannya melayang pada Pangeran Demak yang sadis itu, pada rencana pembunuhannya sendiri.

"Menjadi istri psikopat..." gumam Sawitri pelan, mengusap kotak jarum peraknya.

Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang tak asing terdengar dari balik dinding paviliun.

"Maka jadilah psikopat yang lebih mematikan, Ndara Tabib."

Sawitri tak terkejut. Ia hanya memutar bola matanya malas.

"Apakah memanjat tembok malam-malam adalah hobi baru jenengan, Raden Cakrawirya?" sahut Sawitri tanpa menoleh, suaranya datar.

"Hanya jika pemandangannya sepadan," jawab Cakrawirya. Pemuda itu dengan santai melompat masuk melalui jendela, mendarat tanpa suara di dalam kamar Sawitri.

Cakrawirya menatap gadis itu lekat-lekat.

"Kau benar-benar akan pergi ke Demak dan menikahi pria yang hobi menguliti istrinya itu?" tanyanya, nada suaranya tak lagi bernada ejekan, melainkan keseriusan yang intens.

"Tentu," Sawitri membalas tatapan pemuda itu dengan mata yang tak kalah tajam.

"Sebuah autopsi mboten bisa dilakukan dari jarak jauh, Raden. Kulo harus berada di dekat subjek untuk bisa membedahnya hingga tuntas."

1
Astuti Puspitasari
Apakah salah nulis..yg di maksud istri sultan yg mau ngasih racun di wedang jahe itu Nyai Selir Wetan, ibuknya Jatmiko?
Astuti Puspitasari
Sukmawati itu istrinya Tumenggung Danurejo ibuknya Ratih kan? atau istri Sultan ya? kok aku jadi bingung kak 😄
INeeTha
iya Ka, itu Miss, harusnya jalur distribusi ke kraton dari Danurejan yang diserahkan, makasih. sudah diperbaiki, masih di review. 🙏🙏🙏
Astuti Puspitasari
Sukmawati yang memegang paviluan medis keraton selama ini? kok dia yang menyerahkan? bukankah selama ini dia hanya istri tumenggung?
Darti abdullah
luar biasa
Astuti Puspitasari
selalu sambil tahan nafas ketika baca setiap babnya 😄 seruuu sekali
sahabat pena
yah sesuai dengan analisis mu pangeran.. pangeran angka Wijaya lah.. yg sdh bikin hati tabib ini merasakan nano2 🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
pertahanan nya sdh dibobol.. salah sendiri sultan dikit-dikit masukin ke sel ga langsung dihukum ditempat. sdh tau byk penghianat.. hayukk semangat berangkat penghianat.
gina altira
👍👍👍
gina altira
Sawitri ini tenang banget, yg lain lg ketar ketir
fredai
miris banget nasip kau🤣🤣🤣
sahabat pena
yaelah di kasih senyum joker pangeran perang aja sawitri jantung nya dag dug ser🤣🤣🤣🤣apalagi klo pangeran menyatakan cinta. wkwkwk 🤣🤣🤣 sawitri kesemsem sama pangeran 🤣🤣😱
sahabat pena: iya ya betul kak🤣🤣🤣
total 2 replies
gina altira
Sukmawati blicin bener otaknya itu licik luar biasa.
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sedih banget pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "nyalinya tinggi juga ya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "haha, galak bener sih"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "lebih bagus yang sekarang atau sebelumnya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "belum lega nih pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Speechless/ "sakit banget tuh pasti, apalagi dipukul bagian belakang kepala"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sly/ "hayooo, coba pikir pakai logika"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!